BismillahiRahmaniRahim. Insya Allah akan dibahas materi jamak muannats salim dilengkapi dengan tanda ‘irab dan contohnya.
Perhatikan contoh berikut ini:
ذَهَبَتْ الطَّالِبَاتُ إِلَى المَدْرَسَةِ/ نَمَتْ الشَّجَرَاتُ الّتِى زَرَعْتُهَا مُنْذُ ثَلاَثَةِ الأسَابِيْعِ / تَنَاوَلَ الأصْدِقَاءُ الدّجَاجَاتِ المُحَمَّرَةَ
Para siswi pergi ke sekolah / Pepohonan yang aku tanam sejak 3 minggu telah tumbuh / Kawan-kawan menyantap ayam bakar.
Pada kalimat الطَّالِبَاتُ / الشَّجَرَاتُ / الدّجَاجَاتِ terdapat penambahan huruf alif dan perubahan tulisan ta’ marbuthah menjadi ta maftuhah, dimana bentuk mufrad dari ketiganya berasal dari طالبة / شجرة / دجاجة. Itulah yang dinamakan dengan jamak muannats salim.
Sebelumnya, perlu diketahui bahwa bentuk muannats/feminim memiliki beragam jenis, diantaranya:
1. Muannats berdasarkan makna
a). Muannats haqiqi
وهو ما يلد ويتناسل ولو من طريق البيض والتفريخ، كالطيور
Kelompok isim yang mencakup semua makhluk yang berkembang biak, baik itu dengan cara melahirkan maupun lewat cara bertelur dan mengerami, seperti:
زينب / نوال / طيور
Zainab/Nawal/Burung
Meskipun ketiga isim ini tidak memiliki tanda kemuannatsan seperti berakhiran huruf ta’ marbuthah, namun tetap masuk kategori muannats.
b). Muannats ghoir haqiqi (majazi)
ما كان مؤنثا لا يلد ولا يتناسل، مثل: أرض/شمس
Kelompok isim yang dianggap feminin (muannats) meski bukan makhluk hidup yang melahirkan atau berkembang biak, contohnya seperti kata bumi (ardh) atau matahari (syams).”
2. Muannats berdasarkan lafadz
a). Muannats lafdzi
ما كان مشتملا على علامة تأنيث ظاهرة، سواءا أكان دالا على مؤنث أم مذكر، مثل: فاطمة، وحمزة، ومعاوية، وشجرة، وسلمى، وخضراء.
Kelompok isim yang memiliki tanda feminim (muannats) secara tertulis, entah itu merujuk pada sosok perempuan maupun laki-laki. Contohnya bisa kita lihat pada nama seperti Fatimah, Hamzah, dan Muawiyah, atau kata benda seperti syajarah (pohon), Salma, dan khadhra (hijau).”
Nama Hamzah meskipun untuk laki-laki, ia dijamak ke jamak muannats salim sebab berakhiran ta matbuthah.
b). Muannats maknawi
وهو ما كان لفظه خاليا منها مع دلالته على التأنيث … نحو: زينب، وشمس، وأرض
Kelompok isim yang secara lafadz tidak memiliki tanda kemuannatsan, namun ia termasuk muannats, seperti: Zainab (nama orang), Syams (matahari), Ardh (bumi).
Dari kedua jenis muannats di atas, terdapat muannats yang merangkap antara maknawi dan lafdzi, seperti: Zainab, ia termasuk muannats haqiqi, sebab bereproduksi, ia juga termasuk muannats maknawi sebab tidak memiliki tanda kemuannatsan.
3. Definisi Jamak Muannats Salim
كل ما دل على أكثر من اثنتين بزيادة ألف و تاء لمفرده الصحيح في آخره ، ويرفع بالضمة ، وينصب ويجر بالكسرة ، وهو مؤنث طبعا ( خاص بجماعة الإناث ) ، وسمي سالما لأن مفرده سلم من التغيير عند جمعه
Jamak Muannats Salim adalah kata benda yang menunjukkan jumlah jamak (lebih dari dua) khusus untuk perempuan. Ciri khasnya sangat mudah dikenali, yaitu adanya tambahan huruf Alif dan Ta’ Maftuhah (ـات) di akhir katanya.”
Disebut dengan jamak muannats salim sebab jamak berarti banyak, muannats berarti feminim, dan salim berarti selamat dari perubahan banyak huruf, karna hanya penambahan huruf alif dan perubahan penulisan dari ta’ marbuthah menjadi ta’ maftuhah atau ta’ mamdudah.
Bentuk mufrad muannats (tunggal perempuan) sebelum dibentuk ke jamak muannats salim, pada umumnya diambil dari ke-empat jenis di atas.
-» Terkadang dibentuk dari muannats lafdzi dan maknawi, seperti:
سَيِّدَةٌ -» سَيِّدَاتٌ
-» Atau dari bentuk muannats haqiqi saja tanpa adanya tanda kemuannatsan, seperti:
هِنْدٌ -» هِنْدَاتٌ / سُعَادٌ -» سُعاداتٌ
-» Terkadang dari bentuk muannats lafdzi saja (secara lafadz memiliki tanda kemuannatsan, namun secara makna menunjukan laki-laki, seperti:
عِطْيَةٌ -» عِطْيَاتٌ / شَبَكَةٌ -» شَبَكَاتٌ
-» Atau dari bentuk muannats lafdzi saja tanpa memiliki tanda kemuannatsan, seperti:
سُرَادِق -» سُرَادِقَات
4. Tanda ‘Irab Jamak Muannats Salim
أنه يرفع بالضمة، وينصب بالكسرة نيابة عن الفتحة، ويجر بالكسرة
Jamak muannats salim memiliki tanda ‘irab harakat yaitu: rafa’ dengan dhammah, nashab dengan kasrah pengganti dari fathah, dan majrur dengan kasrah. Contoh:
ذَهَبَتْ الطَّالِبَاتُ إِلَى المَدْرَسَةِ / رَأَيْتُ الطَّالِبَاتِ فِي المَدْرَسَةِ, مَرَرْتُ بِالطَّالِبَاتِ
Catatan:
Tanda ‘irab jamak muannats salim di atas berlaku apabila huruf alif dan ta’ merupakan dua huruf zaidah (tambahan), namun apabila hurufnya asli, seperti kata berikut ini:
. بَيتٌ -» أَبْيَاتٌ / صَوْتٌ -» أَصْوَاتٌ / وَقْتٌ -» أَوْقَاتٌ
Tanda ‘irabnya seperti isim mufrad sebab merupakan jamak taksir yaitu: rafa dengan dhammah, nashab dengan fathah dan majrur dengan kasrah).
5. Mulhaq Jamak Muannats Salim
Imam Malik bersyair:
قال ابن مالك كَذَا أُوْلاَتُ وَالَّذِي اسْمَاً قَدْ جُعِلْ # كَــــأَذْرِعَــاتٍ فِــيْهِ ذَا أَيْــضَاً قُــبِلْ
Bait ini membahas tentang Mulhaq Jamak Muannats Salim, yaitu kata-kata yang secara teknis tidak memenuhi kriteria jamak perempuan, tapi aturan tata bahasanya (i’rab) tetap disamakan.
A. Lafaz ‘Ulatu’ (أُوْلَاتُ)
Kenapa kata Ulatu (أُوْلَاتُ) disebut sebagai Mulhaq? Alasannya simpel: karena kata ini tidak punya bentuk tunggal dari lafaz yang sama. Meski begitu, ia punya ‘kembaran’ makna yaitu kata Dzaatu (ذَاتُ) yang sama-sama berarti ‘pemilik’.
Satu hal penting yang perlu dicatat, dalam penggunaanya kata أُولاتٌ selalu idhafat sehingga tanda tanwin juga otomatis dihilangkan. Contoh:
الأمهاتُ أولاتُ فَضْلٍ
Dalam Al-Qur’an:
وَإِن كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّىٰ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ. سورة الطلاق ٦
B. Nama Berakhiran Alif & Ta’
Selanjutnya, ada kategori unik yang diwakili kata Adzri’aat (أَذْرِعَــاتٌ). Meskipun bentuknya terlihat seperti jamak, kata ini sering dipakai untuk merujuk pada satu hal saja (tunggal), baik laki-laki maupun perempuan, karena statusnya sudah menjadi nama tempat.
Hal yang sama juga berlaku buat kata-kata yang sudah jadi nama orang atau tempat, seperti عَرَفَاتٌ (Tempat dekat Makkah), سَعَادَاتٌ (nama orang), زَيْنَبَاتٌ (nama orang), عِنَايَاتٌ (nama orang, نعْمَاتٌ (nama orang).
Karena sudah jadi ‘nama panggilan’, mereka semua masuk ke dalam kelompok Mulhaq Jamak Muannats Salim.”
Perbedaan pendapat Ulama Nahwu terkait tanda ‘irab أَذْرِعَاتَ dan kawanya:
Pertama : Rafa‘’ dengan dhammah, Nashab dan Majrur dengan kasrah plus menyertakan tanda tanwin, seperti:
هَذِهِ عرفاتٌ / زُرْتُ عرفاتٍ / ومَرَرْتُ بِعرفاتٍ
Ini kota ‘Arafah, Aku mengunjungi kota ‘Arafah, Aku melewati kota ‘Arafah.
Kedua: Rafa’ dengan dhammah, Nashab dan Majrur dengan kasrah, plus menghilangkan tanda tanwin, seperti:
هَذِهِ عرفاتُ زُرْتُ عرفاتِ وَمَرَرْتُ بِعرفاتِ
Ini kota ‘Arafah, Aku mengunjungi kota ‘Arafah, Aku melewati kota ‘Arafah.
Ketiga: Rafa’ dengan dhammah, Nashab dan Majrur dengan fathah plus menghilangkan tanwin, seperti ‘irabnya isim ghair munsharif. Contoh:
هذه عرفاتُ، زُرْتُ عرفاتَ، ووقفت بعرفاتَ
Ini kota ‘Arafah, Aku mengunjungi kota ‘Arafah, Aku melewati kota ‘Arafah.
Lihat referensi:
عباس حسن، النحو الوافى، ج١, ص ١٦٦
6. Isim-Isim yang Dijamak ke Jamak Muannats Salim
A. Setiap isim berakhiran Ta’ Zaidah (tambahan) dapat diubah menjadi Jamak Muannats Salim, mencakup:
- Nama asli perempuan: فاطمة ← فاطمات
- Kata benda umum (Bukan nama): زراعة ← زراعات
- Muannats secara lafadz saja (Nama laki-laki berakhiran Ta Marbuthah : حمزة ← حمزات
Terdapat pengecualian untuk kelompok isim berikut ini, meskipun berakhiran ta marbuthah (ة), mereka tidak boleh diubah menjadi Jamak Muannats Salim, melainkan harus menggunakan bentuk Jamak Taksir:
- Wanita: امرأةٌ menjadi نِسَاءٌ
- Kambing: شَاةٌ menjadi شِيَاةٌ
- Budak pr: أَمَةٌ menjadi إمَاءٌ
- Umat: أمّةٌ menjadi أُمَمٌ
- Bibir: شفة menjadi شِفَاهٌ
- Sedikit: قِلة menjadi قُلاَّت
- Agama: مِلَّةٌ menjadi مِلَلٌ
B. Isim berakhiran Alif Ta’nits Maqshurah dan Mamdudah
-» Untuk Isim berakhiran Alif Ta’nits Maqshurah (ى) berlaku untuk nama orang, sifat, maupun kata benda umum.
- سُعدى menjadi سُعديَات
- فُضْلَى menjadi فضليات
- دنيا menjadi دُنْييات
-» Isim berakhiran Alif Ta’nits Mamdudah (اء). Hamzah pada akhir kata berubah menjadi wawu saat dijamakkan.
- زَهراء menjadi زَهْرَاوات
- حَسْنَاء menjadi حَسْنَاوَاتٌ
Pengecualian (Menurut mayoritas Ulama selain Kuffah)
Kata-kata dengan wazan tertentu di bawah ini tidak dibentuk ke Jamak Muannats Salim, melainkan ke Jamak Taksir:
- Wazan فَعْلَاء (Muannats dari wazan أفْعل), contohnya warna:
خضراء (Hijau), سوداء (Hitam), صفراء (Kuning), زرقاء (Biru). - Wazan فَعْلَى (Muannats dari wazan فَعْلان), contohnya kondisi:
سَكْرى (Mabuk, muannats dari سكران).
C. Setiap isim alam muannats haqiqi, meskipun tidak memiliki tanda kemuannatsan, seperti:
- زينب (Zainab) menjadi زينبات
- نوال (Nawal) menjadi نوالات
Terdapat pengecualian untuk nama حَذَام (Hadzami), karena menurut sebagian pendapat ulama nahwu, kata ini termasuk kategori Mabni (tetap harakat akhirnya), sehingga tidak diubah ke bentuk Jamak Muannats Salim yang bersifat Mu’rab (berubah harakat akhirnya).
d). Setiap isim tasghir untuk jenis mudzakar tidak berakal, seperti:
- نُهَيْرٌ (Sungai kecil, dari kata نَهْرٌ) menjadi نُهيرات
- جُبَيْلٌ (Gunung kecil, dari kata جَبَلٌ) menjadi جُبيلات
- كُتَيْبٌ (Buku kecil, dari kata كِتَابٌ) menjadi كُتيباتٌ
d). Setiap sifat untuk mudzakar tidak berakal, seperti:
Kata sifat yang menjelaskan benda jamak (laki-laki) yang tidak berakal dapat dibentuk menjadi Jamak Muannats Salim, seperti:
- جَمِيْلٌ (Indah) menjadi جَمِيْلاَتٌ
- مَعْدُوْدٌ (Terhitung/Terbatas) menjadi مَعْدُوْدَاتٌ
- مُغَرُّدٌ (Berkicau) menjadi مُغَرُّدَاتٌ
Karena ada kaidah “Jamak tidak berakal dianggap sebagai satu muannats (tunggal perempuan)”, maka kamu memiliki dua pilihan benar untuk mensifati benda-benda tersebut:
- Menggunakan Jamak Muannats Salim, seperti: هذه بَسَاتِيْنُ جَمِيْلاَتٌ (Ini adalah kebun-kebun yang indah)
- Menggunakan Mufrad Muannats (Tunggal Perempuan), seperti: هذه بَسَاتِيْنُ جَمِيْلَةٌ (Ini adalah kebun-kebun yang indah)
Kedua bentuk di atas sama-sama fasih digunakan dalam bahasa Arab.
e). Setiap isim yang tidak terdapat bentuk jamak taksir dari arabnya.
Isim-isim yang secara asal dalam bahasa Arab tidak memiliki bentuk Jamak Taksir (jamak tidak beraturan), sehingga secara otomatis menggunakan bentuk Jamak Muannats Salim.
Kata-kata berikut hanya memiliki bentuk jamak muannats salim.
- سُرادِق (Tenda besar/Paviliun) menjadi سُرادِقات
- قَيْصُوم (Nama tanaman herbal) menjadi قَيْصُومات
- حَمَّام (Kamar mandi) menjadi حَمَّامات
- كَتَّان (Kain rami/Linen) menjadi كَتَّانات
- اصطبل (Kandang kuda/Istal) menjadi اصطبلات
- قطْمير (Kulit tipis pada biji kurma) menjadi قِطْميرات
Selain daftar di atas, ada kata-kata yang dijamakkan ke Muannats Salim murni karena mengikuti kebiasaan pendengaran dari orang Arab asli (Sima’i), meskipun mungkin tidak mengikuti kaidah baku tertentu, seperti:
- شِمال (Utara/Kiri) menjadi شَمَالات
f). Setiap isim atau sifat yang mengikuti pola isim fa’il untuk muannats.
Kata-kata yang menunjukkan pelaku perempuan (baik yang memiliki tanda ta’ marbuthah maupun yang maknanya khusus untuk perempuan) dijamakkan menggunakan Jamak Muannats Salim.
- ضارية (Hewan buas betina/yang menerkam) menjadi ضاربات
- ناصرة (Wanita penolong) menjadi ناصرات
- مرضعة (Ibu yang menyusui) menjadi مرضعات
Menariknya, pada kata مرضعة, meskipun ia adalah sifat yang khusus bagi perempuan, ia tetap bisa menggunakan bentuk jamak muannats salim untuk menunjukkan jamak (banyak ibu yang menyusui).
g). Mashdar dari fi’il yang lebih dari tiga huruf
Mashdar (kata benda turunan dari kata kerja) yang berasal dari fi’il dengan jumlah lebih dari 3 huruf (Tsulatsi Mazid maupun Ruba’i) dijamakkan menggunakan bentuk Jamak Muannats Salim.
- تعريف (Definisi – dari kata ‘arrafa) menjadi تعريفات
- استفسار (Pertanyaan/Informasi – dari kata istafsara) menjadi استفسارات
- إكرام (Penghormatan – dari kata akrama) menjadi إكرامات
- اجتهاد (Kesungguhan – dari kata ijtahada) menjadi اجتهادات
Lihat referensi:
عباس حسن، النحو الوافى، ج١, ص ١٦٩
7. Analisa ‘Irab Jamak Muannats Salim
Mahal ‘irab jamak muannats salim dalam sebuah kelimat tergantung posisi yang ia tempati. Terkedang menempati posisi rafa sebagai fa’il, nashab sebagai maf’ul bih, atau mubtada, mudhaf mudhaf Ilaih dan lainya. Contoh:
الطَّالِبَاتُ يَلْعَبْنَ أَمَامَ المَدْرَسَةِ
Lafadz الطَّالِبَاتُ sedang berada di mahal ‘irab rafa’ dengan tanda dhammah karena sedang menjadi mubtada’.
ذَهَبَتْ الطَّالِبَاتُ إِلَى المَدْرَسَةِ
Lafadz الطَّالِبَاتُ sedang berada di mahal ‘irab rafa’ dengan tanda dhammah sebab sedang menjadi fa’il.
رَأَيْتُ الطَّالِبَاتِ فِي المَدْرَسَةِ
Lafadz الطَّالِبَاتِ sedang berada di mahal ‘irab manshub dengan tanda kasrah sebagai sedang menjadi maf’ul bih.
مَرَرْتُ بِالطَّالِبَاتِ
Lafadz الطَّالِبَاتِ sedang berada di mahal ‘irab majrur dengan tanda kasrah karena sedang menjadi isim majrur oleh huruf jar.
Contoh ‘irab Jamak Muannats Salim:
تِلْمِيْذَاتٌ جَمِيْلاَتٌ جَالِسَاتٌ أَمَامَ المَدْرَسَةِ
Para siswi yang cantik sedang duduk di depan sekolah
تِلْمِيْذَاتٌ : مبتدأ مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة على آخره, جميلات : نعت مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة على آخره, جَالِسَاتٌ : خبر مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة على آخره, أمام : مفعول فيه ظرف مكان منصوب وعلامة نصبه الفتحة وهو مضاف المَدْرَسَةِ : مضاف إليه مجرور وعلامة جره الكسرة
Contoh Jamak Muannats Salim dalam Al- Qur’an:
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ. سورة البقرة ٢٣٣
وَالْوالِداتُ : الواو استئنافية الوالدات : مبتدأ يُرْضِعْنَ : فعل مضارع وفاعل والجملة خبر المبتدأ أَوْلادَهُنَّ : مفعول به حَوْلَيْنِ : ظرف زمان منصوب بالياء لأنه مثنى متعلق بيرضعن كامِلَيْنِ : صفة منصوبة لِمَنْ : جار مجرور متعلقان بمحذوف خبر تقديره : ذلك الأمر لمن أَرادَ : فعل ماض أَنْ يُتِمَّ : المصدر المؤول من أن والفعل في محل نصب مفعول به لأراد الرَّضاعَةَ : مفعول به وجملة أراد صلة الموصول
Wallahu’alam. Semoga bermanfaat
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا
Referensi:
عباس حسن، النحو الوافى، ج١, ص ١٦٠- ١٦٩





Responses (3)