News...!
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا

Isim Alam: Definisi, Klasifikasi, dan Analisis ‘Irab

0
(0)

BismilahiRahmaniRahim. In Syaa Allah akan dibahas materi isim alam: pengertian, klasifikasi dan ketentuan ‘irabnya.

1. Definisi Isim Alam

Dalam tata bahasa Arab (Nahwu), Alam (bahasa Arab: عَلَم) adalah salah satu jenis isim makrifat yang berfungsi sebagai nama diri untuk menentukan objek atau penyebutan sesuatu secara spesifik tanpa memerlukan bantuan kata penghubung atau petunjuk lainnya.

Menurut para ulama pakar ilmu Nahwu, Alam didefinisikan sebagai:

عرَّف النحاة العلَم بأنه: “الاسم الذي يُعيِّن مسماه تعيينًا مطلقًا بلا قيد أو قرينة”

“Isim yang menentukan entitas pemilik nama tersebut secara mutlak, tanpa keterikatan pada batasan waktu atau indikator (قرينة) tertentu.”

Dalam kitab Alfiyah Ibnu Malik, definisi ini diringkas dalam sebuah bait nazam:

اِسْمٌ يُعَيِّنُ الْمُسَمَّى مُطْلَقَا # عَلَمُهُ كَجَعْفَرٍ وَخِرْنَقَا

“Isim yang menentukan objek yang dinamai secara mutlak adalah Alam; contohnya seperti Ja’far (nama pria) dan Khirniqa (nama wanita).”

Ibnu Ajurrum dalam Al-Ajurrumiyyah memberikan batasan bahwa penggunaan Alam mencakup seluruh kategori nama tanpa pengecualian, baik yang bersifat hidup maupun benda mati.

Secara umum, cakupan Alam meliputi:

  • Makhluk berakal (Manusia): Contohnya lafal Zaidun (زَيْدٌ).
  • Tempat/Geografis: Contohnya lafal Makkah (مَكَّة).
  • Gender: Mencakup nama laki-laki (mudzakkar) dan perempuan (muannats).
  • Objek tidak berakal: Mencakup nama hewan, gunung, atau benda lain yang diberi nama khusus.

2. Klasifikasi Isim Alam

A. Klasifikasi Berdasarkan Makna Individu

Berdasarkan makna individunya, Isim Alam dikelompokkan menjadi dua kategori utama, yaitu Alam Syakhsi dan Alam Jinsi.

1). Alam Syakhsi (Nama Diri Khusus)

(علم الشخصي) اسم العلم الذي يدل على شخص بعينه

Alam Syakhsi (bahasa Arab: علم الشخصي) adalah Isim Alam yang merujuk pada individu atau entitas tertentu secara spesifik (ta’yin). Nama ini ditetapkan secara mutlak hanya untuk pemilik nama tersebut sehingga membedakannya dari individu lain dalam jenis yang sama.

  • Karakteristik: Menentukan satu objek tertentu (spesifik).
  • Contoh: Muhammad (مُحَمَّد) – Yusuf (يُوْسُف) – Merujuk pada individu pria tertentu. Fatimah (فَاطِمَة) – Merujuk pada individu wanita tertentu.

2). Alam Jinsi (Nama Jenis)

(علم الجنسي) هو الذي لا يختص بواحد دون آخر من أفراد جنسية

Alam Jinsi (bahasa Arab: علم الجنسي) adalah nama yang tidak dikhususkan untuk satu individu tertentu, melainkan mencakup seluruh anggota dari jenis tersebut. Secara struktur lafal (lafzi), Alam Jinsi dihukumi seperti Isim Alam (misalnya: tidak menerima Tanwin jika berbentuk Ghairu Munsharif), namun secara makna, ia bersifat umum (nakirah).

  • Karakteristik: Dapat disematkan kepada setiap individu yang berada dalam rumpun jenis yang sama.
  • Contoh Nama Hewan:
    * Usamah (أُسَامَة): Sebutan umum untuk singa.
    * Tsu’alah (ثُعَالَة): Sebutan umum untuk musang.
    * Ummu Iryath (أُمُّ عِرْيَط): Sebutan umum untuk kalajengking.
  • Contoh Makna Abstrak:
    * Barrah (بَرَّة): Sebutan untuk kebaikan/kebajikan.
    * Fajar (فَجَارِ): Sebutan untuk kemaksiatan/keburukan.

B. Klasifikasi Berdasarkan Struktur Lafal

Berdasarkan komposisi penyusun katanya, Isim Alam terbagi menjadi dua bentuk: Alam Mufrad (tunggal) dan Alam Murakkab (susunan rangkap).

1). Alam Mufrad (Tunggal)

(اسم علم مفرد) هو ما تكون من كلمة واحدة

Alam Mufrad (bahasa Arab: اسم علم مفرد) adalah Isim Alam yang hanya terdiri dari satu kata tunggal. Mayoritas nama diri dalam bahasa Arab termasuk dalam kategori ini.

  • Contoh: Muhammad (مُحَمَّد), Mahmud (مَحْمُوْد), Zaid (زَيْد), Fatimah (فَاطِمَة), dan Zainab (زَيْنَب).

Ketentuan I’rab:

Alam Mufrad di-i’rab (perubahan harakat akhir) sesuai kedudukannya dalam kalimat:

  • Rafa’ dengan tanda dhammah.
  • Nashab dengan tanda fathah.
  • Khafad/Jar dengan tanda kasrah (kecuali jika termasuk kategori Isim Ghairu Munsharif, maka tanda jar-nya adalah fathah).

Contoh Analisis (I’rab):

  • Ja’a Khalidun (جَاءَ خَالِدٌ): “Khalid telah datang.” Khalidun berkedudukan sebagai Fai’l (pelaku) yang marfu’ dengan tanda dhammah.
  • Marartu bi Fatimata (مَرَرْتُ بِفَاطِمَةَ): “Aku berpapasan dengan Fatimah.” Fatimata adalah isim majrur karena huruf jar (bi), namun tanda jar-nya adalah fathah karena Fatimah adalah Isim Ghairu Munsharif.

2). Alam Murakkab (Susunan Rangkap)

(اسم علم مركب) هو اسم العلم المكون من كلمتين فأكثر

Alam Murakkab (bahasa Arab: اسم علم مركب) adalah Isim Alam yang terbentuk dari gabungan dua kata atau lebih yang kemudian melebur menjadi satu nama kesatuan.

Jenis-Jenis Alam Murakkab:

Isim Murakkab (susunan rangkap) dalam tata bahasa Arab terbagi menjadi tiga format utama. Berikut adalah penjelasan mengenai format pertama:

a). Murakkab Idhafi (Susunan Penyandaran)

(مركب إضافي) ما تركب من اسمين على الإضافة

Murakkab Idhafi (bahasa Arab: مركب إضافي) adalah Isim Alam yang terbentuk dari susunan dua kata yang terdiri dari Mudhaf (kata yang disandarkan) dan Mudhaf Ilaih (kata penyandar).

  • Ruang Lingkup: Termasuk dalam kategori ini adalah nama-nama penghambaan (seperti Abdurrahman atau Abdul Ghafur) serta Isim Alam Kunyah yang diawali dengan kata Abu (Ayah), Ummu (Ibu), Ibnu (Anak laki-laki), atau Bintun (Anak perempuan).
  • Contoh: Abu Ja’far (أَبُوْ جَعْفَرٍ), Ummu Salamah (أُمُّ سَلَمَةَ), Abdullah (عَبْدُ اللهِ).

Ketentuan I’rab:

المركَّب الإضافي يُعامل الجزء الأول منه “المضاف” بحسب ما يقتضيه العامل، فيُرفع أو يُنصب أو يُجر، ويلزم الجزء الثاني من “المضاف إليه” الجرَّ بالإضافة، مصروفًا – إن خَلاَ من الأسباب المانعة من الصَّرف

Aturan perubahan bunyi akhir (i’rab) pada Murakkab Idhafi dibagi menjadi dua bagian:

-» Bagian Pertama (Mudhaf): Berubah-ubah sesuai kedudukannya dalam kalimat (bisa Rafa’, Nashab, atau Jar).
-» Bagian Kedua (Mudhaf Ilaih): Selalu berstatus Majrur (kasrah). Jika kata tersebut termasuk Isim Ghairu Munsharif, maka tanda jar-nya menggunakan fathah.

Contoh Analisis (I’rab):

جَاءَ عَبْدُ اللهِ

  • Abdu: Berkedudukan sebagai Fa’il (subjek), hukumnya Marfu’ dengan tanda Dhammah karena merupakan bagian pertama (Mudhaf).
  • Allahi: Berkedudukan sebagai Mudhaf Ilaih, hukumnya Majrur dengan tanda Kasrah.

 رَأَيْتُ عَبْدَ اللهِ

  • Abda: Berkedudukan sebagai Ma’ful Bih (objek), hukumnya Manshub dengan tanda Fathah karena merupakan bagian pertama (Mudhaf).
  • Allahi: Berkedudukan sebagai Mudhaf Ilaih, hukumnya Majrur dengan tanda Kasrah.

 

مَرَرْتُ بِعَبْدِ اللهِ

  • Abdi: Berkedudukan sebagai Isim Majrur (karena huruf jar “bi”), hukumnya Majrur dengan tanda Kasrah karena merupakan bagian pertama (Mudhaf).
  • Allahi: Berkedudukan sebagai Mudhaf Ilaih, hukumnya Majrur dengan tanda Kasrah.

b). Murakkab Mazji (Susunan Percampuran)

(مركب مزجي) ما تركب من اسمين حتى اصبحت كلمة واحدة

Murakkab Mazji (bahasa Arab: مركب مزجي) adalah Isim Alam yang terbentuk dari gabungan dua kata yang dilebur menjadi satu kesatuan kata yang utuh.

  • Contoh: Hadramaut (حَضْرَمَوْتُ), Ba’labak (بَعْلَبَكُ), Sibawaih (سِيْبَوَيْهِ), Khimarawaih (خِمَارَوَيْهِ), dan New York (نِيُويُوْرَكُ).

Ketentuan I’rab:

Terdapat tiga pendapat atau cara dalam memberlakukan i’rab pada Murakkab Mazji:

-» Metode Ghairu Munsharif (Paling Masyhur): Bagian pertama dibuat mabni fathah (tetap berharakat fathah), sedangkan bagian kedua di-i’rab sebagai Isim Ghairu Munsharif (tidak menerima tanwin dan tanda jar-nya adalah fathah).

  • Hadza Hadramautu (هذا حَضْرَمَوْتُ) — Rafa’ dengan dhammah.
  • Ra’aitu Hadramauta (رأيت حَضْرَمَوْتَ) — Nashab dengan fathah.
  • Marartu bi Hadramauta (مررت بِحَضْرَمَوْتَ) — Jar dengan fathah.

-» Metode Idhafat: Memperlakukan susunan tersebut seperti Murakkab Idhafi. Bagian pertama berubah sesuai kedudukan dalam kalimat, dan bagian kedua selalu majrur. Dalam metode ini, penulisan kedua kata biasanya dipisah.

  • Hadza Hadru Mautin (هذا حَضْرُ مَوْتٍ)
  • Ra’aitu Hadra Mautin (رأيت حَضْرَ مَوْتٍ).
  • Marartu bi Hadri Mautin (مررت بِحَضْرِ مَوْتٍ).

-» Metode Mabni Fathah: Menjadikan kedua bagian kata tersebut mabni fathah dalam semua keadaan (rafa’, nashab, maupun jar).

  • Hadza Hadra Mauta (هذا حَضْرَ موتَ)
  • Ra’aitu Hadra Mauta (رأيت حَضْرَ موتَ)
  • Marartu bi Hadra Mauta (مررت بِحَضْرَ موتَ)

Catatan Khusus Akhiran “Waih” (وَيْه):

Untuk Isim Murakkab Mazji yang berakhiran dengan lafal waih seperti Sibawaih (سيبويه), mayoritas Ulama Nahwu menetapkannya sebagai Mabni Kasrah (selalu berharakat kasrah) di setiap kedudukan:

Contoh analisa ‘irab:

جاءَ سِيْبَوَيْهِ

جاءَ : فعل ماض مبني على الفتح
سِيْبَوَيْهِ : فاعل مرفوع وعلامة رفعة ضمة مقدرة على آخره منع من ظهورها أو أنه فاعل مبني على الكسر في محل الرفع

رَأيتُ سِيْبَوَيْهِ

رَأيتُ : فعل وفاعل
سِيْبَوَيْهِ : مفعول به منصوب وعلامة نصبه فتحة مقدرة على آخره منع من ظهورها أو إنه مفعول به مبني على الكسر في محل النصب

مررتِ بسِيْبَوَيْهِ

مررتِ : فعل وفاعل
سِيْبَوَيْهِ : اسم مجرور مبني على الكسر في محل الجر

  • جَاءَ سِيْبَوَيْهِ (Ja’a Sibawaihi): Berkedudukan sebagai Fa’il, namun mabni kasrah pada posisi rafa’.
  • رَأَيْتُ سِيْبَوَيْهِ (Ra’aitu Sibawaihi): Berkedudukan sebagai Ma’ful Bih, namun mabni kasrah pada posisi nashab.
  • مَرَرْتُ بِسِيْبَوَيْهِ (Marartu bi Sibawaihi): Berkedudukan sebagai Isim Majrur, mabni kasrah pada posisi jar.

c). Murakkab Isnadi (Susunan Kalimat)

(مركب إسنادي) المركب الإسنادي المنقول عن جملة فعلية أو جملة اسمية

Murakkab Isnadi (bahasa Arab: مركب إسنادي) adalah Isim Alam yang berasal dari sebuah kalimat utuh, baik berupa kalimat verbal (jumlah fi’liyyah) maupun kalimat nominal (jumlah ismiyyah), yang kemudian diangkat dan digunakan sebagai nama diri bagi seseorang atau sesuatu.

Contoh:

  • Jada al-Haqqu (جَادَ الحقُّ): “Kebenaran telah dermawan.”
  • Ta’abbatha Syarran (تأبَّـطَ شـرًّا): “Dia memanggul keburukan.”
  • Syaba Qarnaha (شـابَ قرناها): “Telah beruban dua tanduknya.”
  • Muhammadun Thahirun (محمدٌ طاهرٌ): “Muhammad adalah orang yang suci.”

Ketentuan I’rab:

Isim Alam kategori ini bersifat tetap mengikuti bentuk asalnya sebelum dijadikan nama. Tanda ‘irabnya disebut dengan Muqaddarah (diperkirakan), karena harakat atau hurufnya tidak boleh berubah meskipun kedudukan gramatikalnya dalam kalimat berganti. Hal ini bertujuan untuk menjaga keaslian susunan kalimat asalnya.

Contoh Analisis (I’rab):

هذا جَادَ الحقُّ

جَادَ الحقُّ : فاعل مرفوع وعلامة رفعه ضمة مقدرة على آخره منع من ظهورها

رأيتُ جَادَ الحقُّ

جَادَ الحقُّ : مفعول به منصوب وعلامة نصبه فتحة مقدرة على آخره منع من ظهورها

مررتُ بِجَادَ الحقُّ

بِجَادَ الحقُّ : الباء حرف جر. جاد الحق : اسم مجرور وعلامة جره كسرة مقدرة على آخره منع من ظهورها

  • هذا جَادَ الحقُّ (Hadza Jada al-Haqqu):
    * Jada al-Haqqu berkedudukan sebagai Khabar, hukumnya Rafa’ dengan tanda Dhammah Muqaddarah (dhammah yang diperkirakan) di akhir kata karena terhalang oleh harakat asli kata tersebut.
  • رأيتُ جَادَ الحقُّ (Ra’aitu Jada al-Haqqu):
    * Jada al-Haqqu berkedudukan sebagai Ma’ful Bih (objek), hukumnya Nashab dengan tanda Fathah Muqaddarah.
  • مررتُ بِجَادَ الحقُّ (Marartu bi Jada al-Haqqu):
    * Jada al-Haqqu berkedudukan sebagai Isim Majrur, hukumnya Jar dengan tanda Kasrah Muqaddarah.

C. Klasifikasi Berdasarkan Asal-Usul Penggunaan

Berdasarkan sejarah pembentukan atau asal-usul katanya, Isim Alam terbagi menjadi dua kategori: Alam Murtajal dan Alam Manqul.

1). Alam Murtajal (Nama Orisinal)

(اسم علم مرتجل) هو ما وضع من أسماء الأعلام من أول الأمر علما، ولم يستعمل قبل ذلك في غير العلمية. مثل: سعاد، وأدد، وحمدان، وعمر، محبب. وينقسم اسم العلم المرتجل إلى قسمين:

Alam Murtajal (bahasa Arab: اسم علم مرتجل) adalah nama yang sejak awal diciptakan dan ditetapkan hanya sebagai nama diri (alam), tanpa pernah digunakan untuk makna lain sebelumnya dalam bahasa Arab.

Contoh: Su’ad (سُعاد), Udad (أدد), dan Hamdan (حمدان)

Karakteristik: Kata-kata ini tidak memiliki riwayat penggunaan sebagai kata sifat, kata kerja, atau jenis kata lainnya sebelum menjadi nama orang.

2). Alam Manqul (Nama Pindahan)

(اسم علم منقول) هو ما نقل من شيء سبق استعماله فيه قبل العلمية

Alam Manqul (bahasa Arab: اسم علم منقول) adalah nama yang diambil atau dipindahkan dari kosakata yang sebelumnya sudah memiliki makna tertentu dalam bahasa Arab sebelum akhirnya dijadikan sebagai nama diri.

Asal Perpindahan:

  • Dari Isim Masdar: Contoh: Fadhal (فَضْل) yang berarti keutamaan.
  • Dari Isim Fa’il (Pelaku): Contoh: Hamid (حامد) yang berarti orang yang memuji, atau Salim (سالم) yang berarti orang yang selamat.
  • Dari Nama Hewan: Contoh: Asad (أسد) yang berarti singa.

Landasan Teoretis:

Perbedaan kedua jenis ini disebutkan oleh Imam Ibnu Malik dalam nazam Alfiyah:

وَمِنْهُ مَنْقُولٌ كَفَضْلٍ وَأَسَدْ # وَذُو ارْتِجَال كَسُعَــــادَ وَأُدَدْ

“Di antara Isim Alam terdapat yang Manqul seperti Fadhal dan Asad; dan ada yang Murtajal seperti Su’ad dan Udad.”

Catatan Penulisan Hamzah:

Apabila sebuah nama diambil dari kata yang diawali dengan Alif Washal (seperti pada masdar Ibtisam atau Intishar), maka setelah resmi menjadi Isim Alam (nama orang), penulisan alif tersebut harus diubah menjadi Hamzah Qatha’ (ditulis dengan kepala ‘ain di bawah atau di atas alif).

Contoh: اِبتسام (Ibtisam) menjadi إِبتسام.

D. Klasifikasi Isim Alam Berdasarkan Bentuk (Gelar)

Berdasarkan fungsi sosial dan asal penetapan namanya, Isim Alam dibagi menjadi beberapa kategori, di antaranya adalah Isim Alam (Nama Asli) dan Isim Alam Laqab (Julukan).

1). Isim Alam (Nama Diri/Asli)

(اسم علم) هو كل اسم علم وضع للدلالة على ذات معينة، سواء أكان مفردا، أم مركبا

Isim Alam dalam konteks ini merujuk pada nama dasar yang ditetapkan untuk menunjukkan identitas diri atau dzat tertentu sejak awal. Nama ini berfungsi sebagai identitas utama seseorang atau sesuatu tanpa mengandung unsur pujian maupun celaan.

Bentuk dapat berupa kata tunggal (mufrad) maupun susunan rangkap (murakkab).

  • Contoh bentuk mufrad: Muhammad (مُحَمَّد) dan Fatimah (فَاطِمَة)
  • Contoh bentuk murakkab: Sibawaih (سِيْبَوَيْهِ) dan Ba’labak (بَعْلَبَكُ)

2). Isim Alam Laqab (Julukan)

(اسم علم لقب) هو كل علم يدل على ذات معينة يراد به مدح مسماه، أو ذمه

Isim Alam Laqab (bahasa Arab: اسم علم لقب) adalah nama tambahan atau julukan yang disematkan kepada seseorang untuk menunjukkan karakteristik tertentu. Tujuan penggunaan laqab biasanya terbagi menjadi dua: pujian (madah) atau celaan/ejekan (dzam).

  • Tujuan Pujian: Digunakan untuk menghormati atau mengagungkan seseorang. Contoh: Ar-Rasyid (الرشيد — Yang Mendapat Petunjuk), Al-Ma’mun (المأمون — Yang Dipercaya).
  • Tujuan Celaan: Digunakan untuk menyematkan kekurangan atau ciri fisik tertentu. Contoh: Al-Muqanni’ (المقنِّع — Si Bertopeng), Al-Akhfasy (الأخفش — Si Mata Rabun), Ta’abbatha Syarran (تأبَّـطَ شـرًّا — Si Panggul Kejahatan).

Ketentuan I’rab Penggabungan Isim dan Laqab:

Dalam tata bahasa Arab, apabila sebuah nama asli (Isim) diikuti oleh julukan (Laqab), terdapat aturan khusus mengenai perubahan harakat akhirnya (i’rab). Hal ini merujuk pada bait Alfiyah Ibnu Malik:

وَإِنْ يَكُوْنَا مُفْرَدَيْنِ فَأَضِفْ # حَتْمَـاً وَإِلاَّ أَتْبِعِ الَّذِي رَدِفْ

“Jika keduanya (Isim dan Laqab) berbentuk mufrad, maka wajib di-idhafah-kan. Jika tidak (salah satu atau keduanya murakkab), maka kata yang kedua harus mengikuti (atba’) kata sebelumnya.”

Format Penggabungan:

Berdasarkan kaidah tersebut, terdapat empat format kombinasi Isim dan Laqab:

-» Isim Mufrad + Laqab Mufrad: Contoh: Khalidun al-Muqanni’i (خالدٌ المقنِّعِ).
-» Isim Murakkab + Laqab Mufrad: Contoh: Abdullahi al-Muqanni’u (عَبدُ اللهِ المقنِّعُ).
-» Isim Mufrad + Laqab Murakkab: Contoh: Khalidun Ta’abbatha Syarran (خالدٌ تَأَبَّطَ شَرًّا).
-» Isim Murakkab + Laqab Murakkab: Contoh: Abdullahi Ta’abbatha Syarran (عَبدُ اللهِ تَأَبَّطَ شَرًّا).

Analisis Hukum I’rab Pada Kalimat:

Secara umum, Isim pertama di-i’rab sesuai kedudukannya dalam kalimat. Sedangkan Isim kedua (Laqab) memiliki empat kemungkinan cara baca:

  • Sebagai Mudhaf Ilaih: Laqab berharakat kasrah (majrur).
  • Sebagai Badal atau Athaf Bayan: Laqab mengikuti harakat Isim pertama (sebagai pengikut/tabi’).
  • Sebagai Khabar: Marfu’ dengan asumsi adanya subjek yang dibuang (Mubtada‘ Mahdzuf), contoh: (Huwa) al-Muqanni’u.
  • Sebagai Maf’ul Bih: Manshub dengan asumsi adanya kata kerja yang dibuang (Fi’il Mahdzuf), contoh: (Aqshidu) al-Muqanni’a.

جَاءَ خالدٌ المقنِّعِ

جَاءَ : فعل ماض مبني على الفتح
خالدٌ : فاعل مرفوع وعلامته الضمة وهو مضاف
المقنِّعِ : مضاف إليه مجرور وعلامة جره الكسرة

جَاءَ خالدٌ المقنِّعُ

جَاءَ : فعل ماض مبني على الفتح
خالدٌ : فاعل مرفوع وعلامته الضمة وهو مضاف
المقنِّعُ : بدل أو عطف بيان مرفوع وعلامته الضمة

جَاءَ خالدٌ المقنِّعُ

جَاءَ : فعل ماض مبني على الفتح
خالدٌ : فاعل مرفوع وعلامته الضمة وهو مضاف
المقنِّعُ : خبر مرفوع لمبتدأ محذوف تقديره هو المقنِّعُ

جَاءَ خالدٌ المقنِّعَ

جَاءَ : فعل ماض مبني على الفتح
خالدٌ : فاعل مرفوع وعلامته الضمة وهو مضاف
المقنِّعَ : مفعول به منصوب لفعل محذوف تقديره أقصد أنا المقنِّعَ

  • جَاءَ خالدٌ المقنِّعِ (Ja’a Khalidu al-Muqanni’i): Al-Muqanni’i sebagai Mudhaf Ilaih.
  • جَاءَ خالدٌ المقنِّعُ (Ja’a Khalidun al-Muqanni’u): Al-Muqanni’u sebagai Badal atau Athaf Bayan (mengikuti Khalid yang merupakan subjek).
  • جَاءَ خالدٌ المقنِّعُ (Ja’a Khalidun al-Muqanni’u): Al-Muqanni’u sebagai Khabar (Predikat) dari subjek yang disembunyikan: “Dia adalah si Bertopeng”.
  • جَاءَ خالدٌ المقنِّعَ (Ja’a Khalidun al-Muqanni’a): Al-Muqanni’a sebagai Objek dari kata kerja yang disembunyikan: “Maksud saya si Bertopeng”.

3). Isim Alam Kunyah (Nama Panggilan)

Isim Alam Kunyah (bahasa Arab: اسم علم كنية) adalah jenis nama yang diawali dengan kata-kata kekerabatan atau hubungan darah. Unsur utama yang mengawali nama ini meliputi:

  • Laki-laki: Abu (Ayah), Ibnu (Anak laki-laki), Akh (Saudara laki-laki), Ammu (Paman dari ayah), dan Khal (Paman dari ibu).
  • Perempuan: Ummu (Ibu), Bintu (Anak perempuan), Ukht (Saudara perempuan), Ammah (Bibi dari ayah), dan Khalah (Bibi dari ibu).

Contoh:

* Abu Bakrin (أبو بكرٍ)
* Bintu as-Shiddiq (بنتُ الصديقِ)
* Ummu Kultsum (أمُّ كلثوم)
* Abu Hurairah (أبو هريرةَ)

Ketentuan I’rab:

Isim Alam Kunyah secara teknis termasuk dalam kategori Murakkab Idhafi. Oleh karena itu, hukum gramatikalnya adalah sebagai berikut:

-» Isim Pertama: Berfungsi sebagai Mudhaf dan harakatnya berubah sesuai kedudukannya dalam kalimat (Rafa’, Nashab, atau Jar).
-» Isim Kedua: Berfungsi sebagai Mudhaf Ilaih dan selalu dalam kondisi Majrur.

Contoh Analisis (I’rab):

مَاتَ أَبُو عَادِلٍ

مَاتَ : فعل ماض مبني على الفتح
أَبُو : فاعل مرفوع وعلامة رفعه الواو لأنه من الأسماء الخمسة وهو مضاف
عَادِلٍ : مضاف إليه مجرور بالإضافة وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره

  • مَاتَ أَبُو عَادِلٍ (Mata Abu ‘Adilin) — “Telah wafat Ayah si Adil.”
    * Mata: Kata kerja masa lampau (Fi’il Madhi).
    * Abu: Subjek (Fa’il), hukumnya Marfu’ dengan tanda Wawu karena termasuk isim lima (Asmaul Khamsah), sekaligus berstatus sebagai Mudhaf.
    * ‘Adilin: Mudhaf Ilaih, hukumnya Majrur dengan tanda Kasrah.

Referensi:

  • Muhammad bin Abdullah bin Malik Al-Andalusi, Al-Khulashah al-Alfiyyah (Mesir: Dar al-Minhaj, t.t.).
  • Ibnu Hisyam al-Anshari, Qathru al-Nada wa Ballu al-Shada (Kairo: Dar al-Hadits, 2010).

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *