BismillahiRahmaiRahim.
Pada materi hal terdapat dua istilah yang disebut dengan Hal dan Sahibul Hal. Mari kita mulai dari definisi.
1. Definisi Hal
الحَالُ هُوَ (فَضْلَةٌ) وَصْفُ هَيْئَةِ الشيء حِيْنَ وُقُوْعِ الْفِعْل وَيَكُوْنُ الحَالُ منصوبًا دائماً
Hal adalah fadhlah (bukan pokok) atau sifat yang menjelaskan kondisi seseorang atau sesuatu ketika perbuatan itu terjadi dan keadaan ‘irab hal selamanya manshub.
Sementara mahal ‘irab sahibul hal pada suatu kalima berbeda-beda, terkadang menempati mahal ‘irab fa’il, maf’ul bih, mubtada, mudhaf ‘ilah, maf’ul ma’ah, maf’ul fih dan lainya.
قال ابن مالك الْحَالُ وَصْـفٌ فَضْلَةٌ مُنْتَصِبُ # مُفْهِمُ في حَـالِ كَفَرْداً أَذْهَبُ
Hal pada dasarnya merupakan sifat fadhlah, ia hanyalah pelengkap, sebab suatu kalimat akan tetap sempurna mespikun tanpa adanya hal. Namun, sering kali hal menjadi عُمْدَة (pokok), atau bagian penting dari kalimat, sehingga ketika hal ditiadakan dampaknya bisa menjadikan makna kalimat tidak sempurna, bahkan merusak makna kalimat secara keseluruhan, seperti:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ. النساء ١٤٢
Terjemah: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri…..”.
Pada ayat di atas, apabila kalimat كُسَالَىٰ yang sedang menempati mahal ‘irab hal dibuang, tentu akan merusak makna ayat, sebab maknanya terputus sampai kalimat “Mereka berdiri….”. Dengan demikian, pada kasus seperti ini hal merupakan bagian tidak terpisahkan dari kalimat (عمدة).
2. Pembagian hal berdasarkan kondisinya
Maksud dari kondisi ini yaitu apakah hal merupakan suatu kondisi yang selalu melekat pada diri sahibul hal atau berubah-ubah.
a. Menetap (الثابتة)
هي التي تبين هيئة شيء تلازمه غالبًا ولا تكاد تفارقه
Hal merupakan sifat yang menjelaskan keadaan atau kondisi sahibul hal, dimana kondisi tersebut merupakan sesuatu yang selalu melekat pada diri sohibul hal, seperti:
رأيتُ أباك رحيمًا بك
Aku melihat bapakmu (dalam keadaan) sayang kepadamu.
Kasih sayang adalah suatu kondisi yang secara fitrah melekat pada diri seorang ayah. Artinya, kondisi seperti ini tidak mungkin terpisahkan dari sohibul hal, sehingga disebut dengan hal tsabit.
b. Berubah-ubah (المنتقلة)
هي التي تبين هيئة شيء لا تلازمه ولكن تفارقه وتتغير
Hal merupakan sifat yang menjelaskan keadaan atau kondisi sahibul hal, dimana kondisi tersebut merupakan sesuatu yang tidak selalu melekat pada sahibul hal, seperti:
رأيتُ خَالدًا ضَاحكًا/باكيًا/مُبتَسِمًا
Aku melihat Kholid (dalam kondisi) ketawa/menangis/tersenyum.
رأيتُ خَالدًا راكبا/ماشيًا/جاريًا
Aku melihat Kholid ( dalam kondisi) menunggang/berjalan/berlari.
Ketawa, menangis, tersenyum, berjalan, berlari merupakan kondisi sementara yang tidak selalu melekat pada diri sahibul hal, sehingga disebut dengan hal muntaqil (ghoir tsabit).
Lihat referensi:
انظر : النحو الوافى، ج٢ ،ص ٣٦٧
3. Fungsi Hal
a). Hal berfungsi memperjelas (مبيّن)
Ketika fungsinya sebagai penjelas, keberadaannya akan berpengaruh dalam melahirkan makna kalimat baru. Artinya, jika terdapat dua kalimat berbeda yang salah satunya memiliki hal, maka berbeda pula maknanya.
b). Hal berfungsi memperkuat (مؤكّد)
Ketika fungsi hal sebagai penguat, maka keberadaannya tidak terlalu berpengaruh terhadap makna kalimat secara keseluruhan, seperti:
جَاءَ الطُّلابُ كُلُّهُمْ جَمِيْعًا
Lafadz جَمِيْعًا merupakan hal yang berfungsi memperkuat makna kalimat, namun ada dan tiadanya lafadz جَمِيْعًا, tidak memberikan faidah signifikan.
Contoh dalam Al-Quran:
قوله : وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَن فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا. يونس ٩٩
Terjemah: Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi (dalam kondisi mereka seluruhnya).
Fungsi dari pada hal tidak hanya memperjelas kondisi sahibul hal secara langsung, namun juga memperjelas sesuatu yang masih berhubungan erat dengan sahibul hal.
Sebabnya, hal dibagi ke dalam dua kategori:
a). Hal Haqiqi yang berfungsi menjelaskan kondisi sohibul hal secara langsung, seperti:
قَام خالدٌ بالصلاة خَاشِعًا
Khusuk menjelaskan kondisi Kholid sebagai sohibul hal secara langsung ketika ia mendirikan sholat.
Dalam Al-Quran:
قوله تعالى : انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ. التوبة ٤١
Terjemah: Keluarlah kalian (wahai kaum Mukminin), untuk berjihad di jalan Allah, dalam kondisi sulit maupun mudah.
Lafafz خِفَافًا menjelaskan kondisi sohibul hal (dhomir أنتم) pada fi’il ‘amr انفِرُوا secara langsung.
b). Hal Sababi yang berfungsi menjelaskan kondisi sesuatu yang masih berhubungan erat dengan sahibul hal, seperti:
قَام خالدٌ بالصلاة خَاشِعًا قَلْبُهُ
Kholid mendirikan sholat (dalam kondisi) hatinya khusuk.
Yang diperjelas oleh khusuk bukan sahibul hal (Khalid) secara langsung, namun hatinya.
Dalam Al-Quran:
قوله تعالى : خُشَّعًا أَبْصَٰرُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ ٱلْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُّنتَشِرٌ. القمر ٧
Terjemah: Kondisi pandangan mereka tertunduk, ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.
Lafadz خُشَّعًا pada ayat di atas adalah (hal) yang menjelaskan kondisi pandangan shibul hal yang tertunduk.
4. Sohibul Hal
Sohibul Hal yaitu seseorang atau sesuatu yang kondisinya dijelaskan atau diperkuat.
Letak sahibul hal pada sebuah kalimat, posisinya berbeda-beda, terkadang ia menempati mahal ‘irab rafa‘ karna sedang menjadi fa’il, naibul fa’il atau mubtada, terkadang juga menempati mahal ‘irab nashab karena sedang menjadi maf’ul bih dan lainya.
Perhatikan contoh-contoh berikut:
-> Ketika sahibul hal menempati mahal ‘irab fa’il:
جَاءَ خَالدٌ رَاكِبًا الخَيْلَ
Kholid datang (dalam kondisi) menunggang kuda.
خَالدٌ -» صاحب الحال, رَاكِبًا -» حال
-> Ketika sahibul hal menempati mahal ‘irab maf’ul bih:
رَأيْتُ الطِفْلَ بَاكِيًا
Aku melihat anak itu (dalam kondisi) menangis.
الطِفْلَ -» صاحب الحال، بَاكِيًا -» حال
-> Ketika sahibul hal menempati mahal ‘irab fa’il & maf’ul bih secara bersamaan:
فَحَصَ الطَّبِيْبُ خَالدًا جَالِسَيْنِ
Dokter memeriksa Kholid (dalam kondisi) keduanya duduk.
الطَّبِيْبُ و خَالد -» صاحب الحال, جَالِسَيْنِ -» حال
-> Ketika sahibul hal menempati mahal ‘irab maf’ul ma’ah:
ياخالدُ لاَ تَسِرْ و اللَّيْلَ مُظْلِمًا
Hai Kholid, janganlah kau berjalan (beserta) malam (dalam kondisi) gelap.
الليل -» صاحب الحال، مظلما -» حال
-> Ketika sahibul hal menempati mahal ‘irab dhorf:
سَارَ خَالدٌ اللَّيلَ مُظْلِمًا
Kholid berjalan di malam hari (dalam kondisi) gelap.
الليل -» صاحب الحال، مظلما -» حال
-> Ketika sahibul hal menempati mahal ‘irab naibul fa’il:
يُشربُ الماءُ سَاخِنًا
Air itu diminum (dalam kondisi) panas.
الماء -» صاحب الحال، ساخنا -» حال
-> Ketika sahibul hal menempati mahal ‘irab mudhaf ilaih:
تَمَتَعْتُ بِجَمَالِ الحَدِيْقَةِ واسعةً
Aku senang dengan keindahan taman (dimana kondisi) taman itu luas.
الحديقة -» صاحب الحال، واسعة -» حال
Apa boleh jika واسعةً dijadikan na’at? Boleh, dengan syarat harus mengikuti ‘irab lafadz الحَدِيْقَةِ dalam kondisi apapun, sehingga jika dijadikan na’at akan berbunyi: تَمَتَعْتُ بِجَمَالِ الحَدِيْقَةِ الوَاسِعَةِ
Akan diperluas di bawah pada point perbedaan antara hal dan na’at.
5. Sohibul hal antara Nakirah & Ma’rifat
Pada dasarnya sohibul hal mesti ma’rifat, baik ia dari jenis isim ‘alam, isim dhomir atau ma’rifat dengan bantuan al ta’rif dan idhafat. Namun, terkadang sohibul hal nakirah, apabila memenuhi syarat berikut:
a). Apabila sohibul hal dari kategori isim nakirah, posisi dia mesti diakhirkan dari pada hal, seperti:
جَاءَ بَاكِيًا رَجُلٌ
Seorang lelaki datang (dalam kondisi) menangis.
b). Apabila sohibul hal nakirah, dia harus didahului perangkat nafyi, nahyi atau istifham, seperti:
أَ رَجُلٌ جَاءَ بَاكِيًا ؟ – مَا جَاءَ رَجُلٌ بَاكِيًا – كيفَ جاء رجلٌ باكيًا؟
c). Apabila sohibul hal nakirah, dia harus disifati atau idhafat, seperti:
جَاءَ رَجُلٌ نَاجِحٌ مُبْتَهِجًا
Seorang lelaki sukses datang (dalam kondisi) senang.
d). Apabila sohibul hal nakirah, bentuk dari pada hal mesti berup susunan kalimat, seperti:
جَاءَ رَجُلٌ وَهُوَ يَبْكِى
Seorang lelaki datang (dalam kondisi) sedang menangis.
e). Apabila sohibul hal nakirah, bentuk dari pada hal mesti berupa isim jamid (Bukan muystaq seperti isim fa’il dan kawanya), seperti:
جَاءَ رَجُلٌ بُكَاءً
Terkait bentuk hal antara jamid atau muystaq akan diperluas di bawah !
6. Bentuk-Bentuk Hal
a). Hal Mufrod
Hal Mufrad yaitu hal yang bentuknya tunggal (bukan berupa jumlah kalimat atau syibhul jumlah), dia terbatas dengan bentuk mufrad, mutsana dan jamak. Contoh:
جاء الطالبُ راكبًا – جاء الطالبَانِ رَاكِبَيْنِ – جَاءَ الطَّالبُونَ رَاكِبِيْنَ
راكبًا : حال منصوب وعلامة نصبه الفتحة
رَاكِبَيْنِ : حال منصوب وعلامة نصبه الياء لأنه مثنى رَاكِبِيْنَ : حال منصوب وعلامة نصبه الياء لأنه جمع مذكر سالم
Ketiga Lafadz ini ( راكبًا/رَاكِبَيْنِ/رَاكِبِيْنَ ) adalah bentuk mufrad (tunggal), mutsana (dua) dan Jamak (banyak)
b). Hal Jumlah
Hal Jumlah yaitu hal yang bentuknya berupa susunan kalimat, baik diawali dengan isim (ismiyyah) atau diawali dengan fi’il ( fi’liyyah)
-> Contoh hal jumlah ismiyyah:
جَاءَ خَالدٌ وَهُوَ يَبْكِي
Kholid datang (dalam kondisi) dia menangis
Kalimat وَهُوَ يَبْكِي adalah jumlah ismiyyah yang terdiri dari mubtada dan khobar ) yang sedang menempati mahal ‘irab nashab sebagai hal dari sahibul hal (kholid).
جاء خالد : فعل و فاعل, الواو : واو الحال حرف مبني على الفتح لا محل له، هو : مبتدأ، يبكي : خبر جملة وهو يبكي : الجملة الاسمية من المبتدأ والخبر في محل نصب حال لخالد
Dalam Al-Quran:
وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَىٰ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ
Terjemah: Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim. (Kalian berada dalam kondisi sebagai orang2 zalim).
وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ : الجملة الاسمية من المبتدأ والخبر في محل نصب حال –
-> Contoh hal Jumlah fi’liyyah:
رَأيْتُ خَالدًا يَضْرِبُ الطِفْلَ
Aku melihat Kholid (dalam kondisi) dia memukul seorang anak
Kalimat يَضْرِبُ الطِفْلَ adalah jumlah fii’liyyah yang terdiri dari fi’il’ fa’il dan maf’ul bih ), ia sedang menempati mahal ‘irab nashab sebagai hal untuk sahibul hal (khalid).
رَأيْتُ خَالدًا : فعل, فاعل, مفعول به, يَضْرِبُ الطِفْلَ : فعل و فاعل, جملة يَضْرِبُ الطِفْلَ : الجملة الفعلية من الفعل الفاعل والمفعول به في محل نصب حال لخالد
Dalam Al-Quran:
وَإِذْ نَجَّيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُم بَلَاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ. البقرة ٤٩
Terjemah: Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun. (Dalam kondisi) Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu.
يَسُومُونَكُمْ : الجملة الفعلية من فعل،فاعل ومفعول به في محل نصب حال
c). Hal Syibhul Jumlah
Hal Syibhul Jumlah yaitu hal yang bentuk katanya berupa dhorof atau jar majrur.
– Contoh hal dhorof:
رأى خَالدٌ العَصْفُوْرَ فَوْقَ الشَّجَرَةِ
Kholid melihat burung yang (kondisinya) berada diatas pohon.
Kata فوق adalah dhorof makan, ia sedang menempati mahal ‘irab nashab sebagai hal untuk sahibul hal lafadz العَصْفُوْرَ.
رأى خَالدٌ العَصْفُوْرَ فوق الشجرة
رأى خالد العصفور: فعل، فاعل، مفعول به ،فَوْقَ : شبه جملة ظرف وهو مضاف، الشَّجَرَةِ : مضاف إليه شبه جملة فَوْقَ الشَّجَرَةِ : على الظرفية في محل نصب حال لعصفور
– Contoh hal jar majrur:
رأى خَالدٌ العَصْفُوْرَ عَلى الشَّجَرَةِ
Kalimat على الشجرة adalah huruf jar & isim majrur, ia sedang menempati mahal ‘irab nashab sebagai hal untuk sahibul hal lafadz العَصْفُوْرَ.
رأى خَالدٌ العَصْفُوْرَ : فعل، فاعل، مفعول به, عَلى الشَّجَرَةِ : شبه جملة جار مجرور شبه جملة عَلى الشَّجَرَةِ : جار و مجرور في محل نصب حال لعصفور
Catatan!:
Terkait bentuk hal yang berupa syibhul jumlah, Ulama Nahwu berbeda pandangan:
Menurut pendapat pertama: ” Kata yang menjadi hal yaitu dhorof atau jar majrur itu sendiri “. Sementara menurut pendapat kedua: ” Kata yang menjadi hal yaitu lafadz yang dibuang, sebab pada dasarnya susunan kalimat yang terdiri dari dhorof atau jar majrur, terdapat lafadz yang dibuang dengan memperkirakan lafadz مُسْتَقِرّ atau كَائن, Dengan demikian, cara meng’irabnya menurut pendapat kedua sebagai berikut:
رأى خَالدٌ العَصْفُوْرَ مُسْتَقِرًّا فَوْقَ/على الشَّجَرةِ
رأى خَالدٌ العَصْفُوْرَ : فعل، فاعل، مفعول به, عَلى/ فوق الشَّجَرَةِ : شبه جملة جار مجرور / ظرف متعلقان بمخدوف كلمة مستقر، وهو حال منصوب ومخدوف وجوبًا
||| Perdalam materi Syibhul Jumlah
7. Hal antara Nakirah & Ma’rifat
Pada dasarnya hal mesti nakirah dan ber’irab manshub, sebab apabila hal makrifat, akan terjadi iltibas (kesamaran), antara dia sedang menjadi hal atau na’at.
Dengan demikian, Jumhur Ulama Nahwu tidak memperbolehkan hal berupa isim ma’rifat. Namun tidak sedikit dari Ulama Nahwu yang memperbolehkanya apabila isim tersebut nakirah secara makna, dan ma’rifat secara lafadz, seperti:
نَظَفَ خَالدٌ البيْتَ وَحْدَهُ
Kholid membersihkan rumah (dalam kondisi) dia seorang diri.
Lafadz وَحْدَهُ termasuk isim ma’rifat secara lafadz, sebab ia idhafat kepada dhamir ha, namun secara makna masih tetap nakirah, sebab makna kata وَحْدَهُ sama dengan kata مُنْفَرِد
نَظَفَ خَالدٌ البيْتَ وَحْدَهُ -» نَظَفَ خَالدٌ البيْتَ مُنْفَرِدًا
Dalam Al-Quran:
فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ. غافر ٨٤ وَحْدَهُ : حال منصوب
Terjemah: Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: “Kami beriman hanya kepada Allah (dalam kondisi Allah itu hanya satu, tisak bersekutu) dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah”.
lihat referensi:
انظر: البيان، ج ٢, ص ٢٢١
8. Hal antara Muystaq & Jamid
Pada umumnya, hal mesti berupa isim muystaq atau isim yang bentuknya berupa isim fa’il, isim maf’ul, sifat musyabahah dan syigh mubalaghah. Namun, terkadang isim jamid juga dijadikan hal, terutama pada kalimat yang berkaitan dengan harga.
قال ابن مالك وَكَـوْنـُهُ مُنْتَقِـلاً مُشْتَقًّـا # يَغْلِـبُ لَكِنْ لَيْسَ مُسْتَحَقـَّا # وَيَكْـثُرُ الْجُمُـودُ فى سِعْـرٍ وَفى # مُبْـدِى تـَأَوُّلٍ بِـلاَ تَكَلُّفِ # كَبِعْـهُ مُـدًّا بِكَـذَا يَداً بِيَـدْ # وَكَرَّ زَيْدٌ أَسَـداً أَىْ كَأَسَـدْ
Ibnu Malik bersyair: ” Hal dalam keadan muntaqil dan musytaq itu umum tapi tidak wajib # dan hal jamid banyak pada kalimat terkait harga # dan dalam perkara yang menjelaskan ta’wil tanpa terpaksa # sepeti bi’hu mudda bi kadza (jualah satu mud dengan harga segini) yadan biyad (dengan tunai) karro zaidun asadan (zaid menyerang seperti macan).
Contoh hal berupa isim muystaq:
جَاءَ خَالدٌ فَارِحًا – جَاءَ خَالدٌ مَسْرُوْرًا – جَاءَ خَالدٌ – حَزِيْنًا
Contoh hal berupa isim jamid:
يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُباتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعاً. النساء ٧١
Lafadz ثُباتٍ merupakan bentuk isim jamid, ia sedang menempati mahal ‘irab manshub sebagai hal,
Ketentuan hal isim jamid:
a). Bentuk lafadznya mesti diperkirakan ke bentuk muystaq pada keadaan berikut:
-> Ketika hal jamid berkaitan dengan arti suatu harga, seperti:
بِعْ الفواكهَ كَيْلَةً بِعِشْرِيْنَ روبيةً
Jualah buah-buahan ini 1 kg dengan harga 20 rupiah
Lafadz كيلة adalah hal jamid, yang kemudian posisinya diganti dengan lafadz مُسَعَّراً, sehingga berbunyi:
بِعْ الفواكهَ مُسَعَّراً لِكُلِّ كَيْلَةٍ بِعِشْرِيْنَ روبيةً
-> Ketika hal jamid dijadikan musyabah bih (diserupakan), seperti:
كَرَّ خَالدٌ عَلَى العَدُوِّ أسَدًا
Lafadz أسدا adalah hal jamid, yang kemudian posisinya diganti dengan lafadz مُشَبِّهاً, sehingga berbunyi:
كَرَّ خَالدٌ عَلَى العَدُوِّ مُشَبِّهاً الأَسَدَ
Kholid menyerang musuh (dalam kondisi) dia menyerupai singa.
-> Ketika hal jamid berada di posisi tartib, seperti:
دَخَلَ القومُ بَيْتَ خَالدٍ رَجُلاً رَجُلاً دَخَلَ القومُ بَيْتَ خَالدٍ رجُلَيْنِ رجُلَيْنِ
Lafadz رَجُلاً رَجُلاً adalah hal jamid, yang kemudian posisinya diganti dengan memposisikan lafadz مُرُتَّبًا / مُرَتَّبَيْن, sehingga berbunyi:
دَخَلَ القومُ بَيْتَ خَالدٍ مُرُتَّبًا مُرُتَّبًا
Sekelompok orang masuk rumah kholid (dalam kondisi) mereka masuk satu orang – satu orang.
دَخَلَ القومُ بَيْتَ خَالدٍ مُرَتَّبَيْن
Sekelompok orang masuk rumah kholid (dalam kondisi) mereka masuk dua orang- dua orang
– Ketika hal jamid berupa mashdar sharih (asli), seperti:
رأيْتُ خَالدًا جَرْيًا / مَشْيًا / بُكَاءً
Ketiga lafadz cetak merah yaitu hal jamid dari jenis mashdar, yang kemudian mesti diperkirakan ke bentuk muystaq, sehingga berbunyi:
رأيْتُ خَالدًا جَارِيًا / مَاشِيًا /بَاكِيًا
Dalam Al-Quran:
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا. النساء ١٠
Lafadz ظُلْمًا adalah hal jamidz yang dimaksud yaitu ظَالِمًا
b). Bentuk lafadznya tetap jamid, pada keadaan berikut:
-> Ketika hal Jamid disifati, seperri:
إِنَّا أَنْزَلْناهُ قُرْآناً عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ. يوسف ٢
Terjemah: Sesungguhnya Kami menurunkan (Al-Qur`ān) dalam keadaan/kondisi berupa AlQuran Berbahasa Arab supaya kalian bisa memahami maknanya.
Lafadz قُرْآناً adalah hal jamid yang disifati oleh عَرَبِيًّا, sehingga tidak diperkirakan ke bentuk muystaq.
-> Ketika hal jamid berkaitan dengan hitungan, seperti:
اُكْتُمِلَ العَمَلُ عَشْرِيْنَ يَوْمًا، وَتَمَّ عَدَدُ العَامِلِيْنَ فِيْهِ ثَلاَثِيْنَ عَامِلًا
Pekerjaan selesai 20 hari dengan jumlah pekerja 30 orang
Lafadz عشرين dan ثلاثين adalah hal jamid yang keduanya berkaitan dengan ‘adad (hitungan), sehingga tidak diperkirakan ke bentuk muystaq.
Lihat referensi:
النحو الوافى، ج٢, ص ٣٧٠
همع الهوامع، ج ٢، ص ٢٩٥
أوضح المسالك، ج ٢, ص ٣٠٠
9. Kesesuaian antara Hal dan Sohibul Hal
a). Untuk hal haqiqi
Hal dan sohibul hal mesti sesuai berdasarkan jumlah personilnya (mufrad, mutsanna dan jamak), dan berdasarkan jenis personilnya (mudzakar dan muannats), seperti.
جاءَ الطالبُ رَاكِبًا – جاءَ الطالبان رَاكِبَيْنِ – جاءَ الطالبُوْنَ رَاكِبِيْنَ – جاءَتْ الطالبَةُ رَاكِبَةً – جاءَتْ الطالبَتَانِ رَاكِبَتَيْنِ – جاءَتْ الطالبَاتُ رَاكِبَاتٍ
Namun terdapat beberapa keadaan dimana hal boleh tidak sesuai dengan sahibul hal, di antaranya:
-> Ketika sahibul hal berupa jamak ghair aqil (jamak tidak berakal), maka hal boleh dengan bentuk mufradah muannatsah, sebab 1 jamak tidak berakal sama dengan satu mufradah muannatsah, seperti:
رأيت الأشجارَ مملوءةً بالعصافير
Aku melihat pohon2 itu (dalam keadaan) dipenuhi oleh burung2
-> Ketika hal berupa lafadz yang penggunaan sama, baik untuk mudzakar atau muannats, seperti:
عَرَفْتُ المُؤْمِنَ صَبُوْرًا – عَرَفْتُ المُؤْمِنَةُ صَبُوْرًا
-> Ketika hal berupa fi’il tafhdil yang tidak idhafat atau tidak beralif lam, seperti:
رَأيتُ خَالِدًا أَتْقَى
-> Ketika hal berupa mashdar, seperti:
✅ جَرَى الطالبُ سُرْعَةً
✅ جَرَى الطالبَةُ سُرْعَةً
✅ جَرَى الطالبان سُرْعَةً
✅ جَرَى الطالبُوْنَ سُرْعَةً
✅ جَرَى الطالبَاتُ سُرْعَةً
Lafadz سُرْعَةً boleh sesuai dengan sahibul hal apabila penggunaan mashdar tersebut dianggap tidak asing, seperti:
✅ رأيْتُ الوالي عدلًا
✅ رأيْتُ الوَالِيَيْنِ عَدْلَيْن/عدلًا
✅ رأيْتُ الولاة عُدُوْلًا/عدلًا
b). Untuk Hal Sababi
Hal sababi mesti sesuai dengan isim yang terletak langsung setelahnya, berdasarkan mufrad, mudzakkar dan muannats saja, sementara berdasarkan mutsanna dan jamak tidak disesuaikan, seperti:
✅ قَامَ خَالدٌ بالصلاةِ خَاشِعًا قَلْبُهُ
✅ قامت عائشة بالصلاةِ خَاشِعًا قَلْبُها
✅ قَامَ المُسْلِمُوْنَ بالصلاةِ خَاشِعَةً قُلُوْبُهُمْ
❌ قامت عائشة بالصلاةِ خَاشِعَةً قَلْبُها
❌ قَامَ المُسْلِمُوْنَ بالصلاةِ خَاشِعُونَ قُلُوْبُهُمْ
10. Perbedaan Na’at dan Hal
Keadaan ‘irab hal selalu manshub, meskipun sahibul hal dalam keadaan marfu. Dan lazimnya, hal harus nakirah. Sementara na’at mesti mengikuti man’utnya dalam segi apapun, sebab na’at merupakan bayangan dari man’ut.
Perhatikan! perbandingan antara hal dan na’at:
Hal:
جاءَ الطالبُ رَاكِبًا / جاءَ الطالبَانِ رَاكِبَيْنِ / جاءَ الطالبُوْنَ رَاكِبِيْنَ
جاءَ طالبٌ رَاكِبًا / جاءَ طالبَانِ رَاكِبَيْنِ / جاءَ طالبُوْنَ رَاكِبِيْنَ
رأيتُ الطالبَةَ رَاكِبَةً / رأيت الطالبَتَيْنِ راكِبَتَيْنِ / رأيتُ الطالبَاتِ رَاكِبَاتٍ
Na’at:
جاءَ الطالبُ الرَاكِبُ
جاءَ الطالبَانِ الرَاكِبانِ
جاءَ الطالبُوْنَ الرَاكِبُوْنَ
جاءَ طالبٌ رَاكِبٌ
جاءَ طالبَانِ رَاكِبانِ
جاءَ طالبُوْنَ رَاكِبُوْنَ
رأيتُ الطالبَةَ الرَاكِبَةَ
رأيتُ الطالبَاتِ الرَاكِبَاتِ
11. Membuang Hal
Pada dasarnya hal mesti nampak karena berfungsi menjelaskan sahibul hal atau sesuatu yang berhubungan dengan sahibul hal.
a). Hal wajib nampak dalam keadaan berikut:
-> Ketika hal berada di posisi setelah إلا
مَا أَحَبَّ العَالِمُ إِلاَّ نَافِعًا بِعِلْمِهِ لِغَيْرِهِ
Seorang ulama tidaklah senang kecuali (dalam kondisi) ilmunya bermanfaat untuk orang lain.
-> Ketika hal tidak mungkin dibuang karna akan merusak makna kalimat, seperti pada contoh yang sudah dibahas pada definisi hal di atas.
-> Ketika hal berada di posisi jawaban untuk sebuah pertanyaan, seperti:
قال أحمد : كَيْفَ جَاءَ خالِدٌ ؟ قال زيد : غَاضِبًا
Ahmad: Bagaimana kondisi kholid ketika datang ? Zaid: Kondisinya marah.
Lafadz غَاضِبًا sebagai hal wajib nampak sebab merupakan jawaban zaid untuk Ahmad.
b). Hal boleh dibuang ketika adanya petunjuk bahwa hal telah di buang, seperti:
يَدْخُلُ خَالِدٌ بَيْتًا : السلام عليكم ورحمة الله
Kalimat السلام عليكم ورحمة الله merupakan petunjuk atas dibuangnya hal, sebab kalimat tersebut merupakan sesuatu yang diucapkan, sehingga nampak jelas bahwa sesuatu yang dibuang itu adalah kata قائلا.
يَدْخُلُ خَالِدٌ بَيْتًا قائلا : ” السلام عليكم ورحمة الله
Dalam Al-Quran:
قوله تعالى : وَالْمَلائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ، سَلامٌ عَلَيْكُمْ أي:قائلين: سلام عليكم
وقال تعالى: وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا أي: قائلين ربنا تقبل منا
12 ‘Amil hal
Manshubnya hal tidak dengan sendirinya, namun ia dinashabkan oleh ‘amil-‘amil.
Pertama: ‘Amil Haqiqi
a). Manshubnya hal disebabkan oleh ‘amil berupa fi’il madhi, mudhari‘ dan ‘amr, seperti:
عُدْ إلى البيتِ راكِبًا / جاء خالدٌ راكِبًا / سَيَجِيءُ خالدٌ راكِبًا
b). Manshubnya hal disebabkan oleh ‘amil berupa isim musytaq (isim fa’il, isim maf’ul, sifat musyabahah dan shigh mubalaghah), seperti:
خَالِدٌ مُسَافِرٌ مَاشِيًا
مُسَافِرٌ : عامل, خَالِدٌ : صاحب الحال, مَاشِيًا : حال
خالدٌ مَضْرُوْبٌ بَاكِيًا
مَضْرُوْبٌ : عامل, خَالِدٌ : صاحب الحال, بَاكِيًا : حال
Kedua: ‘Amil Maknawi
a). Manshubnya hal disebabkan oleh isim isyarah, seperti:
هَذَا كِتَابُكَ نَافِعًا
Ini kitabmu (kondisinya) bermanfaat.
تقدير : أشير هَذَا : عامل كتاب : صاحب الحال نَافِعًا : حال
b). Manshubnya hal disebabkan oleh isim istifham, seperti:
كَيْفَ أنْتَ رَاكِبًا السيارةَ مَن سُوربايا إلى جاكرتا ؟
Bagaimana kau (dalam kondisi)naik mobil dari surabaya ke Jakarta ?
كَيْفَ : عامل, أنْتَ : صاحب الحال, رَاكِبًا : حال
c). Manshubnya hal disebabkan oleh perangkat tamani, seperti:
لَيْتَكَ مُسْتَقِيْمًا
Semoga kau (dalam kondisi) istiqomah
تقدير : أتمنّى, لَيْتَ : عامل، الكاف : صاحب الحال مُسْتَقِيْمًا : حال،
d). Manshubnya hal disebabkan oleh isim fi’il ‘amr, seperti:
صَهْ جَالِسًا
Diam kau sambil (dalam kondisi) duduk.
تقدير : اُسْكُتْ, صَهْ : عامل, أنت : صاحب الحال, جَالِسًا :حال
Lihat referensi:
النحو الوافى، ج ٢, ص ٣٨٢ و ج١,ص٣٦٢
13. Mendahulukan Hal dari Sahibul Hal
a). Hal wajib diakhirkan dari sahibul hal dalam keadaan sebagai berikut:
-> Apabila hal dibatasi oleh huruf إِلّا (pengecualian), seperti:
وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ. الكهف ٥٦
Terjemah: Dan tidaklah kami mengutus para rasul kami, melainkan dalam keadaan sebagai pemberi kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan keras.
مُبَشِّرِينَ : حال منصوب وعلامته الياء لأنه جمع مذكر سالم
-> Apabila sahibul hal ber’irab majrur sebab idhafat (sebagai mudhaf ilaih), seperti:
أَعْجَبَنِي شَكْلُ القَمَرِ وَاضِحًا
Bentuk bulan ( dalam kondisi jelas) telah membuatku kagum
lafadz القَمَرِ sebagai sahibul hal dalam keadaan majrur sebab berada di posisi mudhaf ilaih, maka lafadz وَاضِحًا sebagai hal tidak boleh didahulukan.
-> Apabila ‘amilnya berupa mashdar sharih, seperti:
مِنَ الخَيْرِ إِنْجَازُكَ العَمَلَ سَرِيْعًا
إِنْجَازُ : عامل, الكاف : صاحب الحال، سَرِيْعًا : حال تقدير : مِنَ الخَيْرِ أن تُنْجِزَ العملَ سَرِيْعًا
-> Apabila ‘amilnya berupa ‘amil maknawi, seperti isim isyarah, isim istifham, tamanna, tasybih, seperri:
هٰذا كِتَابُكَ جَدِيْدًا
ini adalah kitabmu (dalam kondisi baru).
تقدير : أشير, هذا : عامل بمعنى أشير, ( عامل معنوى) كتاب : صاحب الحال, جديدا : حال
b). Hal wajib didahulukan dari sahibul hal apabila sahibul hal dibatasi oleh huruf إِلّا (pengecualian), seperti:
إلا مَا فازَ نَاجِحًا إلا المجتَهِدُ
Tidak beruntung (dalam kondisi) sebagai orang sukses, kecuali seorang yang rajin.
Sebab sahibil hal kata المجتَهِدُ dibatasi oleh إلا ، maka hal نَاجِحًا wajib didahulukan.
Lihat referensi:
النحو الوافى،ج٢, ص ٣٨٠
c). Hal boleh didahulukan atau diakhirkan apabila di luar ketentuan wajib pada point (a) dan (b).
جاء خالدٌ مبتسمًا / جاء مبتسمًا خالدٌ
kholid datang dalam kondisi tersenyum
14. Sahibul Hal memiliki beberapa Hal
Satu sahibul hal mempunyai beberapa hal, hukumnya boleh selagi tidak merusak makna kalimat, dan tidak dihubungkan oleh wawu ‘athaf, seperti:
رأيتُ خَالدًا غَاضِبًا بَاكِيًا حَزِيْنًا
غَاضِبًا : حال منصوب, بَاكِيًا : حال منصوب, حَزِيْنًا : حال منصوب
Aku melihat kholid (dalam kondisi) marah, menangis, sedih.
Namun apabila dengan banyaknya hal untuk satu sahibul hal akan menimbulkan makna kalimat rusak, maka tidak diperbolehkan, seperti:
رأيتُ خَالدًا راكبًا مَاشِيًا
Aku melihat Khalid berkendara, berjalan kaki
Entah mana yang benar? Berkendara atau berjalan kaki.
Kemudian apabila beberapa hal dihubungkan oleh wawu ‘athaf, maka status isim manshub yang tadinya sebagai hal, beralih menjadi ma’tuf.
رأيتُ خَالدًا راكبًا و بَاكِيًا و حَزِيْنًا
راكبًا : حال منصوب , بَاكِيًا : معطوف, حَزِيْنًا : معطوف
15. Hal memiliki beberapa Sahibul Hal
Satu hal untuk beberapa sahibul hal, hukumnya boleh apabila terdapat petunjuk jelas secara lafadz, seperti:
قَابَلَ خالدٌ زَيْدًا جَالِسَيْنِ
Lafadz جَالِسَيْنِ hal untuk dua sahibul hal (Kholid dan Zaid), petunjuknya terlihat jelas pada lafadz جَالِسَيْنِ yang menunjukan 2 orang).
تقدير : قَابَلَ خالدٌ جالسا, زَيْدًا جالسا
Sementara apabila tidak ditemukan petunjuk yang jelas, maka menurut pendapat Jumhur Ulama Nahwu tidak boleh, seperti:
قَابَلَ خالدٌ زَيْدًا جَالِسًا
Sebab lafadz جَالِسًا hanya menunjukan satu orang, jadi akan sulit menentukan siapa yang duduk, kholid atau zaid ? Meskipun ada sebagian pendapat yang membolehkanya dengan menjadikan isim yang posisinya dekat dengan hal sebagai sahibul hal.
Wallahu’alam. Semoga bermanfaat
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا





Responses (4)