News...!
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا

Lam Ta’ajjub (لام التعجب) Dalam Ilmu Nahwu

4
(1)

Pernahkah kamu merasa sangat kagum pada sesuatu sampai bingung bagaimana cara mengungkapkannya dalam bahasa Arab dengan tepat? Selain menggunakan pola ما أفعله (Ma Af’alahu) seperti yang sudah dibahas pada materi Uslub Ta’ajjub, kamu bisa juga dengan menggunakan huruf lam Ta’ajjub (لام التعجب).

Yuk, kita bedah pelan-pelan apa itu Lam Ta’ajjub dan bagaimana cara pakainya!

1. Apa itu Lam Ta’ajjub?

Sederhananya, Lam Ta’ajjub adalah huruf Lam yang masuk ke dalam kalimat untuk menunjukkan rasa heran atau kagum (Ta’ajjub). Secara tata bahasa, Lam ini sebenarnya berfungsi sebagai pelengkap (shilah) bagi kata kerja yang disembunyikan (muqaddar).

Contohnya:

لزيدٍ ما أعقلَه

“Betapa cerdasnya si Zaid!”

Secara tersirat, kalimat di atas bermakna: اعجبوا لزيدٍ ما أعقلَه (U’jubu li Zaidin…). Artinya: “Heranlah/Kagum lah kalian kepada Zaid karena kecerdasannya.”

Analisa ‘Irab:

لِـ: حرف جر مبني على الكسر لا محل له من الإعراب
زيدٍ: اسم مجرور باللام وعلامة جره الكسرة الظاهرة على آخره
لزيدٍ: الجار والمجرور متعلقان بمحذوف خبر مقدم (أو متعلقان بفعل محذوف تقديره “اعجبوا
لزيدٍ
ما: تعجبية، اسم مبني على السكون في محل رفع مبتدأ
أعقلَ: فعل ماضٍ جامد مبني على الفتح لإنشاء التعجب، والفاعل ضمير مستتر وجوباً تقديره “هو” يعود على ما
الهاء: ضمير متصل مبني على الضم في محل نصب مفعول به
جملة ما أعقلَه : في محل رفع مبتدأ مؤخر (إذا اعتبرنا “لزيد” خبراً مقدماً)، أو في محل رفع خبر للمبتدأ (على تقدير مبتدأ محذوف

2. Jejak Lam Ta’ajjub dalam Al-Qur’an

Menariknya, para ulama ahli nahwu menggunakan konsep ini untuk menjelaskan beberapa ayat Al-Qur’an, salah satunya dalam pembukaan Surah Quraisy:

لإيلافِ قريشٍ (Li-iilaafi Quraisy…)

Ada tiga pendapat menarik tentang posisi huruf Lam di ayat ini:

-» Sebagai Lam Ta’ajjub: Maknanya adalah اعجبوا لإيلاف قريش (Heranlah kalian terhadap kebiasaan orang-orang Quraisy), karena Allah tetap menjaga tradisi dagang mereka dengan aman.

-» Tersambung dengan Surah Al-Fil: Sebagian ulama menganggapnya kelanjutan dari ayat فجعلهم كعصف مأكول (Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat). Jadi, Allah menghancurkan pasukan gajah demi menjaga kebiasaan dagang orang Quraisy.

-» Tersambung dengan Perintah Ibadah: Ada yang berpendapat Lam ini berkaitan dengan ayat setelahnya: فليعبدوا رب هذا البيت (Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini). Artinya, karena nikmat keamanan itu, mereka wajib beribadah.

3. Kolaborasi dengan Huruf Nida’ (Panggilan)

Terkadang, Lam Ta’ajjub ini muncul setelah huruf panggilan nida (يا). Dalam kaidah nahwu disebut:

ربما سبق لام التعجب حرف النداء
“Kadang-kadang Lam Ta’ajjub didahului oleh huruf Nida’.”

Contoh penggunaannya:

  • يا لزيدٍ فارساً (Ya la-Zaidin farisan!): “Wahai, betapa hebatnya Zaid sebagai penunggang kuda!“
  • يا لكَ راكباً (Ya laka rakiban!): “Wahai, betapa kerennya kamu saat berkendara!“

4. Ketika Sumpah Bertemu Kekaguman (Lam Qasam & Ta’ajjub)

Ada satu kondisi unik di mana sebuah sumpah (Qasam) bukan sekadar janji, tapi juga ekspresi kekaguman yang luar biasa.

Pernah dengar orang Arab berkata: “Lillahi ma ta’ti bihi” (للهِ ما تأتي به)?
Artinya kurang lebih: “Demi Allah, betapa luar biasanya apa yang kamu lakukan!”

Secara tata bahasa, Lam di sini adalah Lam Al-Qasam al-Khafidhah (Lam sumpah yang menjerkan kata setelahnya). Namun, uniknya Lam ini hanya boleh menjerkan lafadz Allah jika mengandung makna Ta’ajjub (kagum). Jadi, ini bukan sumpah biasa, tapi sumpah yang lahir dari rasa takjub yang mendalam kepada kebesaran Allah S.W.T atas sesuatu.

Contoh dalam syair Arab kuno:

للهِ يَبْقَى عَلَى الأَيَّامِ ذُو حِيَدٍ … بِمُشْمَخِرٍّ بِهِ الظِّيَّانُ وَالآسُ

(Demi Allah, betapa kokohnya [kambing hutan] bertanduk yang bertahan di puncak gunung yang tinggi…)

5. Mengapa Harus “Lillahi”?

Para ulama ahli bahasa (Muhadditsin) menjelaskan bahwa penggunaan “Lillahi” di sini sengaja digunakan untuk menegaskan rasa heran.

Contohnya dalam kalimat:

للهِ آنسةٌ فُجِعْتُ بها … ما كان أبعدها من الدنس

(Demi Allah, betapa mulianya wanita yang membuatku berduka ini… betapa jauhnya ia dari noda dosa.)

Meskipun penyair ini mungkin bukan rujukan utama (bukan hujah), tapi kalimatnya dengan jelas menunjukkan bagaimana Lam sumpah tersebut dipakai untuk mengekspresikan kekaguman yang dalam.

6. Rahasia di Balik Ungkapan “Lillahi Darruka”

Pasti kamu sering mendengar ungkapan “Lillahi Darruka” (للهِ دَرُّكَ) untuk memuji seseorang, kan?

Para ulama menjelaskan bahwa Lam di sana adalah Lam Ta’ajjub. Secara harfiah, “Darru” berarti air susu. Karena dulu sumber kehidupan utama masyarakat Arab adalah air susu ternak, maka ungkapan ini menjadi doa:

للهِ دَرُّكَ = “Semoga Allah memperbanyak kebaikanmu/rezekimu.”

Kenapa disebut Darruka? Karena air susu tidak akan melimpah kecuali jika hewan ternaknya banyak. Jadi, saat kita bilang “Lillahi darruka”, kita sedang merasa takjub atas kebaikan seseorang dan mendoakan agar sumber kebaikannya terus melimpah.

Poin Penting untuk Dicatat:

  • Ungkapan للهِ دَرُّهُ (Lillahi darruhu) digunakan untuk memuji orang ketiga (dia).
  • Maknanya sama dengan: كثر الله خيره (Semoga Allah melipatgandakan kebaikannya).

7. Analisis Lam Qasam Bermakna Ta’ajjub Pada Syair:

لله يبقى على الأيام ذو حيد … بمشمخر به الظيان والآس

“Demi Allah (sungguh menakjubkan), bagaimana bisa seekor kambing hutan yang memiliki tanduk besar tetap bertahan hidup melintasi zaman… di atas puncak gunung yang tinggi, tempat tumbuhnya melati liar (al-Dhiyyan) dan pohon gaharu (al-Aas).”

-» Perhatikan kata للهِ (Lillahi) di awal kalimat. Di sini, penyair tidak sekadar bersumpah, tapi ia merasa takjub. Ia heran bagaimana seekor hewan (kambing hutan) bisa bertahan hidup di medan yang sangat ekstrem (puncak gunung yang tinggi dan terjal) dalam waktu yang sangat lama.

-» ذُو حِيَدٍ (Dzu Hiyadin): Artinya yang memiliki tonjolan/tanduk. Ini adalah julukan untuk kambing hutan jantan yang tangguh.

-» بِمُشْمَخِرٍّ (Bi Mushmakhirrin): Artinya gunung yang sangat tinggi dan tegak lurus. Menunjukkan betapa sulitnya medan tersebut.

-» الظِّيَّانُ وَالآسُ (Al-Dhiyyan wal Aas): Nama tanaman harum (melati liar dan pohon murad/gaharu). Ini menggambarkan bahwa meski tempat itu tinggi dan sulit, Allah memberikan rezeki berupa tanaman di sana.

Mengapa ini penting?

Penyair menggunakan Lam di sini untuk menunjukkan bahwa kelangsungan hidup hewan tersebut di tempat sesulit itu adalah hal yang luar biasa (ta’ajjub) dan hanya terjadi karena kuasa Allah.

“Sobat ilmualat, syair ini mengajarkan kita bahwa Lam Ta’ajjub bukan sekadar rumus tata bahasa. Ia adalah cara orang Arab melihat keajaiban dunia dan mengembalikannya kepada Sang Pencipta dengan ungkapan ‘Lillahi…’ (Milik Allah-lah segala keajaiban ini).”


Zizo: 02-05-2026

Referensi:

انظر: كتاب اللامات لأبي القاسم الزجاجي، ص ٨٠-٨١

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *