Pada umumnya kelompok isim-isim mu’rab (selain mabni) memiliki tanda ‘irab berupa harokat, baik dzahirah maupun muqaddarah, yaitu marfu’ dengan dhammah, manshub dengan fathah, dan majrur dengan kasrah yang semuanya bertanwin. Isim-Isim seperti ini disebut dengan istilah isim mu’rab munsharif atau isim mu’rab munawwin atau isim mutamakkin amkan. Contoh:
جَاءَ زَيْدٌ / رَأَيْتُ زَيْدًا / مَرَرْتُ بِزِيْدٍ
Zaid telah datang / Aku melihat zaid / Aku berpapasan dengan Zaid
Namun dari kelompok isim-isim mu’rab tersebut, terdapat isim-isim yang ketika dalam keadaan majrur memiliki tanda ‘irab berbeda, yaitu majrur dengan fathah pengganti dari kasrah yang semuanya tidak bertanwi’. Isim-Isim yang tanda ‘irabnya seperti ini disebut dengan isim mu’rab ghoir munsharif atau isim ghoir munawwin atau isim mutamakkin ghoir amkan. Contoh:
جَاءَ أَحْمَدُ / رَأَيْتُ أَحْمَدَ / مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ
Ahmad telah datang / Aku melihat Ahmad / Aku berpapasan.
Setelah diketahui perbedaan harakat ‘irab kedua isim mu’rab munsharif dan mu’rab ghoir munsharif diatas, selanjutnya akan fokus membahas isim ghair munsharif dan illat (alasan) kenapa masuk kategori ghair munsharif.
I. Definisi Isim Ghair Munsharif
هو مجموعة الأسماء التي لا تقبل التنوين ترفع بالضمة، تنصب بالفتحة، وتجَر بالفتحة نيابة عن الكسرة بشرط ألا يكون مضافا، ولا مقترنا “بأل
Isim ghair munsharif adalah kelompok isim yang tidak menerima tanwin, tanda ‘irabnya marfu’ dengan dhammah, manshub dengan fathah dan majrur dengan fathah. Majrur dengan fathah sebagai pengganti dari kasrah apabila isim ghair munsharif tidak menjadi mudhaf atau tidak ditempeli alif lam. Contoh:
أَعَدَّ خَالِدٌ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنْ مَلاَبِسَ جَدِيْدَةٍ لِلحُضُوْرِ مَعَ أَصْدِقَائِهِ فِي حَفْلَةِ التَّخَرُّجِ التي سَتُعْقَدُ فِي الأسبوعِ القَادِمِ. حَانَتِ الحَفْلَةُ وَجَاءَ الأصدِقَاءُ مِنْ مَدَارِسَ مُخْتَلِفَةٍ وَتَجَمَّعُوا حَولَهُ مَسْرُرِيْنَ بِالمَلاَبِسِ التي جَهَّزَهَا خَالِدٌ
Kholid mempersiapkan pakaian baru yang dia perlukan bersama kawan-kawanya untuk menghadiri pesta kelulusan yang akan diselenggarakan minggu depan. Pada waktunya pesta tiba, kawan kholid datang dari sekolah berbeda, mereka mengerumuni Kholid, mereka senang dengan pakaian yang kholid persiapkan.
Perhatikan isim-isim bercetak merah dan hijau ! Meskipun kalimat مَلاَبِسَ diawali huruf jar, namun ia tetap berharakat fathah, sebab ia termasuk isim ghoir munsharif. Sementara kalimat مع أَصْدِقَائِه berubah harakat menjadi kasrah, sebab ia sedang menjadi mudhaf yang menggugurkan hukum ‘irabnya ghair munsharif. Begitu juga dengan kalimat بِالمَلاَبِسِ berharakat kasrah, sebab ia dimasuki alif lam.
II. Isim-Isim Kategori Ghair Munsharif
Penyebab suatu isim dikategorikan isim ghair munsharif dibagi menjadi dua kelompok.
Pertama: Kelompok dengan satu ‘ilat (penyebab)
1. Alif Ta’nist
Yaitu setiap isim yang diakhiri dengan alif ta’nist maqsurah dan mamdudah. Alif ta’nist maqsurah adalah alif yang terletak diakhir kata yang penulisanya serupa dengan huruf iya’, namun tanpa dua titik dibawah, seperti: حُبْلَى (hamil). Adapun alif ta’nist mamdudah adalah alif yang terletak diakhir kata yang penulisanya berupa hamzah, seperti: حَمْرَاءُ (merah).
Alif tegak (ا) pada kata حَمْرَاءُ adalah alif zaaidah (bukan asli). Kata حَمْرَاءُ asal penulisanya حَمْرَى, lalu ditambahkan alif tegak (ا) atau alif mad untuk tujuan memanjangkan tanda baca, maka jadilah حَمْرَاْىْ. Sampai pada bentuk ini, terjadi bertemunya dua sukun (اْ ىْ), maka selanjutnya huruf alif (ى) dirubah menjadi hamzah, hasilnya حَمْرَاءُ.
Kenapa disebut alif mamdudah (tidak dengan hamzah mamdudah? Sebab melihat bentuk dasar huruf yang dirubah yaitu alif.
Kedua jenis alif ini, baik maqsurah maupun mamdudah, pada umumnya sering ditemui di berbagai jenis isim, terkadang ditemukan pada jenis isim nakirah, seperti: ذِكْرَى / صَحْرَاء, atau pada isim alam ma’rifat, seperti: رَضْوَى / زَكَرِيَاء, atau pada isim sifat, seperti: حَمْرَاء, atau pada isim jamak taksir, seperti: مَرْضَى / أصدقاء dan lainya.
Berikut contoh-contohnya:
a). Alif Maqsurah
حُبْلَى / مَرْضَى / رَضْوَى / سَلْمَى / لَيْلَى / ذِكْرَى / جَرْحَى
Hamil / Sakit / Nama gunung di kota Madinah / Nama Salma / Nama Laila / Mengingat / Luka-luka
Tanda ‘irab isim maqsurah: Marfu’ dengan dhammah muqaddarah, manshub dengan fathah muqadarrah dan majrur dengan fathah muqadarrah pengganti dari kasrah, Contoh:
جَاءَت سَلْمَى / رَأَيْتُ سَلْمَى / مَرَرْتُ بِسَلْمَى
Salma telah datang / Aku melihat Salma / Aku berpapasan dengan Salma
سَلْمَى : فاعل مرفوع وعلامته الضمة المقدرة على الألف, سَلْمَى : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة المقدرة على الألف, سَلْمَى : اسم مجرور بالباء وعلامة جره الفتحة المقدرة على الألف نياية عن الكسرة
b). Alif Mamdudah
أَصْدِقَاءُ / أَشْيَاءُ / أَسْمَاءُ / حَسْنَاءُ / حَمْرَاءُ / صَحٔرَاءُ / زَكَرِيَاء
Kawan-kawan / Sesuatu / Nama-nama / Gadis cantik / Merah / Gurun pasir.
Tanda ‘irab isim mamdudah: Marfu’ dengan dhammah dzahirah, manshub dengan fathah dzahirah dan majrur dengan fathah dzahirah pengganti dari kasrah yang semuanya tanpa tanwin.
Lihat artikel: Harakat Dzahirah & Muqaddarah
Contoh:
جَاءَ أَصْدِقَاءُ / رَأَيْتُ أَصْدِقَاءَ / مَرَرْتُ بِأَصْدِقَاءَ
Teman2 telah datang / Aku melihat Teman2 / Aku berpapasan dengan Teman2
أَصْدِقَاءُ : فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة على آخره, أَصْدِقَاءَ : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة على آخره, بِأَصْدِقَاءَ : اسم مجرور بالباء وعلامة جره الفتحة نيابة عن الكسرة لأنه ممنوع من الصرف
Tanda ‘irab isim maqsurah dan mamdudah setelah dimasuki alif lam atau menjadi mudhaf : Tanda marfu’ dan manshub sama seperti diatas, sementara tanda majrur yang awalnya fathah berubah menjadi majrur sebab sudah tidak terikat lagi dengan ketentuan hukum ghoir munsharif.
Contoh1:
جَاءَ أَصْدِقَاءُهُمْ / رَأَيْتُ أَصْدِقَاءَهُمْ / مَرَرْتُ بِأَصْدِقَاءِهِمْ
Kawan2 mereka datang / aku melihat kawan2 mereka / aku berpapasan dengan kawan2 mereka
Contoh2:
جَاءَ الأَصْدِقَاءُ / رَأَيْتُ الأَصْدِقَاءَ / مَرَرْتُ بِالأَصْدِقَاءِ
Catatan: Tidak setiap isim yang berakhiran kedua alif ini masuk kategori isim ghoir munsharif, apabila kedua alif ini bukan sebagai huruf zaaidah (tambahan) yang merupakan tanda kemuannatsan (ta’nist).
Berikut diantara isim-isim berakhiran huruf alif/hamzah yang bukan merupakan tambahan:
-> Alif/Hamzah asli (bukan tambahan), seperti kata: مَاءٌ / دَاءٌ (air/ penyakit), atau seperti kata: اِبْتِدَاءٌ / إِنْشَاءٌ
kata ابتداء bentuk mashdar dari fi’il madhi ابتدأ dan kata إنشاء dari fi’il madhi أنشأ, artinya kedua hamzah ini adalah asli bawaan dari fi’il.
-> Alif/Hamzah hasil perubahan dari huruf iya’ atau wawu, seperti kata: بِنَاءٌ / كِسَاءٌ.
Lafadz بِنَاءٌ bentuk mashdar dari fi’il بَنَى – يبني yang huruf hamzahnya hasil perubahan dari huruf iya’. Begitu juga dengan lafadz كِسَاءٌ bentuk mashdar dari fi’il كَسَا – يَكْسُو yang huruf hamzahnya hasil perubahan dari huruf wawu.
Dengan demikian, sebab huruf alif/hamzah pada contoh diatas adalah asli dan atau hasil perubahan, maka tidak disebut dengan alif ta’nits mamdudah yang masuk kategori isim ghoir munsharif.
Lihat referensi:
عباس حسن، النحو الوافي ، ج٤, ص٢٠٧
Terkait ghoir munsharif dengan ‘ilat (sebab) ta ta’nist, Ibnu malik bersyair:
فَأَلِفُ التَّأْنِيثِ مُطْلَقاً مَنَعْ # صَرْفَ الَّذِى حَوَاهُ كَيْفَمَا وَقَعْ
Ibnu Malik bersyair: ” Alif ta’nits secara mutlak, baik maqshuroh atau mamdudah mencegah dari kemunshorifan isim”
2. Shighat Muntahal Jumu’
Alasan kedua isim masuk kategori ghair munsharif dengan satu ‘ilat (penyebab) yaitu karena bentuk wazanya ‘shighat muntahal jumu’.
Secara bahasa shighat berarti formasi, muntaha berarti maksimum, dan jumu‘ berarti prular. Artinya, tidak ada bentuk jamak paling tinggi kecuali muntahal jumu’ (Jamak dari segala bentuk jamak), seperti kata: أَنْعَامٌ (bentuk jamak taksir) dari نَعَمٌ yang berarti binatang ternak. Lalu misalkan dijamak lagi menjadi أَنَاعِيْمُ atau أَنَاعِمُ yang merupakan bentuk jamak terakhir (muntahal jumu’). Atau seperti kata كِلاَبٌ atau أَكْلَبٌ bentuk jamak taksir dari كَلْبٌ (anjing), lalu dijamak lagi menjadi أَكَالِيْبُ / أَكَالِب.
Secara istilahi: shighat muntahal jumu’ adalah setiap jama’ taksir yang setelah alif taksir terdapat dua huruf atau tiga huruf yang tengah-tengahnya huruf sukun. Artinya, setiap bentuk jamak taksir yang setelah alif taksirnya hanya satu huruf atau bahkan tidak memiliki alif taksir, maka tidak termasuk muntahal jumu’.
Berikut wazan-wazan shighat muntahal jumu’ dan contohnya:
فعَالِلُ : دَرَاهِمُ (دِرْهَم)
فَعَالِيْلُ : دَنَانِيْرُ (دِيْنارٌ )
أَفَاعِلُ : أفَاضِلُ (أفضَلُ )
أَفَاعِيْلُ : عَصَافِيْرُ (عَصْفُوْرٌ)
تَفَاعِلُ : تَجَارِبُ (تَجْرِبَةٌ)
تَفَاعِيْلُ : تَرَامِيْدُ (تُرْمُوْدَة )
فَوَاعِلُ : نَوَاصِرُ (ناصِرَةٌ)
فَوَاعِيْلُ : طَـَوَاحِيْنُ (طـَحُوْنةٌ )
مَفَاعِلُ : مَعَابِدُ (مَعْبَدٌ )
مَفَاعِيْلُ : مَنَادِيْلُ (مِنْدِيْلٌ)
فَيَاعِلُ : صَيَارِقُ (صَيْرَقٌ )
فَيَاعِيْلُ : دَيَاسِيْرُ (دَيْسُوْرٌ )
يَفَاعِلُ : يَحَامِدُ (يَحْمَدٌ)
يَفَاعِيْلُ : يَحَامِيْمُ (يَحْمُوْمٌ)
Tanda ‘irab shighat muntahal jumu’: marfu’ dengan dhammah, manshub dengan fathah dan majrur dengan fathah pengganti dari kasrah yang semuanya tanpa tanwin, seperti:
عَرَّدَتْ عَصَافِيْرُ / رَأيتُ عَصَافِيْرَ / جَاءَ خَالِدٌ بِعَصَافِيْرَ
Burung-burung berkicau / Aku melihat burung2 / kholid membawa banyak burung
عَصَافِيْرُ : فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة على آخره, عَصَافِيْرَ : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة على آخره, بِعَصَافِيْرَ : اسم مجرور بالباء وعلامة جره الفتحة نيابة عن الكسرة
Seperti halnya isim ghair munsharif lainya, shighat muntahal jumu’ juga apabila dimasuki alif lam atau menjadi mudhaf , ia keluar dari ketentuan ghoir munsharif, sehingga tanda ‘irabnya menjadi marfu’ dengan dhammah, manshub dengan fathah dan majrur dengan kasrah, seperti:
هَذِه المَنَادِيْلُ / اشتريتُ المَنَادِيْلَ / جَاءَ خَالِدٌ بِالمَنَادِيْلِ
Ini adalah tisu2 / Aku membeli banyak tisu / kholid membawa banyak tisue.
هَذِه مَنَادِيْلُ المَطْبَخِ / اشتريتُ مَنَادِيْلَ المَطْبَخِ / جَاءَ خَالِدٌ بِمَنَادِيْلِ المَطْبَخِ
ini adalah tisu2 dapur / Aku membeli banyak tisu dapur / kholid membawa banyak tisu dapur.
Tanda ‘irab shighat muntahal jumu’ apabila termasuk kelompok isim manqus yaitu isim yang berakhiran huruf iya’ lazimah, berharakat sukun, dimana huruf sebelum iya tersebut berharakat kasrah, seperti kata دَوَاعِي / ثَوَانِي, maka menurut Jumhur Ulama terdapat dua ketentuan:
-> Apabila tidak dimasuki alif lam, maka huruf iya’ harus dibuang dalam keadaan rafa’ dan jar dan diganti dengan tanwin ‘iwad. Adapun dalam keadaan nashab, huruf iya’ tetap nampak dan berharakat fathah tanpa tanwin. Jadi tanda ‘irabnya marfu’ dengan dhammah muqaddarah atas huruf iya’ yang dibuang, manshub dengan fathah dzahirah dan majrur dengan fathah muqaddarah atas huruf iya’ yang dibuang.
Contoh:
دَوَاعِي / ثَوَانِي
Da’i / Detik2
Pada contoh di atas, keduanya merupakan shighat muntahal jumu’ berwazan فَوَاعِلُ dari bentuk tunggal (دَاعِيَة dan ثَانِية ).
Contoh kalimat berikut ‘irabnya:
الأسَاتِيْذُ دَوَاعٍ / رأيتُ دَوَاعِيًا أَمَامَ المَسْجِدِ / انتَفَعْتُ مِنْ دَوَاعٍ
Para ustad adalah para da’i / aku melihat para da’i di depan mesjid / aku mengambil faidah dari pada da’i.
دَوَاعٍ: خبر مرفوع وعلامة رفعه الضمة المقدرة على الياء المحذوفة, دَوَاعِيًا : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة, دَوَاعٍ : اسم مجرور بالباء وعلامة جره الكسرة المقدرة على الياء المحذوفة
-> Apabila dimasuki alif lam atau sedang idhafat, maka huruf iya’ tetap nampak, namun dalam keadaan rafa’ dan jar tidak diberi harokat, sedangkan dalam keadaan nashab diberi harokat.
Perhatikan contoh berikut harokatnya:
الثَوَانِي لَيْسَتْ الثَوَانِي إِلاَّ قِطْعًا مِنَ الحياةِ نفقها، ونحن عنها غافلون
Detik2 merupakan bagian dari kehidupan yang kita lalaikan.
لَيْسَ العُمْرُ إِلاَّ الثوانيَ الَّتي نَسْتَهِيْنُ بها
Umur itu tidak lain kecuali detik2 yang kita abaikan.
مِنَ الثَوَانِي تَكُوْنُ السَّاعَاتُ وَالأَيَّامُ
Detik2 merupakan bagian dari waktu dan hari.
Untuk perluasan pendapat lainya (minoritas), silahkan lihat referensi berikut
عباس حسن، النحو الوافي ,ج٤, ص ٢١٢
Terkait pasal ini, Ibnu Malik bersyair:
وَكُنْ لِجَمْعٍ مُشْبِهٍ مَفَاعِلاَ # أَوِ الْمَفَاعِيلَ بِمَنْعٍ كَافِلاَ
Jama’ taksir yang serupa dengan wazan مَفَاعِلُ atau مَفَاعِيْلُ masuk ghair munshorif.
وَذَا اعْتِلاَلٍ مِنْهُ كَالْجَوَارِى # رَفْعاً وَجَرًّا أَجْرِهِ كَسَارِى
Shighot muntahal jumu’ yang mu’tal akhir seperti اْلجَوَارِى ketika dalam keadaan rofa’ dan jar berlaku seperti isim manqus, seperti:
سَارِى وَلِسَرَاوِيلَ بِهَذَا الْجَمْعِ # شَبَهٌ اقْتَضَى عُمُومَ الْمَنْعِ
Isim mufrod apabila serupa dengan shighot muntahal jumu’, seperti kata سَرَاوِيْلَ juga berlaku ghoir munshorif.
وَإِنْ بِهِ سُمَّىَ أَوْ بِمَا لَحِقْ # بِهِ فَالاِنْصِرَافُ مَنْعُهُ يَحِقْ
Shighot muntahal jumu’ atau lafadh yang seperti shighot muntahal jumu’ apabila dijadikan isim ‘alam ,maka berlaku ghair munshorif.
Kedua: Kelompok yang memiliki dua ‘ilat (penyebab).
Kelompok isim ghair munsharif yang memiliki dua ‘illat terdiri dari dua kelompok isim yaitu isim ‘alam dan isim sifat.
1. Isim ‘alam
Kelompok pertama yang masuk kategori ghoir munsharif dengan dua ‘ilat (penyebab) yaitu isim ‘alam. Isim alam mencakup semua nama, baik manusia, hewan, benda mati, nama tempat dan lainya. Namun, tidak semua isim ‘alam masuk kategori isim ghoir munsharif apabila tidak memenuhi syarat dan ketentuan berikut:
a). Setiap nama orang yang masuk kategori mu’annat, baik diakhiri dengan tanda huruf ta’ marbuthah maupun tidak, baik muannats lafdzi, maknawi atau keduanya. Contoh seperti nama:
مَيْسَرَةُ / فَاطِمَةُ / مَرْيَمُ / زَيْنَبُ / سُعَادُ / قَتَادَةُ / طَلْحَةُ / حَمْزَةُ – مُعَاوِيَةُ
Maisarah / Fatimah / Maryam / Zainab / Su’aad / Qatadah / Talhah / Hamzah / Mu’awiyah dan lainya.
Kesimpulan: Isim-isim pada contoh di atas masuk kategori isim ghoir munsharif sebab dua alasan yaitu termasuk kategori isim ‘alam (‘alamiyyah) dan termasuk isim kategori muannats.
Contoh ‘irab;
جَاءَتْ فَاطِمَةُ / رأيتُ فَاطِمَةَ / سَلِّمْ عَلى فَاطِمَةَ
Fatimah telah datang / Aku melihat Fatimah / Sampaikan salamku kepada Fatimah
فَاطِمَةُ : فاعل مرفوع وعلامة رفعة الضمة الظاهرة على آخره, فَاطِمَةَ : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة على آخره, فَاطِمَةَ : اسم مجرور بحرف الجر وعلامته الفتحة الظاهرة نيابة عن الكسرة لأنه ممنوع من الصرف للعلمية والمؤنث
Terkait pasal ini, Ibnu Malik bersyair:
كَذَا مُؤَنَّثٌ بِهَاءٍ مُطْلَقَا # وَشَرْطُ مَنْعِ العَارِ كَوْنُهُ ارْتَقَى # فَوْقَ الثَّلاَثِ أَوْكَجُورَ أَوْ سَقَرْ # أَوْ زَيْدٍ اسْمَ امْرَأَةٍ لا اسْمَ ذَكَرْ
Secara mutlaq Isim alam yang mu’anatsnya bersamaan dengan ta’ ta’nits berlaku hukum ghair munsharif dan syaratnya isim mu’anats tanpa ta’ ta’nits yang masuk kategori ghoiru munshorif adalah : – Lebih dari 3 huruf, – boleh 3 huruf yang tengahnya berharkat, dan boleh yang tengah mati tapi manqul dari mudzakar, seperti:
هند وَجْهَانِ فى الْعَادِمِ تَذْكِيرًا سَبَقْ # وَعُجْمَةً كَهِنْدَ وَالْمَنْعُ أَحَقْ
Adapun Isim alam yang mu’anatsnya tidak bersamaan dengan ta’ ta’nits, dan terdiri dari 3 huruf, dan huruf tengahnya mati, atau tidak manqul dari mudzakar dan tidak ajam, maka boleh mengambil 2 opsi yaitu munshorif dan ghoiru munshorif, namun opsi ghoiru munshorif lebih baik.
Untuk mengetahui detail tentang muannats, lihat pada pasal ‘Irab Jamak Muannats Salim
b). Nama-nama berakhiran huruf alif dan nun zaaidah (tambahan), baik nama manusia, tempat, dan lainya. Contoh seperti nama berikut:
بَدْرَانُ / حَيَّانُ / مَرْوَانُ/ قَحْطَانُ / عُثْمَانُ / سُلَيْمَانُ / شَعْبَانُ / رَمَضَانُ / عمْرَانُ/ عمان / رغدان
Alif dan nun pada isim-isim di atas semuanya merupakan tambahan, seperti nama سُلَيْمَانُ berasal dari tiga huruf asli سلم, atau عمْرَانُ berasal dari عُمَرُ. Dengan demikian, apabila salah satu huruf alif atau nun dan atau keduanya bukan merupakan tambahan, maka tidak termasuk isim ghoir munsharif.
Contoh huruf alif dan nun asli, seperti kata: خَانٌ (nama gunung di hijaz), atau kata بَانٌ ( kedai/hotel)
Contoh huruf alif tambahan dan nun asli, seperti kata أَمَانٌ (aman), لِسَانٌ (lisan), ضَمَانٌ (asuransi).
Cara untuk mengetahui bahwa huruf alif dan nun pada suatu kata merupakan zaaidah (tambahan), yaitu dengan mengambil huruf alif dan nun dari isim tersebut, kemudian apabila setelah diambil sisa hurufnya hanya dua berarti alif dan nun bukan tambahan, sebab tidak ada kata dasar fi’il maupun isim yang memiliki dua huruf. Namun, apabila setelah diambil masih tersisa 3 atau lebih, maka boleh mengambil dua opsi yaitu menganggap huruf alif atau nun sebagai tambahan dan atau menganggapnya asli.
Contoh opsi1: Menganggap huruf alif atau nun sebagai tambahan.
حَمْدَانُ / فَرْحَانُ
Kita ambil alif dan nun dari kedua isim diatas, hasilnya حمد / فرح yaitu bentuk fi’il yang bermakna memuji dan gembira.
حَسَّانُ / عَفَّانُ / حَيَّانُ
Kita ambil alif dan nun dari ketiga isim diatas, hasilnya عَفّ / حَسّ / حَيّ yaitu bentuk fi’il yang bermakna rasa/apik/hidup. Dengan demikian, alif dan nun pada ketiga isim ini merupakan tambahan dan masuk ghoir munsharif.
Contoh opsi2:
Menganggap alif atau nun pada ketiga contoh isim di atas bukan merupakan tambahan (حَسَّانُ / عَفَّانُ / حَيَّانُ)
Ketika dikembalikan ke kata dasar, ketiganya berasal dari kata حسن، عفن، حين yang bermakna (baik, busuk dan periode). Dengan demikian keluar dari ghoir munsharif. Namun tetap perlu memperhatikan dan mengutamakan kata dasar yang cocok dengan maknanya, seperti kalimat عثمان بن عفان kata ‘affan tidak pantas apabila dikembalikan ke bentuk asal عفن, sebab secara makna tdk pantas dinisbatkan kepada arti nama bapak sayyidina utsman. Jadi yang tepat dan pantas yaitu menganggap alif dan nun pada kata عفان sebagai tambahan yang statusnya masuk ghoir munsharif. ”
Point ini hanyalah pendapat pribadi antara pantas dan etika dalam menisbatkan arti jelek kepada nama seseorang”.
Kesimpulan: Isim-isim di atas masuk kategori isim ghoir munsharif sebab dua alasan yaitu: termasuk kategori isim ‘alam (‘alamiyyah), dan juga termasuk isim yang memiliki penambahan dua huruf alif dan nun.
Contoh ‘irab:
جَاءَ عُثْمَانُ / رأيتُ عُثْمَانَ / مررتُ بِعُثْمَانَ
عُثْمَانُ : فاعل مرفوع وعلامة رفعة الضمة الظاهرة على آخره, عُثْمَانَ : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة على آخره, بِعُثْمَانَ : اسم مجرور بحرف الجر وعلامته الفتحة الظاهرة نيابة عن الكسرة لأنه ممنوع من الصرف للعلمية والزيادة
Terkait pasal ini, Ibnu Malik bersyair:
كَذَاكَ حَاوِى زَائِدَىْ فَعْلاَنَا # كَغَطَفَانَ وَكَأَصْبِهَانَا
Isim alam yang diakhiri huruf zaaidah alif nun berlaku hukum ghair munshorif, eperti lafadz غَطَفَانَ dan اَصْبَهَانَ
c). Nama-nama ‘ajami (nama yang bukan berasal dari bahasa arab), dengan ketentuan sebagai berikut:
-> Sebelum dijadikan nama dalam bahasa arab, nama tersebut asli untuk nama manusia, seperti:
يوسف / إبراهيم / مرقص – جوزيف – فكتور
Yusuf /Ibrahim /Markus / Jousef / Victor
Namun apabila sebelum dijadikan nama dalam bahasa arab bukan asli nama manusia, maka tidak termasuk ghoir munsharif, seperti misalkan nama ‘teko’, di Indonesia nama ini untuk benda mati, lalu sama Orang Arab dijadikan nama orang (‘alam).
Contoh lain seperti kata بندار (Dalam bahasa Persia yang berarti penjual logam), dan قالون (dalam bahasa Romania yang berarti sesuatu yang baik). Kedua kata ini merupakan jenis (bukan nama orang), kemudian jika kedua kata ini dijadikan nama manusia oleh Arang Arab, maka tidak termasuk ghoir munsharif. “Ini menurut sebagian pendapat”.
Sedangkan menurut pendapat lain, baik berasal dari nama manusia ataupun bukan, apabila sudah dijadikan sebuah nama (‘alam) dalam bahasa arab, maka dia termasuk isim ghoir munsharif.
Contoh ‘irab:
جَاءَ إِبْرَاهِيْمُ / رأيتُ إِبْرَاهِيْمَ / مررتُ بِإبْرَاهِيْمَ
إِبْرَاهِيْمُ فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة على آخره, إِبْرَاهِيْمَ : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة على آخره, بِإبْرَاهِيْمَ : اسم مجرور بالباء وعلامة جره الفتحة نيابة عن الكسرة لأنه ممنوع من الصرف للعلمية والعجمية
Lihat perluasan;
عباس حسن، النحو الوافي , ج٤, ص ٢٤٤
-> Mesti dari isim ‘ajam yang lebih dari 3 huruf, seperti:
يوسف / إبراهيم / إسماعيل / إسحاق / يعقوب
Dengan demikian, hal ini sesuai dengan pendapat Mayoritas Ulama, bahwa nama yang hanya memiliki tiga huruf meskipun ‘ajami (bukan asal arab) tidak termasuk ghoir munsharif, seperti nama هود / نوح / لوط (Hud, Nuh, luth).
Contoh ‘irab:
جَاءَ نُوْحٌ / رأيتُ نُوْحًا / مررتُ بِنُوْحٍ
نُوْحٌ : فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة على آخره, نُوْحًا : مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة على آخره, نُوْحٍ : اسم مجرور بالباء وعلامة جره الكسرة الظاهرة على آخره
Terkait pasal isim ‘alam ‘ajami, Ibnu Malik bersyair:
وَالْعَجَمِيُّ الوَضْعِ وَالتَّعْرِيفِ مَعْ # زَيْدٍ عَلَى الثَّلاَثِ صَرْفُهُ امْتَنَعْ
Isim ‘alam yang lafadznya ‘ajam serta lebih dari 3 huruf itu berlaku ghoiru munshorif.
Tambahan: Semua nama Malaikat termasuk isim ghair musharif kecuali malaikat مَالِك / مُنْكَر / نَكِير (Malik, munkar, Nakir). Begitu juga dengan semua nama Para Nabi termasuk isim ghoir munsharif dengan alasan masuk isim ‘alam dan ‘ajami, kecuali nama berikut:
محمدا، وصالحا، وشعيبا، وهودا، ولوطا، ونوحا
(Muhammad, Shaleh, Tsu’aib, Hud, Luth dan Nuh).
Untuk nama مُوْسَى (Musa) apabila yang dimaksud adalah Nabi Musa “Alaihisalam, maka termasuk isim ghoir munsharif, namun apabila yang dimaksud adalah pisau cukur, maka boleh munsharif atau ghoir munsharif.
d). Nama-nama yang berasal dari wazan fi’il seperti يَزِيْدُ (Yaziid), أحْمَدُ ( Ahmad), إثمد (Itsmad), أبلم (Ablam).
Alasan isim-isim ini masuk kategori isim ghoir munsharif sebab dua alasan yaitu termasuk kategori isim ‘alam (‘alamiyyah) dan termasuk kategori isim yang diambil dari bentuk fi’il.
e). Nama-nama yang berasal dari perubahan bentuk asli/ ‘udul
‘Udul dalam istilah ilmu nahwu adalah perubahan bentuk suatu isim secara lafadz, dimana dengan adanya perubahan tersebut, secara kaidah merubah status hukum ‘irab dari munsharif menjadi ghoir munsharif.
Kriteria ‘udul:
- Tanpa merubah makna asli
- Tanpa merubah posisi huruf
- Tanpa merubah harkat dengan tujuan takhfif
- Tanpa tashgir dengan tujuan menghina
‘Udul semata-mata merupakan sima’i, seperti nama عُمَرُ (Umar) hasil ‘udul dari kata عَامِر (‘aamir).
Berikut isim-Isim yang termasuk ghoir munsharif dengan dua illat, karena termasuk isim alam (‘alamiyyah) dan termasuk ‘udul.
1). Setiap isim berwazan فُعَلُ apabila dipergunakan sebagai taukid maknawi, seperti جُمَعُ / كُتَعُ / بُصَعُ / بُتَعُ.
Isim-isim ini adalah bentuk jamak untuk mentaukid/mempertegas isim jamak muannats salim.
Tanda ‘irabnya marfu’ dengan dhammah, manshub dengan fathah dan majrur dengan fathah pengganti kasrah. Contoh:
جَاءَتْ الطَّالِبَاتُ كُلُّهُنَّ جُمَعُ / رأيتُ الطَّالِبَاتِ جُمَعَ / مَررتُ بِالطَّالِبَاتِ جُمَعَ
جُمَعُ : توكيد معنوى مرفوع وعلامته الضمة الظاهرة جُمَعَ : توكيد معنوى منصوب وعلامته الفتحة الظاهرة جُمَعَ : توكيد معنوى مجرور وعلامته الفتحة نيابة عن الكسرة لأنه ممنوع من الصرف للعلمية والعدل
Catatan: Lafadz جُمَعُ dan kawanya apabila tidak dipergunakan untuk mentaukid, maka boleh di’irab munsharif sebagaimana halnya isim-isim yang termasuk jenis, sifat atau mashdar yang berwazan فُعَلٌ, seperti lafadz berikut:
غُرَفٌ / قُرَبٌ / صُرَدٌ / نُغَرٌ / حُطَمٌ / لُبَدٌ
2). Setiap isim ‘alam berwazan فُعَلُ untuk mufrad mudzakkar, seperti kata berikut:
عُمَرُ، مُضَرُ، زُفَرُ، زحل، جمح، قزح، عصم، دلف، هذل، ثعل، زفر، زحل، جمح، قزح، عصم، دلف، هذل، ثعل، جشم، قشم
Umar / Mudhar / Zufar / Zujaldan seterusnya, kecuali untuk kata طُوَى (nama sebuah telaga di kota Syam), boleh masuk dua kategori munsharif apabila yang dimaksud adalah طُوَى selain telaga kota syam, dan kategori ghoir munsharif apabila yang dimaksud adalah telaga tersebut dengan alasan kata طُوَى termasuk ‘alamiyyah (nama tempat tertentu) dan berakhiran alif ta’nits maqsurah.
Lihat referensi:
عباس حسن، النحو الوافي، ج٤,ص٢٥٧
3). Lafadz سَحَرَ (sepertiga malam)
Lafadz ini ‘udul dari lafadz السحر yang termasuk kategori isim ghoir munsharif dengan ketentuan:
-> Apabila dipergunakan sebagai dhorof zaman dan bermaksud menunjuk sepertiga malam tertentu, tidak beralif lam dan tidak idhafat, seperti:
غَرَّدَتِ البَلاَبِلُ يَوْمَ الخَمِيْسِ سَحَرَ
Burung bulbul di hari kamis (pada waktu sepertiga malam) berkicau
سحر : ظرف منصوب على الظرفية، ممنوع من التنوين للعلمية والعدل
-> Apabila dalam penggunaanya bukan sebagai dhorof zaman, maka dia keluar dari status ke ‘alamiyyahanya’ dan harus dimasuki alif lam atau idhafat apabila ingin dikhususkan, seperti:
السَّحَرُ أَنْسَبُ الأَوْقَاتِ للتَبَصّرِ أو التفكير ِ وعجيب أن يغفل الناس عَنْ سَحَرِهِمْ وأن يقضوا سحرَهم نائمين
Sepertiga malam adalah waktu terbaik untuk berkotemplasi dan berfikir. Anehnya orang-orang pada lalai dari sepertiga malam. Mereka malah asik menghabiskanya untuk tidur.
Demikian juga dengan nama bulan dalam islam yang sewazan dengan سَحَرَ, seperti رَجَب dan صَفَر, keduanya merupakan ‘udul dari lafadz الصفر dan الرجب yang menunjukan bulan tertentu.
Dalam hal keduanya masuk kategori munsharif atau ghoir munsharif sama seperti yang berlaku pada lafadz سحر
4). Setiap nama perempuan yang berwazan فَعَال, seperti: رَقَاشُ / حَذَام /قَطَام
Terdapat dua pendapat terkait penyebab isim-isim ini masuk kategori ghoir munsharif:
-> Sebab termasuk kategori isim ‘alam (‘alamiyyah) dan masuk kategori ‘udul, dimana ketiga isim tersebut hasil ‘udul (perubahan) dari راقشة، حاذمة، قاطمة
-> Sebab termasuk kategori isim ‘alam (‘alamiyyah) dan muannats maknawi.
-> Apabila isim-isim berwazan فَعَال memiliki akhiran huruf ra (ر) seperti وَبَار (nama kabilah arab di perbatasan Yaman), ظَفَار (nama kampung di yaman) dan صَفَار (nama sebuah sumur).
Orang Arab Tamim menghukumi isim seperti ini dengan mabni kasrah dalam setiap keadaan.
كَانت وَبَارِ القَدِيْمَةِ عَظِيْمَةً / إِنَّ وَبَارِ القَدِيْمَةِ عَظِيْمَةٌ / لَمْ يَبْقَ مِنْ وَبَارِ القَدِيْمَةِ إِلاَّ الأطلال
Kabilah arab (perbatasan Yaman) hebat /Hanyalah puing reruntuhan yang terisa dari peninggalan Kabilah arab (perbatasan Yaman)
Kata وَبَارِ pertama mabni kasrah di tempat rafa’ (isim kana), وَبَارِ kedua mabni kasrah di tempat nashab (isim inna), dan وَبَار mabni kasrah di tempat jar (isim majrur), Sedangkan pendapat Orang Arab Tamim “Tidak hanya isim yang berakhiran Ro saja, namun semua isim yang berwazan فَعَال dihukumi mabni kasrah termasuk ketiga isim di atas ( رقاش، حذام، قطام ).
Lihat referensi:
عباس حسن، النحو الوافي، ج٤, ص ٢٦١
5). Lafadz أَمْسِ
Lafadz ini ‘udul dari lafadz الأمس yang menurut sebagian pendapat Arab Tamim, lafadz أَمْسِ termasuk ghoir munsharif dengan ketentuan:
- Harus isim alam dan yang dimaksud adalah “hari kemarin” (hari sebelum hari ini).
- Tidak beralif lam dan idhafat
- Tidak ditashgir
- Tidak dalam bentuk jamak
- Tidak menjadi dzharaf zaman
Contoh:
انْقَضَى أَمْسُ عَلى خَيْرِ حَالٍ / قَضَيْتُ أَمْسَ فِي إِنْجَازِ عَمَلِي/ قَدْ اِسْتَحَرْتُ مُنْذُ أَمْسَ
Hari kemarin berlalu dengan baik / Aku menghabiskan hari kemarin untuk menyelesaikan tugas / Aku bergadang sejak hari kemarin.
أَمْسُ : فاعل مرفوع وعلامته الضمة الظاهرة, أَمْسَ : مفعول به منصوب وعلامته الفتحة الظاهرة, أَمْسَ : اسم مجرور بالفتحة نيابة عن الكسرة لأنه ممنوع من الصرف
Menurut mayoritas pendapat Arab Tamim : “Lafad أَمْسِ tidak termasuk ghoir munsharif” Mereka menghukuminya marfu’ dengan dhammah tanpa tanwin، dan mabni kasrah dalam keadaan nashab dan Jar Contoh;
انْقَضَى أَمْسُ عَلى خَيْرِ حَالٍ / قَضَيْتُ أَمْسِ فِي إِنْجَازِ عَمَلِي/ قَدْ اِسْتَحَرْتُ مُنْذُ أَمْسِ
أَمْسُ : فاعل مرفوع وعلامته الضمة الظاهرة, أمْسِ : اسم مبني على الكسر في محل النصب مفعول به, أَمْسِ : اسم مبني على الكسر في محل الجر اسم مجرور
Menurut mayoritas pendapat Arab Hijaz : Apabila memenuhi ketentuan yang disyaratkan di atas, maka tidak masuk ghoir munsharif dan ber’irab mabni kasrah dalam semua keadaan.
انْقَضَى أَمْسِ عَلى خَيْرِ حَالٍ / قَضَيْتُ أَمْسِ فِي إِنْجَازِ عَمَلِي/ قَدْ اِسْتَحَرْتُ مُنْذُ أَمْسِ
أَمْسِ : اسم مبني على الكسر في محل الرفع فاعل أَمْسِ : اسم مبني على الكسر في محل النصب مفعول به, أَمْسِ : اسم مبني على الكسر في محل الجر اسم مجرور
Apabila tidak memenuhi ketentuan diatas, Tamimi dan Hijazi sepakat bahwa lafadz أمس bukan ghoir munsharif.
Berikut contoh ketika kata أمس tidak dikhususkan untuk ‘hari kemarin’ (samar) antara hari kemarin atau kemarinya lagi dst.
انقضى أمسٌ مِنَ الأُمُوْسِ الطَّيِّبَةِ / قَضَيَنَا أَمْسًا مِنَ الأُمُوْسِ فِي رِحْلَةٍ / لَمْ نَأْسفْ عَلَى أَمْسٍ مِنَ الأُمُوْسِ
أمسُ : فاعل مرفوع وعلامته الضمة, أَمْسًا : مفعول به منصوب وعلامته الفتحة, أَمْسٍ : اسم مجرور وعلامته الكسرة
Kenapa bertanwin ? sebab status ke alamiayahanya hilang akibat tidak dikhususkan (umum) untuk hari tertentu
Contoh ketika kata أمس Idhafat:
أََمْسُنَا كَانَ جَمِيْلاً / إِنَّ أَمْسَنَا كَانَ جَمِيْلاً / سَرَرْتُ بِأمْسِنَا
أََمْسُنَا : مبتدأ مرفوع وعلامته الضمة وهو مضاف، وضمير نا مضاف إليه, أَمْسَنَا : اسم إن منصوب وعلامته الفتحة وهو مضاف، وضمير نا مضاف إليه بأمسِنَا : اسم مجرور وعلامته الكسرة وهو مضاف، وضمير نا مضاف إليه
Contoh ketika kata أمس beralif lam:
الأَمْسُ كَانَ جَمِيْلاً /إِنَّ الأمسَ كَانَ جَمِيْلاً / سَرَرْتُ بِانْقِضَاءِ الأَمْسِ
الأَمْسُ : مبتدأ مرفوع وعلامته الضمة, الأمسَ : اسم إن منصوب وعلامته الفتحة الأَمْسِ : مضاف إليه مجرور وعلامته الكسرة
Contoh ketika kata أمس di tasghir:
أُمَيْسٌ كان جميلا / إن أُمَيْسًا كان جميلا / سررتُ بِأُمَيْسٍ
Contoh ketika kata أمس dalam bentuk jamak:
كَانَتْ أُمُوْسٌ جميلةً / إنّ أُمُوْسًا كَانَتْ جميلةً، سررتُ بأموسٍ
Tamimi dan Hijazi juga sepakat apabila lafadz أمس menjadi dhorof tanpa beralif lam dan idhafat, dia ber’irab mabni kasrah. Contoh:
سَرَّتْنِي زِيَارَتُكَ أَمْسِ / خَرَجْتُ أَمْسِ مُبْكِرًا لِرِحْلَةٍ
أَمْسِ : ظرف زمان مبني على الكسر
Bagaimana hukum ‘irab apabila lafadz أَمْسِ dijadikan nama orang ? Tamimi dan Hijazi sepakat bahwa أَمْسِ apabila dijadikan nama orang, dia masuk kategori mu’rab munsharif dengan kaidah:
أن كل مفرد مبني إذا صار علما -فإنه يجب فيه الإعراب مع الصرف
Setiap isim mufrad yang mabni apabila menjadi sebuah nama orang, maka wajib masuk kategori mu’rab dan munsharif bertanwin, Contoh:
جَاءَ أمسٌ / رأيتُ أمسًا / مررتُ بِأمسٍ
Amsun telah datang / Aku mlihat amsun / aku berpapasan dengan amsun.
Lihat referensi:
عباس حسن، النحو الوافي، ج٤, ص ٢٦٢ , حاشية ياسين على التصريح في الموضع
f). Nama-nama murakkab (rangkap).
Selanjutnya isim-isim yang termasuk ghoir munsharif dengan dua ‘ilat (penyebab) yaitu sebab ‘alamiyyah (nama orang) dan sebab merangkap (murakkab).
Isim isim murakabbah memiliki banyak jenis seperti murakkab mazji, isnadi, idhafi, ‘adadi, haali, dhorfi.
Adapun untuk jenis murakkab yang masuk kategori ghoir munshari yaitu murakkab mazji. Murakkab mazji adalah gabungan dua nama dari nama berbeda makna menjadi satu nama, baik nama orang atau tempat.
Ketika dua nama ini dijadikan satu, pada umumnya untuk nama yang pertama berakhiran harokat fathah atau sukun seperti:
بُرْ + سَعِيْدُ = بُرْسَعِيْدُ
نِيُوْ + يَرَكُ = نِيُوْيَرَكُ
جَرْدَنْ + سِتِي = جَرْدَنْسِتِي
خَالُ + وَيْهِ = خَالُوَيْهِ
سِيْبَ + وَيْهِ = سِيْبَوَيْهِ
حَضْرَ + مَوْتُ = حَضْرَمَوْتُ
بَعْلَ + بَكَ = بَعْلَبَكَ
Nama kota di mesir / Nama kota di amerika / Nama tempat / Nama kota di Iran /Nama imam nahwu/ Nama kota di Yaman / Nama kota di Libanon.
Hukum ‘irab murakkab mazji:
Pendapat pertama: Isim pertama tidak dihukumi ‘irab apapun, baik mu’rab maupun mabni. Artinya harokat akhir isim pertama sama seperti sebelum disatukan baik fathah maupun sukun. Lalu untuk Isim kedua dihukumi ghoir munsharif (marfu’ dengan dhammah, manshub dengan fathah dan majrur dengan fathah pengganti kasrah dan tidak bertanwin).
Contoh dalam kalimat:
غَادَرْنَا “نِيُوْيَرَكَ قَاصِدِيْنَ إلى “بَعْلَبَكَ“؛ ثُمَّ نَتَّجِهُ إلى بُرْسَعِيْدَ وَ كَانَتْ “بُرْسَعِيْدُ” جميلةً
Kita meninggalkan Newyork bermaksud menuju kota Ba’labak dan setelahnya akan menuju kota Portsaid. Kota Portsaid ternyata indah.
نيويرك: مفعول به منصوب وعلامته الفتحة, بعلبك : اسم مجرور وعلامته الفتحة نيابة عن الكسرة لأنه ممنوع من الصرف, برسعيدُ : اسم كان مرفوع وعلامته الضمة
Pendapat kedua: Isim pertama menjadi mudhaf yang harokat akhirnya sesuai posisinya dalam kalimat, dan Isim kedua sebagai mudhaf ilaih yang boleh masuk munsharif atau ghoir munsharif.
Dengan demikian dalam penulisanya memakai spasi seperti contoh berikut:
نِيُوْ يَرَكَ / نِيُوْ يَرَكِ
بُرْ سَعِيْدَ / بُرْ سَعِيْدِ
بَغْلُ بَكَ / بَغْلُ بَكِ
✔️كَانَتْ بَغْلُ بَكِ جَمِيلةً / كَانَتْ بَغْلُ بَكَ جَمِيلةً
✔️زُرْتُ بَغْلَ بَكِ / بَغْلَ بَكَ
✔️نَحْنُ نَتَّجِهُ إِلَى بَغْلِ بَكِ / بَغْلِ بَكَ
Catatan:
-> Setiap isim murakkab berakhiran kata وَيْهِ seperti سبويه / نفطوَيْهِ / خالوَيْهِ hukum harokat akhirnya mabni kasrah. Contoh ‘irab:
جَاءَ سِبَوَيْهِ / رأيتُ سِبَوَيْهِ / مررتُ بِسِبَوَيْهِ
سِبَوَيْهِ١ : اسم مبني على الكسر في محل الرفع فاعل فهو مركب مزاجي ممنوع من الصرف
سِبَوَيْهِ ٢ : اسم مبني على الكسر في محل النصب مفعول به فهو مركب مزاجي ممنوع من الصرف
سِبَوَيْهِ ٣ : اسم مبني على الكسر في محل الجر اسم مجرور بالباء فهو مركب مزاجي ممنوع من الصرف
-> kata سِبَوَيْهِ berasal dari سِيْبَ (bahasa persia) yang berarti apel (تُفَّاحٌ) dan وَيْهِ yang berarti aroma (رائحة) Aroma Apel.
Kata ini masuk kategori ghoir munsharif apabila yang dimaksud adalah sibawaih ulama nahwu, adapun jika yang dimaksud adalah sibawaih lain, maka masuk mutasharif dan boleh bertanwin.
Terkait pasal ghoir munsharif sebab murakkab, imam Malik bersyair:
وَالعَلَمَ امْنَعْ صَرْفَهُ مُرَكَّبَا # تَرْكِيبَ مَزْجٍ نَحْوُ مَعْدِي كَرِبَا
Isim ‘alam dari kelompok tarkib majzi bisa mencegah kemunshorifan isim seperti مَعْدِي كَرِبَا
2. Isim Sifat
Kelompok kedua yang masuk kategori ghoir munsharif sebab dua ‘ilat adalah isim sifat.
Isim sifat mencakup semua isim yang mengandung kata sifat dengan tiga kriteria sebagai berikut;
a). Kata sifat yang memiliki dua huruf tambahan alif dan nun berwazan فَعْلَانُ, seperti:
غَضْبَانُ / عَطْشَانُ / سَكْرَانُ
Marah/haus/mabuk
Mayoritas Ulama Nahwu mensyaratkan sifat berwazan فَعْلَانُ bukan yang bentuk muannatsnya berwazan فَعْلاَنَةُ (penambahan ta’ ta’nits marbuthah), sebab sifat-sifat berwazan فَعْلَانُ khusus mudzakkar.
Mudzakkar: غَضْبَانُ / عَطْشَانُ / سَكْرَانُ Muannats: غَضْبَى / عَطْشَى / سَكْرَى
Namun demikian, dalam kamus klasik maupun kontemporer, kita temukan bentuk muannats dari wazan فَعْلاَن bisa فَعْلاَنَةُ dan فَعْلَى seperti contoh berikut:
غَضْبَانُ – غَضْبَانَةُ
عَطْشَانُ – عَطْشَانَة
سَكْرَانُ – سَكْرَانَة
Hal ini sesuai dengan keputusan hasil kongres ‘Majma’ Buhuts Al-Lughah Al Arabiyyah’ yang diselenggarakan di Bagdad pada tahun 1965 yang menghasilkan ketentuan bahwa bentuk muannats dari wazan فَعْلاَن boleh menjadi berwazan فَعْلاَنَةُ yang merupakan bahasa bani asad. Contoh:
رَجُلٌ غَضْبَانُ / امرأة غَضْبَانَةُ ✔️
رَجُلٌ غَضْبَانُ / امرأة غَضْبَى ✔️
Terkecuali sifat yang khusus untuk mudzakkar, seperti لَحْيَانُ tidak memiliki bentuk muannats رجلٌ لَحْيَانُ (lelaki jenggot panjang)
Kesimpulan; lafadz غَضْبَانُ / عَطْشَانُ / سَكْرَانُ masuk kategori isim ghoir munsharif sebab memiki dua ‘illat (alasan) yaitu washfiyyah (sifat) dan berakhiran huruf alif nun.
Terkait pasal ini, Ibnu Malik bersyair:
قال ابن مالك : وَزَائِدَا فَعْلاَنَ فِى وَصْفٍ سَلِمْ # مِنْ اَنْ يُرَى بِتاَءِ تَأْنِيْثٍ خُتِمْ
Isim sifat yang mengikuti wazan فَعْلاَنَ yang bentuk mu’anatsnya tidak berakhiran ta’ ta’nits itu berlaku ghoiru munshorif
b). Kata sifat yang menyerupai wazan fi’il berwazan أَفْعَلَ yang bentuk muannatsnya berwazan فُعْلاَءُ dan فَعْلَاءُ atau فَعْلَى (isim tafdhil)
Contoh:
Mudzakar: أَحْسَنُ / أَفْضَلُ / أَدْنَى / أَحْمَرُ / أَبْيَضُ Muannats: حُسْنَى / فُضْلَى / دُنْيَا / بَيْضَاءُ / حَمْرَاءُ
Isim-isim seperti diatas masuk kategori ghoir munsharif dengan syarat: Bentuk muannatsnya tidak berakhiran ta’ ta’nist marbuthah, seperti أَرْمَلُ (mudzakkar), أَرْمِلَةُ (muannats).
Ibnu Malik bersyair:
قال ابن مالك وَوَصْفٌ أَصْلِىٌّ وَوَزْنُ أَفْعَلاَ # مَمْنُوعَ تَأْنِيثٍ بِتَا كَأَشْهَلاَ
Isim sifat asli yang ikut wazan اَفْعَلَ yang mu’anatsnya tidak diakhiri ta’ ta’nits maka berlaku ghoiru munshorif
3. Sifat hasil ‘udud (perubahan) dari bentuk aslinya
Isim sifat ‘udud ini berlaku untuk ‘adad / bilangan angka 1-10 yang berwazan فُعَالُ atau مَفْعَلُ, seperti أَحَادُ dan مَوْحَدُ yang merupakan hasil ‘idud (perubahan) dari bentuk kata asli وَاحِدٌ وَاحِدٌ
Orang arab meringkas dua kata ‘wahid wahid’ menjadi satu kata berbeda wazan untuk tujuan takhfif (meringankan), dan perubahan bentuk seperti ini terjadi pada hitungan 1-10, yang dipergunakan untuk mudzakkar dan muannats
أَحَادُ / مَوحَدُ -» وَاحِدٌ وَاحِدٌ
ثُنَاءُ / مَثْنَى -» اثْنَيْنِ اثْنَيْنِ
ثُلاَثُ / مَثْلَثُ -» ثَلاَثَةٌ ثَلاَثَةٌ
رُبَاعُ / مَرْبَعُ -» أربعةٌ أربعةٌ
خُمَاسُ / مَحْمَسُ -» خَمْسَةٌ خَمْسَةٌ
سُدَاسُ / مَسْدَسُ -» سِتَّةٌ سِتَّةٌ
سُبَاعُ / مَسْبَعُ -» سَبْعَةٌ سَبْعَةٌ
ثُمَانُ / مَثْمَنُ -» ثَمَانِيَةٌ ثَمَانِيَةٌ
تُسَاعُ / مَتْسَعُ -» تِسْعَةٌ تِسْعَةٌ
عُشَارُ / مَعْشَرُ -» عَشَرةٌ عَشَرةٌ
Perhatikan contoh kalimat berikut:
جَاءَ الطُّلاَبُ أَحَادَ / مَوحَدَ -» جَاءَ الطُّلاَبُ وَاحِدًا وَاحِدًا
Kalimat ini memiliki arti sama yaitu Para siswa datang satu satu.
جَاءَ الطُّلاَبُ ثُنَاءَ / مَثْنَى -» جَاءَ الطُّلاَبُ اثْنَيْنِ اثْنَيْنِ
Para siswa datang dua dua
جَاءَ الطُّلاَبُ ثُلاَثَ / مَثْلَثَ -» جَاءَ الطُّلاَبُ ثَلاَثَةً ثَلاَثَةً
Para siswa datang tiga tiga
جَاءَ الطُّلاَبُ رُبَاعَ / مَرْبَعَ -» جَاءَ الطُّلاَبُ أربعةً أربعةً
Para siswa datang empat empat
Untuk angka 5-10 sama seperti contoh diatas.
Kesimpulan; Lafadz أَحَادُ / مَوحَدُ dan kawanya masuk kategori isim ghoir munsharif sebab memiliki dua ‘ilat (penyebab) yaitu washfiyyah (sifat) dan ‘udul (transformasi wazan).
Lalu bagaimana apabila sifat ini dijadikan nama orang, seperti matsna مَثْنَى ? Secara kaidah lafadz ini bukan lagi merupakan sifat melainkan sebuah nama manusia. Dengan demikian ‘ilat washfiyyahnya hilang dan berubah menjadi ‘alamiyyah. Statusnya tetap masuk kategori ghoir munsharif, namun dengan ‘ilat lain yaitu ‘alamiyah (isim alam) dan ‘udul.
Tanda ‘Irab Isim-isim sifat diatas marfu’ dengan dhmmah, manshub dan majrur dengan fathah، semua tanpa tanwin.
Adapun untuk posisi kedudukan ‘irab (mahal ‘irab) dalam sebuah kalimat, pada kebanyakan kasus biasanya sebagai, hal, na’at atau khabar.
Contoh dalam posisi hal:
جَاءَ الطُّلاَبُ ثُلاَثَ / مَثْلَثَ ثُلاَثَ / مَثْلَثَ : حال منصوب وعلامته الفتحة الظاهرة
Contoh dalam posisi na’at:
رَأيتُ حَوْلَ حَمَّام السّبَاحَةِ طُيُوْرًا مَثْنَى / ثَنَاءَ
مثنى : نعت منصوب وعلامته الفتحة المقدرة ثَنَاءَ : نعت منصوب وعلامته الفتحة الظاهرة
Aku melihat burung dua dua (dua disini dan dua disana) sekitaran kolam renang
Contoh dalam posisi khobar:
أَصَابِعُ اليَدَيْنِ وَالرِجْلَيْنِ خُمَاسُ / مَخْمَسُ خُمَاسُ / مَخْمَسُ : خبر مرفوع وعلامته الضمة الظاهرة
Jari jari kedua tangan dan kaki lima-lima.
Lihat referensi:
عباس حسن، النحو الوافى ج ٤, ص ٢٢٢ السيوطى، الهمع، ج١, ص ٢٦
Catatan: Dalam prnggunaanya, isim-isim sifat ‘udul di atas boleh diulang-ulang seperti pada bentuk lafadz aslinya untuk tujuan taukid (mempertegas). Contoh:
جَاءَ الطلابُ ثُلَاثَ ثُلَاثَ
Kata ثُلَاثَ sebagai hal dan ثُلَاثَ sebagai taukid lafdzi.
Penjelasan di atas adalah pendapat mayoritas, sementara pendapat minoritas, mereka tidak memasukan isim-isim ini pada kategori washfiyyah yang keluar dari hukum ghoir munsharif.
Terkait ghoir munsharif dengan sebab wasfiyah dan ‘udul, Imam Ibnu Malik bersyair:
وَمَنْعُ عَدْلٍ مَعَ وَصْفٍ مُعْتَبَرْ # فى لَفْظِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَأُخَرْ
Wasfiyah bisa mencegah kemunshorifan bersamaan dengan ‘adal terkhusus untuk wazan مَفْعَلُ dan فُعَلُ seperti اُخَرُ
اُخَرُ وَوَزْنُ مَثْنَى وَثُلاَثَ كَهُمَا # مِنْ وَاحِدٍ لأَرْبَعٍ فَلْيُعْلَمَا
Isim yang ikut wazan مَفْعَلُ dan فُعَلُ dari bilangan satu sampai empat bisa dikategorikan ghoir munsharif
III. Contoh Isim Ghoir Musharif Dalam AlQur’an
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا. سورة النساء ٨٦
” Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ. سورة ال عمران ٩٦
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”
وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ آيَةً وَآوَيْنَاهُمَا إِلَىٰ رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَمَعِينٍ. سورة المؤمنون ٥٠
” Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam bersama ibunya sebagai suatu bukti yang nyata bagi (kebesaran Kami), dan Kami melindungi mereka di sebuah dataran tinggi, (tempat yang tenang, rindang dan banyak buah-buahan) dengan mata air yang mengalir”
نَتْلُو عَلَيْكَ مِن نَّبَإِ مُوسَىٰ وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ. سورة القصص ٣
“Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir‘aun dengan sebenarnya untuk orang-orang yang beriman”
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ ۚ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا. سورة النساء ١٦٣
” Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Dawud”.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ. سورة البقرة ١٨٥
“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”
Demikian pembahasan materi isim ghoir munsharif. Apabila ada hal yang belum jelas silahkan tinggalkan komentar atau merujuk langsung pada kitab referensi di bawah.
Wallahu’alam. Semoga bermanfaat
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا
Referensi:
عباس حسن، النحو الوافي، ج٤, ص٢٠٠
الأصول في النَّحو, ج٢, ص٥٣
المفصل لزمخشري، ص١٧٦
شرح الكافية”، للرضي، ج٢, ص١٩٢
ارتشاف الضَّرَب”، ج٢ ص ٣٧٠
شرح شذور الذَّهب، ص٧٢
سيبويه, ج٢ ،ص٥٤





Responses (3)