News...!
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا

Uslub Qasam (أسلوب القسم) Dalam Bahasa Arab

5
(15)

BismillahiRahmaniRahim. In Syaa Allah akan dibahas materi uslub qasam yang meliputi pengertian secara bahasa, istilah, rukun dan dilengkapi dengan contoh-contoh dari Al-Quran berikut analisa ‘irabnya.

Dalam bahasa Arab, sumpah tidak hanya disebut Qasam, tapi juga sering disebut sebagai (اليمين) Al-Yamin atau (الحلف) Al-Hilf. Ternyata, di balik istilah-istilah ini ada makna filosofis yang sangat dalam tentang “kekuatan”.

1. Tujuan Bersumpah

Tujuan utama dari sebuah sumpah adalah untuk menegaskan dan memperkuat perkataan. Saat Kita bersumpah atas sesuatu, Kita sedang memberikan beban ekstra pada ucapan tersebut agar lawan bicara percaya bahwa apa yang Kita katakan adalah kebenaran yang solid dan tidak tergoyahkan.

2. Ketika Sumpah Disebut ‘Al-Yamin’

Ini bagian yang paling menarik! Dalam bahasa Arab, kata Yamin (tangan kanan) punya kaitan erat dengan konsep kekuatan.

-» Simbol Dominasi: Secara alami, tangan kanan manusia umumnya lebih kuat daripada tangan kiri. Inilah mengapa sumpah disebut Yamin, karena ia meminjam filosofi “kekuatan” tangan kanan untuk memperkokoh ucapan.

-» Kekuasaan dalam Al-Qur’an: Menurut kamus Lisan al-Arab, Yamin berarti kekuatan. Dalam QS. Al-Haqqah: 45: “Niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya (Yamin)”. Ahli tafsir Az-Zajjaj menjelaskan bahwa makna “Yamin” di sini adalah kekuasaan dan kemampuan.

-» Tradisi Jabat Tangan: Dahulu, saat orang Arab berjanji atau bersekutu, mereka akan saling memukulkan tangan kanan mereka. Dari sinilah nama “tangan kanan” melekat pada tindakan bersumpah itu sendiri.
Rahasia Kata ‘Al-Hilf’: Lebih dari Sekadar Janji

Selain Yamin, sumpah juga disebut Al-Hilf. Istilah ini membawa nuansa persatuan yang luar biasa:

–» Saling Menguatkan: Al-Hilf asalnya berarti perjanjian (‘Ahd) antar kelompok untuk saling membantu dan mendukung.

-» Menjadi Satu Kesatuan: Menurut Ibnu al-Athir, Al-Hilf adalah kesepakatan untuk saling menolong. Ketika dua orang melakukan Al-Hilf, mereka bersumpah agar urusan mereka menjadi satu dalam hal kesetiaan.

-» Keterikatan yang tak terpisahkan: Menariknya, kata ini berkembang menjadi kiasan untuk sesuatu yang sangat lengket atau tak terpisahkan. Jika seseorang sangat dermawan, ia disebut حَلِيفُ الجُودِ “Haliful Juud” (sekutu kedermawanan), seolah-olah sifat dermawan itu sudah “bersumpah setia” untuk tidak pernah meninggalkan dirinya.

3. Makna Psikologis ‘Al-Qasam’

Mungkin ini yang paling unik. Secara bahasa, Al-Qasam memiliki keterkaitan dengan proses mental di dalam hati kita:

-» Dari Ragu Menjadi Nyata: Al-Qasam berasal dari akar kata yang menggambarkan sesuatu yang terbersit di hati. Awalnya mungkin hanya berupa dugaan atau persangkaan (zhan).

-» Penguatan Keyakinan: Namun, ketika dugaan itu menguat dan menjadi kokoh, ia berubah menjadi sebuah kebenaran yang nyata (hakikat). Itulah mengapa disebut Qasam, karena ia mengubah sesuatu yang samar menjadi sesuatu yang pasti dan kuat.

4. Al-Qur’an Membedakan ‘Hilf’ dan ‘Qasam’

Jika kita telusuri lebih dalam ayat-ayat Al-Qur’an, kita akan menemukan sebuah pola linguistik yang sangat menarik. Ternyata, pemilihan kata antara Al-Hilf dan Al-Qasam bukan tanpa alasan.

A. ‘Al-Hilf’: Identik dengan Kebohongan

Para ulama mencatat sebuah keunikan: hampir setiap kali Al-Qur’an menggunakan kata turunan Al-Hilf (berasal dari kata Halafa), konteksnya sering kali berkaitan dengan pelanggaran sumpah (حنث – hunth) atau sumpah palsu.

Beberapa contohnya bisa kita lihat di sini:

-» Tentang Tebusan Sumpah:

كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ

“Itulah kaffarat (tebusan) sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah (halaftum)…” (QS. Al-Ma’idah: 89). Ayat ini muncul dalam konteks ketika seseorang melanggar sumpah yang sudah diucapkan.

–» Sumpah Palsu Kaum Munafik:

وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan mereka bersumpah (yahli-funa) atas kebohongan, sedang mereka mengetahui.” (QS. Al-Mujadilah: 14).

-» Kedok Kebaikan:

وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Dan mereka pasti akan bersumpah (wa la-yahli-funna): ‘Kami tidak menginginkan kecuali kebaikan’, dan Allah menyaksikan bahwa mereka benar-benar pendusta.” (QS. Al-Tawbah: 107).

Jadi, dalam bahasa Al-Qur’an, kata Al-Hilf seolah membawa “tanda peringatan” akan adanya ketidakjujuran.

B. ‘Al-Qasam’: Sumpah yang Bersifat Umum

Berbeda dengan Al-Hilf, kata Al-Qasam (atau Aqsamu) bersifat lebih netral dan umum dalam Al-Qur’an. Kata ini digunakan baik untuk sumpah yang bohong maupun sumpah yang benar.

-» Tipu Daya Iblis: Iblis menggunakan kata ini saat merayu Nabi Adam: “Dan dia (Iblis) bersumpah (qasamahuma) kepada keduanya:

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

‘Sesungguhnya aku termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua’.” (QS. Al-A’raf: 21). Ini adalah contoh sumpah Qasam yang bohong.

-» Teguran bagi Orang Kafir:

أَقْسَمْتُم مِّن قَبْلُ مَا لَكُم مِّن زَوَالٍ

“Bukankah kamu dahulu telah bersumpah (aqsamtum) bahwa kamu tidak akan berpindah (dari dunia ke akhirat)?” (QS. Ibrahim: 44).

-» Sumpah yang Belum Terbukti:

Al-Qur’an juga merekam sumpah orang-orang yang berjanji akan taat namun diragukan kejujurannya:

 

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ أَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّ ۖ قُل لَّا تُقْسِمُوا ۖ طَاعَةٌ مَّعْرُوفَةٌ

“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh… Katakanlah: ‘Janganlah kamu bersumpah (la tuqsimu), karena yang diminta adalah ketaatan yang baik’.” (QS. An-Nur: 53).

5. Jenis-Jenis Qasam (Sumpah)

Ternyata, cara seseorang bersumpah dalam bahasa Arab tidak selalu sama. Ada struktur tertentu yang membuat sebuah kalimat resmi dianggap sebagai sumpah. Secara umum, sumpah dibagi menjadi dua jenis utama

Pertama: Sumpah Dzahir (Eksplisit/Nyata).

Sumpah jenis ini sangat mudah dikenali karena menggunakan tanda-tanda yang jelas. Bagaimana cara mengenalinya? Yuk, kita bedah satu per satu:

1. Menggunakan Huruf Sumpah (Huruf al-Qasam)

Ini adalah bentuk yang paling umum. Biasanya menggunakan huruf seperti Wau, Ba, atau Ta (الواو، الباء ، التاء).

Contoh dalam Al-Qur’an:

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْحُبُكِ (٧) إِنَّكُمْ لَفِي قَوْلٍ مُّخْتَلِفٍ

“Demi langit yang mempunyai jalan-jalan yang bagus, sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda pendapat.” (QS. Adz-Dzariyat: 7-8).

2. Menggunakan Kata Kerja Sumpah (Fi’il al-Qasam)

Sumpah ini langsung menggunakan kata kerja “Aku bersumpah” (Aqsamu), seperti pada syair berikut:

وأقسم لا أنساك ما ذر شارق … وما هب آل في ملمعة قفر

“Dan aku bersumpah tidak akan melupakanmu selama matahari masih terbit… dan selama fatamorgana masih berhembus di padang pasir yang luas dan tandus.”

Penggunaan kata Aqsamu di sini menegaskan komitmen yang tidak diragukan lagi.

3. Gabungan Huruf dan Kata Kerja

Ini adalah bentuk penguatan ganda, di mana huruf sumpah dan kata kerjanya muncul bersamaan.

Contoh dalam Al-Qur’an:

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِن جَاءَتْهُمْ آيَةٌ لَّيُؤْمِنُنَّ بِهَا

“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah, bahwa jika datang suatu mukjizat kepada mereka, pastilah mereka akan beriman kepadanya.” (QS. Al-An’am: 109).

Di sini terdapat kata kerja Aqsamu dan penyebutan nama Allah secara eksplisit.

4. Menggunakan Istilah Sumpah (Kata Benda atau Mashdar)

Kadang, sumpah tidak diawali huruf atau kata kerja, melainkan istilah khusus yang sudah dipahami sebagai sumpah, seperti kata Yaminullah (Demi kekuasaan Allah).

Contoh dalam Puisi Imru’ al-Qais:

فَقُلْتُ يَمينَ اللهِ أَبْرَحُ قاعِداً … وَلَوْ قَطَعوا رَأسي لَدَيْكِ وَأَوْصالي

“Maka aku katakan: Demi Allah (Yaminullah), aku akan tetap duduk di sini, meskipun mereka memenggal kepala dan seluruh anggota tubuhku di hadapanmu.”

Kedua: Sumpah Mudhmar (Implisit/Tersirat).

Di sini, pembicara tidak menyebutkan kata “Demi Allah” atau “Aku bersumpah”, tetapi pendengar langsung tahu bahwa kalimat tersebut adalah sebuah sumpah.

Bagaimana caranya? Yuk, kita intip rahasianya!

1). Rahasia Huruf “Lam” (Lam al-Qasam)

Terkadang, cukup dengan menambahkan satu huruf “La” (Lam) di depan kata kerja, sebuah kalimat sudah mengandung kekuatan sumpah.

Imam Sibawayh dalam kitabnya yang legendaris, Al-Kitab, pernah bertanya kepada gurunya, Al-Khalil, tentang struktur ini. Al-Khalil menjawab bahwa kalimat tersebut diucapkan dengan niat bersumpah, meski kata sumpahnya sendiri tidak diucapkan.

Contoh dalam Al-Qur’an:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji (La-tublawunna) terhadap hartamu dan dirimu...” (QS. Ali ‘Imran: 186).

لَئِنْ أُخْرِجُوا لَا يَخْرُجُونَ مَعَهُمْ

“Sungguh, jika mereka dikeluarkan (La-in ukhriju), mereka tidak akan keluar bersama mereka…” (QS. Al-Hasyr: 12).

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ

“Dan sungguh, Allah telah memenuhi (La-qad shadaqakum) janji-Nya kepada kamu...” (QS. Ali ‘Imran: 152).

Huruf Lam di awal kata-kata tersebut berfungsi sebagai “pengunci” yang memberikan kepastian setingkat sumpah.

Lihat materi terkait: Lam Qasam VS Nun Taukid ( لام القسم ونون التوكيد)

2. Sumpah yang Terasa dari Makna

Ada juga sumpah yang tidak terlihat hurufnya, tetapi alur kalimatnya menunjukkan sebuah penegasan mutlak yang hanya bisa dicapai dengan sumpah.

Contohnya dalam ayat:

وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا

“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu, melainkan akan mendatangi neraka itu (Wa in minkum illa wariduha)...” (QS. Maryam: 71).

Secara struktur, ayat ini adalah bentuk penegasan total yang oleh para ulama ahli bahasa dianggap memiliki kedudukan makna yang sama dengan sumpah karena kekokohan pesannya.

Mengapa Harus Tersirat?

Sumpah jenis ini sering kali digunakan untuk memberikan tekanan psikologis yang cepat dan efektif. Tanpa perlu bertele-tele menyebutkan rumus sumpah yang panjang, pesan yang disampaikan langsung terasa “mahal” dan tidak bisa diganggu gugat.

6. Definisi Qasam (تعريف القسم)

Qasam secara bahasa berasal dari أَقْسَمَ – يُقْسِمُ – إِقْسَامًا bermakna حَلَفٌ (sumpah). Sedangkan menurut istilah ilmu nahwu yaitu:

هُوَ طَرِيْقٌ مِنْ طُرُقِ تَوكِيْدِ الكَلام عَلَى النَّحْوِ الّذِي يُرِيْدُهُ المُتَكَلِّمُ إذ يُؤتَى بِهِ لِدَفْعِ إِنْكَارِ أو إزَالَة الشَكِّ

Uslub Qasam adalah salah satu cara untuk mempertegas kalimat sesuai dengan yang dimaksud oleh mutakallim (pembicara) agar hilang keraguan dan sanggahan dari mukhattab (lawan bicara).

7. Rukun Qasam (أركان القسم)

Dalam uslub qasam terdapat 3 komponen yaitu perangkat qasam (أداة القسم), al–muqasam bih (المقسم به) dan al-muqasam ‘alaih (المقسم عليه). Contoh:

وَاللَّهِ لَقَدْ نَجَحَ خَالِدٌ فِي الامتحانِ

الواو : أدة القسم, الله : المقسم به, لَقَدْ نَجَحَ خَالِدٌ : المقسم عليه, وَاللَّهِ : جملة قسم لَقَدْ نَجَحَ خَالِدٌ : جواب قسم

a). Perangkat Qasam (أداة القسم)

Bersumpah bisa dilakukan dengan menggunakan perangkat huruf wawu (الواو)، ba (الباء), dan ta’ (التاء) yang ketiganya merupakan huruf jar yang membuat al-muqasam bih.

Dalam struktur kalimat sumpah, pada dasarnya terdapat fi’il qasam (أقسم atau أحلف), lalu huruf jar ba’ (perangkat qasam), lalu jawab qasam. Namun, Orang Arab sudah terbiasa membuang fi’il qasam tersebut dengan alasan meringkas dan meringankan perkataan.

Dari ketiga huruf qasam di atas yang merupakan huruf asli untuk bersumpah yaitu huruf ba (الباء), dia adalah huruf yang membantu dalam memuta’addikan fi’il lazim, dan dia juga selalu menjadi pengikut fi’il qasam. Sedangkan huruf wawu dan ta‘ (الواو والتاء) hanyalah pengganti dari ba.

Dengan demikian, apabila kedua huruf ini dipergunakan untuk bersumpah menggantikan posisi ba, keduanya harus memenuhi syarat berikut:

-> Fi’il qasam harus dibuang, seperti:

وَاللَّهِ / تَاللَّهِ ⁦✔️⁩

أَقْسِمُ وَاللَّهِ / تَاللَّهِ ❌

أَقْسِمُ باللَّهِ ✔️

-> Tidak dipergunakan dalam sumpah thalab (perintah), seperti:

وَاللَّهِ / تَاللَّهِ أَخْبِرْنِي ❌

باللَّهِ أَخْبِرْنِي ✔️

-> Tidak memasuki muqasam bih yang berbentuk dhamir seperti:

وَهْ / تَه لأَفْعَلَنَّ ❌

بِهِ لأَفْعَلَنَّ ✔️

-> Khusus huruf ta’ hanya dipakai alat bersumpah atas nama Allah S.WT, seperti:

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُم بَعْدَ أَن تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ. الأنبياء ٥٧ قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِن كُنَّا لَخَاطِئِينَ. يوسف ٩١

Lihat perluasan pada materi: Huruf Ta (التاء): Saat Sumpah Bertemu dengan Rasa Takjub

b). Al-Muqasam Bih (المقسم به)

كل اسم يذكر ليعظم بالقسم أو كل اسم من أسماء الله وصفاته ومما يعظم

Pada umumnya, al-muqasam bih (Lafadz yang dijadikan sandaran untuk bersumpah) yaitu lafadz jalalah (الله) dan sifat-Nya, atau sesuatu yang dianggap agung dan berharga, seperti Allah Ta’ala bersumpah atas nama Muhammad S.A.W, dan makhluk lainya.

c). Al-Muqasam ‘Alaih (المقسم عليه) Al-

Muqasam ‘Alaih adalah jumlah (kalimat) jawab qasam, baik jumlah ismiyyah maupun fi’liyyah, seperti:

وَاللَّهِ إِنَّ الحَقَّ مُنْتَصِرٌ وَاللَّهِ لَقَدْ أَطَعْتُ أَمْرَكَ .

8. Jumlah Qasam (جملة القسم)

Jumlah qasam terdiri dari perangkat qasam dan al-muqasam bih, baik struktur kalimatnya ismiyyah atau fi’liyyah.

a). Qasam Jumlah Fi’liyyah

Yaitu kalimat sumpah yang diawali dengan fi’il khusus yang mengandung makna sumpah, seperti أقسم dan أحلف, kemudian diiringi dengan huruf jar dan al-muqasam bih (jawab qasam).

Analisa ‘irab:

لا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيامَةِ

لا : زائدة, أُقْسِمُ : فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة على آخره، والفاعل ضمير مستتر تقديره أنا, الباء : حرف قسم و جر مبني على الكسر لا محل له من الإعراب, يَوْمِ الْقِيامَةِ : اسم مجرور بالباء وهو المقسم به جملة : ” لا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيامَةِ” هى جملة القسم

Huruf jar yang dipakai pada jumlah qasam fi’liyyah hanyalah huruf ba (الباء), sedangkan untuk penggunaan huruf wawu (الواو) dan ta’ (التاء) mesti membuang fi’il qasam sebagaimana ketentuan di atas. Contoh:

قَالُوا۟ تَٱللَّهِ لَقَدْ آثَركَ ٱللَّهُ عَلَيْنَا وَإِن كُنَّا لَخَٰطِـِٔينَ. يوسف ٩١

Mereka berkata, “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau di atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa).” (QS. Yusuf: 91).

التاء : حرف جر وقسم مبني لا محل له من الإعراب اللهِ : لفظ الجلالة مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة. والجار والمجرور متعلقان بالفعل المحذوف ‘أقسم’ لقد : اللام لام التوكيد أو المزحلقة مبني على الفتح لا محل له من الإعراب, قَدْ : حرف يفيد التحقيق لا محل له من الإعراب, آثَرَكَ : فعل ماضي مبني على الفتح، والكاف ضمير متصل مبني على الفتح في محل النصب مفعول به, اللَّهُ : لفظ الجلالة فاعل مرفوع وعلامته الضمة الظاهرة, عَلَيْنَا : جر ومجرور متعلقان بالفعل آثر. جملة جواب القسم “لقد آثرك الله علينا “لا محل لها من الإعراب

Lihat referensi:

شرح المفصل لابن يعيش ٩/٩٣

b). Qasam Jumlah Ismiyyah

Yaitu kalimat sumpah yang diawali dengan isim khusus yang mengandung makna sumpah, seperti: أَيْمَنُ اللَّهِ ، لَعَمْرُكَ

Contoh:

أَيْمَنُ اللَّهِ لَأَفْعَلَنَّ / لَعُمْرُكَ إِنَّهُ الحَقُّ

Demi Allah, sungguh akan aku perbuat / Demi umurmu, sesungguhnya itu benar.

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِى سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

Demi umurmu (Muhammad), sungguh, mereka terombang-ambing dalam kemabukan (kesesatan).” (QS. Al-Hijr: 72)

Pada jumlah qasam (ismiyyah) sebenarnya terdapat khabar yang dibuang dan diperkirakan. Hukum membuang khabar ini terkadang mubah (boleh) dan bahkan wajib dengan ketentuan sebagai berikut:

-> Apabila mubtada terdiri dari lafadz (isim) yang dikhususkan untuk qasam seperti أَيْمَنُ dan لَعُمْرُ, maka khabar wajib dibuang.

Perhatikan contoh ‘irab:

لَعُمْرَكَ مَاضَرَبْتُ أَحَدًا

Demi umurmu, aku tidak memukul seseorang.

لَعُمْرَكَ : اللام، لام ابتداء حرف مبني على الفتح لا محل له من الإعراب. عُمْرُ : مبتدأ مرفوع وعلامته الضمة الظاهرة على آخره وهو مضاف. والكاف: ضمير متصل مبني على الفتح في محل الجر مصاف إليه. وخبر مبتدأ محذوف وجوبا تقديره قَسَمِي, ما : حرف نفي مبني على السكون لا محل له من الإعراب, ضَرَبْتُ : فعل ماضي مبني على السكون لاتصاله بتاء الفاعل، وهي ضمير متصل مبني في محل الرفع فاعل, أَحَدًا : مفعول به منصوب وعلامته الفتحة الظاهرة على آخره جملة جواب القسم’ماضربت أحدا’ لا محل لها من الإعراب

-> Apabila mubtada terdiri dari lafadz (isim) yang tidak dikhususkan untuk qasam, namun terkadang dijadikan lafadz qasam, seperti kata عَهْدُ maka khabar boleh dibuang.

Perhatikan contoh ‘irab:

عَهْدُ اللهِ لَأَجْتَهِدَنَّ

Demi Allah, sungguh aku akan rajin.

عَهْدُ : مبتدأ مرفوع وعلامته الضمة الظاهرة على آخره وهو مضاف, اللهِ : لفظ الجلالة مضاف إليه مجرور وعلامته الكسرة الظاهرة على آخره وخبر مبتدأ محذوف جوازا تقديره قسمي أو يميني, لَأَجْتَهِدَنَّ : لام القسم الواقعة في جواب القسم مبنية على الفتح لا محل لها من الإعراب, أَجْتَهِدَنَّ : فعل مضارع مبني على الفتح لاتصاله بنون التوكيد الثقيلة ، والفاعل ضمير مستتر تقديره أنا، والنون التوكيد الثقيلة مبني على الفتح لا محل لها من الإعراب وجملة جواب قسم ‘لَأَجْتَهِدَنَّ’ لا محل لها من الإعراب

9. Jawab Qasam (جواب القسم)

Jawab qasam atau al-muqasam alaih memiliki dua struktur kalimat ismiyyah dan fi’liyyah yang keduanya tidak memiliki mahal ‘irab. Seperti:

Contoh ‘irab jawab qasam jumlah Ismiyyah:

وَاللَّهِ إِنَّ الحَقَّ مُنْتصرٌ

الواو حرف قسم وجر الله : لفظ الجلالة مجرور وعلامته الكسرة الظاهرة. والجر والمجرور متعلقان بالفعل المحذوف أقسم. جملة “وَاللَّهِ” جملة قسم, إنَّ : حرف نصب وتوكيد, الحَقَّ : اسم إنّ منصوب وعلامته الفتحة الظاهرة على آخره مُنْتصرٌ : خبر إنّ مرفوع وعلامته الضمة الظاهرة على آخره جملة “إِنَّ الحَقَّ مُنْتصرٌ” جواب قسم جملة اسمية لا محل لها من الإعراب

Contoh jawab qasam jumlah fi’liyyah:

وَاللَّهِ مَا ضَرَبْتُ أَحَدًا

الواو حرف قسم وجر, الله : لفظ الجلالة مجرور وعلامته الكسرة الظاهرة. والجر والمجرور متعلقان بالفعل المحذوف أقسم. جملة “وَاللَّهِ” جملة قسم, ما : حرف نفي مبني على السكون لا محل له من الإعراب, ضَرَبْتُ : فعل ماضي مبني على السكون لاتصاله بتاء الفاعل، وهي ضمير متصل مبني في محل الرفع فاعل أَحَدًا : مفعول به منصوب وعلامته الفتحة الظاهرة على آخره جملة “مَا ضَرَبْتُ أَحَدًا” جواب قسم جملة فعلية لا محل لها من الإعراب

Ketentuan Taukid Pada Jawab Qasam.

Huruf taukid pada jawab qasam dipengaruhi oleh susunan kalimatnya, terkadang berupa kalimat positif atau negatif dengan ketentuan sebagai berikut:

-> Apabila jawab qasam berupa jumlah ismiyah positif, maka ditaukid (pertegas) dengan inna (إِنَّ) dan lam (اللام) atau dengan inna saja.

واللَّهِ إِنَّ الصِّدْقَ لَيَنْجِي ⁦✔️
⁩ واللَّهِ إِنَّ الصِّدْقَ يَنْجِي ⁦✔️⁩
وَاللَّهِ إِنَّ الحَقَّ لَمُنْتصرٌ ⁦✔️⁩
وَاللَّهِ إِنَّ الحَقَّ مُنْتصرٌ ✔️

Dalam Al-Quran:

وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ. سورة العصر

Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, (QS. Al-‘Asr: 2)

يس (١) وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ (٢) إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ. سورة يس “

Yasin, Demi Al Quran yang penuh hikmah, Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul.”

قَالُوا۟ تَٱللَّهِ إِنَّكَ لَفِى ضَلَٰلِكَ ٱلْقَدِيمِ. سورة يوسف ٩٥

Mereka (keluarganya) berkata, “Demi Allah, sesungguhnya engkau masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.” (QS. Yusuf: 95)

-> Apabila jawab qasam berupa jumlah fi’liyah positif dan fi’ilnya berbentuk fi’il madhi, maka jawab qasam ditaukid dengan qad (قَدْ ) dan lam (اللام) atau قَدْ saja.

وَاللَّهِ قَدْ هَانَ كُلُّ شَيءٍ إِلَّا الكَرَامَةَ ⁦✔️⁩
وَاللَّهِ لَقَدْ هَانَ كُلُّ شَيءٍ إِلَّا الكَرَامَةَ ✔️

قَالُوا۟ تَٱللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُم مَّا جِئْنَا لِنُفْسِدَ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا كُنَّا سَٰرِقِينَ

Mereka (saudara-saudara Yusuf) menjawab, “Demi Allah, sungguh, kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk berbuat kerusakan di negeri ini dan kami bukanlah para pencuri.” (QS. Yusuf: 73).

قَالُوا۟ تَٱللَّهِ لَقَدْ ءَاثَرَكَ ٱللَّهُ عَلَيْنَا وَإِن كُنَّا لَخَٰطِـِٔينَ

Mereka berkata, “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau di atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa).” (QS. Yusuf: 91)

Namun terkadang ditaukidnya dengan إِنْ in mukhafafah dan huruf lam, sebagaimana Firman Allah Ta’ala:

قَالَ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرْدِينِ

Dia berkata, “Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku, (QS. As-Saffat: 56)

تَاللَّهِ : التاء حرف قسم وجر ولفظ الجلالة مجرور به وهما متعلقان بفعل محذوف تقديره أقسم, إِنْ.: مخففة من الثقيلة كِدْتَ : ماض وجملته جواب القسم لا محل لها من الإعراب

-> Apabila jawab qasam berupa jumlah fi’liyah positif dan fi’ilnya berbentuk mudhari’, maka ditaukid dengan lam dan nun taukid.

 وَاللَّهِ لَأَجْتَهِدَنَّ فِي عَمَلِي ✔️

تَٱللَّهِ لَتُسْـَٔلُنَّ عَمَّا كُنتُمْ تَفْتَرُونَ

Demi Allah, kamu pasti akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan. (QS. An-Nahl: 56)

وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَٰمَكُم بَعْدَ أَن تُوَلُّوا۟ مُدْبِرِينَ

Dan demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya. (QS. Al-Anbiya’: 57)

-> Apabila jawab qasam berupa jumlah ismiyyah atau fi’liyyah negatif, pada umumnya keduanya tidak ditaukid dengan huruf apapun, seperti:

وَاللهِ رَبَّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِيْنَ / وَالَّذي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا قُلْتُ إلاَّ الصِّدْقَ / تَاللَّهِ مَا فَعَلْتُ إلاَّ بِالحَقِّ / وَاللهِ لاَ نَجَاحَ إلاَّ بِالجُهْدِ

10. Membuang Perangkat Qasam (حذف أداة القسم)

Adakalanya orang Arab membuang perangkat qasam dan diganti dengan huruf ha tanbih (هاء التنبيه), seperti واللهِ menjadi هَا اللهِ dengan tetap memajrurkan al-muqasam bih lafadz اللهِ.

Mereka juga membuang perangkat qasam tanpa adanya huruf pengganti, dan al-muqasam bih ber’irab manshub. Seperti: kalimat بِاللهِ لَأَفْعَلَنَّ menjadi اللهَ لَأَفْعَلَنَّ.

Lafadz Allah manshub dengan perkiraan membuang fi’il qasam dan perangkat qasam sekaligus dengan perkiraan kalimat lengkapnya seperti: أقسم بالله لَأَفْعَلَنَّ

Menurut Imam Sibawaihi “Orang Arab terkadang membuang perngkat qasam tanpa adanya huruf pengganti dan al-muqasam bih tetap majrur, seperti اللَّهِ لَأَفْعَلَنَّ. Namun, menurut Almubrid: “Al-muqasam bih tidak boleh majrur sebab huruf jar sudah dibuang dan tidak berfungsi lagi kecuali terdapat penggantinya seperti ha tanbih (هَالله).

Perbedaan pendapat di atas, didasari oleh perbedaan sebagain qira’ah seperti contoh pada surah Al-Maidah Ayat 106.

وَلَا نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللَّهِ إِنَّا إِذًا لَمِنَ الْآثِمِينَ, المائدة ١٠٦

Sebagian Kaum ada yang membacanya dengan tiga keadaan yaitu: شَهَادَةَ اللَّهِ, شَهَادَةً اللَّهِ dan شَهَادَةً اللَّهَ

Lihat referensi:

المقتضب ٢/٣٣٦ شرح المفصل لابن يعيش ٩/١٠٤ المقتضب، ٢/٣٢١ الأصول في النحو ١/٤٣٢

11. Membuang Jumlah Qasam (حذف جملة قسم)

Tidak hanya perangkat qasam, al- muqasam bih dan fi’il qasam yang terkadang dibuang, namun Jumlah Qasam secara keseluruhan baik ismiyyah atau fi’liyyah terkadang dibuang juga dan hanya menyisakan jawab qasam.

Berikut beberapa petunjuk yang bisa dijadikan acuan bahwa suatu kalimat bisa disebut sebagai jawab qasam dari jumlah qasam yang dibuang.

a). Adanya huruf lam dan nun taukid pada fi’il mudhari’

Ulama Nahwu berpendapat “Apabila terdapat kalimat yang diawali dengan fi’il mudhari’ yang dimasuki lam dan nun taukid tanpa adanya jumlah qasam sebelumnya, ini menunjukan bahwa terdapat jumlah qasam yang dibuang. Contoh:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ. العمران ١٨٦

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا. المائدة ٨٢

Kedua kalimat لَتُبْلَوُنَّ dan لَتَجِدَنَّ adalah susunan fi’liyyah sebagai jawab qasam dari jumlah qasam yang dibuang dan diperkirakan.

Perhatikan ‘Irabnya.

اللام : واقعة في جواب قسم مقدّر, تبلونّ : فعل مضارع مبنيّ. والواو ضمير متّصل في محلّ رفع نائب فاعل، والنون نون التوكيد لا محلّ لها في اموال : جارّ ومجرور متعلّق بالفعل ‘تبلونّ’ و(كم) ضمير مضاف إليه جملة ‘لَتُبْلَوُنَّ’ جواب قسم لجملة القسم المقدر، تقديره والله لَتُبْلَوُنَّ

Untuk perluasan masalah ini, silahkan lihat referensi berikut:

انظر: مغني اللبيب، ج٢, ص ٧٢٨
انظر: الجمل في النحو، لخليل بن أحمد الفراهيدي، ص ٢٥٥
انظر: شرح الكافية للرضي، ج٢, ص ٣٤١
انظر: شرح المفصل لابن يعيش، ٩/٩٣

b). Adanya huruf lam pada lafadz قَدْ

Ulama Nahwu berpendapat “Apabila terdapat kalimat yang diawali dengan fi’il madhi yang dimasuki lam dan qad tanpa terdapat jumlah qasam sebelumnya, ini menunjukan bahwa jumlah qasam telah dibuang dan diperkirakan. Contoh:

وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ آيَاتٍ مُّبَيِّنَاتٍ وَمَثَلًا مِّنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ. سورة النور ٣٤

وَلَقَدْ جاءَهُمْ مِنَ الْأَنْباءِ ما فِيهِ مُزْدَجَرٌ. سورة القمر ٤

Kalimat وَلَقَدْ أَنزَلْنَا dan وَلَقَدْ جاءَهُمْ adalah susunan kalimat fi’liyyah sebagai jawab qasam dari jumlah qasam yang dibuang dan diperkirakan. Perhatikan ‘Irabnya.

الواو :حرف قسم وجر اللام واقعة في جواب القسم, قد : حرف تحقيق, جاءَهُمْ : فعل ماض ومفعوله, مِنَ الْأَنْباءِ : متعلقان بالفعل جاء جملة ‘وَلَقَدْ جاءَهُمْ’ جواب قسم لجملة القسم المقدر، تقديره والله لَقَدْ جاءَهُمْ

Perluasan lihat referensi:

انظر: معاني القرآن وإعرابه للزجاج، ج١, ص ١٦٤
انظر: سر صناعة الإعراب، ج ١, ص ٣٩٨

c). Adanya huruf lam ibtida’ pada mubtada.

Para ulama berbeda pendapat terkait lam ibtida. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa lam ibtida hanya masuk pada mubtada, dan pendapat lainya boleh masuk pada fi’il madhi dan mudhari’.

Terlepas dari perbedaan pendapat lam ibtida’ di atas, ulama Kuffah berpendapat bahwa apabila terdapat kalimat yang diawali dengan lam ibtida’ ( masuk pada mubtada), maka hal ini menunjukan adanya jumlah qasam yang dibuang dan diperkirakan, seperti:

وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ. البقرة ٢٢١

Kalimat وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ adalah susunan ismiyyah (mubtada dan khabar) sebagai jawab qasam dari jumlah qasam yang dibuang dengan perkiraan: واللهِ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ

Sedangkan menurut Ulama Bashrah “Tidak ada jumlah qasam yang dibuang dan diperkirakan.”

Perluasan masalah ini lihat referensi berikut:

انظر: اللامات لزجاجي ص ٧٨
انظر: الإنصاف في مساءل الخلاف، ج١, ص ٣٩٩
انظر: الجني الداني في حروف المعاني ص ١٢٤

12. Berkumpulnya jumlah Qasam dan Jumlah Syarat dalam satu kalimat

Terkadang dalam satu kalimat terdapat dua uslub berbeda yang terdiri dari jumlah qasam dan jumlah syarat. Keduanya tentu sama-sama membutuhkan jawaban.

Untuk bisa menentukan kalimat jawab syarat dan jawab qasam, perhatikan contoh-contoh berikut:

مَنْ يَجْتَهِدْ وَاللَّهِ يَنْجَحْ / وَاللَّهِ مَنْ يَجْتَهِدْ لَيَنْجَحَنَّ / إِنْ تُسَافِرْ وَاللَّهِ أُسَافِرْ / وَاللَّهِ إِنْ تُسَافِرْ لَأُسَافِرَنَّ

Keempat contoh kalimat di atas terdiri dari dua uslub berbeda yaitu uslub syarat dan qasam. Apabila terdapat kasus seperti ini, maka tentu hanya ada satu jawaban yang diperuntukan untuk dua uslub. Namun, uslub manakan yang lebih berhak memiliki jumlah jawab ?

Ulama Nahwu berpendapat: “Barang siapa dari kedua uslub tersebut yang posisinya terletak di awal kalimat, maka dialah yang berhak memiliki jawaban.

a). Jawab syarat dibuang apabila qasam berada diawal kalimat.

وَاللَّهِ مَنْ يَجْتَهِدْ لَيَنْجَحَنَّ, وَاللَّهِ إِنْ تُسَافِرْ لَأُسَافِرَنَّ

وَاللَّهِ : جملة قسم, مَنْ : اسم شرط جازم, يَجْتَهِدْ : فعل شرط مجزوم, لَيَنْجَحَنَّ : جواب قسم

b). Jawab qasam dibuang apabila isim/huruf syarat berada diawal kalimat.

مَنْ يَجْتَهِدْ وَاللَّهِ يَنْجَحْ إِنْ تُسَافِرْ وَاللَّهِ أُسَافِرْ

مَنْ : اسم شرط جازم, يَجْتَهِدْ : فعل شرط مجزوم وَاللَّهِ : جملة قسم, يَنْجَحْ : جواب الشرط


Wallahu’alam. Semoga bermanfaat.

Zizo: Update artikel 29-04-2026

اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا

Lihat referensi:

انظر: القسم في اللغة والقرآن، محمد مختار السلامي ،ص ٢٥
انظر: التبصرة والتذكرة ١/٤٥٧
انظر: البسيط في شرح جمال الزجاجي ٢/٩٢٥
انظر: معاني النحو، فاضل صالح السامرائي، ج٤, ص ١٥٨ وما بعده
انظر: مغني اللبيب، ج٢, ص ٧٢٨
انظر: الجمل في النحو، لخليل الفراهيدي، ص ٢٥٥
انظر: شرح الكافية للرضي، ج٢, ص ٣٣٤-٣٤١
انظر: شرح المفصل لابن يعيش، ٩/٩٣
انظر: معاني القرآن وإعرابه للزجاج، ج١, ص ١٦٤
انظر: سر صناعة الإعراب، ج ١, ص ٣٩٨
انظر: اللامات لزجاجي ص ٧٨
انظر: الإنصاف في مساءل الخلاف، ج١, ص ٣٩٩
انظر: الجني الداني في حروف المعاني ص ١٢٤

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 15

No votes so far! Be the first to rate this post.

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *