News...!
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا

Af’alut Tahwil (أفعال التحويل) Dalam Ilmu Nahwu

0
(0)

Setelah kita selesai membahas “‘Afalul Qulub”, selanjutnya kita akan kenalan dengan Af’alut Tahwil atau Kata Kerja Perubahan.

Kata kerja ini termasuk Fi’il Muta’addi yang membutuhkan dua objek, dimana asal objek tersebut merupakan susunan Subjek & Predikat (Mubtada‘ & Khabar).

Sobat ilmualat, dalam bahasa Arab ada kelompok kata kerja yang fungsinya menunjukkan perubahan status atau kondisi. Kata-kata ini disebut Af’alut Tahwil (Kata Kerja Transformasi).

أفعالُ التحويل ما تكونُ بمعنى “صيَّرَ”. هي سبعةٌ “صيَّر ورَدَّ وترَك وتَخِذ واتخذ وجعل ووهب

Total kata kerja ini ada tujuh bersaudara: Shayyara, Radda, Taraka, Takhidza, Ittakhadza, Ja’ala, dan Wahaba.

1. Shayyara (صيَّرَ)

Maknanya murni “menjadikan” atau “mengubah”.

  • Contoh: صيّرْتُ العدُوَّ صديقاً
    “Aku mengubah musuh itu menjadi teman.”

* Objek 1: Musuh.
* Objek 2: Teman.

2. Radda (رَدَّ)

Kata Radda di sini bukan sekadar “menolak”, tapi mengubah sesuatu kembali atau menjadi kondisi lain.

Contoh dari Al-Qur’an:

لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا

“…sekiranya mereka dapat mengembalikan (mengubah) kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman.” (QS. Al-Baqarah: 109).

Contoh Dahsyat dari Syair Arab (Tentang Waktu):

Ada syair sedih yang menceritakan bagaimana musibah dan waktu mengubah segalanya:

فردَّ شُعُوْرَهنَّ السُّودَ بِيضاً … ورَدَّ وُجوهَهُنَّ البِيضَ سُودا

“Maka (musibah itu) mengubah rambut mereka yang hitam menjadi putih (beruban), dan mengubah wajah mereka yang putih berseri menjadi hitam (layu/suram).”

Dalam syair yang sangat indah dan kontras di atas, kita bisa melihat bagaimana “Waktu/Musibah” menjadi aktor utama yang mengubah segalanya.

-» Potongan Syair Pertama:

فَرَدَّ شُعُوْرَهنَّ السُّودَ بِيضاً

“(Musibah itu) mengubah rambut mereka yang hitam menjadi putih”

  • Kata Kerja (Fi’il): رَدَّ (Radda) — Artinya: Mengubah.
  • Objek 1 (Maf’ul Bih 1): شُعُوْرَهنَّ (Syu’uurahunna) — Artinya: Rambut mereka.
  • Objek 2 (Maf’ul Bih 2): بِيضاً (Biidhan) — Artinya: (Menjadi) putih/beruban.

Catatan: Kata السُّودَ di sana hanyalah na’at atau sifat yang menjelaskan bahwa rambut aslinya adalah hitam.

-» Potongan Syair Kedua:

وَرَدَّ وُجوهَهُنَّ البِيضَ سُودا

“Dan mengubah wajah mereka yang putih berseri menjadi hitam (suram)”

  • Kata Kerja (Fi’il): رَدَّ (Radda) — Artinya: Mengubah.
  • Objek 1 (Maf’ul Bih 1): وُجوهَهُنَّ (Wujuuhahunna) — Artinya: Wajah mereka.
  • Objek 2 (Maf’ul Bih 2): سُودا (Suudan) — Artinya: (Menjadi) hitam/kusam.

Catatan: Kata البِيضَ di sana adalah na’at atau sifat yang menjelaskan bahwa wajah aslinya tadinya cerah/putih.

Coba perhatikan betapa jeniusnya penyair ini. Dia menempatkan dua kondisi yang bertolak belakang dalam satu bait. Rambut yang Hitam jadi Putih (simbol penuaan/stres), dan wajah yang Putih jadi Hitam (simbol duka/penderitaan). Semua perubahan ‘A menjadi B’ ini menggunakan pola Af’alut Tahwil.”

3. Taraka (ترك)

Kata kerja Taraka (تَرَكَ) punya sisi lain yang menarik. Selain berarti “meninggalkan”, dalam tata bahasa Arab dia bisa berfungsi mengubah atau menetapkan status seseorang/sesuatu ke dalam kondisi baru, sehingga dia membutuhkan dua objek.

Ketika sebuah tindakan menyebabkan perubahan status yang menetap, Taraka menjalankan perannya sebagai kata kerja transformasi.

Contoh dari Al-Qur’an:

وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ

“Dan Kami biarkan (jadikan) sebagian mereka pada hari itu bercampur aduk (seperti gelombang) dengan sebagian yang lain.” (QS. Al-Kahfi: 99).

  • Objek 1: بَعْضَهُمْ (Ba’dhahum / Sebagian mereka).
  • Objek 2: Kalimat يَمُوجُ (Yamuuju / Bercampur aduk/bergelombang).

Contoh dari Syair Arab (Tentang Kedewasaan):

Seorang ayah atau pengasuh menceritakan bagaimana dia mendidik anaknya sampai mandiri:

وَرَبَّيْتُهُ حَتَّى إِذَا مَا تَرَكْتُهُ … أَخَا القَوْمِ وَاسْتَغْنَى عَنِ المَسْحِ شَارِبُهْ

“Aku telah mendidiknya dan membesarkannya, hingga ketika aku berhasil menjadikannya seorang lelaki dewasa yang disegani kaumnya, dan kumisnya telah tumbuh lebat hingga tak perlu lagi diusap (telah mandiri)…”

  • Objek 1: Dhamir Hu (-hu / nya/dia).
  • Objek 2: أَخا القومِ (Akhal qaumi / Saudara/pemimpin kaum).

Kata Taraka di sini memberikan kesan perubahan yang bersifat hasil akhir. Seperti koki yang membiarkan masakan matang, atau orang tua yang membiarkan anaknya tumbuh dewasa dan mandiri.

Penyair menyebutkan ” واستَغْنى عن الْمَسْحِ شارِبُهُ” (kumisnya sudah tidak perlu diusap lagi). Ini adalah kiasan bahwa si anak sudah dewasa, sudah tumbuh kumis, dan sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Keren banget ya cara orang Arab mendeskripsikan kedewasaan!

4. Takhidza (تخذ)

Kata تَخِذَ (Takhidza) ini adalah bentuk Tsulatsi Mujarrad (tiga huruf asli). Meski dalam bahasa Arab modern orang lebih sering pakai bentuk tsulasi majid seperti: (Ittakhadza), menggunakan Takhidza akan membuat tulisan atau bahasa Arabmu terasa lebih klasik dan berkelas.

Dalam konteks ini, ada proses perubahan status yang terjadi secara sengaja oleh si pelaku.

Ketika kamu secara sadar memutuskan seseorang untuk memiliki posisi baru dalam hidupmu, di sinilah Takhidza beraksi dengan dua objeknya.

  • Contoh Kalimat: تَخِذتُكَ صديقاً
    “Aku telah menjadikanmu (mengambilmu sebagai) teman.

* Objek 1: كَ (-ka / Kamu).
* Objek 2: صديقاً (Shadiiqan / Teman).

* Analisis: Tadinya kamu mungkin orang asing atau sekadar kenal, tapi sekarang statusmu berubah menjadi “teman”.

Ibarat dalam bahasa Indonesia, ini seperti perbedaan antara kata “Menjadikan” dan “Mengangkat”. Misalnya: “Aku mengangkatmu sebagai saudara.” Ada sebuah perubahan status yang diputuskan di sana.

Lanjut ke anggota kelima, yaitu Ittakhadza (اتَّخَذَ). Ini adalah kata kerja yang sangat istimewa karena menunjukkan pemilihan atau penetapan kedudukan yang sangat tinggi dan mulia.


5. Ittakhadza (اتَّخَذَ)

Kata kerja Ittakhadza (اتَّخَذَ) sering kali kita jumpai dalam teks-teks mulia. Maknanya adalah “menjadikan” atau “mengambil sesuatu sebagai…”, namun dengan nuansa pemilihan atau ketetapan yang lebih kuat dibandingkan saudaranya “takhidza”.

Dalam kategori kata kerja perubahan status, Ittakhadza menghubungkan dua objek yang asalnya adalah subjek dan predikat, lalu mengubahnya menjadi satu kesatuan hubungan baru yang tetap.

Contoh Agung dari Al-Qur’an:

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kesayangan (khalil)-Nya.” (QS. An-Nisa: 125). [6, 7]

  • Kata Kerja (Fi’il): اتَّخَذَ (Ittakhadza) — Menjadikan/Mengangkat status.
  • Pelaku (Fa’il): اللَّهُ (Allah).
  • Objek 1 (Maf’ul Bih 1): إِبْرَاهِيمَ (Nabi Ibrahim).
  • Objek 2 (Maf’ul Bih 2): خَلِيلًا (Khalil/Kesayangan yang amat dicintai).

Dalam ayat ini, status Nabi Ibrahim AS diangkat oleh Allah SWT dari hamba biasa menjadi Khalil (tingkatan cinta yang paling tinggi di mana tidak ada lagi celah bagi cinta selain-Nya.

Inilah fungsi Af’alut Tahwil: menjelaskan bagaimana kedudukan seseorang berubah menjadi begitu tinggi melalui pilihan Ilahi.

6. Ja’ala (جعل)

Jika pada materi ‘Afalul Qulub kita membahas Ja’ala sebagai kata kerja “Dugaan” (mengira sesuatu yang salah), kali ini Ja’ala tampil sebagai kata kerja transformasi. Di sini, dia benar-benar mengubah kondisi suatu benda secara nyata atau maknawi.

Dalam konteks transformasi, Ja’ala menghubungkan dua objek untuk menunjukkan hasil akhir dari sebuah proses perubahan.

Contoh Dahsyat dari Al-Qur’an:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا

“Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23).

  • Kata Kerja (Fi’il): جَعَلْنَا (Ja’alnaa) — Kami menjadikan.
  • Objek 1 (Maf’ul Bih 1): ـهُ (-hu / nya) — Kembali kepada Amal yang dikerjakan.
  • Objek 2 (Maf’ul Bih 2): هَبَاءً (Habaa’an) — Debu/Sesuatu yang tak bernilai.

Bayangkan betapa kuatnya kata Ja’ala di sini. Sesuatu yang tadinya dianggap besar dan nyata oleh manusia (yaitu amal perbuatan), seketika status dan wujudnya diubah total oleh Allah menjadi Habaa’an (debu yang tak terlihat dan tak berbobot). Ini adalah peringatan bahwa tanpa keikhlasan, ‘nilai’ sebuah perbuatan bisa bertransformasi menjadi nol.”

Anggota terakhir dari keluarga Af’alut Tahwil adalah Wahaba (وَهَبَ). Biasanya kita mengartikan kata ini sebagai “memberi”, tapi dalam konteks transformasi, maknanya adalah “menjadikan” atau “menetapkan status seseorang”.

7. Wahaba (وهب)

Umumnya, kita tahu Wahaba berarti menghibahkan atau memberi sesuatu secara cuma-cuma. Namun, dalam ilmu Nahwu, dia juga bisa bertugas mengubah kedudukan seseorang.

Ketika digunakan sebagai kata kerja transformasi, Wahaba bermakna “menjadikan” atau “menetapkan posisi seseorang” dalam suatu kondisi tertentu.

Contoh Kalimat:

وهبَني اللهُ فداءَ المُخلصين

“Allah telah menjadikan aku sebagai tebusan bagi orang-orang yang tulus (ikhlas).”

  • Kata Kerja (Fi’il): وهبَ (Wahaba) — Menjadikan.
  • Pelaku (Fa’il): اللهُ (Allah).
  • Objek 1 (Maf’ul Bih 1): ـني (-nii / aku).
  • Objek 2 (Maf’ul Bih 2): فداءَ (Fidaa’a / Tebusan).

Menarik ya, kata Wahaba yang dasarnya berarti ‘pemberian’ digunakan untuk menggambarkan perubahan status. Ini seolah mengisyaratkan bahwa ketika status kita berubah (misalnya menjadi pelayan masyarakat atau pejuang kebenaran), itu adalah sebuah anugerah atau hadiah dari Tuhan, bukan sekadar beban.”

Alhamdulillah Kita sudah menuntaskan seluruh anggota kelompok ini. Mari kita ingat kembali kuncinya: Mereka semua bermakna “Menjadikan/Mengubah A menjadi B”.

  • صيّر (Shayyara) – Mengubah.
  • ردّ (Radda) – Mengembalikan/Mengubah kondisi.
  • ترك (Taraka) – Menjadikan/Membiarkan dalam kondisi tertentu.
  • تَخِذ (Takhidza) – Mengangkat status.
  • اتخذ (Ittakhadza) – Menjadikan/Memilih sebagai…
  • جعل (Ja’ala) – Membuat/Mengubah wujud.
  • وهب (Wahaba) – Menjadikan (sebagai anugerah).

Kesimpulan: Sebuah kata kerja hanya dianggap sebagai Af’alut Tahwil jika ia bermakna “Shayyara” (Mengubah/Menjadikan). Kalau maknanya kembali ke makna fisik atau makna dasar lainnya, maka dia bukan lagi anggota kelompok ini dan biasanya cuma butuh satu objek.

Mari kita lihat perbandinganya:

1. Radda (رَدَّ)

  • Sebagai Tahwil: Bermakna “Mengubah” (contoh: Mengubah rambut hitam jadi putih). → 2 Objek.
  • Makna Dasar: Bermakna “Mengembalikan” (Raja’a).
    * Contoh: رَدَدْتُهُ (Radadtuhu) — “Aku mengembalikannya.” → Cuma 1 Objek.

2. Taraka (تَرَكَ)

  • Sebagai Tahwil: Bermakna “Menjadikan/Membiarkan dalam kondisi tertentu”. → 2 Objek.
  • Makna Dasar: Bermakna “Meninggalkan” atau “Melepaskan”.
    * Contoh: تَرَكْتُ الجهلَ (Taraktul jahla) — “Aku meninggalkan kebodohan.” → Cuma 1 Objek.

3. Ja’ala (جَعَلَ)

  • Sebagai Tahwil: Bermakna “Menjadikan/Mentransformasi”. → 2 Objek.
  • Makna Dasar: Bermakna “Menciptakan” atau “Mewujudkan”.
    * Contoh: جعل الظلمات والنور — “Dia menciptakan gelap dan terang.” → Cuma 1 Objek.

4. Wahaba (وَهَبَ)

  • Sebagai Tahwil: Bermakna “Menetapkan status” (contoh: Menjadikanku sebagai tebusan). → 2 Objek.
  • Makna Dasar: Bermakna “Memberi/Menghibahkan” (A’tha).

Nah, uniknya, kalau maknanya “Memberi”, dia tetap bisa punya dua objek, tapi bukan dari kategori Af’alul Qulub/Tahwil.

  • Contoh: وهبتك فرساً (“Aku memberimu kuda”).

Susunan Fasih: Orang Arab lebih suka pakai huruf jar Lam (لـ), seperti: وهبتُ لكَ فرساً (“Aku memberikan kuda untukmu”).

Kuncinya cuma satu: Cek Maknanya!

Kalau kata kerja itu berfungsi menghubungkan antara benda dan sifat barunya (A menjadi B), maka dia adalah Af’alut Tahwil. Tapi kalau dia cuma menunjukkan aksi sederhana (mengembalikan barang, meninggalkan kebiasaan, atau menciptakan sesuatu), maka dia kembali ke kelas kata kerja biasa.


Wallahu’alam.

Zizo: 21-04-2026

انظر: كتاب جامع الدروس العربية [مصطفى الغلاييني]. ج١, ص ٤٤-٤٥

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *