Assalamu’alaiku Sahabat ilmualat! Pernah kepikiran nggak, kenapa ada kata kerja dalam bahasa Arab yang bentuknya berubah-ubah terus, tapi ada juga yang “setia” sama satu bentuk saja? Nah, dalam tata bahasa Arab, fenomena ini dibagi menjadi dua kelompok besar: Fi’il Jamid (Kaku) dan Fi’il Mutasharrif (Fleksibel).
Pertama: Fi’il Jamid (الفعل الجامد)
Fi’il Jamid ini dalam penggunaanya tidak berkaitan dengan dimensi waktu. Ia hanya membawa makna dasar tanpa mempedulikan kapan hal itu terjadi. Karena tidak butuh menunjukkan waktu, Maka tidak ada alasan bagi kata tersebut untuk berubah. Inilah yang menyebabkan ia membeku (Jamid) pada satu pola saja.
1. Kata Kerja yang mirip huruf
Dalam ilmu Nahwu, ada sebuah kaidah unik:
Kalau Isim (Kata Benda) mirip sama Huruf, dia jadi Mabni (harakat akhirnya nggak bisa berubah meski posisinya di kalimat berubah). Nah, kalau Fi’il (Kata Kerja) mirip sama Huruf, dia jadi Jamid (nggak bisa berubah bentuk/tashrif).
Jadi, Jamid pada kata kerja itu statusnya sama kayak Mabni pada kata benda. Keduanya sama-sama “terkunci” karena fungsinya sudah mirip banget sama huruf yang statis. Sehingga meskipun ia berstatus kata kerja, fungsinya justru menyerupai huruf.
2. Memikiki makna tetap & tidak terpengaruh waktu
Alasan logis di balik “kekakuannya” adalah karena makna yang dikandungnya bersifat tetap.
Perhatikan contoh berikut:
- Pujian & Celaan: Kata نِعْمَ (Ni’ma – sebaik-baik) dan بِئْسَ (Bi’sa – seburuk-buruk).
Makna memuji atau mencela di sini tidak berubah meski waktunya kemarin, sekarang, atau besok.
- Harapan: Kata عَسَى (‘Asa – semoga/barangkali). Makna harapan (tarajji) di sini adalah sebuah perasaan yang tidak terikat oleh satuan waktu tertentu.
- Kekaguman (Ta’ajjub): Seperti ungkapan مَا أَشْعَرَ (Ma asy’ara – alangkah puitisnya). Rasa kagum itu bersifat langsung dan tidak butuh perubahan zaman.
Karena maknanya tidak berbeda di masa lalu, sekarang, maupun masa depan, maka tidak ada kebutuhan bagi kata-kata ini untuk di-tashrif ke bentuk fi’il mudhari‘ (sekarang) atau fi’il ‘amr (perintah).
3. Contoh Populer Fi’il Jamid
Agar lebih mudah diingat, berikut adalah beberapa “pemeran utama” dalam kelompok Fi’il Jamid:
- لَيْسَ (Laisa) – Untuk negasi (bukan/tidak).
- عَسَى (‘Asa) – Untuk menunjukkan harapan.
- نِعْمَ (Ni’ma) – Untuk memberikan pujian.
- بِئْسَ (Bi’sa) – Untuk memberikan celaan.
4. Tiga Kelompok Fi’il Jamid
Meskipun kaku, bukan berarti semua Fi’il Jamid itu bentuknya masa lalu (Madhi) semua. Mereka terbagi dalam tiga kelompok.
-» Setia pada bentuk Madhi (Masa Lalu)
Ini yang paling umum. Mereka nggak punya bentuk fi’il mudhari atau perintah.
- Contoh: ليس (Laisa), عسى (‘Asa), نعم (Ni’ma), dan تبارك (Tabaraka – Maha Suci).
-» Setia pada bentuk Mudhari’ (Sekarang)
- Contoh: يهبط (Yahbitu) dalam makna berteriak/gaduh.
-» Setia di Bentuk Amr (Perintah):
- Contoh: هب (Hab – Anggaplah), هات (Hati – Berikan), dan تعال (Ta’ala – Datanglah).
5. Kasus Unik Kata “Halumma” (Mari/Kemari)
Ternyata ada perbedaan pendapat antar “Suku” di Arab sana soal kata هلم (Halumma):
- Versi Suku Tamim: Bagi mereka, Halumma adalah Fi’il Amr. Buktinya? Dia fleksibel bisa ditempeli kata ganti (dhamir). Mereka bilang: Halummi (buat cewek), Halummu (buat kalian), dsb.
- Versi Penduduk Hijaz: Bagi mereka, Halumma adalah Isim Fi’il Amr. Bentuknya satu saja untuk semua (mau laki-laki, perempuan, satu orang atau banyak, tetap Halumma). Versi inilah yang digunakan dalam Al-Qur’an, seperti ayat:
قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَٰذَا. الأنعام.١٥٠
Poin Penting: Jadi, jamid itu bukan kaku yang berarti nggak berguna, tapi karena maknanya sudah terlalu spesifik sehingga nggak butuh lagi perubahan waktu.
6. Kasus Unik kata “Qalla”: Kata Kerja yang Menyamar Jadi Kata Negatif
Sahabat ilmualat, kalau biasanya kita pakai kata Laisa atau Ma untuk bilang “tidak”, ternyata ada satu fi’il jamid lagi yang punya tugas serupa, yaitu قَلَّ (Qalla). Tapi hati-hati, cara pakainya nggak sembarangan. Mari kita bedah keunikannya:
-» Ketika “Qalla” berfungsi sebagai penyangkalan (Nafi).
Dalam konteks tertentu, Qalla tidak lagi diartikan “sedikit”, tapi bermakna “Tidak ada” (Nafi Mahdh).
- Contohnya: قَلَّ رجلٌ يفعلُ ذلك (Tidak ada laki-laki yang melakukan hal itu).
Imam Sibawaih bahkan menyebutkan ada variasi bacaan lain seperti Qullu (قُلُّ) atau Aqa-llu (أَقَلُّ) yang fungsinya sama-sama untuk menyangkal, mirip seperti huruf negasi.
-» Saat “Qalla” Bergabung dengan “Ma” (قَلَّمَا)
Nah, ini yang paling sering kita temukan. Ketika kata Qalla ditempeli dengan Huruf Ma tambahan (Ma Za-idah), ia berubah menjadi Qallama. Di sinilah keajaiban tata bahasanya terjadi:
- Ma di sini berfungsi sebagai “rem” (kaffah). Artinya, Qalla nggak lagi butuh subjek (Fa’il).
- Wajib diikuti Kata Kerja: Setelah kata Qallama, biasanya langsung diikuti oleh kata kerja.
- Makna Total Negatif: Fungsinya murni jadi seperti huruf “Tidak”.
Contoh: قَلَّمَا فعلتُ هذا (Aku tidak pernah melakukan ini. Artinya sama dengan مَافَعَلْتُ
Memahami Qalla membantu kita menangkap nuansa bahasa Arab yang sangat puitis dan dalam. Kadang, orang Arab menggunakan “Qalla” untuk menunjukkan “ketidakadaan” sama sekali sebagai bentuk gaya bahasa yang lebih halus atau lebih kuat penekanannya.
Para penyair Arab sering memakai قَلَّما (Qallama) bukan untuk menunjukkan jumlah yang sedikit, tapi sebagai Nafi Mahdh (Penyangkalan Murni/Total).
Coba lihat bait syair ini:
قَلَّما يَبْرَح اللَّبيبُ، إِلى ما … يُورِثُ المجدَ، داعياً أو مُجيبا
“Orang yang berakal tidak akan pernah berhenti untuk menyeru atau menyambut segala sesuatu yang dapat mewariskan kemuliaan.”
Kenapa diartikan “Tidak akan pernah berhenti”? Karena dalam kaidah bahasa Arab, kata Yabrahu (يَبْرَح) hanya bisa berfungsi jika didahului kata negatif (Nafi). Karena di sini diawali Qallama, maka Qallama tersebut resmi dianggap sebagai pengganti kata “Tidak”.
Contoh selenjutnya yang cukup langka, ketika kata setelah Qallama justru diikuti oleh kata benda (isim), padahal asalnya harus kata kerja.
صدَدْتِ، فأطوَلتِ الصُّدودَ، وقَلَّما … وِصالٌ على طُول الصُّدود يَدُومُ
“Engkau berpaling, dan engkau memperlama sikap acuhmu itu. Dan tidak mungkin sebuah hubungan (cinta) akan bertahan di atas sikap acuh yang berkepanjangan.”
Penyair ingin menegaskan bahwa hubungan yang didiamkan terus-menerus itu mustahil atau tidak akan awet. Kata Qallama di sini menyangkal adanya kelanggengan dalam hubungan yang dingin.
Mungkin kamu bertanya: “Kenapa mesti pakai qallama, nggak langsung pakai kata ‘La’ ?
Inilah seninya bahasa Arab! Menggunakan kata “qallama” bermakna “Tidak” itu memberikan kesan:
- Sarkasme yang halus: Menyinggung bahwa hal tersebut sangat mustahil terjadi.
- Penekanan (Taukid): Menolak secara total dengan gaya bahasa yang lebih puitis.
Meskipun secara umum sering dipakai untuk menyangkal (artinya “Tidak”), terkadang dalam konteks tertentu, Qallama tetap bisa diartikan sesuai aslinya yaitu “Melakukan sesuatu tapi sedikit sekali.” Namun, dalam sastra tingkat tinggi, ia lebih sering jadi “senjata” untuk menyangkal dengan halus.
7. Geng Fi’il Jamid lainnya (Thallama, Syadda Ma, dll.)
Ternyata Qallama nggak sendirian. Dia punya teman-teman satu geng yang sifatnya sama: Kaku (Jamid), nggak butuh subjek, dan harus diikuti kata kerja.
- طالما (Thallama): Seringkali / Lama sekali.
- كثرما (Katsurama): Sering banget.
- قصرما (Qashurama): Singkatnya.
- شدّ ما (Syadda ma): Alangkah kuatnya/hebatnya.
Semua kata di atas ditempeli “Ma” yang fungsinya sebagai “rem” (kaffah). Mereka jadi seperti satu paket kata tugas yang nggak bisa diubah-ubah bentuknya.
Kenapa Qallama & Thallama tidak butuh subjek?
Menurut hukum asalnya, setiap ada perbuatan pasti ada pelakunya.
Nah, di sinilah letak uniknya Qallama dan Thallama. Para pakar bahasa punya “teori” masing-masing kenapa ini bisa terjadi. Yuk, kita intip debat mereka!
A. Teori Perubahan Sifat
Menurut kamus legendaris Lisanul Arab, ketika kata Qalla atau Thalla digabung dengan Ma, mereka mengalami revolusi identitas.
Awalnya mereka kata kerja biasa yang butuh subjek (isim). Namun setelah digabung muncul makna baru, sehingga tidak boleh ketemu isim secara langsung.
Contoh: Kamu nggak boleh bilang طلما زيد “Thallama Zaidun”. Itu salah! Karena setelah gabungan ini terjadi, mereka nggak lagi nyari subjek, tapi nyari kata kerja lain.
B. Teori “Ma” Sebagai Pengganti
Tokoh Nahwu besar, Abu Ali al-Farisi, punya pendapat yang lebih radikal:
Karena Qallama sudah berubah fungsi jadi kata Negatif (Nafi), dia nggak butuh lagi subjek, baik yang kelihatan maupun yang tersembunyi.
Lalu ke mana subjeknya? Beliau bilang: “Ma” itulah yang masuk ke dalam kata kerja tersebut untuk menggantikan posisi subjek. Jadi, Ma di sini adalah “tumbal” agar si kata kerja tetap dianggap sah.
C. Teori Masdar
Ada juga yang berpendapat lebih logis. Mereka bilang Ma di sana adalah Ma Mashdariyah.
Kalau kamu bilang طالما فعلت “Thallama fa’altu” (Lama aku melakukannya), artinya adalah طال فعلي “Thalla fi’li” (Lama perbuatanku). Jadi, “perbuatanku” itulah yang jadi subjeknya.
Pendapat ini langsung dibantah dengan argumen tulisan (Rasm). Secara aturan tulis, kalau Ma itu punya arti (mashdariyah), harusnya ditulis terpisah طال ما (Thalla ma). Tapi kenyataannya, dari zaman dulu orang Arab selalu menulisnya nyambung طلما (Thallama). Ini bukti kuat kalau Ma di sana cuma “hiasan” tambahan (Zaidah) yang merusak fungsi asli si kata kerja.
Meskipun para ulama debat soal teknisnya, mereka sepakat pada satu hal: Qallama, Thallama, dkk. adalah paket hemat kata kerja yang tidak membutuhkan subjek. Mereka sekarang fokus jadi kata penegas saja.
8. Rahasia di Balik “Suqitha” & “Hadda”
Kamu tahu nggak, dalam bahasa Arab ada ungkapan yang kalau diterjemahkan mentah-mentah artinya aneh, tapi kalau dipahami maknanya, dalem banget? Inilah keajaiban Fi’il Jamid yang lahir dari gaya bahasa kiasan (Kinayah).
A. “Suqitha fi Yadihi”: Ekspresi Penyesalan Terdalam
Pernah dengar ungkapan سُقِطَ في يَدِهِ (Suqitha fi yadihi)? Secara harfiah artinya “Dijatuhkan di tangannya”. Aneh, kan?
Makna sebenarnya, ungkapan ini dipakai untuk menggambarkan orang yang sangat menyesal, bingung, atau merasa bersalah.
Keunikannya, kata ini jamid dalam bentuk pasif (Majhul). Menariknya, menurut para ahli bahasa, ungkapan ini belum pernah terdengar di kalangan orang Arab sebelum Al-Qur’an turun.
Al-Qur’an mengabadikannya dalam surat Al-A’raf 149.
وَلَمَّا سُقِطَ فِي أَيْدِيهِمْ. الأعراف ١٤٩
Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya
Kenapa Jamid? Karena ini adalah satu paket ungkapan kiasan. Kalau diubah ke bentuk (mudhari’), rasa emosional “penyesalan yang jatuh ke hati” itu jadi hilang.
B. “Haddaka”: Pujian yang “Menghancurkan”
Selanjutnya ada kata هَدَّ (Hadda). Biasanya Hadda artinya menghancurkan atau meruntuhkan. Tapi dalam konteks ini, ia menjadi kata pujian yang unik.
هَذَا رجلٌ هَدَّكَ من رجلٍ
Jika diartikan secara harfiyah (Ini adalah pria yang ‘meruntuhkanmu’ sebagai sesama pria). Namun makna sebenarnya yaitu cukuplah dia bagimu / Ini pria yang hebat bagimu.
Kata haddaka meski jamid dengan pola lampau (fi’il madhi), namun masih bisa menyesuaikan berdasarkan jenis kelaminya. Kamu bisa bilang Haddaka (untuk pria) atau Haddatka (untuk wanita), mirip seperti kata Kafaka (Cukuplah bagimu).
Para pakar bahasa Arab mencatat ada cara lain untuk menggunakan kata ini yang bikin kalimatmu makin terlihat “expert”.
-» “Hadda” sebagai Mashdar
Sebagian orang Arab tidak menganggap Hadda sebagai kata kerja, melainkan sebagai mashdar yang berfungsi sebagai sifat.
Ketika dianggap mashdar, maka polanya tetap satu (Hadda-ka), tidak peduli orang yang dibicarakan itu satu, dua, atau banyak, laki-laki atau perempuan.
Uniknya, harakat akhirnya mengikuti status ‘irab kata yang disifatinya
هَذاَ رجلٌ هَدُّكَ
Rafa’: “Hadza rajulun haddu-ka…” (Ini pria yang hebat bagimu).
مررتُ بإمرأة هَدِّكَ
Jar: “Marartu bi-imra-atin haddi-ka…” (Aku berpapasan dengan wanita yang hebat bagimu).
أكرمتُ رجلين هَدَّكَ
Nasab: “Akramtu rajulaini hadda-ka…” (Aku memuliakan dua pria yang hebat bagimu).
-» “La-hadda”: Antara Memuji dan Takjub
Ada lagi variasi yang lebih emosional, yaitu dengan menambahkan huruf Lam di depannya (لَهَدَّ). Fungsinya bisa pecah jadi dua arah:
- Untuk Memuji (Madah): Artinya jadi mirip seperti Ni’ma (Sebaik-baik). Dipakai kalau kamu mau memuji kekuatan atau ketangguhan seseorang. (لَهَدَّ رجلُ) La-haddar rajulu! (Betapa hebatnya pria itu!).
- Untuk Heran (Ta’ajjub): Artinya jadi “Alangkah tangguhnya!”.
Contoh “La Hadda” untuk takjub:
Salah satu contoh terkenal penggunaan ini ada dalam sebuah Hadis tentang Abu Lahab. Dia pernah berkata:
إن أَبا لهَبٍ قال: لَهَدَّ ما سَحَركم صاحبُكم
“La-hadda ma saharakum shahibukum!”
Apa maksudnya? Para ulama seperti Ibnu Atsir menjelaskan bahwa Abu Lahab bukan sedang memuji Nabi ﷺ, tapi dia heran sekaligus kesal. Dia takjub melihat betapa “tangguh” dan teguhnya para sahabat dalam mempercayai Nabi ﷺ, sampai-sampai dia menuduh itu adalah pengaruh sihir. Jadi, dia seolah berkata: “Alangkah sabarnya (kuatnya) kalian ini kena sihir kawan kalian itu!”
9. Rahasia dibalik Kadzaba (كذب)
Kamu pasti tahu kalau Kadzaba itu artinya berbohong ? Tapi tunggu dulu, dalam dunia Fi’il Jamid, kata ini punya fungsi rahasia yang disebut sebagai Ighra’ (ajakan atau dorongan kuat).
Pernah terbayang nggak, kamu bilang “bohong” tapi maksudnya “ayo cepat kerjakan!”? Yuk, kita bongkar logikanya!
Makna “Kadzaba ‘Alaika”
Dalam ungkapan langka ini, jika seseorang berkata: كذبَ عليك (Kadzaba ‘alaika…), dia tidak sedang menuduhmu berbohong. Maksud sebenarnya adalah: “Ambillah itu!” atau “Tekunilah hal itu!”.
- Contoh: “Kadzabaka al-amru” (كذبك الأمرُ). Artinya: Bukan “Urusan itu membohongimu”, tapi “Pegang urusan itu dan jangan lepaskan!”
Mungkin kamu bingung, kok bisa “bohong” jadi “ayo kerjakan”?
Pakar bahasa Ibnu Sikkait menjelaskan logikanya begini:
Dahulu, ungkapan ini sering dipakai pemburu. Ketika mereka melihat buruan, temannya akan bilang كذبك الصيد “Kadzabaka as-shaidu” (Buruan itu membohongimu).
Maksudnya: “Buruan itu kelihatannya jauh atau susah didapat (ia menipumu), padahal sebenarnya dia sudah dekat dan mudah ditangkap. Jadi, jangan percaya sama penglihatanmu, ayo cepat serang!”
Lama-lama, ungkapan ini jadi kata paten (Jamid) untuk mendorong seseorang agar segera bertindak dan pantang menyerah.
Ibnu Sikkait sendiri menyebutkan bahwa penggunaan ini adalah Kalimatun Nadirah (ungkapan yang sangat langka). Kamu hanya akan menemukannya di literatur sastra Arab tingkat tinggi atau ucapan orang Arab pedalaman (Baduy) zaman dulu.
Ini membuktikan bahwa Fi’il Jamid nggak cuma soal tata bahasa, tapi juga soal strategi mental dalam berkomunikasi!
Penyair Al-Akhtal pernah menulis bait indah:
كذَبَتْكَ عَيْنُكَ؟ أَم رأَيتَ بِواسطٍ … غَلَسَ الظلاَمِ من الرَّبابِ خيالاً
“Apakah matamu membohongimu? Ataukah kau memang melihat bayangan di tengah kegelapan”
Pakar bahasa menjelaskan bahwa perintah “Ayo lakukan!” tadi berasal dari sini. Saat matamu melihat target dan terasa sulit, matamu sebenarnya sedang “berbohong” karena menganggapnya mustahil. Jadi, jangan percaya matamu, teruslah maju!
Kedua. Fi’il Mutasharrif (الفعل المتصرف)
Fi’il Mutasharrif ini sangat berkaitan dengan waktu. Karena ia harus menunjukkan kapan suatu peristiwa terjadi (apakah sudah lewat, sedang terjadi, atau akan terjadi), maka bentuknya pun harus berubah-ubah (fleksibel) sesuai kebutuhanya.
Dalam bahasa Arab, Fi’il Mutasharrif ini dibagi menjadi dua kelompok:
1. Tammu Tasharruf (Fleksibel Sempurna)
Inilah kelompok mayoritas! Kata kerja ini bisa berubah ke tiga bentuk waktu secara lengkap dan teratur.
- Masa Lalu (Madhi): كَتَبَ (Kataba – Sudah menulis)
- Masa Sekarang/Nanti (Mudhari’): يَكْتُبُ (Yaktubu – Sedang/akan menulis)
- Perintah (Amr): اكْتُبْ (Uktub – Tulislah!)
Hampir semua kata kerja dalam bahasa arab masuk kategori ini. Mereka sangat patuh pada aturan perubahan bentuk.
2. Naqishu Tasharruf (Setengah Fleksibel)
Ada juga kata kerja yang “tanggung”. Mereka bisa berubah, tapi cuma punya dua pola saja, tidak lengkap sampai tiga.
-» Hanya punya Madhi & Mudhari’:
Biasanya ini adalah kelompok kata kerja pembantu (seperti saudaranya Kaana).
- Contoh: كادَ – يَكادُ (Kada – Yakadu), atau ما زالَ – ما يَزالُ (Ma Zala – Ma Yazalu). Kamu tidak akan menemukan bentuk “perintah”-nya.
-» Hanya punya Mudhari’ & Amr:
Kata kerja ini unik karena tidak memiliki pola fi’il madhi.
- Contoh: يَدَعُ – دَعْ (Yada’u – Da’) yang artinya “Membiarkan/Tinggalkanlah”.
Menurut Ahli bahasa: kata يَدَعُ – دَعْ dahulunya memiliki bentuk fi’il madhi yaitu وَدَعَ (Wada’a). Tapi seiring berjalannya waktu, orang Arab merasa lebih nyaman menggunakan kata lain seperti: ترك Taraka) sehingga bentuk wada’a pun jarang dipakai dan akhirnya dianggap “mati” atau jarang sekali terdengar (Nadir).
Salah satu jejak langkanya bisa kita temukan di potongan hadis:
دعوا الحبشَةَ ما ودَعوكم واترُكوا التُّركَ ما ترَكوكم. أخرجه أبو داود في صحيحه ٤٣٠٢
Biarkanlah orang Habasyah selama mereka membiarkan kalian.
Meskipun ada, para pakar sepakat menganggapnya sebagai pengecualian yang sangat jarang.
Apakah “Dza’ & Da'” termasuk jamid atau Naqishu Tasharruf ?
Kali ini, sasarannya adalah pandangan Imam As-Suyuthi dalam kitabnya yang terkenal, Ham’ul Hawami’.
Dalam kitab tersebut, Imam As-Suyuthi menyebutkan bahwa kata دَعْ (Da’) dan ذَرْ (Dzar)—yang artinya “tinggalkanlah/biarkanlah”—sebenarnya adalah Fi’il Jamid (Kata Kerja Kaku).
Alasannya sederhana: karena menurut pengamatan beliau, orang Arab hampir selalu memakainya hanya dalam bentuk Perintah (Amr) saja. Jika sebuah kata cuma punya satu bentuk, bukankah itu definisi “jamid”?
Namun, pandangan ini dianggap sebagai sebuah kekhilafan atau kelalaian (ghafilah) oleh ulama lainnya.
Mengapa? Karena faktanya, kedua kata tersebut tidak benar-benar kaku pada satu bentuk saja. Orang Arab secara luas menggunakan bentuk Mudhari’ (masa sekarang)-nya, yaitu:
- يَدَعُ (Yada’u)
- يَذَرُ (Yadharu)
Kenapa Imam As-Suyuthi Sampai Berpendapat Begitu? Kemungkinan besar, beliau melihat bahwa bentuk Madhi (masa lalu)-nya, yaitu Wada’a dan Wadhara, memang sudah “mati” atau tidak dipakai lagi dalam percakapan umum. Namun, karena bentuk Mudhari’ dan Amr-nya masih hidup, maka mengategorikannya sebagai Fi’il Jamid dianggap kurang tepat.
Seharusnya, kedua kata ini masuk ke kelompok Naqishut Tasharruf (Setengah Fleksibel), karena punya dua bentuk (Mudhari’ dan Amr), bukan cuma satu.
Pelajaran Penting: Dari perdebatan ini kita belajar bahwa dalam ilmu bahasa, ketelitian dalam mengumpulkan data itu penting banget. Bahkan ulama besar pun bisa memiliki sudut pandang yang berbeda-beda!
Walahu’alam.
Zizo: 26 – 04 – 2026
Referensi:
Zizo: 21-04-2026
انظر: كتاب جامع الدروس العربية [مصطفى الغلاييني]. ج١, ص ٥٥ وما بعدها




