News...!
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا

Struktur Jumlah Fi’liyyah dan Jumlah Ismiyyah dalam Linguistik Arab

0
(0)

Dalam tata bahasa bahasa Arab (nahwu), hubungan antara kata kerja (fi’il) dan subjek (fa’il) ditentukan oleh jenis struktur kalimat yang digunakan. Secara garis besar, sintaksis Arab mengklasifikasikan kalimat ke dalam dua kategori utama, yaitu Jumlah Fi’liyyah (kalimat verbal) dan Jumlah Ismiyyah (kalimat nominal). Perbedaan mendasar di antara keduanya terletak pada urutan kata dan aturan kesesuaian (concord) terkait jumlah (‘adad) serta jenis kelamin (jins).

Jumlah Fi’liyyah

Jumlah Fi’liyyah adalah struktur kalimat yang diawali oleh kata kerja (fi’il). Dalam konstruksi ini, fi’il memiliki aturan morfologis yang spesifik terhadap subjeknya (fa’il):

-» Ketunggalan Fi’il: Fi’il harus selalu dalam bentuk tunggal (mufrad), meskipun subjeknya berbentuk dualis (mutsanna) maupun jamak.

-» Kesesuaian Gender: Fi’il hanya diwajibkan mengikuti jenis kelamin subjeknya, baik itu maskulin (mudzakkar) maupun feminin (muannats).

Contoh Penerapan:

  • Tunggal (mufrad) : ذَهَبَ الطالبُ (Dzahaba al-thālibu) – “Seorang siswa laki-laki telah pergi.”
  • Dualis (mutsanna) : ذَهَبَ الطالبان (Dzahaba al-thālibāni) – “Dua orang siswa laki-laki telah pergi.”
  • Jamak: ذَهَبَ الطالبون (Dzahaba al-thālibūna) – “Para siswa laki-laki telah pergi.”

Jumlah Ismiyyah

Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali oleh kata benda (isim) yang berfungsi sebagai subjek di awal kalimat (mubtada‘). Apabila predikat (khabar) dari kalimat tersebut berupa kata kerja, maka berlaku hukum kesesuaian penuh:

-» Kesesuaian secara Total: Fi’il sebagai khabar wajib mengikuti mubtada’ dalam hal jenis kelamin (jins), jumlah (‘adad), dan persona (tashrif lughawi).

Contoh Penerapan:

  • Dualis (mutsanna): الطالبان ذَهَبَا (Al-thālibāni dzahabā) – “Dua siswa itu telah pergi.”
  • Jamak: الطالبون ذَهَبُوا (Al-thālibūna dzahabū) – “Para siswa itu telah pergi.”

Fungsi Tashrif Lughawi

Penggunaan tashrif lughawi (perubahan bentuk kata kerja berdasarkan 14 pronomina/kata ganti) secara fungsional terjadi pada dua kondisi utama:

-» Predikat dalam Jumlah Ismiyyah:.Fi’il beradaptasi secara morfologis untuk mencerminkan karakteristik mubtada’.

–» Subjek Tersembunyi (Dhamir Mustatir): Ketika fa’il tidak disebutkan secara eksplisit sebagai kata benda lahiriah (isim dzahir), maka fi’il tersebut mengandung informasi subjek di dalamnya. Sebagai contoh, pada kata ذَهَبُوا (dzahabū), huruf wawu (و) berfungsi sebagai subjek yang mewakili kata ganti “mereka” (hum).

-» Analisis Kasus: Lafadz Yas’alunaka
Dalam Al-Qur’an Surah Al-Anfal ayat 1, terdapat redaksi:

 …يَسْئَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ

“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang…”

-» Analisis Gramatikal: Berdasarkan tinjauan sintaksis dan morfologi, ayat tersebut dapat dianalisis sebagai berikut:

  • Klasifikasi: Ayat ini merupakan Jumlah Fi’liyyah karena diawali oleh kata kerja berupa fi’il mudhari’ (يَسْأَلُ).
  • Morfologi: Kata يَسْأَلُونَ (yas’alūna) termasuk ke dalam kategori al-af’al al-khamsah (fi’il lima). Kata ini mengandung dhamir jamak ghaib (hum) yang ditandai dengan keberadaan huruf wawu sebagai subjek (fa’il).
  • Sintaksis: Karena tidak terdapat isim yang mendahuluinya sebagai mubtada’, kedudukannya tetap sebagai kalimat verbal di mana subjeknya melekat (inklusif) di dalam struktur kata kerja tersebut.

Referensi:

-» Al-Ghalayini, Syekh Musthafa. (2005). Jami’ ad-Durus al-Arabiya. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah. (Referensi standar untuk pembentukan Jumlah Ismiyyah dan Fi’liyyah).

-» Ni’mah, Fuad. (n.d.). Mulakhkhash Qawa’id al-Lughah al-Arabiyyah. Damaskus: Dar ats-Tsaqafah al-Islamiyyah. (Panduan praktis tashrif lughawi dan kesesuaian fi’il-fa’il).

 

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.