BismilahiRahmaniRahim. In Syaa Allah akan dibahas materi tentang klasifikasi mu’rab dan mabni sesuai kaidah bahasa arab.
Dalam tata bahasa Arab, setiap kata dikategorikan berdasarkan perubahan atau ketetapan harakat pada huruf terakhirnya. Memahami perbedaan antara Mu’rab dan Mabni merupakan fondasi penting dalam proses I’rab (analisis sintaksis), karena menentukan bagaimana sebuah kata berinteraksi dengan komponen kata lainnya dalam satu kalimat.
1. Definisi Mu’rab dan Mabni
Secara linguistik, perbedaan keduanya terletak pada fleksibilitas harakat akhirnya.
Mabni (المبني)
المبني هو الذي لا يتغير حركة آخره مع تغير موقعه من الإعراب
Mabni secara harfiah berarti “bangunan” atau “kokoh”. Dalam terminologi Nahwu, Mabni adalah kata yang harakat atau bentuk huruf akhirnya bersifat tetap (statis) dan tidak mengalami perubahan, meskipun posisi atau kedudukan gramatikalnya (mahal i’rab) dalam kalimat berubah-ubah.
- Karakteristik: Tidak dipengaruhi oleh faktor luar (‘amil) seperti kata depan atau kata kerja.
- Contoh: Kata ganti (dhamir), kata tunjuk (isim isyarah), dan sebagian besar kata depan (harf).
Mu’rab (المعرب)
المعرب هو الذي يتغير حركة آخره مع تغير موقعه من الإعراب
Mu’rab berarti “yang diarabkan” atau “fleksibel”. Mu’rab adalah kata yang harakat atau huruf akhirnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan posisi gramatikalnya dalam sebuah kalimat.
- Karakteristik: Sangat bergantung pada mahal i’rab (apakah sebagai subjek/rafa’, objek/nashab, atau keterangan/jarr).
*Contoh: Sebagian besar kata benda (isim) dan kata kerja (fi’il mudhari‘).
2. Klasifikasi Kata Kerja Mabni (المباني من الأفعال)
Dalam tata bahasa Arab, status mabni (statis/tetap) pada kata kerja merupakan kaidah dasar bagi sebagian besar rumpun fi’il. Berdasarkan kaidah umum Nahwu:
الْمَبْنِيُّ مِنَ الأَفْعَالِ هُوَ الْمَاضِي، والأَمْرُ، والْمُضَارعُ الْمُتَّصِلُ بنون التوكيد, أو نُونِ الإِنَاثِ
“Kata kerja yang termasuk kelompok mabni adalah Fi’il Madhi, Fi’il Amr, serta Fi’il Mudhari’ yang terhubung dengan Nun Taukid atau Nun Niswah.”
A. Mabni Pada Fi’il Madhi (Kata Kerja Masa Lampau)
الْمَاضِي يُبنى على السكون إِذَا اتَصَلَ بِضَميرِ رَفْعٍ مُتَحَرِّكٍ، وعلى الضَّمِّ إذا اتَصَلَ بِواو الْجَماعةِ، وعلى الْفتْحِ فِيما عَدَا ذَلِكَ
Fi’il Madhi secara asal adalah mabni. Menurut pendapat yang kuat (rajih) dari mayoritas ulama (Jumhur), Fi’il Madhi memiliki tiga keadaan mabni berdasarkan harakat huruf akhir:
-» Mabni ‘ala al-Sukun (Mabni Sukun)
Terjadi apabila Fi’il Madhi terhubung dengan Dhamir Rafa’ Mutaharrik (kata ganti subjek yang berharakat), yaitu: Ta’ al-fail (تَ، تِ، تُما، تُمْ، تُنَّ) dan Na al-failin (نَا).
ضَرَبْتُ / ضَرَبْتِ / ضَرَبْتُمَا / ضَرَبْتُمْ / ضَرَبْتُنَّ / ضَرَبْنَا
ضَرَبْتُ : فعل ماض مبني على السكون لاتصاله بضمير رفع متحرك و التاء ضمير متصل مبني على الضم في محل رفع فاعل
* Analisis I’rab: Fi’il madhi mabni ‘ala al-sukun karena bersambung dengan dhamir rafa’ mutaharrik.
-» Mabni ‘ala al-Dhammi (Mabni Dhammah)
Terjadi apabila Fi’il Madhi terhubung dengan Wawu Jama’ah (و) yang menunjukkan pelaku jamak laki-laki (Hum).
ضَرَبُوْا
ضَرَبُوْا : فعل ماض مبني على الضم لاتصاله بواو الجماعة، وواو الجماعة مبنِيٌّ على السُّكون في مَحَلِّ رفع فاعل
* Analisis I’rab: Fi’il madhi mabni ‘ala al-dhammi karena bersambung dengan Wawu Jama’ah. Wawu tersebut berkedudukan sebagai fai’l (pelaku).
-» Mabni ‘ala al-Fathi (Mabni Fathah)
Terjadi apabila Fi’il Madhi berdiri sendiri (tunggal) atau terhubung dengan Alif Itsnain (tunggal dua) dan Ta’ Ta’nits (penanda perempuan).
ضَرَبَ / ضَرَبَا / ضَرَبَتْ
ضَرَبَ / ضَرَبَا / ضَرَبَتْ : فعل ماض مبني على الفتح ،والفاعل ضمير مستتر تقديره هو، هما، هي
* Analisis I’rab: Fi’il madhi mabni ‘ala al-fathi, dengan pelaku berupa dhamir mustatir (tersembunyi)
Perbedaan Pendapat Ulama (Ikhtilaf)
Mengenai perubahan harakat pada Fi’il Madhi, terdapat dua mazhab utama:
-» Pendapat Jumhur Ulama: Menetapkan keadaan mabni berdasarkan harakat yang terdengar di ujung kata (Sukun, Dhammah, atau Fathah). Pendapat ini dianggap lebih mudah bagi pelajar karena cukup melihat harakat akhir kata tersebut.
-» Pendapat Ulama Kuffah: Berpendapat bahwa semua Fi’il Madhi adalah Mabni Fathah, baik secara tampak (dzahirah) maupun tersembunyi (muqaddarah).
* Contoh Kasus: Pada kata ضَرَبُوْا (Dharabuu), menurut madzhab Kuffah, ia adalah mabni fathah muqaddarah. Harakat fathah tidak muncul karena tempatnya “sibuk” (istighalul mahal) oleh harakat dhammah yang muncul untuk menyesuaikan (munasabah) dengan huruf Wawu.
B. Mabni Pada Fi’il Amr (Kata Kerja Perintah)
يُبنى فعل الأمر على السكون في حالتين إذا كان صحيح الآخر ولم يتصل به شيء و إذا اتصلت به نون النسوة، يُبنى على حذف حرف العلة إذا كان معتل الآخر، و يٌبنى على حذف النون إذا اتصلت به واو الجماعة أو ألف الاثنين أو ياء المخاطبة، يُبنى على الفتح إذا اتصلت به نون التوكيد اتّصالا مباشرا دون فاصل بينها وبين الفعل مثل الف الاثنين أو واو الجماعة أو ياء المخاطبة
Fi’il Amr secara keseluruhan bersifat mabni. Kaidah i’rabnya sering kali mengikuti keadaan jazm pada Fi’il Mudhari’-nya. Fi’il Amr memiliki empat keadaan mabni:
-» Mabni ‘ala al-Sukun (Mabni Sukun).
Terjadi dalam dua kondisi:
- Shahih Akhir: Jika huruf terakhirnya bukan huruf penyakit (illat) dan tidak bersambung dengan dhamir apapun.
اِضْرِبْ : فعل أمر مبني على السكون والفاعل ضمير مستتر تقديره أنت
* Analisis ‘irab: Fi’il amr mabni ‘ala al-sukun, pelaku (fa’il) berupa dhamir mustatir Anta.
- Bersambung dengan Nun Niswah, seperti: اِضْرِبْنَ (Idhribna).
-» Mabni bi Hadzfi Harf al-Illah (Membuang Huruf Illat)
Terjadi apabila Fi’il Amr berasal dari kata kerja Mu’tal Akhir (berakhiran huruf penyakit: Alif, Wawu, atau Ya). Huruf tersebut dihapus sebagai tanda mabni.
اُدْعُ : فعل أمر مبني على حذف حرف العلة والفاعل ضمير مستتر تقديره أنت
* Contoh: اُدْعُ (Ud’u) — berasal dari kata Yad’uu.
* Analisis: Fi’il amr mabni ‘ala hadzfi harf al-illah.
-» Mabni bi Hadzfi al-Nun (Membuang Huruf Nun)
Terjadi apabila Fi’il Amr bersambung dengan:
- Wawu Jama’ah (untuk subjek Antum).
- Alif Itsnain (untuk subjek Antuma).
- Ya Mukhatabah (untuk subjek Anti).
اِضْرِبُوْا : فعل أمر مبني على حذف حرف النون للاتصاله بواو الجماعة، والفاعل ضمير مستتر تقديره أنتم
* Contoh: اِضْرِبُوْا (Idhribuu).
* Analisis: Fi’il amr mabni ‘ala hadzfi al-nun karena bersambung dengan Wawu Jama’ah.
-» Mabni ‘ala al-Fath (Mabni Fathah)
Terjadi apabila Fi’il Amr bersambung langsung dengan Nun Taukid (penegas) tanpa ada pemisah (fashil) antara fi’il dan nun tersebut.
اِضْرِبَنَّ : فعل أمر مبني على الفتح للاتصاله بنون التوكيد الثقيلة، والفاعل ضمير مستتر تقديره أنت
* Contoh: اِضْرِبَنَّ (Idhribanna).
* Analisis: Fi’il amr mabni ‘ala al-fath karena bersambung dengan Nun Taukid Tsaqilah.
C. Mabni Pasa Fi’il Mudhari’ (Kata Kerja Masa Kini/Akan datang)
يبنى الفعل المضارع على الفتح إذا اتصلت به نون التوكيد اتّصالا مباشرا دون فاصل بينها وبين الفعل مثل الف الاثنين أو واو الجماعة أو ياء المخاطبة ، كما يبنى على السكون إذا اتصلت به نون النسوة ، ويعرب فيما عدا ذلك
Berbeda dengan Fi’il Madhi dan Fi’il Amr yang sepenuhnya mabni, Fi’il Mudhari’ pada dasarnya bersifat Mu’rab (dapat berubah i’rabnya menjadi rafa’, nashab, atau jazm). Namun, Fi’il Mudhari’ berubah status menjadi Mabni dalam dua kondisi spesifik:
-» Mabni ‘ala al-Sukun (Mabni Sukun)
Terjadi apabila Fi’il Mudhari’ terhubung dengan Nun Niswah (penanda jamak perempuan).
يَضْرِبْنَ : فعل المضارع مبني على السكون للاتصاله بنون النسوة، والفاعل ضمير مستتر تقديره هُنَّ
* Contoh: يَضْرِبْنَ (Yadhribna)
* Analisis I’rab: Fi’il mudhari’ mabni ‘ala al-sukun karena bersambung dengan Nun Niswah. Pelakunya (fa’il) adalah dhamir mustatir (tersembunyi) dengan perkiraan makna Hunna (mereka perempuan).
-» Mabni ‘ala al-Fath (Mabni Fathah)
Terjadi apabila Fi’il Mudhari’ terhubung langsung dengan Nun Taukid (huruf penegas), baik tsaqilah (berat) maupun khafifah (ringan), tanpa adanya pemisah (fashil) seperti Alif Itsnain, Wawu Jama’ah, atau Ya Mukhatabah.
يَضْرِبَنَّ : فعل المضارع مبني على الفتح للاتصاله بنون التوكيد الثقيلة، والفاعل ضمير مستتر تقديره هُوَ
* Contoh: يَضْرِبَنَّ (Yadhribanna)
* Analisis I’rab: Fi’il mudhari’ mabni ‘ala al-fath karena bersambung dengan Nun Taukid Tsaqilah. Pelakunya (fa’il) adalah dhamir mustatir dengan perkiraan makna Huwa (dia laki-laki).
Di luar dua kondisi di atas (tidak bersambung dengan Nun Niswah atau Nun Taukid secara langsung), maka Fi’il Mudhari’ kembali ke hukum asalnya yaitu Mu’rab. Artinya, harakat akhirnya akan berubah tergantung pada kata yang mendahuluinya (‘amil).
3. Klasifikasi Kata Kerja Mu’rab (المعرب من الأفعال)
المعرب من الأفعال هو المضارع الذي لَمْ تَتَّصِلْ بآخِرِهِ نُون التوْكِيدِ, أَوْ نُونُ الإِنَاثِ
Dalam sistem tata bahasa Arab, kategori Mu’rab (kata yang berubah i’rabnya) pada kelompok kata kerja hanya berlaku bagi Fi’il Mudhari’. Syarat utamanya adalah Fi’il Mudhari’ tersebut tidak terhubung dengan Nun Taukid (penegas) maupun Nun Niswah (penanda jamak perempuan).
يُرفَع الْفِعْلُ الْمُضَارعُ بِالضَّمَّةِ وتَنُوبُ عَنْها النُّونُ في الأفعال الخمسة، ويُنصَب بالْفَتْحَةِ ويَنُوبُ عَنْها حَذْفُ النُّونِ في الأفعال الخمسة، ويُجزَم بِالسُكونِ ويَنوبُ عَنْها حَذْفُ حَرْفِ العِلَّةِ في الأفْعالِ الْمُعْتلَّة الآخِرِ، وحَذْف النون في الأفعال الخمْسَةِ
Status i’rab pada Fi’il Mudhari’ kategori mu’rab terbagi menjadi tiga kondisi: Rafa’, Nashab, dan Jazm.
-» Keadaan Rafa’ (Marfu’)
Fi’il Mudhari’ dihukumi marfu’ apabila tidak didahului oleh faktor pengubah (‘amil) nashab maupun jazm.
يَضْرِبُ : فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة، والفاعل ضمير مستتر تقديره هو
يَضْرِبَانِ : فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه ثبوت النون لأنه من الأفعال الخمسة، والألف الاثنين ضمير متصل مبني على السكون في محل رفع فاعل
* Tanda Utama (Dhammah): Digunakan untuk kata kerja tunggal.
* Contoh: يَضْرِبُ (Yadhribu) — Fi’il mudhari’ marfu’ dengan tanda dhammah.
* Tanda Pengganti (Nun): Digunakan pada Af’alul Khamsah (Fi’il Lima).
* Contoh: يَضْرِبَانِ (Yadhribaani) — Fi’il mudhari’ marfu’ dengan ketetapan huruf Nun (tsubutun nun).
-» Keadaan Nashab (Manshub)
Fi’il Mudhari’ menjadi manshub apabila didahului oleh huruf nashab seperti Lan (لَنْ), An (أَنْ), Kai (كَيْ), dan lainnya.
لَنْ يَضْرِبَ : فعل مضارع منصوب وعلامة نصبه الفتحة، والفاعل ضمير مستتر تقديره هو
لَنْ يَضْرِبَا : فعل مضارع منصوب وعلامة نصبه حذف النون لأنه من الأفعال الخمسة، والألف الاثنين ضمير متصل مبني على السكون في محل رفع فاعل
* Tanda Utama (Fathah): Digunakan untuk kata kerja tunggal.
* Contoh: لَنْ يَضْرِبَ (Lan Yadhriba) — Fi’il mudhari’ manshub dengan tanda fathah.
* Tanda Pengganti (Hadzfun Nun): Membuang huruf Nun pada Af’alul Khamsah.
* Contoh: لَنْ يَضْرِبَا (Lan Yadhribaa) — Fi’il mudhari’ manshub dengan membuang huruf Nun.
-» Keadaan Jazm (Majzum)
Fi’il Mudhari’ menjadi majzum apabila didahului oleh huruf jazm seperti Lam (لَمْ), La Nahiyah (لَا), dan lainnya.
لَمْ يَضْرِبْ : فعل مضارع مجزوم وعلامة جزمه السكون، والفاعل ضمير مستتر تقديره هو
لَمْ يَضْرِبَا : فعل مضارع مجزوم وعلامة جزمه حذف النون لأنه من الأفعال الخمسة، والألف الاثنين ضمير متصل مبني على السكون في محل رفع فاعل
* Tanda Utama (Sukun): Untuk kata kerja yang berakhiran huruf sahih.
* Contoh: لَمْ يَضْرِبْ (Lam Yadhrib) — Fi’il mudhari’ majzum dengan tanda sukun.
* Tanda Pengganti (Hadzfu Harfil Illah): Membuang huruf penyakit jika kata kerja berakhiran Alif, Wawu, atau Ya (Mu’tal Akhir).
* Tanda Pengganti (Hadzfun Nun): Membuang huruf Nun pada Af’alul Khamsah.
* Contoh: لَمْ يَضْرِبَا (Lam Yadhribaa) — Fi’il mudhari’ majzum dengan membuang huruf Nun.
4. Klasifikasi Mabni dari kelompok Isim (الْمَبْنِيُّ مِنَ الأَسْمَاءِ)
Dalam tata bahasa Arab, sebagian besar kata benda (isim) bersifat mu’rab (dapat berubah harakat akhirnya). Namun, terdapat kelompok isim tertentu yang bersifat mabni, yaitu kata yang harakat akhirnya tetap dan tidak berubah meskipun kedudukan gramatikalnya dalam kalimat berganti. Isim-isim ini dibangun (mabni) berdasarkan apa yang didengar dari lisan bangsa Arab (sama’i).
A. Klasifikasi Isim Mabni Permanen
مِنَ الأَسمَاء الْمَبْنِيَّةِ هي الضَّمائِرُ، وأَسمَاءُ الإشارة، والأسماء الموصولة، وأسمَاءُ الاسْتِفْهام، وأَسماءُ الشَّرْطِ، وأَسماءُ الأفْعالِ، وبَعْضُ الظُّروفِ، وهذه كُلُّهَا تُبنى عَلَى ما سُمعت عَلَيْهِ
Secara umum, terdapat tujuh kategori utama isim yang selalu dihukumi mabni:
- Isim Dhamir (Kata Ganti): Semua kata ganti seperti Ana (أَنَا), Anta (أَنْتَ), dan Nahnu (نَحْنُ).
- Isim Isyarah (Kata Tunjuk): Kata tunjuk seperti Hadza (هَذَا) dan Hadzihi (هَذِهِ), kecuali bentuk dual (mutsanna) yaitu Al-Ladzani dan Al-Latani yang dihukumi mu’rab.
- Isim Maushul (Kata Sambung): Kata sambung seperti Alladzi (الَّذِي) dan Allati (الَّتِي), kecuali bentuk dualnya.
- Isim Istifham (Kata Tanya): Kata yang digunakan untuk bertanya seperti Man (مَنْ) dan Ma (مَا).
- Isim Syarat (Kata Bersyarat): Kata yang menghubungkan syarat dan jawabannya seperti Man (مَنْ) dan Mahma (مَهْمَا).
6. Isim Fi’il: Kata benda yang memiliki makna dan fungsi kata kerja, seperti Sah (صَهْ) atau Amin (آمِيْن). - Sebagian Zharaf (Keterangan): Kata keterangan waktu atau tempat tertentu seperti Dzrafu (ظَرْفُ) atau Amzi (أَمْسِ).
B. klasifikasi Isim Mabni dalam Kondisi Tertentu
1). Munada
الْمُنادَى إذَا كان علما مفردا أو نكرة مقصودة، وهُوَ يُبْنَى عَلَى ما يرفع به
Selain kelompok permanen di atas, terdapat isim yang menjadi mabni hanya ketika menempati posisi tertentu, khususnya dalam struktur Munada (panggilan). Ketentuan ini berlaku bagi:
- Munada Alam Mufrad: Yaitu nama orang atau tempat yang terdiri dari satu kata (bukan idhafat).
* Kaidah: Mabni berdasarkan tanda rafa’-nya di posisi nashab panggilan.
* Contoh: Ya Khalidu (يَا خَالِدُ). Karena Khalid dalam keadaan tunggal tanda rafa’nya dhammah, maka ia mabni ‘ala al-dhamma.
- Munada Nakirah Maqsudah: Yaitu kata benda umum (nakirah) yang ditujukan kepada individu tertentu yang ada di hadapan pembicara.
* Kaidah: Mabni sesuai dengan tanda rafa’ kata tersebut, baik dengan dhammah, alif, maupun wawu.
Analisis Contoh I’rab Munada:
يَا خَالِدُ
خَالِدُ : منادى علم المفرد مبني على ما يرفع به أو على الضم في محل نصب على النداء
يَا طَالِبُ
طالبُ : منادى نكرة مقصودة مبني على ما يرفع به أو على الضم في محل النصب على النداء
يَا طَالِبانِ
طَالِبانِ : منادى نكرة مقصودة مبني على ما يرفع به أو على الألف في محل النصب على النداء
يَا طَالِبُوْنَ
طَالِبُوْنَ : منادى نكرة مقصودة مبني على ما يرفع به أو على الواو في محل النصب على النداء
* Tunggal (Mabni Dhammah): Ya Thalibu (يَا طَالِبُ). Isim mabni ‘ala al-dhamma karena tanda rafa’ asalnya adalah dhammah.
* Dual/Mutsanna (Mabni Alif): Ya Thalibani (يَا طَالِبَانِ). Isim mabni ‘ala al-alif karena tanda rafa’ muthanna adalah alif.
* Jamak Mudzakkar Salim (Mabni Wawu): Ya Thalibuna (يَا طَالِبُونَ). Isim mabni ‘ala al-wawu karena tanda rafa’ jamak mudzakkar salim adalah wawu.
2). Isim La Nafiyah lil Jins (اسم لا النافية للجنس)
Dalam tata bahasa Arab, Isim La Nafiyah lil Jins (kata benda yang terletak setelah “La” peniada jenis) dapat berstatus mabni dalam kondisi tertentu. Status ini bergantung pada struktur kata yang mengikutinya.
Kaidah:
اسْمُ لاَ النافية للجنس إذا لَمْ يَكُنْ مُضَافاً وَلاَ شَبِيهاً بِالْمُضَافِ, ويُبْنَى على ما يُنْصَبُ بهِ
Isim La Nafiyah lil Jins dihukumi mabni apabila berbentuk Mufrad, yaitu kata yang bukan merupakan Mudhaf (penyandaran) dan bukan pula Syabih bil Mudhaf (serupa penyandaran).
Isim ini dibangun (mabni) berdasarkan tanda nashab-nya. Artinya, jika kata tersebut dalam keadaan mu’rab seharusnya di-nashab dengan fathah, maka ia menjadi mabni fathah. Begitu pula dengan tanda lainnya (seperti ya pada jamak atau mutsanna).
لاَ طَالِبَ فَاشِلٌ / لاَ طَالِبَيْنِ فَاشِلاَنِ / لاَ طَالِبِيْنَ فَاشِلُوْنَ/ لاَ طَالبَاتٍ فَاشِلاتٌ / لاَ طُلَّابَ فَاشِلُوْنَ
طَالِبَ : اسم لا نافية للجنس مبني على ما ينصب به أو على الفتح في محل نصب
طَالِبَيْنِ : اسم لا نافية للجنس مبني على ما ينصب به أو على الياء في محل نصب
طَالِبِيْنَ : اسم لا نافية للجنس مبني على ما ينصب به أو على الياء في محل نصب
طَالبَاتٍ : اسم لا نافية للجنس مبني على ما ينصب به أو على الكسر في محل نصب
طُلَّابَ : اسم لا نافية للجنس مبني على ما ينصب به أو على الفتح في محل نصب
Namun apabila kata tersebut merupakan Mudhaf atau Syabih bil Mudhaf, maka dikategorikan mu’rab.
*Contoh mudhaf:
لاَ طَالِبَ شَرٍّ ممَدُوْحٌ
طَالِبَ : اسم لا نافية للجنس منصوب وعلامة نصبه الفتحة وهو مضاف. شَرٍّ : مضاف إليه. ممَدُوْحٌ : خبر لا نافية للجنس مرفوع وعلامته الضمة
*Contoh syibhul mudhaf:
لاَ قَبِيْحًا خُلُقُهُ حَاضِرٌ
قَبِيْحًا : اسم لا نافية للجنس وهو شبيه بالمضاف منصوب وعلامة نصبه الفتحة
خُلُقُهُ : فاعل لاسم الفاعل مرفوع وعلامته الضمة وهو مضاف، والهاء مضاف إليه
حَاضِرٌ : خبر لا نافية للجنس مرفوع وعلامته الضمة
لاَ طَالبًا عِلْمًا فَاشِلٌ
طَالبًا : اسم لا نافية للجنس وهو شبيه بالمضاف منصوب وعلامة نصبه الفتحة
عِلْمًا : مفعول به لاسم الفاعل منصوب وعلامة نصبه الفتحة
فَاشِلٌ : خبر لا نافية للجنس مرفوع وعلامته الضمة
Selain isim-isim di atas, terdapat juga isim murakkab yang dikategorikan mabni.
ما رُكِّب مِن الاعْدَادِ والظُّرُوفِ وَالأْحْوَالِ، وهذهِ يَطَّرِدُ فيها البناء على فتح الجُزْأَيْنِ و لْمُبْهَماتُ الْمقْطُوعَةُ عَنِ الإضافَةِ لَفْظاً، وهِيَ تُبْنَى على الضَّمِّ
Dalam tata bahasa Arab, terdapat kelompok kata yang terdiri dari dua kata yang digabungkan menjadi satu kesatuan fungsi (tarkib). Kelompok ini secara konsisten (yattharidu) dihukumi Mabni ‘ala Fathi al-Juz’aini (Mabni fathah pada kedua bagian katanya), tanpa mempedulikan kedudukannya dalam kalimat.
Kelompok ini mencakup tiga kategori utama:
-» Bilangan Bertingkat (Al-A’dad al-Murakkabah)
Bilangan antara 11 sampai 19 (kecuali angka 12), selalu dibaca fathah pada kedua bagiannya.
ثمنُ متر الرُّخامِ ثلاثةَ عَشَرَ ديناراً
ثلاثة عشر : اسم مبني على فتح الجزئين في محل رفع خبر
اشتريتُ المِعْطَفَ بِسِتَةَ عَشَرَ ديناراً
ستة عشر : اسم مبني على فتح الجزئين ، في محل جر
-» Keterangan Majemuk (Al-Zhuruf al-Murakkabah)
Dua kata keterangan (waktu atau tempat) yang digabungkan untuk menunjukkan kesinambungan atau kebiasaan.
يُوصي الأطباءُ أنْ يُنَظَّفَ الفَمُ صباحَ مساءَ
يوصي : فعل مضارع مرفوع بضمة مقدرة على آخره
الأطباء : فاعل مرفوع بضمة على آخره
أن : حرف نصب مبني على السكون
ينظف : فعل مضارع منصوب ، مجهول فاعله
الفم : نائب فاعل مرفوع
صباحَ مساءً : ظرف مبني على الفتح ، في محل نصب
* Contoh: Yunadhthafa al-famu shabaha masa’a. (Mulut dibersihkan pagi dan sore).
* Analisis: Shabaha masa’a adalah Zharaf murakkab yang mabni fathah pada kedua bagiannya, menempati posisi nashab.
-» Keadaan Majemuk (Al-Ahwal al-Murakkabah)
Dua kata yang digabungkan untuk menjelaskan keadaan (hal).
هو جاري بَيْتَ بَيْتَ أي مُلاصقاً
هو : ضمير مبني على الفتح ، في محل رفع مبتدأ
جاري: خبر مرفوع بضمة مقدرة على آخره ، وهو مضاف
ي : ضمير مبني في محل مضاف إليه
بيت بيت : اسم مبني على فتح الجزئين في محل نصب حال
* Contoh: Huwa jari bayta bayta. (Dia tetanggaku yang rumahnya sangat berdekatan/menempel).
* Analisis: Bayta bayta adalah Isim Murakkab, mabni fathah pada kedua bagiannya, menempati posisi nashab sebagai Hal.
Selain isim-isim di atas, dalam kaidah tata bahasa Arab juga terdapat kelompok kata benda (isim) tertentu yang secara konsisten (yattharidu) dihukumi mabni kasrah. Hal ini berarti huruf terakhir dari kata-kata tersebut selalu tetap berharakat kasrah, tidak terpengaruh oleh perubahan posisi gramatikalnya (mahal i’rab).
Kelompok kata ini meliputi:
و ما خُتم بوَيْهِ، وما جاءَ على وزن فَعَالِ عَلَمًا لأُنْثَى، أو سَبًّا لَها، أو اسمَ فِعْلٍ، وهذه كلُّها يطرد فيها البناء على الكسر
-» Kata yang Diakhiri dengan “Wayh” (وَيْه)
Setiap isim alam (nama diri) yang diakhiri dengan susunan huruf wayh wajib dihukumi mabni kasrah.
* Contoh: Sibawayhi (سِيبَوَيْهِ), Khimarawayhi (خِمَارَوَيْهِ), Nafthawayhi (نَفْطَوَيْهِ).
* Kaidah: Meskipun kata tersebut berkedudukan sebagai subjek (rafa’), ia tetap dibaca Sibawayhi (dengan kasrah), namun posisinya tetap dihitung sebagai posisi rafa’.
-» Kata Berwazan “Fa’ali” (فَعَالِ)
Pola atau wazan Fa’ali mencakup tiga kategori penggunaan utama yang semuanya bersifat mabni kasrah
-» Isim Alam Perempuan (عَلَمًا لأُنْثَى)
Nama khusus perempuan yang mengikuti pola ini.
* Contoh: Hadzami (حَذَامِ), Qathami (قَطَامِ).
* Kata Celaan bagi Perempuan (سَبًّا لَهَا): Kata yang digunakan sebagai panggilan untuk mencela seorang wanita.
* Contoh: Fajari (فَجَارِ) yang berarti “wahai wanita pendosa”, Lakami (لَكَامِ) yang berarti “wahai wanita tercela”.
* Isim Fi’il Amr (اسْمَ فِعْلٍ): Kata benda yang memiliki makna dan fungsi seperti kata kerja perintah (fi’il amr).
* Contoh: Nazali (نَزَالِ) bermakna “Turunlah!”, Taraki (تَرَاكِ) bermakna “Tinggalkan!”, Hadzari (حَذَارِ) bermakna “Waspadalah!”.
5. Klasifikasi Mu’rab dari kelompok isim (المعرب من الأسماء)
الأسْماءُ جَميعُها مُعْرَبةٌ إلاّ ألْفاظاً مَحْصُورةً تَقَدَّم ذِكْرُ الكَثير منها في الباب الماضي
Pada dasarnya, hukum asal dari seluruh kata benda (Isim) dalam bahasa Arab adalah Mu’rab (dapat berubah harakat akhirnya), kecuali pada sejumlah kata yang jumlahnya terbatas sebagaimana telah disebutkan dalam kategori Isim Mabni sebelumnya.
Karakteristik utama Isim Mu’rab adalah fleksibilitas harakat akhir yang sangat bergantung pada kedudukan gramatikalnya (rafa’, nashab, atau jarr). Perubahan ini dapat berupa:
- Harakat Dzahirah: Perubahan harakat yang tampak jelas di ujung kata (contoh: fathah, kasrah, dhammah).
- Harakat Muqaddarah: Perubahan yang diasumsikan ada namun tidak tampak karena alasan fonetis tertentu (seperti pada Isim Maqshur atau Manqush).
6. Klasifikasi mabni dari ketegori huruf (المبني من الحروف)
Dalam klasifikasi kata bahasa Arab, seluruh Huruf (seperti kata depan, kata sambung, dan partikel lainnya) tanpa pengecualian dihukumi Mabni.
Kaidah utama bagi kelompok huruf adalah:
- Statis: Harakat akhirnya tidak akan pernah berubah dalam kondisi apa pun.
- Tidak Memiliki Kedudukan I’rab (La Mahalla Laha min al-I’rab): Huruf tidak dapat menempati posisi subjek, objek, maupun predikat dalam sebuah kalimat.
- Tanda mabni pada huruf ditentukan berdasarkan harakat terakhir yang terdengar
وَ اللهِ
الواو : حرف جر وقسم مبني على الفتح لا محل له من الإعراب
خَرَجَتْ الفَتاةُ مِنْ بَيْتِ أَبِيْهَا
مِنْ : حرف جر مبني على السكون لا محل له من الإعراب
كَتَبْتُ بِالقلمِ
الباء : حرف جر مبني علي الكسر لا محل له من الإعراب
مَا رَأَيْتُهُ مُنْذُ الصَّبَاحِ
مُنْذُ : حرف جر مبني على الضم لا محل له من الإعراب
Referensi:
- Al-Jarim, Ali & Amin, Mustafa. An-Nahwu al-Wadhih fi Qawa’id al-Lughah al-Arabiyyah, Jilid 2, Hal. 17.
- Al-Ghalayaini, Musthafa. Jami’ud Durus Al-Arabiyyah. Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah. (Ensiklopedia lengkap tata bahasa Arab yang membahas detail i’rab dan bina’).
- Ibnu Aqil, Abdullah bin Abdurrahman. Syarah Ibnu Aqil ‘ala Alfiyah Ibnu Malik. (Kitab standar yang menjelaskan perubahan harakat dan ketetapannya berdasarkan bait-bait Alfiyah).
- Al-Anshari, Ibnu Hisyam. Syarh Syudur adz-Dzahab fi Ma’rifati Kalam al-Arab. (Membahas rincian tanda i’rab dan kondisi mabni pada isim dan fi’il).





Responses (2)