In Syaa Allah kita akan mempelajari materi tamyiz yang meliputi jenis, hukum dan cara meng’irabnya.
Perhatikan contoh berikut:
فِي الفَصْلِ عِشْرُوْنَ طَالِبًا و عِشْرُوْنَ طَالِبَةً
Di kelas terdapat 20 siswa dan 20 siswi.
اِشْتَرَيْتُ عِشْرِيْنَ كَتَابًا
Aku telah membeli 20 buku
اِشْتَرَيْتُ كِيْلُو جَرَامًا رُزًّا
Aku telah membeli 1 kg beras
Ketika hitungan 20 dan satu kilo gram belum dilengkapi dengan ‘tamyiz’, maka arti kalimat masih samar. Dengan demikian, diletakan kata-kata seperti: siswa, siswi, buku dan beras yang semuanya sebagai tamyiz (pembeda) yang berfungsi memperjelas maksud.
Dalam kaidah tamyiz terdapat dua istilah yaitu tamyiz (pembeda/penjelas) dan mumayyaz (isim mubham yang dijelaskan kesamaranya).
عِشْرُونَ/عشرين/كيلو جرما : مُمَيَّزٌ
طالبًا/رزا/كتابا : تَمْيِيْزٌ
1. Definisi Tamyiz (تعريف التمييز)
إِسْمٌ يُذْكَرُ لِيُوَضِّحَ المَقْصُوْدَ مِنْ اسْمٍ سَابِقٍ مُبْهَمٍ يَصْلَحُ لِأَنْ تُرَادَ بِهِ أَشْيَاءٌ مُخْتَلِفْةٌ لَوْ أَنَّهُ لَمْ يُحَدَّدْ بِالتَمْيِيْزِ
Tamyiz adalah isim (kata benda) yang berfungsi untuk menjelaskan maksud dari isim mumayyaz (kata yang masih samar)
Fungsi Utamanya yaitu:
- Menghilangkan kesamaran makna pada kata sebelumnya.
- Membatasi penafsiran agar tidak melahirkan arti yang berbeda.
- Memberikan kepastian makna pada kalimat yang bersifat umum.
Jika sebuah kalimat memiliki mumayyaz namun tidak diikuti oleh tamyiz, maka konsekwensinya:
- Makna kalimat akan tetap samar.
- Kalimat berpotensi menimbulkan salah paham.
- Muncul berbagai penafsiran berbeda dari pendengar atau pembaca.
2. Hubungan Antara Tamyiz dan Mumayyaz (علاقة التمييز والمميز)
Pertama: Mumayyaz Mufrad
A. Mafhum Mumayyaz Mufrad
Mumayyaz mufrad (disebut juga mumayyaz malfudz atau dzat) adalah kata samar yang lafadznya tampak jelas di dalam kalimat dan berbentuk kata satuan, bukan berupa rangkaian kalimat.
Isim-isim yang dikategorikan sebagai mumayyaz mufrad umumnya berkaitan dengan empat satuan ukuran berikut:
- Timbangan (الْوَزْن)
- Takaran/Kiloan (الْكَيْل)
- Ukuran Luas Area (الْمِسَاحَة)
- Hitungan/Angka (الْعَدَد)
Contoh dan Analisis Kalimat:
اِشْتَرَيْتُ عِشْرِيْنَ قَلَمًا
Saya membeli dua puluh pena
- Mumayyaz: عِشْرِيْنَ (Dua puluh) -> Muncul pertanyaan: Dua puluh apa?
- Tamyiz: قَلَمًا (Pena) -> Menghilangkan kesamaran angka tersebut.
اِشْتَرَيْتُ طِنًّا رُزًّا
Saya membeli satu ton beras
- Mumayyaz: طِنًّا (Satu ton) -> Muncul pertanyaan: Satu ton apa?
- Tamyiz: رُزًّا (Beras) -> Menghilangkan kesamaran jenis timbangannya.
اِشْتَرَيْتُ هِكْتَارًا أَرْضًا
Saya membeli satu hektar tanah
- Mumayyaz: هِكْتَارًا (Satu hektar) -> Muncul pertanyaan: Satu hektar apa?
- Tamyiz: أَرْضًا (Tanah) -> Menghilangkan kesamaran ukuran luas tersebut.
اِشْتَرَيْتُ مِتْرًا خَيْطًا
Saya membeli satu meter benang
- Mumayyaz: مِتْرًا (Satu meter) -> Muncul pertanyaan: Satu meter apa?
- Tamyiz: خَيْطًا (Benang) -> Menghilangkan kesamaran ukuran panjang tersebut.
Kesimpulan Fungsi: Kata عِشْرِيْنَ , طِنًّا , هِكْتَارًا , dan مِتْرًا berkedudukan sebagai mumayyaz yang membutuhkan penjelasan karena maknanya masih sangat luas. Kesamaran tersebut berhasil dihilangkan secara pasti oleh kata قَلَمًا , رُزًّا , أَرْضًا , dan خَيْطًا yang bertindak sebagai tamyiz.
B. Hukum Tamyiz Pada Mumayyaz Mufrad
Pada dasarnya, tamyiz untuk kategori mumayyaz mufrad wajib berupa isim nakirah dan berharakat manshub. Namun, dalam kondisi tertentu, harakatnya dapat berubah menjadi majrur karena didahului huruf jar atau berkedudukan sebagai mudhaf ilaih.
Berikut adalah rincian ketentuannya:
1). Tamyiz untuk Timbangan, Takaran, dan Luas Area
Bentuk tamyiz untuk ketiga satuan ini harus mufrad (tunggal). Hukum harakatnya boleh memilih salah satu dari tiga opsi berikut:
- Manshub (sebagai tamyiz asli).
- Majrur Bil-Idhafah (menjadi mudhaf ilaih).
- Majrur Bil-Harf (didahului huruf jar مِنْ).
Contoh Satuan Takaran:
- Manshub: اِشْتَرَيْتُ كَيْلَةً رُزًّا (Saya membeli setakar beras)
- Majrur Bil-Idhafah: اِشْتَرَيْتُ كَيْلَةَ رُزٍّ
- Majrur Bil-Harf: اِشْتَرَيْتُ كَيْلَةً مِنْ رُزٍّ
Contoh Satuan Luas Area:
- Manshub: اِشْتَرَيْتُ هِكْتَارًا أَرْضًا (Saya membeli satu hektar tanah)
- Majrur Bil-Idhafah: اِشْتَرَيْتُ هِكْتَارَ أَرْضٍ
- Majrur Bil-Harf: اِشْتَرَيْتُ هِكْتَارًا مِنْ أَرْضٍ
2). Tamyiz untuk Hitungan / Angka (Adad)
Khusus untuk mumayyaz yang berupa bilangan (angka), ketentuan bentuk dan harakat tamyiz dibagi menjadi tiga kelompok:
a) Hitungan Angka 3 sampai 10
Tamyiz wajib berbentuk Jamak dan harakatnya wajib Majrur (berkedudukan sebagai mudhaf ilaih).. Contoh:
اِشْتَرَيْتُ خَمْسَةَ كُتُبٍ
Saya membeli lima buah buku
b) Hitungan Angka 11 sampai 99
Tamyiz wajib berbentuk Mufrad (tunggal) dan harakatnya wajib Manshub.
- Contoh Bilangan Belasan: اِشْتَرَيْتُ خَمْسَةَ عَشَرَ كِتَابًا (Saya membeli lima belas buku)
- Contoh Bilangan Puluhan: اِشْتَرَيْتُ خَمْسَةً وَعِشْرِيْنَ كِتَابًا (Saya membeli dua puluh lima buku)
c) Hitungan Angka Ratusan (100) dan Ribuan (1000)
Tamyiz wajib berbentuk Mufrad (tunggal) dan harakatnya wajib Majrur (berkedudukan sebagai mudhaf ilaih).
- Contoh Ratusan: اِشْتَرَيْتُ مِائَةَ كِتَابٍ (Saya membeli seratus buku)
- Contoh Ribuan: اِشْتَرَيْتُ أَلْفَ كِتَابٍ (Saya membeli seribu buku)
C. Amil yang menashabkan tamyiz pada Mumayyaz Mufrad
Faktor atau ‘Amil yang membuat nashab tamyiz adalah isim mubham (mumayyaz). Amil ini tidak boleh diakhirkan dari tamyiznya. Contoh:
فِي الفَصلِ ثَلاثُونَ طَالبًا ✔️
ثَلاثُونَ : اسم مبهم / مميز / عامل, طَالبًا : تمييز
فِي الفَصلِ طَالبًا ثَلاثُونَ ❌
Pelajari lebih lanjut pada materi Ketentuan ‘Adad & Ma’dud Dalam Bahasa Arab
D. Beberapa Tamyiz untuk satu Mumayyaz Mufrad
Apakah boleh satu mumayyaz memiliki beberapa tamyiz ? Boleh dengan menambahkan huruf ‘athaf (Lebih Afdhal) dan boleh juga tidak.
فِي الفَصلِ ثَلاثُونَ طَالبًا و مُدَرِّسًا و طَالِبَةَ ✅
فِي الفَصلِ ثَلاثُونَ طَالبًا مُدَرِّسًا طَالِبَةَ ✅
Kedua: Mumayyaz Jumlah (جملة)
A. Mafhul Mumayyaz Jumlah
Mumayyaz jumlah (atau dikenal sebagai mumayyaz malhudz/nisbah) adalah kata samar yang lafadznya tidak tampak secara eksplisit sebagai kata satuan. Kesamaran tersebut terletak pada hubungan makna di dalam rangkaian kalimat secara keseluruhan.
Cara Memahami Kesamaran Rangkaian Kalimat
Untuk mengetahui bahwa suatu kalimat masih samar dan memerlukan tamyiz, kita harus melihat konteks kalimatnya secara utuh. Perhatikan contoh berikut:
حَسُنَ خَالِدٌ (Khalid telah baik)
Kalimat di atas adalah susunan jumlah fi’liyyah (terdiri dari fi’il dan fa’il). Secara makna, kalimat tersebut masih samar karena dapat melahirkan banyak penafsiran atau pertanyaan. Pendengar akan bertanya-tanya:
- Apa hal spesifik yang baik dari diri Khalid?
- Apakah perilakunya, bentuk fisiknya, wajahnya, atau karakternya?
Objek Penjelas Tamyiz
Penting dipahami bahwa fungsi tamyiz di sini bukan untuk menjelaskan dzat atau sosok Khalid. Nama “Khalid” sudah jelas dan tidak samar. Tamyiz berfungsi untuk menjelaskan aspek khusus dari “sifat baik” yang dinisbatkan kepada Khalid.
Contoh Rangkaian Kalimat Setelah Ditambah Tamyiz
حَسُنَ خَالِدٌ خُلُقًا
Khalid telah baik akhlaknya
Pertanyaan terjawab: Apa yang baik dari Khalid? Jawabannya adalah akhlaknya.
حَسُنَ خَالِدٌ وَجْهًا
Khalid telah baik wajahnya
Pertanyaan terjawab: Apa yang baik dari Khalid? Jawabannya adalah wajahnya.
Analisis Kedudukan Kata (I’rab)
Pada kalimat حَسُنَ خَالِدٌ وَجْهًا:
- حَسُنَ خَالِدٌ berkedudukan sebagai gabungan fi’il (kata kerja) dan fa’il (pelaku), sekaligus bertindak sebagai Mumayyaz.
- وَجْهًا berkedudukan sebagai Tamyiz yang memperjelas kalimat sebelumnya.
B. Hukum Tamyiz pada Mumayyaz Jumlah
Pada dasarnya, tamyiz untuk kategori mumayyaz jumlah (nisbah/malhudz) wajib berstatus manshub. Namun, terdapat beberapa kondisi pengecualian dalam struktur kalimat bahasa Arab di mana maknanya beralih menjadi majrur, baik karena berkedudukan sebagai mudhaf ilaih maupun karena kemasukan huruf jar.
Berikut adalah penjelasan dan contoh analisis ketentuannya:
1). Kondisi Wajib Manshub
Tamyiz jumlah wajib dibaca manshub jika posisinya menjelaskan kelebihan sifat (isim tafdhil) yang menunjukkan aspek fisik, karakter, atau kemampuan yang melekat.
خَالِدٌ أَحْسَنُ خُلُقًا
Khalid lebih baik akhlaknya
خُلُقًا: Tamyiz jumlah wajib manshub (tidak bisa didekatkan menjadi mudhaf ilaih pada kalimat ini).
الأُسْتَاذُ أَكْثَرُ خِبْرَةً
Ustadz lebih banyak pengalamannya
خِبْرَةً: Tamyiz jumlah wajib manshub.
2). Kondisi Majrur Bil-Idhafah (Menjadi Mudhaf Ilaih)
Dalam struktur isim tafdhil (paling/ter-), jika tamyiz tersebut merupakan bagian atau jenis dari subjek (mubtada) itu sendiri, maka tamyiz tersebut wajib berubah menjadi majrur karena berkedudukan sebagai mudhaf ilaih.
خَالِدٌ أَكْبَرُ طَالِبٍ فِي الفَصْلِ
Khalid adalah siswa paling besar di kelas
طَالِبٍ: Berkedudukan sebagai mudhaf ilaih yang memberi batasan makna. Khalid adalah bagian dari kategori “siswa” (thalib).
3). Perpaduan Majrur Bil-Idhafah dan Manshub
Apabila dalam satu kalimat isim tafdhil terdapat dua aspek penjelas (satu berupa kategori subjek dan satu berupa bagian fisik/sifat spesifik), maka kata pertama menjadi mudhaf ilaih (majrur) dan kata kedua tetap menjadi tamyiz asli (manshub).
خَالِدٌ أَكْبَرُ الطُّلَّابِ جِسْمًا
Badan Khalid yang paling besar di antara para siswa
- الطُّلَّابِ: Kedudukannya beralih menjadi mudhaf ilaih (majrur).
- جِسْمًا: Tetap berkedudukan sebagai tamyiz jumlah yang manshub untuk memperjelas aspek fisik yang paling besar.
C. Amil yang menashabkan tamyiz pada mumayyaz jumlah
Amil adalah faktor atau unsur kata di dalam kalimat yang menyebabkan tamyiz tersebut wajib dibaca manshub (berharakat fathah). Dalam kategori mumayyaz jumlah, kata yang bertindak sebagai amil penashab terdiri dari dua jenis utama:
1). Fi’il (Kata Kerja)
Tamyiz dapat dinashabkan oleh kata kerja (fi’il), baik berupa kata kerja intransitif (fi’il lazim) maupun kata kerja transitif (fi’il muta’addi).
- Contoh: Kalimat طَابَ خَالِدٌ نَفْسًا (Khalid telah tenang jiwanya).
- Analisis: Kata نَفْسًا dibaca manshub sebagai tamyiz karena dipengaruhi oleh amil berupa fi’il lazim yaitu طَابَ.
2). Isim Musytaq (Kata Turunan)
Tamyiz juga dapat dinashabkan oleh kata benda turunan (isim musytaq) yang memiliki fungsi menyerupai kata kerja. Beberapa jenis isim musytaq yang sering menjadi amil meliputi:
- Isim Fa’il (Kata benda pelaku)
- Isim Maf’ul (Kata benda objek)
- Isim Tafdhil (Kata benda yang menunjukkan arti “lebih” atau “paling”)
- Sifat Musyabbahah (Kata sifat yang menyerupai isim fa’il)
D. Mendahulukan Tamyiz dari Amil
Secara umum, aturan posisi antara tamyiz dan kata yang mempengaruhinya (amil) diatur secara ketat dalam ilmu nahwu.
Ibnu Malik menjelaskan kaidah posisi tamyiz ini melalui bait syairnya:
وَعَامِلَ التَّمْيِيزِ قَدِّمْ مُطْلَقًا # وَالْفِعْلُ ذُو التَّصْرِيفِ نَزْرًا سُبِقَا
” Amil- ‘Amil yang menashabkan tamyiz, baik pada mumayyaz mufrad atau jumlah, secara mutlaq harus didahulukan dari pada tamyiznya”.
Berdasarkan kaidah di atas, hukum asal posisi amil adalah wajib mendahului tamyiz secara mutlak. Ketentuan ini berlaku untuk kedua jenis kategori:
- Mumayyaz Mufrad (tamyiz yang menjelaskan satuan ukuran atau angka).
- Mumayyaz Jumlah (tamyiz yang menjelaskan kesamaran rangkaian kalimat).
Artinya, struktur kalimat yang benar harus meletakkan amil terlebih dahulu, baru kemudian diikuti oleh kata yang menjadi tamyiz.
Pada kenyatannya, terkadang ditemukan teks bahasa Arab kuno yang meletakkan tamyiz mendahului amil-nya. Namun, para ulama nahwu menegaskan bahwa fenomena ini:
- Bersifat sangat langka (nazar / syadz).
- Hanya terjadi pada struktur bait-bait syair Arab kuno (dharurat syi’riyyah).
- Tidak boleh digunakan dalam percakapan sehari-hari maupun penulisan teks bahasa Arab standar modern.
E. Satu Mumayyaz Jumlah Memiliki Banyak Tamyiz
Apakah boleh satu mumayyaz jumlah memiliki beberapa kata tamyiz sekaligus?
Jawabannya adalah boleh, dengan syarat wajib menyisipkan huruf ‘athaf (kata sambung seperti وَ / dan) di antara kata-kata tamyiz tersebut.
جَمُلَ خَالِدٌ جِسْمًا وَوَجْهًا
Khalid telah indah badan dan wajahnya
Kata جِسْمًا berkedudukan sebagai tamyiz pertama, sedangkan kata وَجْهًا berkedudukan sebagai ma’thuf (kata yang disambungkan) kepada tamyiz pertama menggunakan huruf ‘athaf وَ.
3. Cara Meng-i’rab Tamyiz (كيفية إعراب التمييز)
Berikut adalah contoh analisis kedudukan kata (i’rab) secara mendalam untuk struktur mumayyaz mufrad dan mumayyaz jumlah
A. Contoh pada Mumayyaz Mufrad
اِشْتَرَى خَالِدٌ أَرْبَعِيْنَ كِتَابًا
Khalid telah membeli empat puluh buku
اِشْتَرَى : فعل ماض مبني على الفتحة الظاهرة في آخره, خالد : فاعل مرفوع بالضمة الظاهرة في آخره أَرْبَعِيْنَ : مفعول به منصوب بالياء لأنه ملحق بجمع المذكر السالم وهو مميز, كتابا : تمييز منصوب بالفتحة الظاهرة في آخره
- اِشْتَرَى: Fi’il madhi mabni ‘alal fathi adh-dhahiri fi akhirihi (Kata kerja lampau).
- خَالِدٌ: Fa’il marfu’ bidh-dhammati adh-dhahirah fi akhirihi (Pelaku/subjek).
- أَرْبَعِيْنَ: Maf’ul bih manshubun bil-ya’ liannahu mulhaq bi jam’il mudzakkaris salim, wa huwa mumayyaz (Objek penderita yang tanda nashab-nya menggunakan huruf ya’, sekaligus bertindak sebagai kata yang samar/mumayyaz).
- كِتَابًا: Tamyiz manshubun bil-fathi adh-dhahiri fi akhirihi (Kata penjelas yang berharakat fathah di akhirnya).
B. Contoh pada Mumayyaz Jumlah
اِزْدَادَ الْمُتَعَلِّمُ عِلْمًا
Orang yang belajar itu telah bertambah ilmunya
اِزْدَادَ : فعل ماض مبني على الفتحة الظاهرة في آخره وهو عامل لتمييز, المُتَعَلِّمُ : فاعل مرفوع بالضمة الظاهرة في آخره, عَلْمًا : تمييز, جملة اِزْدَادَ المُتَعَلِّمُ : مميز
- اِزْدَادَ: Fi’il madhi mabni ‘alal fathi adh-dhahiri fi akhirihi, wa huwa ‘amilun lit-tamyiz (Kata kerja lampau, sekaligus bertindak sebagai amil atau faktor yang menashabkan tamyiz).
- الْمُتَعَلِّمُ: Fa’il marfu’ bidh-dhammati adh-dhahirah fi akhirihi (Pelaku/subjek).
- عِلْمًا: Tamyiz manshubun bil-fathi adh-dhahiri fi akhirihi (Kata penjelas yang berharakat fathah).
- Struktur Kalimat (اِزْدَادَ الْمُتَعَلِّمُ): Bertindak sebagai Mumayyaz Jumlah (kalimat samar yang maknanya diperjelas oleh kata ‘ilman).
4. Tamyiz dalam Al-Qur’an (التمييز في القرآن الكريم)
Penerapan kaidah tamyiz banyak dijumpai di dalam ayat-ayat Al-Qur’an, di antaranya:
A. Surat Az-Zalzalah Ayat 7
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
خيرا : تمييز منصوب بالفتحة الظاهرة في آخره
Kata خَيْرًا berkedudukan sebagai tamyiz manshubun bil-fathi adh-dhahiri fi akhirihi. Kata ini menjelaskan kesamaran ukuran seberat dzarrah (mitsqala dzarratin) pada ayat tersebut.
B. Surat Yusuf Ayat 4
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ إِنِّى رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِى سَٰجِدِينَ
“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: ‘Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku’.”
كَوْكَبًا : تمييز منصوب بالفتحة الظاهرة في آخره
Kata كَوْكَبًا berkedudukan sebagai tamyiz manshubun bil-fathi adh-dhahiri fi akhirihi. Kata ini wajib berbentuk mufrad dan dibaca manshub karena berfungsi menjelaskan angka belasan yaitu أَحَدَ عَشَرَ (sebelas).
5. Perbedaan Tamyiz dan Hal (الفرق بين التمييز والحال)
Meskipun memiliki fungsi yang berbeda, antara tamyiz dan hal memiliki keterkaitan erat dalam struktur tata bahasa Arab (ilmu nahwu). Keduanya memiliki beberapa titik persamaan dan perbedaan yang mendasar.
A. Sisi Persamaan
Secara kaidah i’rab, tamyiz dan hal berbagi lima karakteristik yang sama. Keduanya merupakan:
- Isim (Kata benda).
- Nakirah (Kata yang bersifat umum/tidak spesifik).
- Manshub (Berharakat fathah atau tanda penggantinya).
- Fadhlah (Bukan unsur pokok kalimat/berkedudukan sebagai pelengkap).
- Mubayyin (Berfungsi sebagai penjelas unsur yang samar).
Yang dimaksud dengan fadhlah adalah unsur tambahan di dalam kalimat. Artinya, jika kata tersebut dihilangkan, struktur utama kalimat (seperti susunan fi’il-fa’il atau mubtada-khabar) secara kaidah bahasa tetap sah dan lengkap.
Perhatikan penggunaan hal dan tamyiz yang berdampingan pada kalimat berikut:
رَجَعَ خَالِدٌ مِنْ مَدْرَسَتِهِ مَسْرُورًا, فَلَمَّا رَأَى مَا فَوْقَ الْمَكْتَبِ فَازْدَادَ سُرُورًا
Khalid telah pulang dari sekolahnya dalam keadaan gembira, maka tatkala dia melihat apa yang ada di atas meja, ia pun bertambah kegembiraannya).
Lafadz مسرور sedang menempati mahal ‘irab manshub sebagai hal (nakirah, manshub, fadhlah dan penjelas).
Lafadz سرورا sedang menempati mahal ‘irab manshub sebagai tamyiz (nakirah, manshub, fadhlah dan penjelas).
B. Sisi Perbedaan
Meskipun memiliki banyak persamaan fisik dalam i’rab, tamyiz dan hal memiliki enam perbedaan mendasar dalam kaidah penggunaannya:
1). Bentuk Konstruksi Kata/Kalimat
- Tamyiz: Hanya bisa berbentuk mufrad (satu kata satuan).
- Hal: Lebih fleksibel, bisa berbentuk mufrad (tunggal), jumlah (klausa kalimat), maupun syibhul jumlah (frasa kata depan/keterangan tempat).
2). Kedudukan Sifat Kalimat (Fadhlah vs Umdah)
- Tamyiz: Selamanya berstatus sebagai fadhlah (pelengkap mutlak) di dalam kalimat.
- Hal: Umumnya berstatus fadhlah, namun pada kondisi kalimat tertentu bisa berubah fungsi menjadi ‘umdah (unsur pokok yang tidak boleh dibuang karena merusak makna inti).
3). Ketentuan Penggandaan (Ta’addud)
- Tamyiz: Tidak boleh berjumlah lebih dari satu untuk satu mumayyaz, kecuali wajib diselingi oleh huruf ‘athaf (kata sambung). Contoh: حَسُنَ خَالِدٌ وَجْهًا وَجِسْمًا (Benar).
- Hal: Boleh berjumlah lebih dari satu untuk satu shahibul hal, baik menggunakan huruf ‘athaf maupun tanpa huruf ‘athaf (berurutan langsung).
-» Contoh dengan ‘athaf: جَاءَ خَالِدٌ غَاضِبًا وَبَاكِيًا (Benar)
-» Contoh tanpa ‘athaf: جَاءَ خَالِدٌ غَاضِبًا بَاكِيًا (Benar)
4). Posisi Terhadap Amil (Kata yang Mempengaruhi)
- Tamyiz: Secara mutlak tidak boleh mendahului amil-nya (posisinya wajib di belakang).
- Hal: Hukumnya fleksibel, boleh diletakkan mendahului amil-nya di dalam kalimat.
5). Karakteristik Asal Isim (Jamid vs Musytaq)
- Tamyiz: Pada umumnya terbentuk dari jenis isim jamid (kata benda asli/bukan turunan).
- Hal: Pada dasarnya wajib terbentuk dari jenis isim musytaq (kata benda turunan, seperti isim fa’il atau isim maf’ul).
6). Fungsi Substansial Makna
- Tamyiz: Hanya memiliki satu fungsi tunggal, yaitu memperjelas kesamaran zat atau keterkaitan kalimat (mubayyin).
- Hal: Selain berfungsi memperjelas keadaan (mubayyin), terkadang juga berfungsi untuk memperkuat makna pernyataan kalimat sebelumnya (muakkid).
Wallahu’alam. Semoga bermanfaat
Zizo 2025
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا
Lihat referensi:
انظر : النحو الوافى،ج ٢, ص ٤٠٠-٤٥٠





Responses (2)