BismilahiRahmaniRahim. In Syaa Allah akan dibahas materi tasghir isim, wazan dan contohnya dari rujukan Kitab An-Nahwu Al-Wadhih dan Alfiyah Ibnu Malik”
Pernah terpikir nggak sih, betapa ajaibnya satu huruf dalam sebuah bahasa? Di Bahasa Arab, ada satu keistimewaan yang mungkin nggak bakal kamu temukan di bahasa lain, namanya Kaidah Tasghir.
Bayangkan, cuma dengan modal otak-atik harakat dan nyelipin satu huruf saja, makna sebuah kata bisa langsung berubah drastis! Ini benar-benar bukti kalau Bahasa Arab itu efisien dan super presisi. Yuk, kita bedah pelan-pelan!
1. Definisi Tasghir
Apa Itu Tasghir?
التَّصْغيرُ: تَحْوِيلُ الاسْمِ المُعْرَبِ إِلى “فُعَيْل” أو “فُعَيْعِل” للدَّلالَةِ عَلَى صِغر مَدْلولهِ, أو قِلَّتِهِ, أوْ حقَارَتِهِ
Secara bahasa, Tasghir (التَّصْغيرُ) adalah proses mengubah kata benda (isim mu’rab) menjadi pola tertentu seperti Fu’ail (فُعَيْل) atau Fu’ai’il (فُعَيْعِل).
Tujuannya simpel tapi ngena: buat menunjukkan kalau benda itu kecil secara fisik, jumlahnya sedikit, atau bahkan untuk menunjukkan kesan meremehkan (hina).
Contoh simpelnya:
Kata Sungai (نَهْرٌ – Nahrun) kalau kamu ubah jadi Sungai Kecil, kamu nggak perlu nambahin kata sifat panjang-panjang. Cukup ubah jadi Nuhairun (نُهَيْرٌ). Praktis banget, kan?
2. Wazan (Pola) Dasar Tasghir
Ibnu Malik menjelaskan tiga pola utama (Fu’ail, Fu’ai’il, dan Fu’ai’iil) dalam bait ke-833 & 834:
فُعَيْلٌ اجْعَلْ لِثُلاثِيٍّ، وَفِي * غَيْرِ الثُّلاثِيِّ فُعَيْعِلٌ جُفِي
وَمَا بِهِ مَدٌّ بَقِي رَابِعًا * فَمَدُّهُ يَا ثَالِثًا قَدْ شُيِّعَا
* Jadikanlah (pola) Fu’ail untuk isim tsulasi (3 huruf), dan untuk selain tsulasi gunakanlah pola Fu’ai’il.
* Dan jika ada huruf mad di urutan keempat, maka jadikanlah huruf mad tersebut menjadi Ya pada urutan ketiga (dalam pola Fu’ai’iil).
Kaidah ini berlaku buat kata benda (isim), baik yang hurufnya normal (shahih) maupun yang punya huruf penyakit (mu’tal). Nah, polanya tergantung dari berapa jumlah huruf aslinya.
1. Wazan فُعَيْلٌ (Fu’ailun)
Pola ini adalah “template” dasar kalau kamu mau mengecilkan kata yang punya tiga huruf asli (Isim Tsulasi). Caranya:
- Huruf pertama dikasih dhommah.
- Huruf kedua dikasih fathah.
- Selipkan Ya’ Sukun setelah huruf kedua.
Daftar Perubahan Kata (Biar Makin Paham!)
Biar nggak bingung, coba intip gimana kata-kata di bawah ini berubah jadi versi “imut” atau kecilnya:
- Gunung (جَبَلٌ), Jubailun (جُبَيْلٌ) = Gunung kecil.
- Bulan (قَمَرٌ), Qumairun (قُمَيْرٌ) = Bulan kecil.
- Serigala (ذِئْبٌ), Dzu’aibun (ذُؤَيْبٌ) = Serigala kecil.
- Beruang (دُبٌّ), Dubaibun (دُبَيْبٌ) = Beruang kecil.
- Gembok (قُفْلٌ), Qufailun (قُفَيْلٌ) = Gembok kecil.
Kasus Spesial: Tetap Pakai Wazan Fu’ail meski hurufnya lebih dari tiga!
Kaidah dasarnya:
يصغر تصغير الثلاثي كل اسم ثلاثي الأصُول خُتم بِتَاءِ التأنيث، أو ألفه المقصورة أو الممدودة أو الألف والنون الزَّائِدَتَيْنِ، وكُلُّ جَمْعِ تكسير على وزن أَفعالٍ فَلا يُكْسَرُ فِيهِ ما بَعْدَ ياء التصغير، بل يَبْقَى عَلَى أَصْلِهِ مفتوحا
Nah, ini dia yang menarik! Ada beberapa kata yang hurufnya lebih dari tiga (karena ada tambahan di belakangnya), tapi tetap diproses pakai pola Fu’ail. Bedanya, huruf setelah Ya’ Tasghir tetap dibaca fathah sesuai aslinya. Yuk cek kategorinya:
-» Apabila berkhiran Ta’ Marbuthah (Ta’ Ta’nits):
- Bunga (وَرْدَةٌ) -» وُرَيْدَة (Wuraidah)
- Kamar (غُرْفَةٌ) -» غُرَيْفَةٌ (Ghuraifah)
-» Jika berakhiran Alif Maqshurah atau Mamdudah:
- Dekat (قُرْبَى) -» قُرَيْبَى (Quraiba)
- Padang Pasir (صَحَرَاءُ) -» صُحَيْرَاءُ (Suhaira)
- Merah (حَمْرَاءُ) -» حُمَيْرَاءُ (Humaira)
-» Berakhiran Tambahan Alif dan Nun:
- Utsman (عُثْمَانُ) -» عُثَيْمَانُ (Utsaiman)
- Haus (عَطْشَانُ) -» عُطيْشَانُ (Uthaishan)
-» Jamak Taksir Berwazan أَفْعَالٌ:
- Kuda-kuda (أَفْرَاسٌ) -» أُفَيْرَاسٌ (Ufairasun)
- Anak-anak (أطْفَالٌ) -» أُطيْفَالٌ (Uthaifalun
Eits, Ada Syaratnya! Ketentuan Khusus Untuk Isim Berakhiran Alif & Nun.
Kaidah dasarnya:
يشترط في المختوم بألف ونون زائدتين هنا، ألا يختم مؤنثه بتاء التأنيث نحو خمصان الذي مؤنثه خمصانة, فإنه حينئذ يصغر على خميصين، ويشترط أيضا ألا يجمع على فَعَالِين كسرحان وسلطان، فإنهما يصغران على سريحين وسليطين، على أن هذين النوعين قليلان في اللغة
Meskipun terlihat bisa langsung masuk pola Fu’ail (فُعَيْلٌ), ternyata ada dua syarat “ketat” yang harus dipenuhi agar ia tidak “salah alamat” ke wazan lain.
1. Syarat Bentuk Perempuan (Muannats)
Isim yang berakhiran Alif dan Nun bisa masuk pola Fu’ail asalkan bentuk perempuannya TIDAK diakhiri dengan Ta Marbuthah. Kalau muannatsnya pakai Ta Marbuthah: Maka dia tidak ikut pola Fu’ail, melainkan ikut pola Fu’ai’il (فُعَيْعِلٌ).
Contoh Kasus:
- Kata خَمْصَانُ (Khomshānu – Orang yang lapar/perut kosong), karena bentuk muannatsnya adalah خَمْصَانَةٌ (Khomshānatun), maka tasghirnya menjadi: خُمَيْصِنٌ (Khumaishinun).
2. Syarat Bentuk Jamak
Syarat kedua, isim tersebut TIDAK BOLEH memiliki bentuk Jamak dengan pola Fa’ālīn (فَعَالِيْن). Kalau jamaknya pola Fa’aliin: Maka dia harus “pindah jalur” ke pola Fu’ai’iil (فُعَيْعِيْلٌ).
Contoh Kasus:
- سُرْحَانٌ (Surhānun – Serigala/Singa), karena jamaknya سَرَاحِيْنُ (Sarāhīnu), maka tasghirnya: سُرَيْحِيْنٌ (Suraihīnun).
- سُلْطَانٌ (Sulthānun – Pemimpin/Sultan), karena jamaknya سَلَاطِيْنُ (Salāthīnu), maka tasghirnya: سُلَيْطِيْنٌ (Sulaithīnun).
Kesimpulan Singkat: Walaupun kasus seperti ini tergolong sedikit atau jarang dalam bahasa Arab (qalīl), memahami detail ini akan membuatmu terlihat seperti ahli sharaf yang sangat teliti!
2. Wazan فُعَيْعِلٌ (Fu’ai’il)
Kaidah dasar:
يصغر تصغير الرباعي كلُّ اسْم لَحِقَتْهُ بعد أربعة أحرف تاء التأنيث، أو ألفه الممدودة، أو ياء النسب، أو الألف والنون الزائدتان
Pola ini adalah “cetakan” dasar kalau kamu mau mengecilkan kata yang punya empat huruf asli (Isim Ruba’i). Caranya:
- Huruf pertama kasih dhommah.
- Huruf kedua kasih fathah.
- Selipkan Ya’ Sukun (Ya’ Tasghir) setelah huruf kedua.
- Huruf setelah Ya’ dikasih harakat kasrah.
Cek daftar perubahannya biar makin kebayang:
- Kikir (Alat): مِبْرَدٌ (Mibrad) → مُبَيْرِدٌ (Mubairid)
- Landak: قَنْفُذٌ (Qonfudz) → قُنَيْفِذٌ (Qunaifidz)
- Rumah: مَنْزِلٌ (Manzil) → مُنَيْزِلٌ (Munaizil)
- Burung Bulbul: بُلْبُلٌ (Bulbul) → بُلَيْبِلٌ (Bulaibil)
Kasus Spesial: Hurufnya Lebih dari Empat, Tapi Polanya Tetap!
Nah, ini dia yang unik! Sama seperti kasus sebelumnya, ada beberapa kata yang kalau dihitung hurufnya itu lebih dari empat karena ada “bonus” di belakangnya. Tapi tenang, mereka tetap diproses pakai pola Fu’ai’il yang tadi.
Berikut kategori kata-kata “bonus” tersebut:
-» Berakhiran Ta’ Marbuthah (Ta’ Ta’nits):
- Jembatan: قَنْطَرَةٌ → قُنَيْطِرَةٌ (Qunaitirah)
- Tempat Tinta: مِحْبَرَةٌ → مُحَيْبِرَةٌ (Muhaibirah)
-» Kata berakhiran Alif Ta’nits Mamdudah (اء):
- Hari Rabu: أَرْبِعَاءُ → أُرَيْبِعَاءُ (Uraibi’a)
- Duduk Berjongkok: قُرْفُصَاءُ → قُرَيْفِصَاءُ (Quraifisha)
-» Berakhiran Ya’ Nisbah (Menunjukkan asal/bangsa):
- Orang Maroko: مَغْرِبِيٌّ → مُغَيْرِبِيٌّ (Mughairibiy)
- Pengikut Ja’far: جَعْفَرِيٌّ → جُعَيْفِرِيٌّ (Ju’aifiriy)
-» Kata berakhiran Tambahan Alif dan Nun:
- Penjaga (Al-Haris): دَيْدَبَانٌ → دُيَيْدِبَانٌ (Duyaidiban)
- Kuma-kuma/Safron: زَعْفَرَانُ → زُعَيْفِرَانُ (Zu’aifiran)
Kenapa Ini Penting?
Meskipun kelihatannya cuma nambahin huruf, tapi di Bahasa Arab, ini tuh cara paling efisien buat ngasih tahu “rasa” dari kata itu tanpa perlu penjelasan panjang lebar. Benar-benar bukti kalau sistem wazan atau pola kata itu super cerdas!
3. Wazan فُعَيْعِيْلٌ (Fu’ai’iil)
Kalau sebelumnya kita pakai Fu’ai’il (dengan satu huruf ‘i’), nah Wazan Fu’ai’iil ini punya ciri khas suara “ii” yang panjang di akhir. Pola ini adalah “cetakan” khusus untuk mengecilkan kata benda yang aslinya punya lima huruf (Isim Khumasi).
Cara perubahannya mirip, tapi ada penyesuaian sedikit:
- Huruf pertama kasih dhommah.
- Huruf kedua kasih fathah.
- Selipkan Ya’ Sukun (Ya’ Tasghir) setelah huruf kedua.
- Huruf keempat diubah menjadi Ya’ Mati (kalau aslinya bukan Ya’) supaya sinkron dengan suara “ii” panjangnya.
Cek Contoh Perubahannya (Biar Nggak Bingung!)
Nah, di sini ada sedikit “magic” perubahan huruf agar pengucapannya enak didengar. Perhatikan kata-kata berikut:
- Burung Pipit: عَصْفُوْرٌ (Ashfuurun) → عُصَيْفِيْرٌ (Ushaifiirun)
Lho, kok huruf ‘Wawu’-nya hilang? Tenang, huruf Wawu pada Ashfuur diubah jadi Ya’ supaya cocok dengan harakat kasrah sebelumnya. Jadi bunyinya lebih luwes!
- Kunci: مِفْتَاحُ (Miftaahun) → مُفَيْتِيْحٌ (Mufaitiihun)
Sama seperti tadi, huruf Alif pada Miftaah juga “menyerah” dan berubah jadi Ya’ demi menyesuaikan diri.
Kenapa Polanya Berubah Gitu?
Di Bahasa Arab, harmoni suara itu penting banget. Perubahan huruf Alif atau Wawu menjadi Ya’ dalam tasghir lima huruf ini tujuannya cuma satu: penyesuaian harakat. Karena huruf sebelum huruf terakhir harus dibaca kasrah (i), maka pasangan paling serasi untuk suara itu adalah huruf Ya’.
3. Tashgir Isim Mutal
A. Isim Mu’tal yang huruf kedua terdiri dari huruf illat atau alif
Ibnu Malik bersyair dalam bait ke-846:
وَرُدَّ ثَانِيًا لأَصْلِهِ إِنِ * انْقَلَبَ عَنْ أصلٍ، وَإِلا فَالْوَاوُ هِيَ السَّكَن
Kembalikanlah huruf kedua ke asalnya jika ia merupakan perubahan dari huruf asli. Jika tidak (diketahui asalnya), maka Wawu adalah tempat kembalinya.
Pernah bingung kenapa kata Bābun (Pintu) kalau dikecilkan bukan jadi Baibun, tapi malah jadi Buwaibun?
Nah, dalam ilmu Sharaf, ada aturan khusus untuk kata yang huruf keduanya berupa huruf penyakit (illat) atau Alif. Yuk, kita bedah satu per satu aturannya dengan bahasa yang santai!
Kaidah dasar:
إذا كان ثاني الاسْم حَرْفَ عِلَّةِ مُنْقَلِباً عَنْ حَرْفٍ مِنْ أحْرُفِ الْعِلَّةِ، رُدَّ إِلى أَصْلِهِ عِنْدَ التَّصْغِيرِ. إِذا كان ثاني الاسم ألِفاً مُنْقَلِبَةً عَنْ همزة، أو زائدة، أوْ مَجْهُولَةَ الأَصْلِ، قلبت واوا في التَّصغِير
Rumus gampangnya begini: Jika huruf kedua adalah hasil perubahan dari huruf lain, maka saat di-Tasghir (proses pengecilan makna), dia harus “insyaf” alias balik ke bentuk aslinya.
1. Kembalikan huruf Illat ke asalnya
Kadang, sebuah huruf terlihat seperti Alif atau Ya, padahal aslinya Wawu (atau sebaliknya).
-» Alif aslinya Wawu:
- بَابٌ (Bābun – Pintu) → بُوَيْبٌ (Buwaibun – Pintu kecil)
- غَارٌ (Ghārun – Gua) → غُوَيْرٌ (Ghuwairun – Gua kecil)
-» Ya aslinya Wawu:
- قِيْمَةٌ (Qīmatun – Harga/Nilai) → قُوَيْمَةٌ (Quwaimatun – Nilai kecil)
- مِيْتَةٌ (Mītatun – Bangkai) → مُوَيْتَةٌ (Muwaitatun – Bangkai kecil)
-» Wawu aslinya Ya:
- مُوْسِرٌ (Mūsirun – Orang kaya) → مُيَيْسِرٌ (Muyaisirun – Orang yang agak kaya)
- مُوْقِنٌ (Mūqinun – Orang yang yakin) → مُيَيْقِنٌ (Muyaiqinun – Orang yang agak yakin)
2. Alif yang Berasal dari Hamzah Double
Jika ada Alif yang aslinya adalah dua Hamzah yang berjejer (seperti pada kata kerja yang dibendakan), maka Alif tersebut berubah menjadi Wawu.
- آكَلُ (Ākalu – Yang paling banyak makan) → أُوَيْكِلُ (Uwaikilu)
- آمَنُ (Āmanu – Yang paling aman) → أُوَيْمِنُ (Uwaiminu)
Asalnya adalah أَأْكَلُ, karena berat diucapkan maka jadi Alif, lalu saat Tasghir jadi Wawu).
3. Alif Tambahan (Zaidah)
Kalau Alif-nya cuma tambahan (seperti pada pola Isim Fa’il/Pelaku), cara tasghir-nya simpel: Langsung ganti jadi Wawu.
- فَاضِلٌ (Fādhilun – Orang yang utama) → فُوَيْضِلٌ (Fuwaidhilun)
- قَائِمٌ (Qā’imun – Orang yang berdiri) → قُوَيْئِمٌ (Quwai’imun)
4. Alif yang “Misterius” (Tidak Diketahui Asalnya)
Ada beberapa kata yang Alif-nya nggak jelas asalnya dari mana. Untuk cari aman, para ulama bahasa sepakat mengubahnya menjadi Wawu.
- سَاجٌ (Sājun – Pohon Jati / Alat pukul kayu) → سُوَيْجٌ (Suwaijun)
- صَابٌ (Shābun – Jenis pohon pahit/ekstrak pohon) → صُوَيْبٌ (Shuwaibun)
Kesimpulan Singkat: Tasghir bukan cuma soal menambah huruf Ya Sukun, tapi juga soal kejujuran asal-usul huruf. Kalau huruf keduanya “palsu”, kembalikan ke aslinya. Kalau tambahan atau nggak jelas, jadikan Wawu.
Gampang, kan? Sekarang coba cek kata-kata di kitabmu, ada nggak yang punya pola mirip seperti di atas? ✍️
B. Isim Mu’tal yang huruf ketiga terdiri dari huruf illat
Ada fenomena unik di sini: apapun huruf ketiganya (Alif atau Wawu), dia hampir selalu “menyerah” dan berubah jadi Ya bertasydid (يّ) saat di-tasghir.
Yuk, simak penjelasan lengkap beserta artinya!
Kaidah dasar:
إذا كان ثالثُ الاسْمِ أَلألف المنقلبة عن أصل ترد إلى أصلها، فإن كان أصْلُها ياءً أُدغمت في ياء التصغير، وإنْ كانَ وَاواً قُلبت ياءً ثمَّ أُدْغِمَتْ، وإن كانَ ثالِثُهُ أَلِفاً زَائِدَةً أوْ وَاواً قُلبتا ياءً وَأُدْغِمَتَا في ياء التصغير، وإن كان ثالِثُهُ ياءً أُدْغِمَتْ في ياءِ التَّصْغِير
Aturan Main: Semuanya Jadi “Ya” Lalu Idgham (Dilebur). Idgham, yaitu proses menggabungkan dua huruf yang sama menjadi satu dengan tanda tasydid.
-» Alif yang Asalnya “Ya”
Jika huruf ketiga adalah Alif hasil perubahan dari “Ya”, maka ia balik ke asalnya lalu melebur dengan Ya Tasghir.
- هَوَى (Hawā – Keinginan/Cinta) → هُوَيٌّ (Huwayyun – Keinginan kecil)
* Proses: Asalnya هُوَيْيٌ (pola Fu’ail), dua “Ya” digabung jadi satu. - مَطَارٌ (Mathārun – Bandara/Tempat terbang) → مُطَيِّرٌ (Muthoiyyirun – Bandara kecil)
* Proses: Alif di sini aslinya “Ya”, dilebur saat tasghir.
-» Alif yang Asalnya “Wawu”
Jika Alif tersebut aslinya adalah “Wawu”, ia tetap harus berubah menjadi “Ya” agar bisa melebur dengan Ya Tasghir.
- عَصَا (‘Ashā – Tongkat) → عُصَيَّةٌ (‘Ushaiyyatun – Tongkat kecil)
* Proses: Asalnya ‘Ushaiwah → berubah jadi ‘Ushaiyah → dilebur jadi ‘Ushaiyyah. - مَقَالٌ (Maqālun – Ucapan/Perkataan) → مُقَيِّلٌ (Muqaiyyilun – Ucapan singkat)
* Proses: Alif (asal Wawu) berubah jadi “Ya” lalu dilebur.
-» Alif atau Wawu Tambahan (Zaidah)
Jika huruf ketiganya bukan huruf asli melainkan huruf tambahan (Zaidah), maka keduanya wajib berubah jadi “Ya” dan dilebur.
- غَزَالٌ (Ghazālun – Rusa) → غُزَيِّلٌ (Ghuzayyilun – Rusa kecil/Anak rusa)
* Alif di sini tambahan, langsung jadi “Ya” bertasydid. - حَسُوْدٌ (Hasūdun – Orang pendengki) → حُسَيِّدٌ (Husayyidun – Pendengki kelas teri)
* Wawu tambahan berubah jadi “Ya” agar bisa melebur.
-» Jika Huruf Ketiga Memang Sudah “Ya”
Ini skenario paling simpel, tinggal “tabrakan” saja “Ya” asli tersebut dengan Ya Tasghir, maka otomatis langsung menjadi Ya bertasydid.
Kesimpulan: Dalam Tasghir, huruf ketiga itu sangat “setia” pada huruf Ya. Apapun jenis huruf ketiganya (Alif atau Wawu), akhirnya pasti akan melebur menjadi satu suara “Ya” yang kuat (tasydid). Gampang diingat, kan? Tinggal cari huruf ketiganya, ubah jadi “Ya”, kasih tasydid, beres!
4. Tasghir Isim Muannats Tiga Huruf
Ibnu Malik bersyair dalam bait ke-841:
وَتَاءُ تَأْنِيثٍ لِمَا ثُلاثِي * وَصَفَ لَهُ مِنْ مُؤَنَّثٍ تُحَاذِي
Berikanlah Ta Ta’nits untuk isim tsulasi yang menunjukkan sifat bagi muannats (perempuan).
Dalam bahasa Arab, ada banyak kata benda perempuan (Muannats) yang secara fisik tidak punya akhiran Ta Marbuthah (ة). Tapi, pas mau di-tasghir, tanda perempuannya wajib dimunculkan sebagai identitas!
Kaidah dasar:
إِذَا صُغر الاسم الثلاثي المؤنث تأنيثا حقِيقِيّاً، أوْ مَجَازِيّاً وكانَ خَالياً مِنْ عَلامةِ التأنيثِ، لَحِقتْ آخرَهُ تاء التأنيث
Jika Isim Muannats 3 huruf (baik manusia maupun benda) tidak punya tanda muannats, maka saat ditasghir wajib ditambah Ta Marbuthah di akhirnya.
-» Muannats Haqiqi (Manusia):
- هِنْدٌ (Hindun – Nama wanita) → هُنَيْدَةٌ (Hunaidatun)
- فَوْزٌ (Fauz – Nama wanita Arab) → فُوَيْزَةٌ (Fuwaizatun)
- دَعْدٌ (Da’dun – Nama wanita) → دُعَيْدَةٌ (Du’aidatun)
-» Muannats Majazi (Benda yang dianggap perempuan):
- أُذُنٌ (Udzunun – Telinga) → أُذَيْنَةٌ (Udzainatun – Telinga mungil)
- عَيْنٌ (‘Ainun – Mata) → عُيَيْنَةٌ (‘Uyainatun – Mata mungil)
- أَرْضٌ (Ardhun – Bumi/Tanah) → أُرَيْضَةٌ (Uraidhatun – Tanah/Bumi kecil)
5. Tasghir Isim Yang Hurufnya Hilang
Ibnu Malik bersyari dalam bait ke-852:
وَرُدَّ مَا حُذِفَ فِي التَّصْغِيـرِ ** كَمَا يُرَدُّ فِي التَّكْسِيـرِ
Dan kembalikanlah huruf yang dibuang saat melakukan Tasghir, sebagaimana huruf tersebut dikembalikan saat membentuk Jamak Taksir.
Pernah lihat kata benda seperti isim lima yang cuma terdiri dari dua huruf seperti Abun (Ayah)? Sebenarnya, aslinya mereka punya tiga huruf, tapi ada satu huruf yang “dibuang”. Nah, saat ditasghir, huruf yang hilang itu wajib balik ke rumah!
A. Mengembalikan Huruf di Akhir (Lam Isim)
Cara tahu huruf apa yang hilang adalah dengan melihat bentuk gandanya (Tastniyyah/Mutsanna).
- أَبٌ (Abun – Ayah) → Bentuk gandanya Abawāni. Berarti huruf yang hilang adalah Wawu.
* Tasghir: أُبَيٌّ (Ubayyun – Ayah tersayang/kecil) - أَخٌ (Akhun – Saudara laki-laki) → Bentuk gandanya Akhawāni.
* Tasghir: أُخَيٌّ (Ukhayyun – Adik/Saudara kecil)
B. Mengembalikan Huruf di Awal (Fa Isim)
Ini sering terjadi pada kata benda (Mashdar) yang huruf pertamanya dibuang. Kita harus kembalikan huruf tersebut (biasanya Wawu) ke depan.
- عِدَةٌ (‘Idatun – Janji) → Dari kata Wa’ada (وَعَدَ).
* Tasghir: وُعَيْدَةٌ (Wu’aidatun – Janji kecil/singkat) - صِلَةٌ (Shilatun – Hubungan/Sambungan) → Dari kata Washala (وَصَلَ).
* Tasghir: وُصَيْلَةٌ (Wushailatun – Hubungan kecil) - هِبَةٌ (Hibatun – Pemberian) → Dari kata Wahaba (وَهَبَ).
* Tasghir: وُهَيْبَةٌ (Wuhaibatun – Pemberian kecil)
Catatan Detektif: Akhiran Ta Marbuthah pada kata seperti Hibatun atau ‘Idatun itu cuma tambahan saja, ya! Huruf aslinya tetap berpatokan pada akar kata kerjanya.
Gimana? Ternyata seru ya melihat bagaimana kata-kata dalam bahasa Arab “bermetamorfosis” saat dikecilkan
6. Tasghir Jamak Taksir
Beda Jumlah, Beda Aturan! 📚
Dalam bahasa Arab, jamak taksir (jamak yang berubah dari bentuk tunggalnya) punya “kasta” berdasarkan jumlahnya:
- Jamak Qillah: Untuk jumlah sedikit (3–10).
- Jamak Katsirah: Untuk jumlah banyak (3 sampai tak terhingga).
- Muntahal Jumu’: Untuk jumlah yang sangat banyak/puncak jamak.
Bagaimana cara “mengecilkan” mereka? Ini rahasianya:
Kaidah dasar:
جُمُوعُ الْقِلَّةِ تُصَغَّرُ عَلَى لَفْظِها، وجُمُوعُ الْكَثْرَةِ يُصَغَّرُ مُفْرَدُهَا، ثمَّ تُجْمَعُ جمع مؤنث سالما إذا كان مؤنثا أو مذكرا غير عاقل، وجمع مذكر سالما إذا كان مُذَكَّراً عَاقِلاً
A. Jamak Qillah (Si Jumlah Sedikit)
Untuk jamak tipe ini, aturannya langsung gas! Kamu bisa langsung mentasghir lafadznya sesuai jumlah hurufnya tanpa mengubah bentuk jamaknya.
- Pola أَفْعَالٌ: أَجْدَادٌ (Kakek-kakek) → أُجَيْدَادٌ (Kakek-kakek kecil/tersayang)
- Pola أَفْعِلَةٌ: أَزْمِنَةٌ (Zaman-zaman) → أُزَيْمِنَةٌ (Zaman-zaman singkat)
- Pola فِعْلَةٌ: غِلْمَةٌ (Para pemuda) → غُلَيْمَةٌ (Para pemuda kecil)
B. Jamak Katsirah & Muntahal Jumu’ (Si Jumlah Banyak)
Nah, kalau yang ini prosedurnya agak panjang. Kamu tidak bisa langsung mentasghirnya. Ada 3 langkah yang harus diikuti:
- Balikkan dulu ke bentuk tunggalnya (Mufrad).
- Tasghir bentuk tunggal tersebut.
- Ubah kembali ke bentuk Jamak Salim:
-» Pakai Jamak Muannats Salim, jika bendanya tidak berakal atau muannats.
-» Pakai Jamak Mudzakkar Salim, jika bendanya laki-laki berakal.
Contoh Biar Nggak Bingung:
-» غُرَفٌ (Kamar-kamar):
- Mufradnya: غُرْفَةٌ (Kamar)
- Tasghirnya: غُرَيْفَةٌ
- Jamaknya: غُرَيْفَاتٌ (Kamar-kamar kecil)
-» رِجَالٌ (Laki-laki/Pria):
- Mufradnya: رَجُلٌ (Pria)
- Tasghirnya: رُجَيْلٌ
- Jamaknya: رُجَيْلُوْنَ (Pria-pria kecil/kerdil)
-» مَسَاجِدُ (Masjid-masjid):
- Mufradnya: مَسْجِدٌ (Masjid)
- Tasghirnya: مُسَيْجِدٌ
- Jamaknya: مُسَيْجِدَاتٌ (Masjid-masjid kecil)
Catatan Penting untuk Si Alif Zaidah!
Ingat contoh خَدَمَةٌ (Pelayan) atau كُتَّابٌ (Penulis)?
-» خَدَمَةٌ → Tunggalnya خَادِمٌ. Karena huruf kedua alif tambahan, maka jadi wawu: خُوَيْدِمُوْنَ
-» كُتَّابٌ → Tunggalnya كَاتِبٌ. Tasghirnya jadi كُوَيْتِبُوْنَ
Huruf wawu muncul karena alif zaidah pada isim fa’il harus berubah jadi wawu saat ditasghir, seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya!
Kesimpulan: Kalau jumlahnya dikit (Qillah), langsung tasghir. Kalau jumlahnya banyak (Katsirah), harus “pulang” dulu ke bentuk tunggal baru dirakit lagi jadi jamak.
7. Tasghir Isim Mabni
Ketika Kata yang “Kaku” Menjadi “Mungil”
Sahabat ilmualat, secara teori dasar, yang boleh di-tasghir itu hanyalah Isim Mu’rab (kata benda yang akhiran harakatnya bisa berubah). Tapi uniknya, orang Arab punya pengecualian untuk beberapa Isim Mabni (kata yang harakat akhirnya tetap).
Ini dia daftar Isim Mabni yang “istimewa” karena punya bentuk Tasghir sendiri:
A. Isim Isyarah (Kata Tunjuk)
Bentuk tasghir ini biasanya digunakan untuk menunjukkan kedekatan atau rasa gemas pada benda yang ditunjuk.
- ذَا (Ini – Lk) → ذَيَّا (Dzhayya)
- تَا (Ini – Pr) → تَيَّا (Tayya)
- ذَانِ / تَانِ (Dua ini) → ذَيَّانِ / تَيَّانِ (Dzhayyani / Tayyani)
- أُولَاءِ (Mereka ini) → أُولَيَّاءُ (Ulaiyaa)
B. Isim Maushul (Kata Sambung)
- الَّذِي (Yang – Lk) → اللَّذَيَّا (Alladzayya)
- الَّتِي (Yang – Pr) → اللَّتَيَّا (Allatayya)
- الَّذِينَ (Mereka yang – Lk) → اللَّذَيُّونَ (Rofa’) / اللَّذَيِّينَ (Nashob/Jar)
C. Uslub Ta’ajjub (Ungkapan Kagum)
Biasanya digunakan untuk mengekspresikan kekaguman yang terasa lebih personal atau imut.
- مَا أَحْسَنَ خَلْقَهُ (Alangkah indahnya ciptaannya!) → مَا أُحَيْسِنَ خَلْقَهُ (Alangkah elok/mungil indahnya ciptaannya!)
D. Nama Berakhiran “Waih” (Isim Alam Tarkib Mazji)
- سِبَوَيْهِ (Sibawaih – Nama ulama Nahwu) → سُيَيْبَوَيْهِ (Suyaibawaih)
⚠️ Catatan Penting: Tidak Semua Bisa Di-Tasghir!. Meskipun terlihat seru, ada dua batasan penting yang harus kamu tahu:
-» Sudah Berwazan Tasghir dari Asalnya
Beberapa nama atau kata tidak perlu di-tasghir lagi karena bentuk aslinya sudah mengikuti pola tasghir.
- حُذَيْفَة (Hudzaifah)
- جُنَيْنَة (Junainah – Taman kecil)
- كُلَيْب (Kulaib – Anjing kecil)
- شُعَيْب (Syu’aib)
- مُهَيْمِن (Muhaimin)
- مُسَيْطِر (Musaithir – Berkuasa/Dominan)
-» Dilarang Secara Makna
Kata-kata yang memiliki derajat kemuliaan atau keagungan tinggi tidak boleh di-tasghir karena tasghir bisa bermakna “penghinaan” atau “pengecilan” yang tidak layak bagi mereka.
- الله (Allah)
- مَلَائِكَة (Malaikat)
- أَنْبِيَاء / نَبِيّ (Para Nabi / Nabi)
Kesimpulan Akhir Seri Tasghir:
Belajar Tasghir itu mengajarkan kita bahwa bahasa Arab sangat dinamis. Ada aturan umum, tapi ada juga sentuhan rasa (rasa sayang, rasa kagum, rasa kecil) yang diwadahi dalam perubahan kata yang sangat detail.
8. Tujuan Tasghir
Sebagai penutup seri belajar Tasghir kita, rasanya kurang lengkap kalau kita tidak membahas apa sih tujuannya?
Kenapa orang Arab harus repot-repot mengubah kata kalau ujung-ujungnya maknanya tetap mirip?
Ternyata, Tasghir itu soal perasaan dan presisi. Inilah 5 alasan utama penggunaan Tasghir dalam percakapan sehari-hari:
1. Menyatakan Dekatnya Waktu (بيان قرب الزمان)
Tasghir digunakan untuk menunjukkan bahwa sesuatu terjadi “sedikit sebelum” atau “sedikit sesudah” waktu tertentu. Lebih akurat daripada kata biasa!
- قُبَيْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ (Qubaila ghurūbish syamsi)
* Artinya: Sesaat sebelum matahari terbenam. (Lebih dekat waktunya dibanding sekadar kata Qabla).
2. Menyatakan Dekatnya Tempat (بيان قرب المكان)
Sama seperti waktu, Tasghir juga dipakai untuk menunjukkan posisi yang sangat dekat dengan suatu titik.
- تُحَيْتَ الشَّجَرَةِ (Tuhaitasy syajarati)
* Artinya: Tepat sedikit di bawah pohon. - بُعَيْدَ الْمَدْرَسَةِ (Bu’aidal madrasati)
* Artinya: Sedikit agak jauh (setelah) sekolah.
3. Memandang Kecil (التحقير)
Digunakan untuk menunjukkan bahwa subjek tersebut masih kecil, junior, atau bahkan untuk meremehkan.
- يَا وُلَيْدِي (Yā Wulaidī) → Wahai anak kecilku.
- يَا بُنَيَّ (Yā Bunayya) → Wahai putra kecilku.
4. Mengekspresikan Rasa Ngeri atau Takut (التهويل)
Uniknya, Tasghir juga bisa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang besar/ngeri dengan nada sarkas atau penekanan tertentu.
- نُكَيْبَةٌ (Nukaibatun)
* Artinya: Bencana (dari kata Nakbah).
Meskipun bentuknya tasghir (kecil), dalam konteks ini ia bisa bermakna bencana yang mengerikan.
5. Mengungkapkan Kasih Sayang & Pujian (التحبب)
Ini yang paling sering dipakai! Tasghir adalah cara terbaik untuk memanggil orang tersayang agar terdengar lebih manis dan manja.
- يَا عُزَيْزَتِي (Yā ‘Uzaizatī)
* Artinya: Wahai sayangku/kekasihku yang mulia. (Dari kata ‘Azizah yang artinya mulia, diubah jadi ‘Uzaizah agar terdengar lebih penuh cinta).
Wallahu’alam bish-shawab. Semoga pembahasan panjang kita tentang Tasghir ini bermanfaat dan bikin pemahaman Bahasa Arab kamu makin upgrade!
Referensi:
- Ali Al-Jarim, An-Nahwu Al-Wadhih fi Qawa’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah [Ali Al-Jarim], Jilid 2, Hal. 376.
- Al-Ghalayaini, Syekh Mushthafa. Jami’ al-Durus al-Arabiyyah. Beirut: Al-Maktabah al-Ashriyyah.
- Ibnu Malik, Muhammad bin Abdullah. Matan al-Alfiyah (Alfiyah Ibnu Malik).
- Ibnu Hisyam, Al-Anshari. Syarah Qathru al-Nada wa Ballu al-Shada.





Response (1)