Perhatikan contoh jamak mudzakkar salim berikut:
ذَهَبَ الطَّالِبُوْنَ إِلى المَدْرَسَةِ / رَأَيْتُ الطَّالِبِيْنَ فِى المَدْرَسَةِ / مَرَرْتُ بِالطَّالِبِيْنَ أَمَامَ المَدْرَسَةِ
Para siswa telah pergi ke sekolah / Aku melihat Para siswa di sekolah / Aku berpapasan dengan Para siswa di depan sekolah
Apabila kita perhatikan kata-kata الطَّالِبُوْنَ dan الطَّالِبِيْنَ di atas, ketiganya menunjukan bantuk jamak (plural) yang ditandai dengan huruf wawu, nun dan iya, dimana bentuk tunggalnya berasal dari kata الطَّالبُ. Ini yang dinamakan dengan jamak mudzakkar salim.
Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa setiap isim, baik yang memiliki arti jamak atau mufrad, namun tidak memiliki tanda wawu, iya dan nun, maka bukan termasuk jamak mudzakkar salim. Seperti: isim mufrad (tunggal), isim mutsanna (dua orang), jamak muannats salim, dan jamak taksir.
1. Definisi Jamak Mudzakkar Salim
هو ما دل على أكثر من اثنين بزيادة واو و نون في آخره عند الرفع ، وياء ونون في حالتي النصب والجر
Jamak mudzakkar salim yaitu setiap Isim yang menunjukan arti lebih dari dua (plural) dengan tanda ‘irabnya yaitu:
- Memiliki tambahan huruf wawu dan nun dalam keadaan rafa’
- Memiliki tambahan huruf iya dan nun dalam keadaan nashab dan jar.
Jamak berarti banyak, mudzakkar berarti laki-laki, dan salim berarti selamat dari perubahan harokat dan pembuangan huruf.
2. Isim-Isim yang Dijamak Ke Mudzakkar Salim
Terdapat dua kelompok isim yang dapat dijamak ke dalam bentuk jamak mudzakkar salim.
A. Isim Alam
Isim Alam sendiri memiliki dua kelompok yaitu isim alam jamid dan isim alam muystaq.
-» Alam Jamid yaitu isim yang benar-benar menunjukan nama orang (bukan yang berasal dari bentuk sifat lalu dijadikan nama orang, seperti: إبراهيم / سعد (Ibrahim/Sa’ad)
–» Alam Muystaq yaitu isim yang pada awalnya berupa sifat, kemudian dijadikan nama orang, seperti: فاضل / خالد (Fadhil / Kholid)
Syarat dan ketentuan:
Untuk membuat bentuk jamak mudzakkar salim dari isim alam, terdapat beberapa ketentuan sebagai berikut:
1). Isim alam tersebut mesti jenis mudzakkar, berakal, tidak murakkab dan tidak berakhiran ta’ ta’nist, seperti:
زَيدٌ -» زَيْدُوْنَ / عَلِيٌ -» عَلِيُونَ
Catatan: Semua isim alam berstatus ma’rifat dan menunjukan kepada satu nama orang khusus, lalu apabila dirubah menjadi jamak mudzakkar salim, maka statusnya berubah menjadi nakirah (umum). Apabila bentuk jamaknya ingin kembali dimakrifatkan, mesti ditambahkan alif lam ta’rif , atau dimasuki huruf nida (panggil), atau idhafat kepada isim ma’rifat lainya.
Contoh:
ذَهَبَ زَيْدُوْنَ إِلى السُّوقِ
Orang2 yang bernama zaid pergi ke pasar.
Mereka semuanya umum (entah Zaid mana yang pergi ), namun ketika dima’rifatkan kembali dengan salah satu perangkat ta’rif, baik alif lam, iya nida atau idhafat, maka maksud dari pada Zaid2 yang pergi tersebut adalah mereka yang dimaksud.
2). Isim alam yang tidak memenuhi kriteria pada point (a), ia tidak dijamak ke bentuk jamak mudzakkar salim, melainkan ke bentuk jamak muannats salim atau jamak taksir, seperti isim berikut ini:
-> Setiap isim untuk nama perempuan, seperti: زينب, نوال ، سعاد (Su’aad, Nawal, Zainab) dan lainya dibentuk ke jamak muannats salim.
-> Isim yang bukan nama orang, seperti: ولد/غلام/إنسان (Manusia, Budak, Anak), dan lainya dibentuk ke jamak taksir, terkecuali apabila memiliki tambahan huruf iya nisbah, maka dia boleh dibentuk ke jamak mudzakkar salim, sebab iya nisbah berfaidah sifat. Seperti: إِنْسَانِيٌّ -» إنسَانِيُّوْنَ (Sifat kemanusiaan/manusiawi).
-> Setiap isim yang diakhiri ta’ tanist, seperti: حمزة – طلحة – معاوية (Hamzah, Mu’awiyah, Talhah dan lainya).
Menurut Ulama Kuffah: ” Isim-isim yang diakhiri dengan ta’ tani st boleh dibentuk ke jamak mudzakkar salim, namun huruf ta’ mesti dibuang terlebih dahulu, seperti:
طلحة -» طلحون
Sedangkan menurut Ulama Bashrah: “Isim-isim tersebut tetap dibentuk ke jamak muannats salim, seperti:
طلحة -» طلحات
-> Setiap isim alam tidak berakal seperti ( هلال/يوم dan sejenisnya). Isim seperti ini dibentuk ke jamak taksir.
-> Isim Murakkab, baik mazji, seperti: سيبويْهِ, atau isnadi, seperti: فتح الله, atau ‘adadi (bilangan), seperti ثلاثةَ عشرَ, cara menjamaknya dengan perantara ذوو yang letakan diawal kalimat.
Kata ذَوُوْ bentuk jamak dari ذُو yang bermakna (Pemilik). Kata ini dipakai untuk membantu isim yang tidak bisa langsung dibentuk ke jamak mudzakkar salim.
Untuk tanda ‘irabnya sama seperti jamak mudzakkar salim yaitu: rafa dengan wawu, nashab dan jar dengan iya.
||| Untuk mengetahui perubahan kata ذو bisa dilihat pada pasal Isim Mutsanna
Contoh:
هُمْ ذَوُوْ سِيْبَوَيْهِ / رأيت ذَوِي سِيْبَوَيْهِ/ مررتُ بِذَوِي سِيْبَوَيْهِ
Mereka sibawaihi / Aku melihat sibawaihi (banyak) / Aku berpapasan dengan sibawaihi (banyak)
Adapun untuk ‘irab isim murakkab mazji, seperti سبويه silahkan lihat pada pada materi isim ghoir munsharif
Sementara untuk murakkab idhafi yaitu dengan menjamak kata yang menjadi mudhaf. Contoh:
هم عَبْدُوْ الرحمنِ / رأيت عَبْدِي الرحمنِ / مررت بِعَبْدِي الرحمنِ
Mereka Abdurahman / Aku melihat Abdurahman (banyak) / Aku berpapasan dengan Abdurahman (banyak)
B. Sifat
Isim kedua yang bisa dirubah kedalam bentuk jamak mudzakkar salim yaitu sifat, dengan ketentuan sebagai berikut:
1). Mesti sifat untuk mudzakar, seperti:
مُجْتَهِدٌ -» مُجْتَهِدُوْنَ ✔️
مَاهِرٌ -» مَاهِرُوْنَ ✔️
مرضع -» مرضعون ❌
حَائِضٌ -» حَائِضُوْنَ ❌
Kata مرضعون (menyusui) dan حَائِضُوْنَ (haid) merupakan sifat yang secara fitrah bukan sifat khusus lelaki, sehingga hanya dibentuk ke jamak muannats malim, seperti:
مُرْضِعٌ -» مُرْضِعَاتٌ ✔️
حَائِضٌ -» حَائِضَاتٌ ✔️
2). Mesti sifat untuk berakal, seperti:
مجتهد -» مجتهدون ✔️
صَاهِلٌ -» صاهلون ❌
ناهق -» ناهقون ❌
Kata صاهلون (suara kuda), dan ناهقون (suara keledai), merupakan sifat khusus tidak berakal, sehingga hanya dibentuk ke jamak muannats salim. Contoh:
الأحمِرةُ ناهقاتٌ ✔️
Keledai-Keledai itu meringkik
Atau tidak dijamak sama sekali, sebab jamak tidak berakal sama dengan satu muannats. Contoh:
الأحمِرةُ ناهقة ✔️
Keledai-Keledai itu meringkik
3). Kata sifat tersebut tidak diakhiri ta’ ta’nist, seperti:
مجتهد -» مجتهدون ✔️
مجتهدة -» مجتهدتون ❌
Untuk kata مجتهدة sebab berakhiran ta‘ ta’nist, ia dibentuk ke jamak muannats salim, seperti:
Kenapa yang kedua salah ? sebab mufradnya diakhiri Ta’ Tanist. Jadi sifat yang berakhiran Ta’ Tanist dijamak dengan jamak muannats salim. Contoh
مجتهدة -» مجتهداتٌ
4). Bukan sifat yang berwazan أفعل yang muannatsnya berwazan فعلاء diantaranya:
أحمر -« حمراء
أخضر -» خضراء
أسود -» سوداء
أصفر -» صفراء
أبيض -» بيضاء
Semua kata seperti ini dibentuk ke jamak muannats salim, seperti:
خضراء -» خضروات ✔️
بيضاء -» بيضوات ✔️
أخضر -» أخضرون ❌
أبيض -» أبيضون ❌
Atau sifat yang berwazan فعلان yang muannatsnya berwazan فعلى, seperti:
سَكْرَان (mudzakar)
سَكْرَى (muannats)
Menurut Ulama Bashrah: Isim sifat seperti ini dibentuk ke jamak taksir, seperti:
سكران (mufrad) -» سُكارَى (jamak) ✔️
Sedangkan menurut Ulama Kuffah: “Kata seperti سكران dan أحمر boleh dijamak ke jamak mudzakkar salim, sebab sudah lumrah dan banyak digunakan di arab sampai saat ini, seperti:
سكران (mufrad) -» سَكْرَانُوْنَ (jamak) ✔️
Mereka yang mabuk
Lihat referensi:
شرح المفصل،ج ٥, ص ٥٩ و ٦٠ عباس حسن النحو الوافى، ج ١, ص١٤٣
3. Mulhaq Jamak Mudzakkar Salim
Mulhaq berarti mengikuti, artinya Isim-isim yang tidak memenuhi sebagian syarat ketentuan di atas, namun dii’rob sama seperti jamak mudzakkar salim.
Isim-isim mulhaq ini bersifat sima’i dan jumlahnya banyak, namun terdapat beberapa yang populer diantaranya:
A. Isim Bermakna Jamak
Mulhaq pertama yaitu isim yang menunjukkan makna jamak, namun tidak memiliki bentuk mufrod secara lafadz, dia hanya memiliki makna sinonimnya dalam bentuk mufrad, seperti lafaz أُوْلُواْ yang bermakna صَاحب (pemilik).
Contoh dalam keadaan rafa’:
العُلَمَاءُ أُوْلُو العِلْمِ
Contoh dalam keadaan nashab:
كانَ العُلَمَاءُ أُوْلِي العِلْمِ
Para ulama adalah orang-orang ahli ilmu
Contoh dalam keadaan majrur:
انتَفَعْتُ مِنْ أُوْلِي العِلْمِ
Aku mengambil faedah dari ahli ilmu.
Dalam AlQur’an:
شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ. سورة العمران ١٨
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). “
B. Isim Bukan Nama dan Sifat
Mulhaq kedua yaitu isim yang bukan nama, dan juga bukan sifat, seperti: عَالَمٌ
عَالَمُ الحيوان
Dunia hewan
عالم النبات
Dunia tumbuhan
Kata عَالَمٌ mencakup mudzakkar, muannats, berakal dan tidak berakal.
Contoh ‘irab ketika rafa’:
كَانَتْ عَالَمُوْ الحيوانَاتِ مَحْبُوْبَةً عِنْدَ الأطفالِ
Dunia hewan disukai anak-anak
Contoh ketika nashab:
إِنَّ عَالَمِي الحيوانَاتِ مَحْبُوْبَةٌ عند الأطفال
Contoh ketika majrur:
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
“Segala puji bagi Allah, Rab semesta alam“
Lafaz الْعَالَمِيْنَ pada ayat tersebut majrur karena menempati mahal ‘irab mudhof ilaihi dengan tanda jar berupa iya pengganti kasrah.
Atau seperti kata أَهْلٌ (keluarga) yang bentuk jamak mudzakkar salimnya adalah أَهْلُوْنَ.
Contoh dalam syair:
وَمَا الْمَالُ وَاْلأَهْلُوْنَ إِلاَّ وَدَائِعُ وَلاَ بُدَّ يَوْماً أَنْ تُرَدَّ الْوَدَائِعُ
Dan tidaklah harta dan keluarga melainkan hanya sebuah titipan, dan akan datang hari di mana titipan itu akan dikembalikan.
C. Isim Bermakna Jamak, Namun tidak Memiliki Bentuk Mufrad
Mulhaq jamak mudzakar salim selanjutnya yaitu isim yang memiliki makna jamak, namun tidak memiliki bentuk mufrod secara lafadz dan makna, seperti isim عِشْرُوْنَ (dua puluh) sampai ثلاَثُوْنَ (tiga puluh) dan seterusnya.
Contoh ‘irab ketika rafa’:
هُمْ عِشْرُوْنَ طَالِبًا
Mereka 20 siswa
Dalam Al-Qur’an:
إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُوْنَ صَابِرُوْنَ يَغْلِبُوْا مِائَتَيْنِ. سورة الأنفال ٦٥
“Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kalian, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh“
Contoh ‘irab ketika nashab:
رَأَيْتُ عِشْرِيْنَ طَالِبًا
Aku melihat 20 siswa
Dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَىٰ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً. سورة البقرة ٥١
“Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (untuk memberikan Taurat, setelah) empat puluh malam“
Contoh ‘irab ketika majrur:
مررتُ بعِشْرِيْنَ طَالِبًا
Aku berpapasan dengan 20 siswa
D. Isim Yang Tidak Selamat Dari Perubahan
Mulhaq selanjutnya yaitu sim-isim yang memiliki bentuk mufrad, namun dalam perubahanya ke bentuk jamak tidak selamat, baik dari segi pembuangan huruf atau harakat. Dengan demikian dia termasuk jama’ taksir, namun di’irab dengan huruf seperti jamak mudzakkar salim, seperti kata:
بَنون، وإحَرُّون، وأرَضون، ذَوُو,سِنُوْنَ
Kata أَرَضُوْنَ yang bentuk mufrodnya adalah أَرْضٌ (bumi) dengan harokat sukun pada huruf ra (ر). Lalu ketika dirubah ke jamak mudzakkar salim, huruf ra menjadi fathah. Artinya, tidak selamat dari perubahan harakat. Kemudian kata بَنُوْنَ yang bentuk mufrodnya adalah ابنْ (anak), kemudian ketika dirubah ke jamak mudzakkar salim, huruf hamzah dibuang dan harokat ba (ب) yang awalnya sukun menjadi fathah. Artinya, tidak selamat dari perubahan harokat dan pembuangan huruf.
Begitu juga dengan kata ذَوُوْ yang bentuk mufrodnya adalah ذُوْ (pemilik). Lalu ketika dirubah ke jamak mudzakkar salim, harakat huruf dzal yang pada bentuk mufradnya dhammah berubah menjadi fathah. Artinya tidak selamat dari perubahan harokat.
Contoh lain dari kawanan ini adalah سِنُوْنَ, yang bentuk mufrodnya adalah سَنَةٌ (tahun) dengan berubahnya harokat sin dari fathah ke kasrah dan hilangnya ta’ marbuthoh. Artinya tidak selamat dari perubahan harokat dan pembuangan huruf.
Dalam Al-Qur’an:
قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ. سورة المؤمنون ١١٢
“Allah bertanya, berapa tahun lamanya kalian tinggal di bumi?“
E. Isim Tidak Berakal
Mulhaq selanjutnya yaitu isim tidak berakal seperti kata عِلِّيٌّ menjadi عِلِّيُّوْنَ (nama untuk surga yang tertinggi). Isim ini di i’rob seperti i’rob jamak mudzakkar salim.
Dalam Al-Qur’an:
كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّيْنَ وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّوْنَ. سورة المطففين ١٨-١٨
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya catatan amalan orang yang berbakti itu ada di ‘illiyyun. Dan apakah kamu mengetahui apa yang dimaksud dengan ‘illiyyun itu?“
4. Analisa I’rab Jamak Mudzakkar Salim dan Mulhaqnya
يرفع جمع المذكر السالم بالواو نيابة عن الضمة ، وينصب بالياء ويجر بالياء نيابة عن الفتحة والكسرة
Tanda ‘irab jamak mudzakar salim yaitu huruf wawu dalam keadaan marfu’ sebagai ganti dari pada dhammah, dan dengan huruf iya dalam keadaan manshub dan majrur sebagai pengganti dari fathah dan kasrah.
Contoh:
ذَهَبَ الطَّالِبُوْنَ إِلَى المَدْرَسَةِ
Para pelajar telah pergi ke sekolah
ذَهَبَ : فعل ماضي مبني على الفتح, الطَّالِبُوْنَ : فاعل مرفوع بالواو نيابة عن الضمة ؛ لأنه جمع مذكر سالم إِلَى : حرف جر مبني على السكون لا محل له من الاعراب, المدرسة : اسم مجرور و علامة جره الكسرة الظاهرة
Terkait dengan pasal jamak mudzakar salim, Ibnu Malik bersyair;
وَارْفَعْ بِوَاوٍ وَبِيَا اجْرُرْ وانْصِبِ # سَالِمَ جَمْعِ عَامِرٍ وَمُذْنِبِ # وَشِبْهِ ذَيْنِ وَبِهِ عِشْرُونا # وَبَابُـهُ أُلْحِـقَ وَالأَهْـلُونَـا # أُولُـو وَعَالَمُـونَ عِلّيُّونَـا # وَأَرَضُـونَ شَـذَّ وَالسِّنُونَـا # وَبَابُـهُ وَمِثْلَ حِيـنٍ قَدْ يَرِد # ذَا الْبابُ وَهْوَ عِنْدَ قَوْم يَطَّرِدْ
5. Membuang Nun Jamak Mudzakkar Salim
تحذف نون جمع المذكر السالم عند الإضافة
Huruf nun pada jamak mudzakkar salim wajib dibuang ketika sedang idhafat, baik dalam keadaan rafa, nashab dan jar. Contoh:
طَالِبُوْ العِلْمِ يَجْتَمِعُوْنَ أَمَامَ المَسْجِدِ
Para penuntut ilmu sedang berkumpul di depan mesjid
إِنَّ طَالِبِي العِلْمِ يَرْغَبُ اللّهُ فِيْهِمْ
Para penuntut ilmu dicintai Allah Ta’ala
مِنْ طَالِبِي العِلْمِ مَنْ كَانَ مُجْتَهِدًا وَ مُتَكَاسِلاً
Diantara para penuntut ilmu, ada yang rajin dan ada juga yang bermalasan.
Lihat referensi:
عباس حسن، النحو الوافي، ج١, ص ١٥٠
Wallahu’alam. Semoga bermanfaat
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا





Responses (2)