News...!
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا

Maf’ul Bih: Definisi, Jenis & Ketentuanya

0
(0)

BismilahiRahmaniRahim.

In Syaa Allah akan dibahas materi maf’ul bih, jenis dan ketentuan ‘irabnya.

Perhatikan paragraf berikut ini:

خَرَجَ الصَّدِيْقَانِ، أَحْمَدُ وَعَلِيٌّ مِنَ المَسْجِدِ بَعْدَ أَنْ أَدَّيَا صَلاَةَ الجُمْعَةِ – دَعَا أَحْمَدُ عَلِيًّا لِتَنَاوُلِ طَعَامِ الغَذَاءِ مَعَهُ ولَبَّي عَلِيٌّ الدَّعْوَةَ

وَفِي المَنْزِلِ قَبْلَ تَنَاوُلِ طَعَامِ الغَذَاءِ – دَارَ بينهما الحوار، فقال أحمدُ: لَقَدْ صَرَفَتْ مَشَاغِلُ الحَيَاةِ وَمَلَذَّاتُهَا النَّاسَ عَنْ تَعَالِيْمِ الدِّيْنِ الصَّحِيْحَةِ الَّتِي جَاءَتْ بِهَا الرِّسَالةُ المُحَّمَدِيَّةُ، فَصَارَ الكَثِيْرُ مِنْهُمْ يَلْهَثُ وَرَاءَ الدُّنْيَا الفَانِيَةِ نَاسِيًا الأَخِيْرَةَ البَاقِيَةَ

Pada paragraf di atas terdapat lafadz-lafadz seperti: صَلاَةَ, عَلِيًّا, الدَّعْوَةَ, النَّاسَ الأَخِيْرَةَ, yang semuanya ber’irab manshub dengan tanda fathah. Inilah yang disebut dengan maf’ul bih.

1. Definisi Maf’ul Bih (تعريف مفعول به)

المفعول به هو اسم منصوب وقع عليه فعل الفاعل

Maf’ul bih adalah isim ber’irab manshub yang menjadi objek perbuatan si pelaku, seperti:

ضَرَبَ خَالِدٌ زَيْدًا

Kholid telah memukul Zaid

Lafadz زَيْدًا adalah maf’ul bih dan ber’irab manshub sebab menjadi objek dari pemukulan yang dilakukan oleh Kholid.

2. Jenis Maf’ul Bih (أنواع مفعول به)

Isim-isim yang dijadikan maf’ul bih bermacam-macam, bisa terdiri dari jenis isim dzahir, seperti: nama orang, tumbuhan, hewan, benda mati dan lainya.

Atau dari jenis isim dhamir muttashil dan dhamir munfashil, seperti:

Dhamir muttashil, seperti:

ضَرَبَنِي / ضَرَبَنَا/ ضَرَبَكَ / ضَرَبَكِ /ضَرَبَكُمَا / ضَرَبَكُمْ / ضَرَبَكنَّ / ضَرَبَهُ/ ضَرَبَهَا / ضَرَبَهُمَا / ضَرَبَهُمْ / ضَرَبَهُنَّ ضَرَبَنِي خَالِدٌ / ضَرَبَكَ خَالِدٌ

زيدٌ ضربَكَ

Zaid telah memukulmu

زيدٌ : فاعل مرفوع وعلامته الضمة
ضربَ : فعل ماض مبني على الفتح، والفاعل ضمير مستتر تقديره هو يعود إلى زبد
الكاف: ضمير متصل في محل النصب مفعول به

Dhamir munfashil, seperti:

إيَّايَ / إيَّانَا/إيَّاكَ / إيَّاكِ / إيَّاكمَا / إيَّاكُمْ / إيَّاكُنَّ / إيَّاهُ / إيَّاها / إيَّاهما / إيَّاهُمْ / إيَّاهُنَّ

إياك نعبدُ

Hanya kepadamu Kami beribadah.

إياك : ضمير منفصل في محل النصب مفعول به

Atau dari jenis isim mubham, seperti isim maushul dan isim isyarah:

رأيتُ الذِي نجحَ / رأيتُ هَذا الطالبَ

الذِي : اسم موصول مبني على السكون في محل نصب مفعول به

هذا : اسم إشارة مبني على السكون في محل نصب مفعول به


Pada umumnya, apabila yang menjadi objek berupa isim dzahir, ia di’irab langsung sebagai maf’ul bih. Namun, apabila yang menjadi objek berupa isim dhamir atau isim mubham, biasanya menambahkan kalimat mahal ‘irab. Artinya, ia sedang menempati posisi manshub sebagai maf’ul bih.

Contoh perbandingan cara meng’irabnya:

ضَرَبَ خَالِدٌ زَيْدًا

زيدا: مفعول به منصوب وعلامته الفتحة

ضَرَبَ خَالِدٌ هذا الرجلَ

هذا: اسم اشارة مبني على السكون في محل النصب مفعول به

3. Amil – ‘Amil Maf’ul Bih

Manshubnya maf’ul bih tidak dengan sendirinya, melainkan terdapat ‘amil (faktor) yang membuat ia manshub.

Menurut pendapat Imam Hisyam Bin Mu’awiyyah – Ulama Nahwu Kufah: ” ‘Amil yang membuat manshub maf’ul bih yaitu fa’il. Sementara menurut Imam Al-Firo yaitu fi’il dan fa’ilnya. Dan menurut Imam Sibawaih yaitu fi’il”

Lihat referensi:

انظر : فاضل صالح السامرائي، النحو العربي ص ٣٣

4. Satu Amil Untuk Beberapa Maf’ul Bih

Satu ‘amil bisa menashabkan lebih dari satu maf’ul bih tergantung jenis fi’ilnya, apakah muta’addi kepada satu atau dua maf’ul bih. Berikut contohnya:

قوله تعالى: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
قوله تعالى: قالَ رَبُّنَا الَّذي أَعطى كُلَّ شَيءٍ خَلقَهُ ثُمَّ هَدى
قوله تعالى: فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ
قوله تعالى: وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثًا
قوله تعالى: كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّه أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

5. Membuang ‘Amil Maf’ul Bih

Untuk tujuan tertentu seperti ikhtishar (meringkas) atau takhsis (pengkhususan), terkadang fi’il dan fa’il pada susunan kalimat fi’liyyah keduanya dibuang, dan hanya menyisakan maf’ul bih seorang.

Keadaan ini terjadi ketika maf’ul bih dijadikan jawaban untuk sebuah pertanyaan, seperti:

خالدٌ : مَنْ ضَرَبْتَ يا عمر ؟ عمر : زيدًا

Khalid berkata: Hai Umar, siapa yang kau pukul. Umar menjawab: Zaid.

Umar hanya mengatakan objek yang dia pukul. Artinya terdapat sesuatu yang dibuang yaitu fi’il dan fa’il, apabila ditampakan berbunyi:

عمر: ضربتُ زيدا

Dalam keadaan tertentu, tidak hanya fi’il dan fa’il saja yang dibuang, bahkan maf’ul bih juga ikut dibuang, seperti:

خالدٌ : يا عمر، هَلْ فَهِمْتَ الدرسَ ؟ عمر : نَعَمْ

Khalid berkata: Hai Umar, apakah kau faham materi ini?. Umar menjawab: na’am. 

Umar telah membuang semuanya (fi’il, fa’il dan maf’ul bih) yang hanya diwakili oleh kata na’am. Apabila ditampilkan, jawaban umar seperti ini:

عمر : نَعَمْ، فَهِمْتُ الدرسَ

Berikut ketentuan membuang ‘amil maf’ul bih:

  • Boleh membuang amil (fi’il) ketika ia sudah disebutkan diawal dan tidak ingin diulangi, sebab sudah cukup difahami, seperti:

قوله تعالى: ماذا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قالُوا خَيْراً. سورة النحل ٣٠

Amil yang menashabkan maf’ul bih lafadz خَيْراً telah dibuang yaitu fi’il أنزل, sebab sudah disebutkan diawal dan tidak mesti diulang. Apabila ditampakan berbunyi: أنزل خيرا, sehingga dalam terjemahnya seperti ini: ” Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”

  • Wajib membuang ‘amil (fi’il dan fa’ilnya) ketika posisi maf’ul bih didahulukan, seperti:

الكتابَ قَرَأْتُهُ

Buku ini, aku telah membacanya

الكتابَ : مفعول به لفعل محذوف من الفعل المذكور بعده

‘Amil untuk maf’ul bih lafadz الكتابَ telah dibuang, apabila ditampakan berbunyi:

قَرَأْتُ الكتابَ قَرَأْتُهُ

Catatan:

-> Model susunan kalimat seperti ini masuk pada materi isytighal.

-> Harakat lafadz الكتابَ boleh dirubah dari fathah menjadi dhammah sehingga ia menjadi mubtada, namun keluar dari kaidah isytighal.

  • Wajib membuang ‘amil untuk tujuan ikhtishas ( pengkhususan), seperti:

نَحْنُ المُسْلِمِيْنَ نُؤْمِنُ بِاللَّهِ وحده

المُسْلِمِيْنَ : مفعول به منصوب ، وعلامة نصبه الياء ؛ لأنه جمع مذكر سالم ، لفعل محذوف تقديره : أخص

نحن الطلبةَ نُبْنِى أَنْفُسَنَا عَلَى الالتزام بالقانون

نحن إندونسيين نحب النظافة

  • Wajib membuang ‘amil sebab sudah bersifat sima’i dari Arab,  seperti kalimat:

أهلا وسهلا ومرحبا

Menurut sebagian pendapat: Ketiga Lafadz ini adalah maf’ul bih dari ‘amil yang dibuang. Apabila ditampilkan berbunyi:

جئتَ أهلا وسهلا – وطبت سهلاً ولقيتَ مرحبا

Untuk memperkirakan lafadz ‘amil yang dibuang tidak terbatas seperti pada contoh di atas, selagi maknanya sesuai, ia bisa digunakan untuk lafadz perkiraan.

Menurut pendapat lain: Kalimat أهلا وسهلا ومرحبا adalah maf’ul mutlaq karena lafadz ‘amil yang dibuang dan diperkirakan dari jenis fi’il yang sama dengan ketiga lafadz tersebut, seperti:

أهلا وسهلا ومرحبا : مفعولٌ مطلقٌ لفعلٍ محذوفٍ تقديره: رَحِبتَ مرحبًا، وسهلَتَ سهلًا، وأهلْتَ أهلًا.

Lihat juga artikel terkait: Maf’ul Mutlaq & Ketentuanya

6. Mendahulukan Fa’il dari Maf’ul Bih

Susunan normal kalimat fi’liyyah seperti ini: Fi’il – Fa’il – Maf’ul Bih.

Dalam keadaan tertentu, fa’il wajib didahulukan dari maf’ul bih, dan juga sebaliknya.

Fa’il wajib didahulukan dari maf’ul bih (sesuai susunan normal) pada keadaan berikut’

  • ketika fa’il dan maf’ul bih, keduanya terdiri dari isim maqshur, seperti: 

ضَرَبَ مُصْطَفَى عِيْسَى

Musthafa telah memukul ‘Isa.

Apabila posisinya ditukar, model seperti ini akan sulit diidentifikasi, siapa yang memukul dan dipukul.

Namun apabila pada kalimat tersebut terdapat indikasi untuk membedakan keduanya, maka hukumnya boleh, misalkan terdapat tanda ‘irab ta’ tanist pada fi’il madhinya, seperti:

ضَرَبَتْ سَلْمَى مُوْسَى / ضَرَبَتْ مُوْسَى سَلْمَى

Salma telah memukul Musa.

Lafadz سَلْمَى sebagai fa’il tidak akan tertukar dengan مُوْسَى sebagai maf’ul bih, meski posisinya dibulak balik, sebab terdapat tanda ta tanist pada ضَرَبَتْ yang menunjukan bahwa pelakunya seorang perempuan.

Contoh lain seperti:

أَكَلَ مُوْسَى الحَلْوَى / أَكَلَ الحَلْوَى مُوْسَى

Musa memakan permen.

Meskipun posisinya ditukar, tidak akan merubah lafadz مُوْسَى sebagai fa’il, sebab tidak mungkin ada permen memakan musa. 😀

ضَرَبَ الَّذِى جَاء الَّذِى عِنْدَنَا

Orang yang datang telah memukul orang yang bersama kita.

الذى جَاء : اسم موصول مبنى فى محل رفع ، فاعل الذى عندنا : اسم موصول مبنى فى محل نصب ، مفعول به

ضَرَبَ هَذا هَذا / ضَرَبَ هَؤُلاَء الطُّلاَبِ أُوْلَئِكَ الطَّالِبَاتِ

Orang ini memukul orang ini/ Para siswa memukul para siswi

هذا : اسم الإشارة الأولى مبنى فى محل رفع ، فاعل هذا : الثانى مبنى فى محل نصب ، مفعول به

  • Ketika fa’il dan maf’ul bih, keduanya idhafat kepada iya mutakallim, seperti:

ضَرَبَ أَخِي صَدِيْقِي

Saudaraku telah memukul kawanku

أَخِي : فاعل مرفوع ، وعلامة رفعه الضمة المقدرة ، منع من ظهورها اشتغال المحل بالكسرة المناسبة لضمير المتكلم, صَدِيْقِي : مفعول به منصوب ، وعلامة نصبه الفتحة المقدرة ، منع من ظهورها الكسرة المناسبة لضمير المتكلم

 ضَرَبْتُ خَالِدًا

التاء : تاء الفاعل ضمير مبنى فى محل رفع ، فاعل

Itulah beberapa tempat yang tidak boleh dirubah dengan mendahulukan maf’ul bih, sebab bisa keliru dalam menetapkan subjek dan objek.

7. Mendahulukan Maf’ul Bih dari Fa’il

Maf’ul bih wajib didahulukan dari fa’il pada keadaan berikut:

  • Ketika fa’il dibatasi oleh perangkat hashr Innama (إنّما) atau illa (إلا), seperti:

إِنَّما يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبادِهِ الْعُلَماءُ. فاطر : ٢٨

Lafadz الله adalah maf’ul bih yang wajib didahulukan, sebab kalimatnya diawali oleh innama.

 إِنَّما يَعْرِفُ إِجَابَةَ هَذَا السُؤَالِ خَالدٌ

Yang mengetahui kunci jawaban pertanyaan ini hanyalah kholid.

مَا ضَرَبَ الكَلْبَ إلا خَالِدٌ

Tidak ada yang memukul anjing kecuali kholid.

Khusus untuk masalah fa’il yang dibatasi oleh إلّا terdapat dua pendapat.

Menurut Ulama Bashrah, termasuk Imam Al-Firo, Al-Anbari, dan Al-Kisai:  “Boleh mendahulukan maf’ul bih”. Seperti:

مَا فَهِمَ الدَرْسَ الأَوَّلَ إلا الطَّالبُ

Tidak ada yang faham pelajaran pertama kecuali siswa itu

وَما يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللهُ. آل عمران : ٧

Menurut pendapat kedua, termasuk Imam Al-Jazuly dan Ulama Nahwu Kontemporer:  “Maf’ul Bih tetap harus diakhirkan”. Seperti:

مَا فَهِمَ الطَّالبُ إلا الدَرْسَ الأَوَّلَ

Siswa itu tidak faham kecuali pelajaran pertama.

  • Ketika fa’il disertai dhamir yang kembali kepada maf’ul bih. Pendapat ini menurut: (الأخفش وابن جنى وابن الطوال وابن مالك), seperti:

ضَرَبَ الكَلبَ مَالِكُهُ

Orang yang telah memukul anjing adalah pemiliknya.

ضَرَبَ زَيدا صَدِيْقُهُ

Orang yang telah memukul Zaid adalah kawanya.

Dalam Al-Quran:

وَإِذِ ابْتَلى إِبْراهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِماتٍ فَأَتَمَّهُنَ. البقرة : ١٢٤ لا يَنْفَعُ نَفْساً إِيمانُها. الأنعام : ١٥٨

  • Ketika maf’ul bih terdiri dari isim dhamir, sementara fa’il terdiri dari isim dzahir, seperti:

أَسْعَدَكَ اللَّهُ / بَلَغَنِي الخَبَرُ / ضَرَبَنِي خَالِدٌ

Dalam Al-Quran:

وَما يَعِدُهُمُ الشَّيْطانُ إِلَّا غُرُوراً. النساء : ١٢٠

فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعائِي إِلَّا فِراراً. نوح : ٦

Lihat referensi:

فاضل صالح السامرائي، النحو العربي ص ١٨٥-١٩٢

Lihat juga materi Badal: Jenis & Ketentuan ‘Irabnya

8. Mendahulukan Fi’il dari Maf’ul Bih

Fi’il wajib didahulukan dari maf’ul bih pada keadaan berikut:

  • Ketika maf’ul bih dibatasi oleh perangkat hashr Innama (إنّما) dan illa (إلا), seperti;

إنما كَتَبَ خَالِدٌ الدرسَ / ما كَتَبَ خَالِدٌ إلا الدرسَ

  • Ketika maf’ul bih terdiri dari mashdar muawwal, seperti:

عَرَفْتُ أَنَّكَ تُسَاعِدَنِى

Aku tahu kau akan membantuku

أنك تساعدنى : المصدر المؤول فى محل نصب ، مفعول به

Dalam Al-Quran:

وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلادَكُمْ فَلا جُناحَ عَلَيْكُمْ. البقرة : ٢٣٣

أَنْ تَسْتَرْضِعُوا : المصدر المؤول فى محل نصب ، مفعول به

  • Apabila bentuk fi’il terdiri dari fi’il jamid, sepert:

مَا أَجْمَلَ المَسَاءَ

Alangkah indahnya sore ini

ما : نكرة تامة بمعنى شيء مبنية على السكون ،في محل رفع مبتدأ, أجملَ : فعل ماضٍ جامد لإنشاء التعجب مبني على الفتح الظاهر، و الفاعل ضمير مستتر تقديره (هو ) يعود على المبتدأ, المَسَاءَ : مفعول به منصوب بالفتحة الظاهرة جملة (أجملَ المساءَ) جملة فعلية في محل رفع خبر للمبتدأ

  • Apabila fi’il disertai lam ibtida, seperti:

لَأُكاَفِئُ النَاجِحَ

Aku akan memberi hadiah kepada yang lulus

لأضرب خالدًا

Aku akan memukul kholid

  • Ketika fi’il menempati posisi jawab qosam, seperti:

وَاللَّهِ لَأَفْهَمَنَّ الدَّرْسَ

Demi Allah aku tidak faham materi ini.

9. Mendahulukan Maf’ul Bih dari Fi’il.

Maf’ul Bih wajib didahulukan dari fi’il pada keadaan berikut:

  • Ketika maf’ul bih terdiri dari dhamir munfashil, seperti:

 إيَّايَ / إيَّانَا/إيَّاكَ / إيَّاكِ / إيَّاكمَا / إيَّاكُمْ / إيَّاكُنَّ / إيَّاهُ / إيَّاها / إيَّاهما / إيَّاهُمْ / إيَّاهُنَّ

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. الفاتحة : ٥

إياك : ضمير مبنى فى محل نصب ، مفعول به مقدم

  • Ketika maf’ul bih terdiri dari isim yang semestinya disimpan diawal, seperti: isim istifham مَن dan كم، isim syarat ما، isim khabariyah كم

 مَنْ رَأَيْتَ…؟

Siapa yang kau lihat ?

مَنْ : اسم استفهام مبنى على السكون فى محل نصب ، مفعول به

كم روبيةً أنفقت؟

Berapa rupiah yang kau infakan ?

كم : استفهامية مبنى على السكون فى محل نصب ، مفعول به.

 !كم روبيةٍ أنفقت

Berapa banget rupiah yang kau infakan!

كم : خبرية مبنى على السكون فى محل نصب ، مفعول به

وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ. البقرة ١٩٧

ما : اسم شرط جازم مبنيّ في محلّ نصب مفعول به عامله (تفعلوا)

  • Ketika maf’ul bih berada diantara huruf syarat أَمَّا dan الفاء رابطة, seperti:

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ. الضحى ٩

الفاء : رابطة لجواب شرط مقدّر أمّا : حرف شرط وتفصيل اليتيم : مفعول به مقدّم عامله (تقهر) وعلامة نصبه الفتحة ، وهو الفاصل بين (أما) وفاء الجزاء أو الجواب

Lihat referensi:

انظر : محمد بن يزيد المبرد’ كتاب المقتضب، ١٣-٢٥

10. Membuang Maf’ul Bih

Pada dasarnya, maf’ul bih mesti nampak, sebab merupakan sasaran dari pada si pelaku. Namun, terkadang dibuang karna alasan tertentu, baik terkait lafadz maupun makna.

a). Maf’ul bih boleh dibuang dalam keadaan berikut:

  • Menyesuaikan struktur kalimat agar seiring dan seirama, seperti:

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى. الضحى ٣

تقدير : مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَاكَ

Maf’ul bih setelah fi’il قَلَى telah dibuang yang seharusnya berbunyi: قَلَاكَ, tujuanya agar lafadz قَلَى tetap seirama dengan lafadz سجى pada Ayat sebelumnya.

  • Meringkas (الايجاز), seperti:

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا.البقرة : ٢٤

تقدير : تفعلوه

أَيْنَ شُرَكاؤُكُمُ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ. الأنعام : ٢٢

تقدير : تزعمونهم

  • Sebab tujuan menghinakan/merendahkan, seperti:

كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ. المجادلة ٢١

Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

تقدير : لأغلبنّ الكفار ، فحذف المفعول به للتهوين من شأنهم

  • Untuk menutupi yang tidak layak disebutkan ( اِستهجان)

قول عائشة رضي الله عنها: ما رأى منى ولا رأيت منه. أى : العورة

Dia tidak melihat itu dariku dan aku tidak melihat itu darinya.

Mksdnya Aurat. “etika dalam bergaul suami istri” Sebenarnya masih banyak alasan-alasan kenapa Maf’ul Bih boleh dibuang, silahkan lihat dalam Kitab

Lihat referensi: Annahwu Al’arabi, hal: 215-218

b). Maf’ul bih tidak boleh dibuang dalam keadaan berikut:

  • Ketika maf’ul bih menjadi objek yang ditanyakan, seperti:

السؤال : كم روبيةً أنفقت؟ الجواب : روبيةً وحدةً

Pertanyaan: Berapa rupiah yang kau infakan ? Jawab: 1 rupiah

Jawaban dari pertanyaan ini wajib disebutkan nominalnya karena hal itu yang pertanyakan.

روبيةً : مفعولا به منصوبا ، وعلامة نصبه الفتحة

  • Ketika maf’ul bih dibatasi dengan perangkat hashr innama (إنّما) atau illa (إلا), ia tidak boleh dibuang sebab menjadi targat dari pada kedua perangkat tersebut, seperti:

إنما كَتَبَ خَالِدٌ الدرسَ / ما كَتَبَ خَالِدٌ إلا الدرسَ

  • Ketika naf’ul bih dijadikan atau berada pada posisi muta’ajib minhu, seperti:

   مَاأجملَ المساءَ / مَا أَجْمَلَ المناظرَ

Alangkah indahnya sore ini/Alangkah indahnya pemandangan ini.

المساءَ / المناظرَ : مفعول به منصوب ، وعلامة نصبه الفتحة

  • Ketika maf’ul bih menjadi objek dari fi’il yang muta’ddi kepada dua maf’ul bih. Kedua Maf’ul Bih ini tidak boleh dibuang, karena untuk menyempurnakan fungsi dari pada ‘amilnya.

مَنَحْتُ الصديقَ الوفاءَ
عَلَّمْتُ خَالدًا الدرسَ


Wallahu’alam. Semoga bermanfaat

اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا

Referensi:

انظر: سليمان فياص، النحو العصرى
انظر : عبده الراجى، النحو التطبيقى
انظر : محمد بن يزيد المبرد, المقتضب
انظر : فاضل صالح السامرائي، النحو العربي، باب مفعول به
انظر : الطائي الجياني، شرح التسهيل لابن مالك
انظر : ابن عصفور، المقرب، باب المنصوبات على التشبيه بالمفعول به

 

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.