Materi ini lanjutan dari pembahasan kata kerja (fi’il muta’addi) yang mmbutuhkan dua objek yang di antaranya yaitu Af’alul Qulub.
Kenapa namanya unik banget? Karena kata-kata kerja ini menunjukkan persepsi batin dan keyakinan seseorang, bukan gerakan tangan atau kaki.
Tapi ingat, nggak semua kata kerja ‘afalul qulub butuh dua objek. Ada yang hanya butuh satu (seperti: memahami, mengenal), dan ada juga yang termasuk fi’il lazim (seperti: sedih, penakut).
1. Daftar “Kata Kerja Af’alul Qulub”
Berikut beberapa di antaranya:
- Kelompok Yakin: رأى (melihat/meyakini), علم (mengetahui), وجد (mendapati).
- Kelompok Ragu/Dugaan: ظنّ (mengira), خال (membayangkan), حسب (menyangka), زعم (menduga).
2. Rahasia Menghapus Objek (Iqtishar vs Ikhtishar)
Dalam tata bahasa Arab, kedua objek dari kata kerja hati ini sangat penting. Kamu nggak boleh menghapus salah satu atau keduanya begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Tapi, ada pengecualian! Kamu boleh menghapusnya jika ada “bukti” (dalil) atau petunjuk di kalimat sebelumnya. Dalam ilmu Nahwu, ini disebut perbedaan antara Iqtishar (asal hapus – dilarang) dan Ikhtishar (singkat karena sudah paham – dibolehkan).
A. Menghapus Kedua Objek (Karena Sudah Paham)
Misalnya ada yang bertanya: “Apakah kamu mengira Khalid berangkat?”
Lalu kamu jawab: “Aku mengira” (ظننتُ).
Maksudnya adalah: “Aku mengira dia berangkat.” Di sini kedua objek dihapus karena sudah disebutkan di pertanyaan.
Contoh dalam Al-Qur’an:
أينَ شُركائيَ الذين كنتم تزعمونَ؟
“Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang kalian sangkakan?”
Aslinya: “Kalian sangkakan mereka sebagai sekutu-Ku”.
B. Menghapus Salah Satu Objek Saja
Misalnya ada yang tanya: “Apakah kamu mengira ada seseorang yang berangkat?”
Kamu jawab: “Aku mengira Khalid” (أظُنُّ خالدا).
Maksudnya: “Aku mengira Khalid berangkat.” Objek keduanya dihapus karena sudah jelas dari konteks.
Para penyair sering menggunakan teknik penghapusan ini untuk keindahan bahasa.
-» Penyair Al-Kumait pernah berkata:
بأَيِّ كِتابٍ، أَم بأَيَّةِ سُنَّةِ … تَرى حُبَّهُمْ عاراً عليَّ، وتَحْسَبُ؟
“Dengan kitab apa atau sunnah mana kalian menganggap mencintai mereka adalah aib bagiku, dan kalian menyangkanya?”
Maksudnya: “Kalian menyangkanya (mencintai mereka) sebagai aib.”
-» Penyair Antarah dalam puisi cintanya juga menggunakan teknik ini untuk menekankan betapa spesialnya kekasihnya di hatinya tanpa perlu mengulang-ulang kata.
وَلَقَدْ نَزَلتِ، فَلا تَظُني غَيْرَهُ … مِنِّي بِمَنْزِلةِ المُحَبِّ المُكْرَم
” Sungguh Engkau telah berumah di hatiku, dan tak ada ruang bagi keraguan. Bagiku, engkau bukan sekadar cinta, melainkan kemuliaan yang takkan pernah pudar.”
3. Kelompok ‘Afalul Qulub
Af’alul Qulub dikategorikan menjadi kelompok Yakin dan Dhonn.
Pertama: Af’alul Yaqin (أفعال اليقين)
Sobat ilmualat, dalam keluarga ‘Afalul Qulub, terdapat kelompok yang posisinya sangat kuat karena menunjukkan keyakinan yang mantap atau itishad jazim. Kelompok ini disebut Af’alul Yaqin. Total ada enam bersaudara.
1. Ra’a (رأى): Bukan Sekadar Melihat dengan Mata
Hati-hati ya, kata Ra’a dalam bahasa Arab itu punya “kembaran” tapi beda fungsi:
- Ra’a Visual (البصرية): Artinya melihat pakai mata kepala. Ini cuma butuh satu objek. (Contoh: “Aku melihat gunung”).
- Ra’a Medis: Artinya memukul bagian paru-paru. Ini juga cuma satu objek.
- Ra’a Yaqin (اليقينية): Inilah yang kita bahas! Artinya “Melihat dengan keyakinan hati” atau “Meyakini sepenuhnya”. Yang ini wajib punya dua objek.
Contoh Dahsyat dari Syair Arab:
رأيتُ اللهَ أكبرَ كلِّ شيءٍ
“Aku meyakini Allah adalah Yang Terbesar dari segala sesuatu.”
(Objek 1: Allah, Objek 2: Yang Terbesar).
“Melihat” itu Relatif: Beda Orang, Beda Keyakinan
Uniknya, Yaqin di sini nggak selalu harus sesuai kenyataan objektif, tapi sesuai apa yang sangat diyakini oleh si pelaku.
Allah SWT menggambarkan perbedaan cara “melihat” ini dalam Al-Qur’an:
إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا وَنَرَاهُ قَرِيبًا
“Sesungguhnya mereka memandangnya (azab/hari kiamat) itu jauh, sedangkan Kami memandangnya dekat.” (QS. Al-Ma’arij: 6-7).
- Bagi orang kafir, kiamat itu “jauh” (mustahil terjadi).
- Bagi Allah, kiamat itu “dekat” (pasti terjadi).
Keduanya pakai kata Ra’a, karena masing-masing menunjukkan keyakinan yang mendalam dari sudut pandang mereka.
Ra’a dalam Mimpi (Hulmiyah)
Ada satu lagi nih, yaitu melihat dalam mimpi (Ar-Ru’ya). Karena mimpi dirasakan oleh indra batin, maka aturannya disamakan dengan kata kerja ‘afalul qulub—yaitu butuh dua objek.
Contohnya di kisah Nabi Yusuf:
إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرً
“Sesungguhnya aku bermimpi diriku sedang memeras anggur.”
* Objek 1: Dhamir Ya’ (diriku).
* Objek 2: Kalimat “memeras anggur”.
Poin Penting untuk Dicatat:
Jadi, kalau kamu baca teks Arab dan ketemu kata Ra’a, cek dulu: dia lagi lihat pakai mata, lagi mimpi, atau lagi meyakini sesuatu? Kalau maknanya “meyakini”, siap-siap cari dua objek di belakangnya ya!
2. “Alima” (عَلِمَ): Meyakini dengan Mantap
Sama seperti saudaranya (Ra’a), kata ini juga punya beberapa peran tergantung maknanya.
Kalau sebelumnya kita bahas “melihat” dengan hati, sekarang kita bahas “mengetahui” atau “meyakini” dengan hati. Kata kerja ‘Alima (عَلِمَ) dalam bahasa Arab bukan cuma soal tahu informasi, tapi bisa juga soal keyakinan yang menghujam.
Agar ‘Alima bisa punya dua objek, maknanya haruslah “Meyakini” atau “Mengimani”.
Contoh dari Al-Qur’an:
فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ
“Maka jika kamu telah mengetahui (meyakini) bahwa mereka adalah wanita-wanita beriman…” (QS. Al-Mumtahanah: 10)
* Objek 1: Hunna (mereka wanita).
* Objek 2: Mu’minaat (beriman).
Contoh dari Syair Arab (Sindiran Halus): Seorang penyair pernah berkata:
عَلِمْتُكَ مَنّاناً، فلَسْتُ بآمِلٍ … نَداكَ، ولو ظَمْآنَ، غَرْثانَ، عاريا
“Aku meyakini (tahu betul) bahwa kamu itu orang yang suka mengungkit pemberian, maka aku tak sudi berharap pada kedermawananmu, meski aku sedang haus, lapar, dan tak berpakaian.”
* Objek 1: Ka (kamu).
* Objek 2: Mannanan (orang yang suka mengungkit).
⚠️ Hati-hati! “Alima” Tidak Selalu Butuh Dua Objek
Ini nih yang sering bikin terkecoh. Cek dulu maknanya sebelum menentukan jumlah objeknya:
-» Bermakna “Mengenal” (Arafa): Cuma butuh satu objek.
- عَلِمْتُ الأمرَ (‘Alimtul amra) – “Aku mengenal/mengetahui perkara itu.”
Sama seperti ayat:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا
(..kalian tidak mengetahui/mengenal sesuatu pun).
-» Bermakna “Merasakan/Menyadari” (Sya’ara): Cuma butuh satu objek, baik langsung atau pakai huruf jar “bi”.
- علمت الشيء / علمت بالشيء – “Aku merasakan/menyadari hal itu.”
Kesimpulan untuk Catatan:
Jadi, ‘Alima itu bisa berarti “Mengenal” (1 objek) atau “Meyakini” (2 objek). Tipsnya gampang: Kalau kalimatnya menunjukkan sebuah kesimpulan atau penilaian tentang seseorang/sesuatu, kemungkinan besar dia butuh dua objek.
Misalnya: “Aku meyakini kejujuran itu kunci sukses.” Nah, kalimat ini butuh dua objek dalam bahasa Arab!
3. “Dara”: Mengetahui dengan yakin
Setelah kita membahas “melihat” dan “mengetahui”, sekarang kita kenalan dengan Dara (دَرَى). Kata ini juga berarti “mengetahui dengan yakin”, tapi punya aturan main yang sedikit berbeda dari dua saudaranya yang tadi.
-» Agar Dara bisa memiliki dua objek, dia harus bermakna “meyakini sepenuhnya” (‘Alima ‘Ilma I’tiqad).
Contoh dari Syair Arab (Pujian):
Seorang penyair memuji seseorang bernama Amru:
دُرِيتَ الوَفِيَّ العهدِ يا عَمْرُو، فاغتَبطْ
“Engkau diyakini sebagai orang yang sangat menepati janji, wahai Amru, maka berbahagialah…”
Kalimat ini menggunakan bentuk pasif (Durita).
* Objek 1: Kata ganti “Engkau” (Ta’ pada Durita).
* Objek 2: الوَفِيَّ (Al-Wafiyya / yang menepati).
-» Penggunaan Paling Populer (Pakai Huruf Jar)
Meski bisa punya dua objek, dalam percakapan sehari-hari, orang Arab lebih sering menggunakan Dara dengan bantuan huruf jar “Ba” (بـ) untuk satu objek saja.
- دريتُ به (Daraitu bihi) – “Aku mengetahuinya.”
🛑 Hati-hati! “Dara” Juga Punya Arti Lain
Jangan sampai salah konteks ya, karena Dara bisa berubah makna jadi sama sekali berbeda:
-» Bermakna “Menipu/Menjebak” (Khital): Cuma butuh satu objek.
- Contoh: دريتُ الصيدَ (Daraitush-shaida) – “Aku menjebak buruan itu.”
-» Bermakna “Menggaruk” (Hakka): Cama butuh satu objek.
- Contoh: درى رأسَه (Dara ra’sahu) – “Dia menggaruk kepalanya (dengan sisir/alat).”
Jadi, Dara itu fleksibel. Dia bisa jadi kata kerja “Hati” yang butuh dua objek (untuk keyakinan), bisa pakai huruf jar (untuk informasi umum), atau bahkan jadi kata kerja “Fisik” (kalau soal garuk-garuk atau berburu!).
💡 Tips: Kalau kamu baca buku sastra dan menemukan Dara dalam bentuk pasif seperti Durita, biasanya itu sedang membahas reputasi atau keyakinan orang terhadap seseorang.
4. “Ta’allam”: Perintah untuk Meyakini
Sobat pembelajar, kata kerja Ta’allam (تَعَلَّمْ) yang satu ini agak beda dari biasanya. Kalau biasanya kita artikan “Belajarlah”, dalam kategori kata kerja ‘afalul qulub, dia bermakna “Ketahuilah dan yakini!”.
-» Agar bisa punya dua objek, Ta’allam harus bermakna perintah untuk meyakini sesuatu dengan mantap.
Contoh dari Syair Arab:
تَعَلَّمْ شفاءَ النَّفسِ قَهرَ عَدُوِّها
“Ketahuilah (dan yakini) bahwa obat bagi jiwa adalah menaklukkan musuhnya.”
* Objek 1: شفاءَ (Syifaa’a / Obat).
* Objek 2: قَهرَ (Qahra / Menaklukkan).
-» Penggunaan Paling Populer (Pakai “An” / أَنَّ)
Nah, ini yang paling sering muncul. Alih-alih menyebutkan dua objek secara terpisah, Ta’allam sering diikuti oleh “An” (أَنَّ) beserta kalimatnya.
Dalam Nahwu, rangkaian ini disebut Sadda Masaddal Maf’ulaini (menggantikan posisi dua objek). Contoh dari Hadis (Tentang Dajjal):
تَعلّموا أنّ رَبكم ليس بأعورَ
“Ketahuilah (yakini) bahwa Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.”
Contoh dari Syair:
تَعَلَّمْ أَنَّ خيرَ النّاسِ مَيْتٌ … على جفْرِ الهَباءَةِ لا يَرِيمُ
Ketahuilah dan yakinilah, bahwa orang terbaik itu kini telah tiada…” “Ia telah dimakamkan di sumur Al-Haba’ah, dan tidak akan pernah kembali lagi.”
🛑 Bedakan dengan تعلّم “Belajar”!
Ingat, Ta’allam hanya menjadi kata kerja hati jika bermakna “Ketahuilah/Yakini”. Kalau maknanya “Belajarlah” (proses menuntut ilmu), maka dia cuma butuh satu objek.
- Contoh: تعلموا العربيةَ (Ta’allamul ‘Arabiyyata) – “Belajarlah bahasa Arab.” (Di sini cuma ada satu objek: Bahasa Arab).
Jadi kalau ketemu kata تَعَلَّمْ (perintah), jangan langsung diartikan “belajarlah”. Cek dulu setelahnya, kalau dia membahas sebuah fakta atau keyakinan (apalagi kalau ada kata أَنَّ), berarti maknanya adalah “Camkan dan yakini ini!”.
5. “Wajada”: Menemukan Kebenaran dengan Hati
Sobat ilmualat, kita sering mengartikan Wajada (وجد) sebagai “menemukan”. Tapi dalam kategori kata kerja ‘afalul qulub, “menemukan” di sini bukan berarti menemukan kunci yang hilang, melainkan menemukan kesimpulan atau keyakinan di dalam jiwa.
Agar Wajada bisa punya dua objek, dia harus bermakna “Meyakini” atau “Menyadari sepenuhnya”.
- Contoh: وجدتُ الصدقَ زينةَ العُقلاء “Aku meyakini bahwa kejujuran adalah perhiasan bagi orang-orang berakal.”
* Objek 1: Kejujuran (الصدق).
* Objek 2: Perhiasan (زينة).
Contoh dari Al-Qur’an: QS. Al-A’raf: 102.
وَإِن وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ
“…dan sesungguhnya Kami mendapati (meyakini) kebanyakan mereka benar-benar orang yang fasik.”
⚠️ Awas Terkecoh! “Wajada” Punya Banyak Wajah
Nah, bagian ini penting banget buat kamu catat. Kalau maknanya bukan “Keyakinan Hati”, maka jumlah objeknya bukan dua. Coba lihat bedanya:
-» Menemukan Barang (Wujudan/Wijdanan): Menemukan sesuatu yang hilang.
- Contoh: وجدت الكتاب “Aku menemukan buku.” (Cuma 1 objek).
-» Marah atau Dendam (Mawjidatan):
Contoh dalam Hadis:
فلا تجد عليّ
“Maka janganlah engkau marah/mendendam kepadaku.”
-» Sedih atau Cinta (Wajdan):
- Contoh: وجد به (Wajada bihi) – “Dia merasa sedih karenanya” atau “Dia sangat mencintainya.”
-» Kaya/Cukup (Jidatan):
- Contoh: وجد جدة (Wajada jidatan) – “Dia menjadi kaya dan merasa cukup.”
💡 Tips: Trik paling gampang untuk membedakan Wajada yang butuh dua objek adalah dengan melihat Masdar (kata dasarnya). Kalau dia bermakna “menemukan sebuah kebenaran” (Al-Wujud atau Al-Wijdan), barulah dia masuk kelompok Af’alul Qulub.
Terakhir, kita tutup keluarga Af’alul Yaqin dengan anggota keenam, yaitu “Alfa” (ألفى). Kata ini punya nuansa “mendapati” yang sangat kuat, mirip dengan Wajada, tapi seringkali digunakan untuk sesuatu yang ditemukan dalam kondisi tertentu.
6. “Alfa”: Mendapati Kebenaran Berdasarkan Temuan Batin
Sobat ilmualat, kita sampai pada anggota terakhir dari kelompok ‘afalul qulub yaitu Alfa (ألفى).
Secara harfiah, kata ini sering diartikan “mendapati”. Namun, dalam dunia Nahwu (sebagai kata kerja hati), dia membawa makna “meyakini setelah mendapati kenyataannya”.
Agar Alfa bisa memiliki dua objek, maknanya harus berupa keyakinan atau kesimpulan yang kita dapati tentang sesuatu.
- Contoh Kalimat: ألفيتُ قولَك صواباً
“Aku mendapati (meyakini) bahwa ucapanmu itu benar.”
* Objek 1: Ucapanmu (قولك).
* Objek 2: Benar (صواباً).
🛑 Bedakan dengan “Mendapati” Secara Fisik
Sama seperti saudara-saudaranya, Alfa juga bisa berubah fungsi jika maknanya hanya sekadar menemukan benda atau bertemu seseorang secara fisik. Jika maknanya “menemukan” atau “menjumpai”, maka dia hanya butuh satu objek.
- Contoh Fisik: ألفيتُ الكتابَ (Alfaytul kitaaba) – “Aku menemukan buku itu.”
Contoh dalam Al-Qur’an: QS. Yusuf: 25.
وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ
“Dan keduanya mendapati (bertemu) tuan wanita itu (suaminya) di depan pintu.”
Di sini Alfa hanya butuh satu objek, yaitu “Sidaha/Tuannya”, karena ini adalah pertemuan fisik, bukan keyakinan hati.
Rangkuman Seri Af’alul Yaqin:
Kita sudah tuntas berkenalan dengan 6 Kata Kerja ‘Afalul Yakin yang mampu mengubah dua kata (Mubtada & Khabar) menjadi dua objek. Mari kita absen sekali lagi:
- رأى (Ra’a) – Meyakini/Melihat dengan hati.
- علم (‘Alima) – Mengetahui dengan yakin.
- درى (Dara) – Menyadari dengan pasti.
- تعلم (Ta’allam) – Camkan/Yakini (dalam bentuk perintah).
- وجد (Wajada) – Menemukan kesimpulan hati.
- ألفى (Alfa) – Mendapati kenyataan yang diyakini.
Kunci utama dari semua kata kerja ini adalah konteks. Jika mereka bicara soal isi hati dan pikiran, siapkan dua objek. Tapi jika bicara soal indra dan fisik, cukup satu objek saja.
Kedua: Af’aludz Dhon (أفعال الظن)
Wah, setelah kita mantap dengan “kepastian” di Af’alul Yaqin, sekarang kita masuk ke area yang agak “abu-abu” tapi seru, yaitu Af’aludz Dhon (Kata Kerja Persangkaan).
Di kelompok ini, kita bicara tentang hal-hal yang kemungkinan besarnya terjadi, tapi belum 100% pasti.
Kelompok Pertama:
Af’aludz Dhon bermakna yakin
ketuanya yaitu Dhonna (ظَنّ).
1. Dhonna (ظَنّ): Antara Prasangka Dan Yakin
Secara umum, Dhonna artinya “Mengira” atau “Menyangka”.
Contoh dari Syair Arab (Sindiran):
ظَنَنْتُكَ، إن شَبَّتْ لظى الحربِ، صالِياً … فَعَرَّدْتَ فيمن كانَ فيها مُعرَّدا
“Aku mengira kamu itu pemberani yang bakal terjun ke kancah perang, eh ternyata kamu malah lari tunggang langgang bersama yang lain.”
* Objek 1: Kaf (Kamu).
* Objek 2: Shaaliyan (Pemberani/Yang ikut berperang).
Dhonna yang Bermakna Yakin!
Meskipun sering diartikan “sangka”, dalam Al-Qur’an kata Dhonna sering kali berarti Yakin 100%. Kenapa? Karena bagi orang beriman, perjumpaan dengan Allah itu bukan sekadar dugaan, tapi kepastian hati.
Contoh dari Al-Qur’an QS. Al-Baqarah: 46.
يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو رَبِّهِمْ
“Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya.”
وَظَنُّوا أَن لَّا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ. التوية ١١٨
“Dan mereka meyakini bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja.”
🛑 Hati-hati! Dhonna Bermakna “Menuduh”
Sama seperti kata kerja sebelumnya, kalau maknanya berubah jadi aksi fisik atau sosial, jumlah objeknya ikut berubah. Jika Dhonna bermakna “Menuduh/Mencurigai” (Ittahama), maka dia cuma butuh satu objek.
- Contoh: ظنَّ القاضي فلاناً – “Hakim itu mencurigai/menuduh si fulan.”
Contoh dalam Al-Qur’an:
وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِظَنِينٍ. التكوير ٢٤
“Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang dicurigai/tertuduh atas hal-hal yang gaib.”
Kalau ketemu kata Dhonna, lihat siapa yang bicara. Kalau itu tentang orang beriman yang membicarakan akhirat, biasanya maknanya adalah Yakin. Tapi kalau dalam konteks manusia biasa, biasanya maknanya adalah Mengira.
2. Khala (خال): Antara Imajinasi dan Realita
Sobat ilmualat, kata kerja Khala (خالَ) ini punya nuansa yang unik. Kalau Dhonna itu murni persangkaan, Khala ini lebih ke arah “membayangkan sesuatu itu terjadi”. Tapi tetap saja, dia punya dua kepribadian: kadang ragu, kadang yakin.
Secara umum, Khala digunakan saat kita mengira-ngira sesuatu berdasarkan apa yang kita lihat.
Contoh dari Syair Arab (Tentang Cinta):
Penyair ini berkata kepada temannya:
“إخَالُكَ، إِنْ لَمْ تُغْمِضِ الطَّرْفَ، ذَا هَوًى … يَسُومُكَ مَا لَا يُسْتَطَاعُ مِنَ الْوَجْدِ
“Aku melihat tanda-tanda itu padamu… jika kau terus memandanginya dan tak segera memalingkan mata, kau akan terjerat dalam cinta. Cinta yang nantinya akan memaksamu merasakan pahitnya rindu dan pedihnya asmara yang tak sanggup lagi kau tanggung sendiri.”
Syair ini adalah contoh sempurna bagaimana kata إخالُ (Ikhaalu) digunakan untuk mengungkapkan sebuah dugaan kuat (Rajahan).
Penyair melihat seseorang yang matanya terus memandang dengan penuh kagum, lalu dia menyimpulkan: “Kayaknya kamu lagi jatuh cinta, deh. Dan hati-hati, cinta itu berat!”
* Objek 1: Kaf (Kamu).
* Objek 2: Dza hawan (Pemilik cinta/Orang jatuh cinta).
Khala yang Bermakna Yakin!
Sama seperti si ketua (Dhonna), Khala juga bisa naik level menjadi Yakin sepenuhnya.
Contoh dari Syair (Curhatan Seseorang): Seorang pria tua yang dipanggil “Paman” oleh gadis-gadis muda merasa heran, lalu dia berkata:
دعاني العواني عَمَّهنَّ. وخِلْتُني … لِيَ اسمٌ، فَلا أُدْعَى به وَهُوَ أَولُ
“Gadis-gadis itu memanggilku paman mereka, padahal aku meyakini bahwa aku punya nama sendiri, tapi kenapa aku tidak dipanggil dengan namaku saja?”
* Objek 1: Ya’ Mutakallim (Diriku).
* Objek 2: Kalimat Liya Ismun (Aku punya nama).
Di sini, penyair bukan “menduga” dia punya nama, tapi dia yakin sekali kalau dia punya nama!.
Kata Khala sering kali muncul dalam bentuk “Ikhaalu” (إخالُ) yang berarti “Aku mengira/membayangkan”. Ini adalah gaya bahasa yang sangat elegan dalam sastra Arab untuk mengungkapkan sebuah penilaian terhadap seseorang.
Jadi, kalau kamu mau bilang “Aku mengira kamu orang baik” dengan gaya yang lebih puitis, kamu bisa pakai Ikhaaluka (إخالك).
3. Hasiba (حسب): Antara Dugaan dan Kepastian
Sobat ilmualat, kata kerja Hasiba (حَسِبَ) adalah penutup dari tiga serangkai kata kerja yang punya “dua kepribadian”. Secara umum, dia digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang kita sangka benar, padahal kenyataannya mungkin berbeda.
Hasiba (حَسِبَ) sebagai Dugaan Kuat (Rajahan)
Ini adalah penggunaan yang paling sering. Kita mengira sesuatu karena melihat tampilan luarnya saja.
Contoh dari Al-Qur’an QS. Al-Baqarah: 273.
يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ. البقرة ٢٧٣
“Orang yang tidak tahu, menyangka mereka (orang-orang fakir) sebagai orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta).”
* Objek 1: Hum (Mereka).
* Objek 2: Aghniyaa’ (Orang-orang kaya).
وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ. الكهف ١٨
“Dan kamu menyangka mereka bangun, padahal mereka tidur.”
Hasiba yang Bermakna Yakin!
Sama seperti Dhonna dan Khala, kata Hasiba juga bisa naik level menjadi Yakin sepenuhnya atau sebuah prinsip hidup yang tak tergoyahkan.
Contoh dari Syair Arab (Prinsip Hidup):
Seorang penyair bijak berkata:
حَسِبْت التُّقَى والجودَ خيرَ تِجارةٍ … رباحاً، إِذا ما الْمَرْءُ أَصبح ثاقِلا
“Aku meyakini bahwa takwa dan kedermawanan adalah sebaik-baik perdagangan (yang paling menguntungkan) di saat seseorang telah menjadi ‘berat’ (meninggal dunia)”
* Objek 1: At-Tuqa wal Juuda (Takwa dan kedermawanan).
* Objek 2: Khaira Tijaratin (Sebaik-baik perdagangan).
Di sini penyair bukan lagi “menduga-duga”, tapi dia sudah sampai pada tahap kesimpulan hidup yang mantap.
Selesai! Kita sudah menuntaskan 3 kata kerja yang mayoritas bermakna Dugaan tapi bisa bermakna Yakin.
Setelah ini, kita akan masuk ke kelompok kata kerja yang Murni Dugaan saja (tidak bisa bermakna yakin), seperti: Ja’ala, Hajaa, ‘Adda, Za’ama, dan Hab.
Kelompok Kedua:
Af’aludz Dhon yang maknanya murni dugaan (tidak bisa bermakna yakin).
1. Ja’ala (جعل): Mengira
Sobat ilmualat, kita bertemu lagi dengan kata Ja’ala (جعل). Kalau biasanya kita mengartikan Ja’ala sebagai “menjadikan” atau “membuat”, kali ini dia punya peran berbeda, yaitu bermakna “Menyangka/Mengira”.
Dalam konteks ini, Ja’ala digunakan untuk menunjukkan anggapan yang salah terhadap suatu fakta. Di sini dia butuh dua objek.
Contoh dari Al-Qur’an:
وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثًا
“Dan mereka menganggap malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai jenis kelamin perempuan.” (QS. Az-Zukhruf: 19).
* Objek 1: Al-Malaikata (Malaikat).
* Objek 2: Inaatsan (Perempuan).
(Ini adalah dugaan yang salah dari orang-orang musyrik kala itu).
⚠️ Jangan Sampai Tertukar! 4 Peran “Ja’ala”
Di sinilah ketelitianmu diuji. Ja’ala punya empat peran berbeda yang menentukan jumlah objek dan struktur kalimatnya:
1. Bermakna “Menciptakan/Mewujudkan” (Khalaqa/Awjada): Cuma butuh satu objek.
- Contoh: وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ (“Dia menciptakan gelap dan terang”).
2. Bermakna “Mewajibkan/Menetapkan” (Aujaba): Cuma butuh satu objek.
- Contoh: اجعل لنشر العلم نصipاً من مالك (“Tetapkanlah sebagian hartamu untuk penyebaran ilmu”).
3. Bermakna “Mengubah” (Shayyara):
Ini masuk kelompok Af’alut Tahwil (akan kita bahas nanti). Dia butuh dua objek tapi maknanya “mengubah A menjadi B”.
4. Bermakna “Mulai Melakukan” (Insya’/Syuru’):
Ini termasuk Fi’il Naqish (saudaranya Kaana). Dia tidak punya objek, tapi punya Isim dan Khabar berupa kalimat fi’il mudhari’.
- Contoh: جعلتِ الامةُ تمشي… (“Umat itu mulai berjalan…”).
💡 Tips: Kalau ketemu kata Ja’ala di Al-Qur’an atau teks sastra, jangan buru-buru diartikan “menjadikan”. Lihat objeknya! Kalau dia menghubungkan dua hal yang merupakan sebuah anggapan (seperti malaikat dianggap perempuan), maka dia sedang menjadi Kata Kerja Dugaan.
2. Hajaa (حجا): Ketika Ekspektasi Tak Sesuai Realita
Sobat ilmualat, pernah nggak kamu sangat percaya pada seseorang, tapi ternyata dia mengecewakanmu? Nah, untuk mengungkapkan “persangkaan” semacam ini, orang Arab sering menggunakan kata Hajaa (حَجا).
Dalam kategori kata kerja ‘afalul qulub, Hajaa bermakna “Mengira” atau “Menyangka”. Kata ini biasanya diikuti oleh kekecewaan setelahnya.
Contoh dari Syair Arab (Curhatan Si Kecewa): Seorang penyair mengeluhkan temannya yang bernama Abu Amr:
قد كُنتُ أحجُو أبا عَمْرٍ أَخا ثِقَةٍ … حَتَّى أَلمَّتْ بِنا يوماً مُلِماتُ
“Dulu aku mengira Abu Amr adalah saudara yang bisa dipercaya…” (Kalimat lanjutannya: “…sampai akhirnya musibah menimpa kami, dan dia pun menghilang”).
* Objek 1: Aba ‘Amrin (Abu Amr).
* Objek 2: Akha thiqatin (Saudara yang terpercaya).
⚠️ Awas! “Hajaa” Bisa Berubah Jadi “Mengusir” atau “Pelit”
Ini yang unik dari bahasa Arab. Beda konteks, beda pula jumlah objeknya. Hajaa punya banyak makna lain:
1. Bermakna “Mengadu Kecerdasan” (Mufathanah): Cuma butuh satu objek.
- Contoh: حاجيتُه فحجوتُه (“Aku beradu cerdas dengannya, dan aku mengalahkannya”).
2. Bermakna “Mencegah/Menolak” atau “Menghalau”: Cuma butuh satu objek.
- Contoh: حجوتُ فلاناً (“Aku menolak/menghalau si fulan”).
3. Bermakna “Menyembunyikan/Menjaga“: Cuma butuh satu objek.
- Contoh: حجوتُ السرَّ (“Aku menjaga rahasia itu”).
4. Bermakna “Mendorong” (Saaqa): Cuma butuh satu objek.
- Contoh: حجتِ الريحُ السفينةَ (“Angin mendorong kapal itu”).
Bahkan, dia bisa jadi Fi’il Lazim (tidak butuh objek sama sekali) jika:
- Bermakna “Bermukim/Tinggal”: حجا بالمكان “Hajaa bil makaan” (Dia menetap di suatu tempat).
- Bermakna “Pelit/Kikir”: Hajaa bisy-syai’ (Dia sangat pelit dengan sesuatu).
💡 Tips: Kata Hajaa itu seperti pedang bermata banyak. Tapi kalau kamu menemukannya dalam bentuk أحجو (Ahjuu) diikuti dua orang atau dua sifat, berarti penyairnya lagi “curhat” soal ekspektasinya yang gagal.
3. Adda (عَدَّ): Menilai atau Menganggap
Kita semua tahu kalau ‘Adda (عَدَّ) artinya “menghitung”. Tapi, tahukah kamu kalau dalam bahasa Arab, “menghitung” seseorang bisa berarti “menganggap” dia memiliki sifat tertentu? Di sinilah ‘Adda masuk kategori ‘afalul qulub yang butuh dua objek.
Ketika kamu memberikan sebuah status atau penilaian kepada seseorang, kamu bisa menggunakan kata ini.
Contoh dari Syair Arab (Nasihat tentang Persahabatan): Seorang penyair memberikan tips cara memilih sahabat sejati:
فَلا تَعْدُدِ الْمَوْلى شَريكَكَ في الغنى … وَلكنَّما الْمَوْلى شَريكُكَ في العُدْم
“Janganlah kau menganggap sahabat itu adalah orang yang bersamamu saat kaya saja…” “..tapi sahabat sejati adalah dia yang bersamamu saat kamu tak punya apa-apa”).
* Objek 1: Al-Maula (Sahabat/Teman).
* Objek 2: Syarikaka (Sekutumu/Teman bagimu).
⚠️ Bedakan dengan “Menghitung” Fisik!
Sangat mudah membedakannya: jika yang dihitung adalah benda nyata (fisik), maka dia hanya butuh satu objek.
-» Bermakna “Membilang/Menghitung” (Ahsho): Cuma butuh satu objek.
- Contoh: عددتُ الدراهمَ (‘Adadtu ad-darahima) – “Aku menghitung uang dirham itu.”
* Di sini tidak ada anggapan atau penilaian, murni hanya menghitung jumlah.
-» Kata ‘Adda adalah cara yang halus untuk bilang “aku menilaimu sebagai…”.
- Kalau kamu bilang: “Aku menghitung uang” → Pakai 1 objek.
- Kalau kamu bilang: “Aku menganggapmu saudara” → Pakai 2 objek.
4. Za’ama (زعم): Mengklaim
Ada satu kata dalam bahasa Arab yang sering kali menjadi “lampu kuning” bagi pendengarnya. Kata itu adalah Za’ama (زَعَمَ). Meski artinya “Mengira” atau “Mengklaim”, kata ini punya nuansa yang sangat unik.
Dalam kategori ‘afalul qulub, Za’ama digunakan untuk mengungkapkan sebuah persangkaan atau klaim yang kemungkinan besar salah atau bohong.
Contoh dari Syair Arab (Protes si Awet Muda): Seorang penyair merasa tidak terima dianggap tua oleh seorang wanita:
زَعَمَتْني شَيْخاً، ولست بِشَيْخٍ … إنَّما الشَّيْخُ مَنْ يَدِبُّ ذَبيبا
“Dia menuduhku sudah tua (kakek-kakek), padahal aku belum setua itu! Karena yang pantas disebut orang tua itu hanyalah mereka yang kalau berjalan sudah gemetar dan merangkak pelan karena tak bertenaga lagi.”
* Objek 1: Ni (Aku/Dhamir Ya’ Mutakallim).
* Objek 2: Syaikhan (Orang tua/Kakek).
⚠️ “Zama’u”: Kendaraan Para Pendusta
Di kalangan orang Arab, ada pepatah terkenal: “Zama’u mathiyyatu al-kadzib” (Kata ‘mereka bilang/mereka mengklaim’ adalah kendaraannya kedustaan).
Makanya, di dalam Al-Qur’an, kata Za’ama sering digunakan untuk mengutip ucapan orang-orang yang perkataannya dicela atau tidak benar. Jadi, kalau kamu memakai kata Za’ama, kamu seolah-olah sedang bilang: “Dia sih ngakunya begitu, tapi kayaknya bohong deh.”
Meski begitu, kadang Za’ama juga bisa berarti “berkata” secara netral tanpa ada unsur tuduhan bohong, tapi ini lebih jarang.
🛑 Beda Makna, Beda Cerita!
Jangan salah ya, kalau Za’ama berubah konteksnya, dia tidak lagi butuh dua objek:
1. Bermakna “Memimpin” (Ta’ammara): Butuh satu objek pakai huruf jar.
- Contoh: زعم على القوم (“Dia memimpin kaum itu”). Dari sinilah muncul kata Za’im (Pemimpin).
2. Bermakna “Menjamin/Menanggung” (Kafala): Butuh satu objek pakai huruf jar.
- Contoh: زعم بالمال (“Dia menjamin/menanggung harta itu”).
3. Bermakna “Mulai Enak” (Tentang Susu): Ini termasuk kata kerja Lazim (tanpa objek).
- Contoh: زعم اللبنُ (“Susu itu mulai terasa enak/matang”).
💡 Tips: Gunakan Za’ama kalau kamu mau menceritakan klaim seseorang yang kamu ragukan kebenarannya. Ini adalah cara “elegan” dalam bahasa Arab untuk menunjukkan sikap skeptis.
5. Hab (هَبْ): Perintah yang Penuh Imajinasi
Kita sampai pada anggota terakhir di kelompok kata kerja dugaan, yaitu Hab (هَبْ). Kata ini unik banget karena hanya digunakan dalam bentuk Fi’il Amr (perintah). Dalam konteks ini, artinya bukan “Berilah”, tapi “Anggaplah” atau “Bayangkanlah”.
Ketika kamu meminta seseorang untuk mengasumsikan atau menganggap sesuatu terjadi (meskipun aslinya tidak), gunakanlah kata ini. Di sini, dia butuh dua objek.
Contoh dari Syair Arab (Permohonan Perlindungan): Seorang penyair meminta bantuan kepada Abu Khalid:
فَقُلتُ أَجِرْني أَبا خالدٍ … وإِلاّ فَهَبْني امرَءًا هالِكا
“Aku berkata: Lindungilah aku wahai Abu Khalid… jika tidak, maka anggaplah aku sebagai orang yang binasa”
* Objek 1: Ni (Aku/Dhamir Ya’ Mutakallim).
* Objek 2: Imra’an Haalikan (Orang yang binasa).
⚠️ Jangan Tertukar! Tiga Wajah “Hab”
Karena bentuknya Hab, jangan sampai kamu salah mengartikan dengan kata lain yang mirip:
1. Berasal dari Kata “Wahaba” (Pemberian): Ini artinya “Berilah”. Dia juga butuh dua objek, tapi bukan kata kerja hati (bukan dugaan).
Gaya Paling Fasih: Menggunakan huruf lam untuk objek pertama.
- Contoh: هَبْ للفقراءِ مالاً (“Berilah orang-orang fakir itu harta”).
2. Berasal dari Kata “Haiba” (Kewibawaan/Takut): Artinya “Takutilah” atau “Seganlah”. Ini cuma butuh satu objek.
- Contoh: هَبْ ربَّكَ (“Takutilah Tuhanmu”).
Rangkuman Seri Af’aludz Dhon (Kata Kerja Dugaan).
Kita sudah menyelesaikan seluruh daftar kata kerja dugaan. Mari kita absen kelompok “Murni Dugaan” ini:
- جعل (Ja’ala) – Menganggap (seringnya salah anggapan).
- حجا (Hajaa) – Mengira (seringnya berakhir kecewa).
- عدّ (‘Adda) – Menganggap/Menilai.
- زعم (Za’ama) – Mengklaim (seringnya diragukan kebenarannya).
- هب (Hab) – Anggaplah/Bayangkanlah (selalu bentuk perintah).
Sekarang kamu sudah punya “senjata” lengkap untuk mengungkapkan berbagai level keyakinan dan dugaan dalam bahasa Arab. Dari yang 100% yakin (Yaqin) sampai yang cuma kira-kira atau pengandaian (Dhon).
Selesai sudah pembahasan Af’alul Qulub! Materi selanjutnya yang nggak kalah seru adalah Af’alut Tahwil (Kata Kerja Perubahan), yaitu kata-kata yang maknanya “mengubah sesuatu menjadi sesuatu”.
Walahu’alam.
Zizo: 20-04-2026
Referensi:
انظر: كتاب جامع الدروس العربية [مصطفى الغلاييني]، ج ١ ص ٣٦ وما بعدها





Responses (2)