Dalam tata bahasa Arab (Nahwu), Isim Fi’il (bahasa Arab: اسم الفعل) adalah kategori kata unik yang secara semantik mengandung arti pekerjaan dan terikat dengan waktu (lampau, sekarang, atau akan datang), namun secara struktural tidak dapat menerima tanda-tanda fisik fi’il (kata kerja) sebagaimana mestinya.
1. Definisi
Isim Fi’il adalah kata mabni (statis/tidak berubah harakat akhirnya) yang menunjukkan makna fi’il dan beramal (berfungsi) seperti fi’il, tetapi tidak menerima ciri-ciri khusus fi’il (seperti tidak bisa dimasuki Ya Mukhatabah atau Ta Fail).
Selain itu, Isim Fi’il bersifat kebal terhadap Amil Nawashib (penashab) maupun Jawaazim (penjazam) yang biasanya memengaruhi harakat akhir pada kata kerja mudhari’.
2. Karakteristik Penggunaan
Berbeda dengan fi’il asli yang harus berubah bentuk (konjugasi) mengikuti jumlah pelakunya, Isim Fi’il memiliki sifat Jamid (kaku). Ia hanya memiliki satu bentuk tunggal (mufrad) yang dapat digunakan untuk merujuk pada:
- Satu orang (Mufrad)
- Dua orang (Mutsanna)
- Kelompok/Banyak orang (Jamak)
3. Klasifikasi Berdasarkan Bentuk Asal (Sighah)
Berdasarkan asal-usul pembentukannya, Isim Fi’il terbagi menjadi tiga kategori:
A. Manqul (Alih Fungsi)
Yaitu kata yang pada dasarnya memiliki fungsi lain (seperti Jar Majrur atau Dzaraf), kemudian dialihfungsikan menjadi Isim Fi’il.
- Dari Jar Majrur: عَلَيْكَ (‘Alaika) bermakna اِلْزَمْ (Pegang teguhlah/Lakukanlah).
- Dari Dzaraf: أَمَامَكَ (Amāmaka) bermakna تَقَدَّمْ (Majulah).
- Dari Huruf Ha Tanbih: هَا (Hā) bermakna خُذْ (Ambillah). Contoh: Hā al-kitāb (Nih kitabnya, ambil).
B. Murtajal (Asli)
Yaitu kata yang sejak awal diciptakan dalam bahasa Arab khusus untuk menunjukkan makna fi’il.
- هَيْهَاتَ (Haihāta): Bermakna “Jauh sekali”.
- صَهْ (Shah): Bermakna “Diamlah”.
- أُفٍّ (Uffin): Bermakna “Aku kesal/bosan”.
C. Qiyasi (Berdasarkan Pola)
Jenis Isim Fi’il yang dapat dibentuk kapan saja mengikuti pola atau wazan فَعَالِ (Fa’āli). Syaratnya, kata tersebut harus dibentuk dari Fi’il Tsulasi Mujarrad (kata kerja tiga huruf dasar).
حَذَارِ (Hadzāri): Bermakna اِحْذَرْ (Awas/Berhati-hatilah). Kata ini bersifat mabni di atas harakat kasrah.
4. Klasifikasi Berdasarkan Waktu (Zaman)
Sebagaimana kata kerja asli, Isim Fi’il juga terikat dengan dimensi waktu:
A. Isim Fi’il Madhi (Masa Lampau)
Dalam tata bahasa Arab, Isim Fi’il Madhi (bahasa Arab: اسم فعل ماض) adalah kata yang menunjukkan makna perbuatan yang telah terjadi (masa lampau). Meskipun memiliki arti yang sama dengan Fi’il Madhi asli, kata ini tidak dapat menerima tanda-tanda fisik kata kerja lampau, seperti Ta’ Fa’il (تُ, تَ, تِ) maupun Ta’ Ta’nits (تْ).
Karakteristik dan Contoh Utama:
Dua contoh yang paling masyhur dalam kategori ini adalah:
- هَيْهَاتَ (Haihāta): Bermakna بَعُدَ (Jauh sekali/Tidak mungkin).
- شَتَّانَ (Syattāna): Bermakna اِفْتَرَقَ (Berbeda jauh/Terpisah jauh).
Penggunaan Khusus “Syattana”:
Dalam gaya bahasa Arab, kata شَتَّانَ terkadang diperkuat dengan menambahkan Lam Ibtida’ (لَ) di awalnya dan diikuti oleh Ma Maushulah (مَا) setelahnya.
* Contoh:
لَشَتَّانَ مَا بَيْنَ فِعْلِ الْمُؤْمِنِ وَالْكَافِرِ
Sungguh, terdapat perbedaan yang sangat jauh antara perilaku orang mukmin dan orang kafir)
Contoh Kalimat dan Analisis I’rab:
Berikut adalah analisis mendalam terhadap penggunaan Isim Fi’il Madhi dalam kalimat:
-> Contoh pada Kata “Haihata”
هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ
Jauh, jauh sekali [dari kebenaran] apa yang diancamkan kepada kalian.
هَيْهَاتَ أَنْ يَعُوْدَ مَا انْقَضَى
Apa yang telah berlalu tidak mungkin kembali.
هَيْهَاتَ : اسم فعل ماض بمعنى بَعُدَ مبني على الفتح لا محل له من الإعراب
أَنْ : حرف نصب و مصدرية واستقبال
يَعُوْدَ : فعل مضارع منصوب بأن، وعلامة نصبه فتحة ظاهرة في آخره، وأن وما بعدها في تأويل مصدر في محل الرفع فاعل لهيهات
* هَيْهَاتَ: Isim Fi’il Madhi bermakna Ba’uda (بَعُدَ), bersifat mabni di atas fatah, tidak memiliki kedudukan dalam I’rab (la mahalla lahu minal i’rab).
* أَنْ: Huruf nashab, masdariyah, dan istiqbal.
* يَعُوْدَ: Fi’il Mudhari’ yang dinashabkan oleh An.
* An dan kalimat setelahnya: Berkedudukan sebagai Masdar Mu’awwal yang menempati posisi Rafa’ sebagai Fa’il (subjek) dari Haihata.
-> Contoh pada Kata “Syattana”
شَتَّانَ مَا بَيْنَ الطُّفُوْلَةِ وَالشَّبَابِ
Terdapat perbedaan jauh antara masa kanak-kanak dan masa muda).
شَتَّانَ : اسم فعل ماض بمعنى بَعُدَ مبني على الفتح لا محل له من الإعراب
مَا : اسم موصول مبني على السكون في محل الرفع فاعل لشتان
بَيْنَ : ظرف مكان منصوب على الظرفية متعلق بفعل محذوف تقديره استقر. وجملة صلة موصول هو مضاف
الطفُوْلَةِ : مضاف إليه مجرور بالإضافة وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره الواو : حرف عطف
الشَّبابِ : معطوع على الطفُوْلَةِ
* شَتَّانَ: Isim Fi’il Madhi bermakna Iftaraqa/Ba’uda, bersifat mabni di atas fatah.
* مَا: Isim Maushul bersifat mabni di atas sukun, berkedudukan Rafa’ sebagai Fa’il dari Syattana.
* بَيْنَ: Dzaraf makan (keterangan tempat) yang dinashabkan, berkaitan dengan fi’il yang dibuang (takdirnya: Istaqarra). Ia juga berfungsi sebagai mudhaf.
* الطُّفُوْلَةِ: Mudhaf Ilaih, majrur dengan tanda kasrah.
* الشَّبَابِ: Ma’thuf (mengikuti hukum kata sebelumnya yaitu At-Thufulah
B. Isim Fi’il Mudhari’ (Masa Sekarang/Akan Datang)
Dalam tata bahasa Arab, Isim Fi’il Mudhari’ (bahasa Arab: اسم فعل مضارع) adalah kata yang menunjukkan makna perbuatan yang sedang atau akan terjadi. Meskipun memiliki arti yang sama dengan Fi’il Mudhari’ asli, kata ini tidak dapat menerima tanda-tanda fisik kata kerja mudhari’, seperti kemasukan huruf Sin (سـ), Saufa (سَوْفَ), atau Lam Jazm (لَمْ).
Karakteristik dan Contoh Utama:
Isim Fi’il Mudhari’ tergolong sedikit jumlahnya dalam penggunaan bahasa Arab dibandingkan jenis Amr. Beberapa contoh yang paling sering muncul adalah:
* أُفٍّ (Uffin): Bermakna أَتَضَجَّرُ (Aku merasa kesal/bosan/muak).
* آهٍ / أَوَّهْ (Āhin / Awwah): Bermakna أَتَوَجَّعُ (Aku merasa sakit/mengaduh).
* وَيْ / وَاهًا (Wai / Wāhan): Bermakna أَتَعَجَّبُ (Aku kagum/heran).
* بَخْ (Bakhin): Bermakna أَسْتَحْسِنُ (Aku memuji/menganggap baik).
Contoh Kalimat dan Analisis I’rab:
Berikut adalah analisis penggunaan Isim Fi’il Mudhari’ dalam teks:
-> Contoh pada Kata “Uffin”
فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ
Maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” [kesal]).
لا: ناهية جازمة
تقل : فعل مضارع مجزوم، والفاعل أنت
اللام : حرف جرّ هما: ضمير متّصل في محلّ جرّ متعلّق ب تقل
أفّ: اسم فعل مضارع بمعنى أتضجّر، مبني على تنوين الكسر
* أُفٍّ: Isim Fi’il Mudhari’ bermakna Atadhajjaru (أَتَضَجَّرُ), bersifat mabni di atas kasrah (dengan tanwin), tidak memiliki Mahal I’rab (la mahalla lahu minal i’rab).
* Fa’il (Subjek): Berupa dhamir mustatir (tersembunyi) secara wajib, takdirnya adalah أَنَا (Aku).
-> Contoh pada Kata “Wai”
وَيْ كَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
Aduhai, kiranya tidak beruntung orang-orang kafir itu.
* وَيْ: Isim Fi’il Mudhari’ bermakna Ata’ajjabu (أَتَعَجَّبُ), bersifat mabni di atas sukun.
* Fa’il (Subjek): Berupa dhamir mustatir, takdirnya adalah أَنَا (Aku).
-> Contoh pada Kata “Āhin”
آهٍ مِنْ قَسْوَةِ الْقَلْبِ
Aduh, [betapa sakitnya] karena kerasnya hati
* آهٍ: Isim Fi’il Mudhari’ bermakna Atawajja’u (أَتَوَجَّعُ), bersifat mabni di atas kasrah.
* Fa’il (Subjek): Berupa dhamir mustatir, takdirnya adalah أَنَا (Aku).
____________
Catatan Penting!
Isim Fi’il Mudhari’ umumnya bersifat Simā’i (tergantung pendengaran dari lisan orang Arab asli) dan tidak memiliki pola kiasan (qiyasi) seperti pada Isim Fi’il Amr. Selain itu, hampir semua Isim Fi’il Mudhari’ memiliki Fa’il berupa Dhamir Mustatir yang takdirnya adalah “Aku” (Ana).
C. Isim Fi’il ‘Amr (Kata Perintah)
Isim Fi’il ‘Amr (bahasa Arab: اسم فعل أمر) adalah kata yang menunjukkan makna perintah (command). Meskipun berfungsi sebagai kata perintah, ia tidak dapat menerima tanda-tanda fisik fi’il ‘amr asli, seperti tidak bisa dimasuki Ya Mukhatabah (untuk subjek perempuan) atau Nun Taukid (penegas).
Contoh dan Analisis I’rab:
Berikut adalah beberapa contoh Isim Fi’il ‘Amr yang umum digunakan beserta cara meng-i’rabnya:
صَهْ يَا خَالِدُ
Diamlah wahai Khalid
صَهْ : اسم فعل أمر بمعنى اسكت مبني على السكون لا محل له من الإعراب، وفاعله ضمير مستتر وجوبا تقديره أنت
* صَهْ: Isim fi’il amr bermakna uskut (اسكت), mabni di atas sukun, tidak memiliki kedudukan dalam i’rab.
* Fa’il: Dhamir mustatir secara wajib, takdirnya adalah أَنْتَ (kamu).
إِيْهِ أَيُّهَا الطَّالِبُ
Tanda tanganlah/teruskanlah wahai siswa
إِيْهِ : اسم فعل أمر بمعنى امض، مبني على الكسر لا محل له من الإعراب، وفاعله ضمير مستتر وجوبا تقديره أنت
* إِيْهِ: Isim fi’il amr bermakna imdhi (امض), mabni di atas kasrah.
هَاتِ الْكِتَابَ
Berikan buku itu
هَاتِ : اسم فعل أمر بمعنى أعط، مبني على الكسر لا محل له من الإعراب، وفاعله ضمير مستتر وجوبا تقديره أنت تَعَالَ يَا خَالِدُ
* هَاتِ: Isim fi’il amr bermakna a’thi (أعط), mabni di atas kasrah.
إِلَيْكَ عَنِّي
Menjauhlah kau dariku
* إِلَيْكَ: Isim fi’il amr bermakna ibta’id (ابتعد), mabni di atas sukun. Huruf Kaf di sini menempati posisi majrur dengan huruf jar.
Catatan Penting (At-Tanbih)!
1. Hati (هَاتِ) dan Ta’ala (تَعَالَ): Sebagian ahli nahwu memperbolehkan kedua kata ini di-i’rab sebagai Fi’il ‘Amr asli karena bisa menerima Ya Mukhatabah (Haatii/Ta’aalay).
2. Perubahan dari Dzaraf (Keterangan):
- Jika isim fi’il dibentuk dari dzaraf murni (seperti Amamaka, Wara’aka), maka dhamir Kaf di-i’rab sebagai Mudhaf Ilaih.
- Jika dibentuk dari susunan Jar wa Majrur (seperti Alaika, Ilaika), maka dhamir Kaf berada di posisi Majrur oleh huruf jar.
3. Makna Ganda: Kata آهٍ terkadang dikategorikan sebagai Mudhari’ (Aku merasa sakit) namun bisa juga bermakna Amr (Aku menderita/merintihlah) tergantung konteks kalimat dan i’rabnya.
Wallahu’alam. Semoga bermanfaat
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا
Daftar Pustaka:
1. Ibnu ‘Aqil, Bahauddin Abdullah. (2010). Syarah Ibnu ‘Aqil (Terjemahan). Jilid 2. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
* Halaman: 315–325 (Penjelasan mendalam mengenai definisi Isim Fi’il, pembagian waktu, serta perbedaan antara Isim Fi’il Murtajal dan Manqul).
2. Ibnu Hisyam al-Anshari, Jamaluddin. (2001). Syarah Qathr al-Nada wa Ball al-Shada. Kairo: Dar al-Hadits.
* Halaman: 142–148 (Membahas karakteristik Isim Fi’il yang tidak menerima tanda-tanda Fi’il asli serta daftar kosakata Isim Fi’il Amr yang populer).
3. Al-Ghalayini, Musthafa. (2005). Jami’ ad-Durus al-Arabiyyah. Jilid 1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
* Halaman: 155–160 (Kajian klasifikasi Isim Fi’il berdasarkan pola/wazan Fa’ali dan hukum i’rab dhamir kaf pada kata Amamaka dan Alaika).
4. Anwar, Moch. (2002). Ilmu Nahwu: Terjemahan Matan al-Ajrumiyyah dan Penjelasannya. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
* Halaman: 130–135 (Contoh praktis penggunaan Isim Fi’il dalam kalimat sehari-hari serta ringkasan maknanya).
5. Ni’mah, Fuad. (1973). Mulakhos Qawa’id al-Lughah al-Arabiyyah. Jilid 2. Beirut: Dar ats-Tsaqafah al-Islamiyyah.
* Halaman: 45–50 (Penjelasan mengenai status Mabni pada Isim Fi’il dan fungsinya yang menggantikan posisi kata kerja asli).





Responses (2)