BismilahiRahmaniRahim.
In Syaa Allah akan dibahas materi tentang uslub ististna, rukun dan hukum ‘irabnya.
Perhatikan contoh-contoh berikut:
ذَهَبَ الطُّلاَّبُ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدًا
Para siswa telah pergi ke sekolah kecuali Kholid
لَمْ يَحْضُرْ الطُّلاَّبُ إِلاَّ خَالِدٌ/خَالِدًا
Para siswa belum hadir kecuali Kholid
جَلَسَ الطُّلاَّبُ عَلَى الكُرْسِي سِوَى خَالِدٍ
Para siswa duduk di atas kursi kecuali Kholid
رَأَيْتُ الطلابَ فِى المَدْرَسَةِ غَيْرَ خَالِدٍ
Aku melihat para siswa di sekolah selain Kholid
رَجَعَ الطُّلاَّبُ إِلَى بُيُوْتِهِمْ عَدَا خَالِدًا/خَالِدٍ
Para siswa telah pulang ke rumahnya kecuali Kholid
Susunan kalimat seperti di atas, yang di dalamnya terdapat lafadz ( إِلاَّ / غَيْرُ / سِوَى / عَدا ) dan saudarinya dinamakan dengan ushlub ististna.
I. Definisi & Rukun Ististna
إخراج ما يكون من الكلمة بواسطة أداة استثناء
Uslub ististna yaitu pola kalimat yang di dalamnya terdapat sesuatu yang dikecualikan dengan menggunakan perangkat illa dan saudarinya.
Pada ushlub ististna terdapat tiga rukun utama yaitu mustastna (مُسْتَثْنَى), mustastna minhu (مُسْتَثْنَى مِنْهُ) dan perangkat ististna ( أَدَوَات استثناء )
1. Mustastna (مُسْتَثْنَى)
مُسْتَثْنَى : هو اسم يذكر بعد ‘ إلا ‘ إو إحدى أخواتها يخالف ما قبلها في الحكم
Mustastna yaitu isim yang posisinya berada setelah perangkat ististna yang status hukumnya dikecualikan dari mistasna minhu.
2. Mustastna Minhu (مُسْتَثْنَى مِنْهُ)
المستثنى منه : هو الاسم الذي يمشي علي الحكم ويخرج منه المسثتنى
Mustastna minhu yaitu isim yang berada dalam ketetapan hukum ististna, dimana mustastna sebagai bagian yang dikecualikan.
3. Perangkat Ististna (أَدَوَات استثناء)
هي أَدَوَات لإخراج مُسْتَثْنَى مِن حكم مُسْتَثْنَى مِنْهُ مثل إلا، غير، خلا، سوى، عدا
Perangkat ististna yaitu alat yang berfungsi mengecualikan mustastna, seperti:
إلا / غير / سوى / ليس / لا يكون / عدا / خلا / حاشا
II. Pola Kalimat Ististna
Terdapat dua pola utama pada uslub ististna yaitu ististna tam dan ististna naqish.
1. Ististna Tam (الاستثناء التام)
هو الاستثناء التام الذي يكون فيه المستثنى منه مذكوراً في الجملة أو يكون فيه أركان الثلاثة
Ististna tam yaitu pola susunan kalimat yang di dalamnya terdapat tiga rukun utama yaitu mustastna minhu, mustastna dan perangkat ististna, seperti:
ذَهَبَ الطُّلاَّبُ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدًا
الطُّلاَّبُ : مُسْتَثْنَى مِنْهُ
إِلاَّ : أداة استثناء
خَالِدًا : مُسْتَثْنَى
Berdasarkan positif dan negatif, kalimat ististna tam memiliki dua pola yaitu tam mujab dan tam manfi.
a). Tam Mujib (pola kalimat positif)
ما كانت جملته خالية من النفي وشبهه “وشبه النفي هنا: النهي؛ والاستفهام الذي يتضمن معنى النفي
Tam mujib yaitu pola kalimatnya tidak awali dengan perangkat nafyi, nahyi dan istifham bermakna nafyi, seperti:
ذَهَبَ الطُّلاَّبُ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدًا
Para siswa telah pergi ke sekolah kecuali Kholid
Disebut dengan tam sebab kalimatnya memuat ketiga rukun di atas, dan di sebut dengan mujib sebab kalimatnya positif.
b). Tam Manfi (pola kalimat negatif)
ما كانت جملته مشتملة على نفي أو شبهة
Tam manfi yaitu pola kalimatnya didahului perangkat nafyi, nahyi dan istifham bermakna nafyi, seperti:
مَا ذَهَبَ الطُّلاَّبُ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدًا
Para siswa tidak pergi ke sekolah kecuali Kholid
هَلْ تَأَخَّرَ الطُّلاَّبُ إِلاَّ خَالِدًا
Para siswa tidak terlambat kecuali kholid
Disebut dengan tam sebab kalimatnya memuat ketiga rukun di atas, dan disebut manfi sebab kalimatnya negatif.
Berdasarkan jenisnya, pola ististna tam terbagi menjadi dua jenis yaitu muttashil dan munqathi’
a). Ististna Tam Muttashil
التام المتصل : وهو الذي يكون فيه المستثنى من جنس المستثنى منه
Tam muttashil yaitu apabila mustasna merupakan bagian dari jenis mustasna minhu, seperti:
قَامَ التَّلاَمِيْذُ إِلاَّ خَالدًا
Para siswa telah berdiri kecuali Kholid. Artinya, Khalid merupakan bagian dari siswa.
فَحَصَ الطَّبِيْبُ الجِسْمَ إِلاَّ اليَدَ
Seorang dokter memeriksa tubuh kecuali tangan. Artinya, tangan merupakan bagian dari tubuh.
b). Ististna Tam Munqathi‘
التام المنقطع :هو الذي يكون فيه المستثنى غير المستثنى منه , أي ليس من جنسه
Tam munqathi’ yaitu apabila mustasna bukan merupakan bagian dari jenis mustasna minhu,seperti:
اِحْتَرَقَ البَيْتُ إِلاَّ الكُتُبَ
Rumah itu terbakar kecuali buku-buku. Artinya, buku bukan bagian dari stuktur rumah.
جَاءَ الضُّيُوْفُ إِلاَّ سَيَّارَاتِهِمْ
Para tamu telah datang kecuali mobil-mobil mereka. Artinya, mobil bukan merupakan jenis yang sama dengan tamu.
Contoh dalam Al-Quran:
لا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْواً إِلَّا سَلامًا. سورة مريم ٦٢
” Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam surga, kecuali ucapan salam “. Artinya, salam atau keselamatan bukan bagian dari pada hal yang tidak berguna.
فَسَجَدَ الْمَلآئِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ إِلاَّ إِبْلِيسَ. الحجر ٣٠
” Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya kecuali iblis “. Artinya, iblis bukan jenis atau bagian dari malaikat, sebabnya pola seperti ini disebut dengan ististna tam munqathi’ (terputus)
2). Ististna Mufarrag/Naqish (استثناء مفرغ/ناقص)
هو ما حذف من جملته المستثنى منه، والكلام غير موجب أو منفي
Ististna naqish yaitu pola susunan kalimatnya tidak dilengkapi dengan mustastna minhu, dan model seperti ini hanya terjadi pada kalimat negatif.
Dengan demikian, menurut Mayoritas Ulama Nahwu, kalimat seperti ini tidak dianggap masuk pada uslub ististna sebab hilangnya fungsi dari pada perangkat ististna dalam menghukumi isim mustasna. Sehingga kedudukan ‘irabnya sesuai posisi yang ia tempati, bisa sebagai fa’il, maf’ul bih, isim majrur dan lainya.
Perhatkan contoh ‘irab ististna naqish berikut:
مَا ذَهَبَ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدٌ
Tidak pergi ke sekolah kecuali Kholid
مَا : نافية
ذَهَبَ : فعل
إِلَى المَدْرَسَةِ : جار و مجرور
إِلاَّ : أداة الحصر
خَالِدٌ : فاعل
مَا اِشْتَرَيْتُ إِلاَّ سَيَّارَةً
Aku tidak membeli kecuali mobil
مَا : نافية
اِشْتَرَيْتُ : فعل + فاعل
إِلاَّ : أداة الحصر
سَيَّارَةً : مفعول به
مَا سَلَّمْتُ إِلاَّ عَلَى خَالِدٍ
Aku tidak bersalaman kecuali kepada kholid
مَا : نافية
سَلَّمْتُ : فعل + فاعل
إِلاَّ : أداة الحصر
عَلَى : حرف الجر
خَالِدٍ : مجرور
Lihat referensi:
عباس حسن، النحو الوافي، ج٢, ص ٣١٨
النحو العربي، ج٢, ص ٥ وما بعده
III. Hukum ‘Irab Mustastna (مستثنى)
Mustasna (yang dikecualikan) memiliki hukum ‘irab berbeda-beda tergantung perangkat ististna yang dipergunakan.
1. Hukum ‘Irab Mustastna dengan Huruf Illa (إِلاَّ)
a). Apabila penulisan huruf illa (إِلاَّ) tidak diulang-ulang, maka mustastna memiliki tiga hukum ‘irab:
- Pada kalimat tam mujib, baik muttashil atau munqathi’, menurut Mayoritas Ulama: ” ‘Irab mustastna wajib manshub”, seperti:
كَتَبْتُ الرَّسَائِلَ إِلاَّ رِسَالَةً وَاحِدَةً
تَنَاوَلْتُ الطَّعَامَ إِلاَّ المَاءَ
- Pada Kalimat tam manfi, baik muttashil atau munqathi’, hukum ‘irab mustastna boleh manshub atau mengikuti harkat ‘irab mustastna minhu. Namun apabila mengikuti, maka isim yang pada awalnya mustastna berubah menjadi badal.
Perhatikan contoh berikut:
-» Ketika manshub sebagai mustastna
مَا ذَهَبَ الطُّلاَّبُ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدًا
إِلاَّ : أداة الاستثناء
الطُّلاَّبُ : مستثنى منه
خَالِدًا : مستثنى
مَا رَأَيْتُ الطُّلاَّبَ إِلاَّ خَالِدًا
إِلاَّ : أداة الاستثناء
الطُّلاَّبَ : مستثنى منه
خَالِدًا : مستثنى
مَا سَلَّمْتُ عَلَى الطُّلاَّبِ إِلاَّ خَالِدًا
إِلاَّ : أداة الاستثناء
الطُّلاَّبِ : مستثنى منه
خَالِدًا : مستثنى
-» Ketika mengikuti ‘irab mustasna minhu dalam keadaan marfu’ sebagai badal
مَا ذَهَبَ الطُّلاَّبُ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدٌ
إِلاَّ : أداة الحصر
الطُّلاَّبُ : مبدل منه
خَالِدٌ : بدل بعض من كل
-» Ketika mengikuti ‘irab mustasna minhu dalam keadaan manshub sebagai badal
مَا رَأَيْتُ الطُّلاَّبَ إِلاَّ خَالِدًا
إِلاَّ : أداة الحصر
الطُّلاَّبُ : مبدل منه
خَالِدًا : بدل بعض من كل
-» Ketika mengikuti ‘irab mustasna minhu dalam keadaan majrur’ sebagai badal
مَا سَلَّمْتُ عَلَى الطُّلاَّبِ إِلاَّ خَالِدٍ
إِلاَّ : أداة الحصر
الطُّلاَّبِ : مبدل منه
خَالِدٍ : بدل بعض من كل
- Pada kalimat mufarag atau naqish, hukum ‘irab mustastna disesuaikan sesuai posisi yang ia tempati.
Perhatikan contoh berikut:
مَا ذَهَبَ إِلَى المَدْرَسَةِ إِلاَّ خَالِدٌ
إِلاَّ : أداة الحصر
خَالِدٌ : فاعل
مَا اِشْتَرَيْتُ إِلاَّ سَيَّارَة
إِلاَّ : أداة الحصر
سَيَّارَةً : مفعول به
مَا سَلَّمْتُ إِلاَّ عَلَى خَالِدٍ
إِلاَّ : أداة الحصر
خَالِدٍ : مجرور
Perangkat illa إِلاَّ pada kalimat naqish sama sekali tidak berfungsi seperti yang sudah disinggung diatas, sebab kalimat tersebut tidak memiliki mustastna minhu (keluar dari kaidah uslub ististna). Oleh karnanya, lafadz خالد dan سيارة di’irab sesuai posisinya masing-masing dan perangkat illa إِلاَّ dinamakan dengan perangkat hashr (أداة الحصر)
Bagaimana cara membedakan illa إِلاَّ ististna dengan Illa إِلاَّ hashr ?
- illa إِلاَّ ististna mengandung makna pengecualian secara umum, sementara illa إِلاَّ hashr mengandung makna pengecualian secara khusus.
- illa إِلاَّ ististna tidak masuk pada kalimat naqish, sementara illa إِلاَّ hashr justru terjadi pada pada naqish dan mesti negatif.
Cara termudah membedakan keduanya yaitu dengan membuang huruf illa إِلاَّ dan huruf nafyi dari kalimat tersebut. Apabila setelah dibuang memiliki arti yang masih bisa dimengerti, berarti itu illa إِلاَّ hashr, namun apabila tidak dimengerti berarti illa إِلاَّ ististna.
Perhatikan contoh1:
جاء الطلابُ إلا خالدا «- جاء الطلابُ خالدا
ما جاء الطلابُ إلا خالدا «- جاء الطلابُ خالدا
رأيت الطلابَ إلا خالدا «- رأيت الطلابَ خالدا
ما رأيت الطلابَ إلا خالدا «- رأيت الطلابَ خالدا
Pada keempat contoh ini bisa dipastikan jenis illa إِلاَّ ististna, sebab setelah dibuang, arti dari pada kalimat tidak dimengerti
Perhatikan contoh2:
ما جاء إلا خالدٌ «- جاء خالدٌ
Pada contoh ini dipastikan jenis illa إِلاَّ hashr, sebab setelah dibuang, arti dari pada kalimat bisa dimengerti.
b). Apabila penulisan huruf illa (إِلاَّ) diulang-ulang, maka mustastna yang terletak setelah huruf illa (إِلاَّ) yang kedua memiliki beberapa hukum ‘irab, dengan ketentuan sebagai berikut.
- Apabila tujuan dari pengulangan illa (إِلاَّ) sebagai taukid lafdzi yang dipisah dengan wawu ‘athaf, maka hukum ‘irab isim yang terletak setelah illa (إِلاَّ) yang kedua, ma’tuf kepada isim yang terletak setelah illa (إِلاَّ) yang pertama. Alasanya karena illa (إِلاَّ) yang kedua dianggap taukid lafdzi, sehingga tidak berfungsi lagi sebagaimana perangkat ististna
Contoh:
أُحِبُّ رُكُوْبَ السُّفُنِ إِلاَّ الشَّرَاعِيَةَ، وَإِلاَّ الصَّغِيْرَةَ
Aku suka naik kapal laut kecuali perahu layar dan kecil.
Lafadz الصغيرة manshub sebab ma’tuf kepada mustasna lafadz الشراعية, bukan sebab manshub oleh illa (إِلاَّ).
Perhatikan ‘irabnya:
أُحِبُّ : فعل + فاعل
رُكُوْبَ السُّفُنِ : مضاف مضاف إليه + مفعول به + مسنثنى منه
إِلاَّ : أداة الاستثناء
الشَّرَاعِيَةَ : مستثنى
وَ : حرف العطف
إِلاَّ : توكيد لفظي
الصَّغِيْرَةَ : معطوف على الشَّرَاعِيَةَ
- Apabila tujuan dari pengulangan illa (إِلاَّ) sebagai taukid lafdzi, namun tidak terpisah oleh wawu ‘athaf, maka hukum ‘irab isim yang terletak setelah illa (إِلاَّ) yang kedua di’irab sebagai badal atau ‘athaf bayan.
Contoh:
مَا جَاءَ القَوْمُ إِلاَّ مُحَمَّدًا/مُحَمَّدٌ إِلاَّ الأَمِيْنَ/الأَمِيْنُ
Perhatikan ‘irabnya:
ما : حرف نفي
جاء القوم : فعل + فاعل + مستثنى منه
إلا : أداة الاستثناء
محمدا/محمد : مستثنى
إلا : توكيد لفظي
الأمين/الأمين : بدل كل من كل / عطف بيان
Terkait masalah ini, Ibnu Malik bersyair:
وَأَلْغِ إلاَّ ذَاتَ تَوْكِيْدٍ كَلاَ # تَمْرُرْ بِهِمْ إلاَّ الْفَتَى إِلاَّ الْعَلاَ
- Apabila tujuan dari pengulangan illa (إِلاَّ) dianggap sebagai perangkat ististna baru, maka hukum ‘irab isim yang terletak setelah illa (إِلاَّ) yang kedua atau ketiga memiliki beberapa hukum.
-» Pada kalimat tam mujib, semua isim mustasna wajib manshub, seperti:
جَاءَ الطُّلاَبُ إِلاَّ خَالِدًا، إِلاَّ زيدًا، إِلاَّ محمدًا
Para siswa datang kecuali kholid, Zaid dan Muhammad.
جاء : فعل
الطلاب : فاعل + مستثنى منه
إلا : أداة الاستثناء
خالدًا : مستثنى
إلا : أداة الاستثناء
زيدًا : مستثنى
إلا : أداة الاستثناء
محمدًا : مستثنى
-» Pada kalimat tam manfi, semua isim mustasna boleh manshub apabila mustastna minhu diakhirkan, seperti:
ما جاء إلا خالدًا، إلا زيدًا، إلا محمدًا الطُّلاَبُ
ما : حرف نفي
جاء : فعل
إلا : أداة الاستثناء
خالدًا : مستثنى
إلا : أداة الاستثناء
زيدًا : مستثنى
إلا : أداة الاستثناء
محمدًا : مستثنى
الطلاب : فاعل + مستثنى منه مؤخر
Namun apabila mustastna minhu tidak diakhirkan, maka salah satu dari isim mustastna boleh rafa’ sebagai badal, seperti:
ما جاء الطلابُ إلا خالدٌ، إلا زيدًا، إلا محمدًا
ما : حرف نفي
جاء : فعل
الطلاب : فاعل + مستثنى منه + مبدل منه
إلا : أداة الحصر
خالدٌ : بدل
إلا : أداة الاستثناء
زيدًا : مستثنى
إلا : أداة الاستثناء
محمدًا : مستثنى
Terkait masalah ini, Ibnu Malik bersyair:
وَإِنْ تُكَرَّرْ لاَ لَتْوِكِيْدٍ فَمَعْ # تَفْرِيْغٍ الْتَّأْثِيْرَ بِالْعَامِلِ دَعْ # فِي وَاحِدٍ مِمَّا بِإِلاَّ اسْتُثْنِي # وَلَيْسَ عَنْ نَصْبِ سِوَاهُ مُغْنِي
Lihat referensi:
عباس حسن، النحو الوافي ج٢, ص ٣٤٠
2. Hukum ‘Irab Mustastna dengan Ghair dan Siwa (غير و سوى)
Ghair dan siwa termasuk kategori isim dan penggunaan ghair pada uslub ististna lebih sedikit dibandingkan dengan siwa, sebab ghair pada asalnya digunakan sebagai na’at.
أَقْبَلْتُ عَلَى رَجُلٍ غَيْرِ خَالِدٍ
رَجُلٍ : منعوت
غَيْرِ : نعت + مضاف
خَالِدٍ : مضاف إليه
Aku menjumpai seseorang selain kholid.
خَرَجَ خَالِدٌ مِنْ لَجْنَةِ الاِمْتِحَانِ بِوَجْهٍ غَيْرِ الَّذِي دَخَلَ بِهِ
Kholid keluar dari ruang ujian dengan wajah (yang bukan) seperti ketika masuk.
صرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ. سورة الفاتحة ٧
غَيْرِ : نعت للَّذِينَ أو بدل من الضمير في ” عليهم” أو للَّذِينَ
Pada materi na’at dan man’ut telah dijelaskan bahwa na’at mesti terdiri dari isim musytaq, lalu kenapa ghair boleh di’irab sebagai na’at, sedangkan ia termasuk kategori isim jamid? Dalam hal ini, ghair menjadi na’at sebab diperkirakan ke bentuk musytaq yaitu lafadz مغاير.
Dalam menentukan hukum ‘irab isim yang dikecualikan oleh perangkat ghair dan siwa sangat mudah, sebab semua isim yang terletak setelah ghair dan siwa wajib majrur sebagai mudhaf ilaih. Namun, permasalahnya terdapat pada harakat ghair dan siwa itu sendiri، sebab keduanya adalah isim yang mesti memiliki kedudukan ‘irab. Apakah mesti marfu, manshub atau majrur?
Ghair dan siwa secara lafadz termasuk perangkat ististna, sebab dianggap masih semakna dengan illa (إلا), dan di lain sisi mereka di’irab sebagai mustastna. Artinya, hukum ‘irab keduanya sama dengan hukum ‘irab mustastna yang dikecualikan dengan illa (إلا).
Perhatikan perbandingan contoh ketika masih menggunakan perangkat illa (إلا) dan sesudah diganti dengan ghir.
نَجَحَ الطُّلاَّبُ إِلاَّ خَالِدًا -» نَجَحَ الطُّلاَّبُ غيرَ خالدٍ
Contoh perbedaan ‘irab kaduanya:
نجح : فعل
الطلاب : فاعل + مستثنى منه
إلا : أداة الاستثناء
خالدًا: مستثنى منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة
نجح : فعل
الطلاب : فاعل + مستثنى منه
غيرَ : مستثنى منصوب، وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة + مضاف
خالدٍ : مضافًا إليه مجرورًا، وعلامة جره الكسرة الظاهرة على آخره
Contoh lain:
رَأَيْتُ الطُّلاَبَ غيرَ خالدٍ
مَا رَأَيْتُ الطُّلاَبَ غيرَ خالدٍ
ما سلّمتُ على الطلابِ غيرَ/غَيْرِ خالدٍ
Sebab hukum ‘irab ghair dan siwa sama seperti ‘irab mustastna dengan illa (إلا). Oleh karnanya, harakat kedua isim ini dipengaruhi oleh pola kalimat.
a). Apabila kalimatnya tam mujib, maka harakat keduanya mesti manshub sebagai mustastna dengan tanda fathah dzahirah untuk ghair, dan dengan fathah muqaddarah untuk siwa, seperti:
رأيت الطلاب غيرَ خالدٍ
رأيت : فعل + فاعل
الطلابَ : مفعول به + مستثنى منه
غيرَ : مستثنى منصوب، وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة، وهو مضاف
خالدٍ : مضاف إليه
رأيت الطلاب سوى خالدٍ
رأيت : فعل + فاعل
الطلابَ : مفعول به + مستثنى منه
سوى : مستثنى منصوب علامته الفتحة المقدرة على آخره وهو مضاف
خالدٍ : مضاف إليه مجرور
b). Apabila kalimatnya tam manfi, maka harakat keduanya boleh manshub sebagai mustastna atau boleh mengikuti harakat ‘irab mustastna minhu dan dianggap sebagai badal, seperti:
-» Contoh ghair dalam keadaan manshub sebagai mustastna:
ما رأيت الطلاب غيرَ خالدٍ
ما : نافية
رأيت : فعل + فاعل
الطلابَ : مفعول به + مستثنى منه
غيرَ : مستثنى منصوب، وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة، وهو مضاف
خالدٍ : مضاف إليه مجرور
-» Contoh ghair dalam keadaan marfu‘ sebagai badal:
ما نجح الطُّلابُ غيرُ خالدٍ
ما : نافية
نجح : فعل
الطلابُ + فاعل + مبدل منه
غيرُ : بدل مرفوع، وعلامة رفعه الضمة الظاهرة، وهو مضاف
خالدٍ : مضاف إليه مجرور
-» Contoh siwa dalam keadaan Marfu menjadi badal:
ما نجح الطلاب سوى خالد
ما : نافية
رأيت : فعل + فاعل
الطلاب : مفعول به + مبدل منه
سوى : بدل مرفوع وعلامته الضمة المقدرة على آخره وهو مضاف
خالدٍ : مضاف إليه
-» Contoh siwa dalam keadaan manshub sebagai mustastna:
ما نجح الطلابُ سوى خالدٍ
ما : نافية
نجح : فعل
الطلابُ : فاعل + مستثنى منه
سوى : مستثنى منصوب، وعلامة نصبه الفتحة المقدرة، وهو مضاف
خالدٍ : مضاف إليه مجرور
c). Apabila kalimatnya naqis, hukum ‘irab ghair dan siwa disesuaikan dengan posisi yang mereka tempati, terkadang sebagai fa’il, naaibul fa’il, maf’ul bih, na’at dan lainya.
-» Contoh ghair dan siwa dalam keadaan marfu’ sebagai fa’il:
ما نجح غيرُ خالدٍ
غيرُ : فاعل مرفوع وعلامته الضمة الظاهرة
ما نجح سوى خالدٍ
سوى : فاعل مرفوع بضمة مقدرة على آخره
-» Contoh ghair dan siwa dalam keadaan manshub sebagai maf’ul bih:
ما رأيتُ غيرَ خالدٍ
غير : مفعول به وعلامته الفتحة الظاهرة
ما رأيت سوى خالدٍ
سوى : مفعول به وعلامته الفتحة المقدرة على آخره
-» Contoh ghair dalam keadaan majrur sebab diawali huruf jar:
ما مَرَرْتُ بغيرِ خالدٍ
بغير : مجرور بحرف الجر وعلامته الكسرة الظاهرة
ما مررت بِسِوَى خالدٍ
سوى : مجرور بحرف الجر وعلامته الكسرة المقدرة على آخره
-» Contoh ghair dalam Al-Quran sebagai maf’ul bih:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ. سورة آل عمران ٧٥
الواو: حرف استئناف مبني على الفتح لا محل له من الإعراب
من: اسم شرط جازم مبنيّ على السكون في محلّ رفع مبتدأ
يبتغِ: (فعل الشرط) فعل مضارع مجزوم، وعلامة جزمه حذف حرف العلّة من آخره، والفاعل ضمير مستتر وجوبًا تقديره هو
غيرَ: مفعول به منصوب، وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة على آخره، وهو مضاف
الإسلام: مضاف إليه منصوب، وعلامة نصبه الكسرة الظاهرة على آخره
-» Contoh ghair dalam keadaan marfu’ sebagai na’at:
لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّه. سورة النساء ٩٥
غيرُ: نعت “للقاعدين” مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة على آخره
Terkait permasalah ini, Ibnu Malik bersyair:
وَاسْتَثْنِ مَجْرُورًا بِغَيْرٍ مُعْرَبَا # بِمَا لِمُسْتَثْنًى بِإِلاَّ نُسِبَا # وَلِسِوًى سُوًى سَوَاءٍ اجْعَلاَ # عَلَى الأَصَحِّ مَا لِغَيْرٍ جُعِلاَ
Lihat referensi:
سيبويه، الكتاب، ج٢, ص٣٤٣
3. Hukum ‘Irab Mustastna dengan Laisa dan La Yakun (ليس ولا يكون)
Laisa dan la yaun termasuk kategori fi’il yaitu fi’il nasikh saudarinya kana (كان). Keduanya masuk perangkat ististna, sebab masih dianggap memiliki makna serupa dengan illa (إلا).
Hukum ‘irab mustastna yang dikecualikan dengan kedua perangkat ini wajib manshub, sebab secara bersamaan dianggap sebagai khabar laisa atau la yakun, dimana keduanya beramal seperti kana dalam merafakan isim pertama dan menashabkan isim kedua.
Menurut Mayoritas Ulama termasuk Imam Sibawaihi dan Ibnu Siraj: ” Apabila kedua fi’il ini dijadikan ististna, hanya terjadi pada kalimat tam mujib muttashil dan tam manfi muttashil”.
-» Contoh pada kalimat tam mujib muttashil:
جَاءَ الطُّلاَبُ مِنَ المَدْرَسَةِ لَيْسَ خَالِدًا
Para siswa telah datang selain/kecuali Kholid
جاء : فعل
الطلاب : فاعل + مستثنى منه
ليس : أداة استثناء مبنية على الفتح بمعنى (إلا)
من المدرسة : جار مجرور
خالدا : مستثنى منصوب علامته الفتحة (خبر ليس)
_______
اِنْسَحَبَ الجُنُوْدُ مِنَ المَعْرَكَةِ لاَ يَكُوْنُ القائدَ
Para prajurit mundur dari medan perang kecuali komandan
انسحب : فعل
الجنود : فاعل + مستثنى منه
لا يكونُ : أداة استثناء بمعنى (إلا) / فعل ناسخ واسمه ضمير مستتر تقديره هو
من المعركة : جار مجرور
القائدَ : مستثنى منصوب علامته الفتحة (خبر لا يكونُ)
-» Contoh pada kalimat tam manfi muttashil :
مَا أَخَدْتُ الكُتُبَ لَيْسَ كتابًا
Aku tidak mengambil buku2 selain 1 buku.
مَا أَخَدْتُ الكُتُبَ لاَ يَكُوْنُ كتابًا
Catatan: Perlu diketahui bahwa la yakun (لا يكون) apabila dianggap sebagai perangkat ististna, ia hanya berlaku apabila bentuknya berupa fi’il mudhari’ dan didahului huruf nafyi la (لا), bukan huruf nafyi lainnya seperti (لن/لم/لما)
Lafadz ( ليس /لا يكون ) dalam keadaan tertentu terkadang dijadikan na’at seperti yang terjadi pada (غير), seperti:
جَاءَ رَجُلٌ لاَ يَكُوْنُ / لَيْسَ خَالدًا
جاء : فعل
رجل : فاعل
ليس / لا يكون : أداة استثناء + نعت لرجل في محل الرفع
خالدًا : مستثنى / خبر ليس أو خبر لا يكون
رأيت رَجُلاً لاَ يَكُوْنُ / لَيْسَ خَالدًا
ليس / لا يكون : أداة استثناء + نعت لرجل في محل النصب
مررت برجلٍ لاَ يَكُوْنُ / لَيْسَ خَالدًا
ليس / لا يكون : أداة استثناء + نعت لرجل في محل الجر
Lihat referensi:
المبرد، المقتضب، ص٤٤٨
عباس حسن، النحو الوافي، ج٢, ص٣٥٣-٣٥٨
4. Hukum ‘Irab Mustastna dengan Haasya, Kholaa, ‘Adaa (خلا، عدا، حاشا)
Menurut Ulama Basrah: “ketiga lafadz ini termasuk huruf jar yang memajrurkan isim setelahnya secara lafadz, namun secara makna masih dianggap mustastna sebab dikecualikan dengan ketiga lafadz ini”.
Dengan demikian, ketiga lafadz ini menurut mereka : ” Tdak boleh disertai ma mashdariyyah sebab termasuk kategori huruf ”.
حَضَرَ الطُّلاَبُ حَاشَا طَالِبٍ
حَضَرَ الطُّلاَبُ ما حَاشَا طالبًا
Perhatikan cara meng’irabnya.
حضر : فعل ماض مبني على الفتحة الظاهرة في آخره
الطلاب : فاعل مرفوع
حاشا : حرف جر
طالبٍ : اسم مجرور بحاشا ، وعلامة جره الكسرة الظاهرة في آخره وهو مستثنى في المعنى
Sementara menurut Ulama Kuffah termasuk pendapat Imam As Suyuthi dan Ibnu Hisyam: ” ketiga lafadz ini termasuk fi’il yang mengandung makna illa (إلا) dan boleh disertai ma mashdariyyah”.
Apabila ketiga Fi’il ini dijadikan perangkat ististna, maka ketiganya berfungsi menashabkan isim setelahnya sebagai mustastna atau maf’ul bih. Dan hanya terjadi pada kalimat tam mujib muttashil dan tam manfi muttashil.
حَضَرَ الطُّلاَبُ حَاشَا طالبًا
حَضَرَ الطُّلاَبُ حَاشَا طالبًا
Perhatikan cara meng’irabnya.
حضر : فعل ماض مبني على الفتحة الظاهرة في آخره
الطلاب : فاعل مرفوع
ما : مصدرية
حاشا : فعل ماض للاستثناء مبني على الفتحة المقدرة على الألف منع من ظهورها التعذر ، والفاعل ضمير مستتر وجوبا تقديره هو
طالبًا : مستثنى منصوب / مفعول به منصوب بالفتحة الظاهرة في آخره
Lihat referensi:
– الأنبارى، الانصاف في مسائل الخلاف بين النحويين والكوفيين، ٢٧٨-٢٨٠
عباس حسن، النحو الوافي، ج٢, ص٣٥٤
Kesimpulan pendapat di atas:
- Apabila haasya, kholaa, ‘adaa ( خلا، عدا، حاشا) tidak disertai ma mashdariyyah, hukum ‘irab isim setelahnya boleh dua keadaan, antara manshub atau majrur, seperti:
جَاءَ الطُّلاَبُ حَاشَا خالدًا
جَاءَ الطُّلاَبُ عَدَا خالدًا
جَاءَ الطُّلاَبُ خَلاَ خالدًا
جَاءَ الطُّلاَبُ حَاشَا خالدٍ
جَاءَ الطُّلاَبُ عَدَا خالدٍ
جَاءَ الطُّلاَبُ خَلاَ خالدٍ
- Apabila ketiganya disertai ma mashdariyyah, maka hukum ‘irab isim setelahnya hanya boleh manshub, seperti:
جَاءَ الطُّلاَبُ ما حاشا خالدًا
جَاءَ الطُّلاَبُ ما عدا خالدًا
جَاءَ الطُّلاَبُ ما خلا خالدًا
جَاءَ الطُّلاَبُ ما حاشا خالدٍ
جَاءَ الطُّلاَبُ ما عدا خالدٍ
جَاءَ الطُّلاَبُ ما خلا خالدٍ
Catatan: Huruf ma mashdariyah menyetai ketiga perangkat ini sangat jarang ditemukan, bahkan menurut Mayoritas Ulama termasuk syad (menyalahi aturan)
IV: Membuang Perangkat Ististna atau Mustastna
Mayoritas ulama tidak membenarkan membuang perangkat ististna pada pola kalimat apapun, baik tam mujib, manfi, muttashil dan munqathi’. Namun untuk mustatsna boleh dibuang dengan ketentuan sebagai berikut:
- Ketika mustastna dibuang, maksud dari pada kalimat masih bisa difahami dengan baik.
- Hanya berlaku pada pola kalimat yang dikecualikan dengan illa dan gair ( إلا و غير).
- Mesti disertai laisa (ليس)
قَبَضْتُ عَشَرَةً لَيْسَ غَيْرُ
Pada contoh kalimat ini terdapat mustastna yang dibuang, apabila ditampilkan berbunyi:
قبضت عشرة، ليس المقبوض غَيْرُ ذلك
قبضت عشرة، ليس المقبوض غَيْرُهُ
Perhatikan cara meng’irabnya:
قَبَضْتُ عَشَرَةً لَيْسَ غَيْرُ
قبضت : فعل + فاعل
عشرة : مفعول به + مستثنى منه
ليس : فعل ناقص من أخوات كان و اسمه مضمر
غير : خبر ليس + أداة الاستثناء + المستثنى + مضاف
مضاف إليه : مخدوف
Kenapa harakat غَيْرُ dhammah, bukankah ia sedang menjadi khabar laisa yang seharusnya fathah ? Lafadz ghair pada contoh ini dihukumi mabni dhammah sebagai pertanda bahwa terdapat mudhaf ilah berupa dhamir yang dibuang, dimana dhamir tersebut maknanya kembali kepada mustastna yang dibuang. Untuk penjelasan lebih lengkap silahkan lihat pada masalah ‘irab qablu dan ba’du pada pasal maf’ul fih.
Bisa juga perkiraan posisi kalimatnya dibalik seperti dibawah, namun ‘irabnya berbeda.
قبضت عشرة، ليس غَيْرُ ذلك مقبوضا
قبضت عشرة، ليس غَيْرُها مقبوضا
Perhatikan cara meng’irabnya:
قَبَضْتُ عَشَرَةً لَيْسَ غَيْرُ
قبضت : فعل + فاعل
عشرة : مفعول به + مستثنى منه
ليس : فعل ناقص من أخوات كان
غير : اسم ليس + أداة الاستثناء + المستثنى + مضاف
مضاف إليه : مخدوف
خبر ليس : مخدوف
V. ‘Irab kalimat tauhid (لا إله إلا الله)
kalimat la illaha illalahu termasuk pola kalimat ististna naqish (Tidak memiliki mustastna minhu). Artinya keluar dari kaidah uslub ististna, dimana huruf illa إلا tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya dalam menghukumi ‘irab isim setelahnya.
Perhatikan juga diawal kalimat terdapat la nafyi liljinsi yang berfungsi seperti inna (إِنَّ) dalam menashabkan isim pertama dan marafa’kan isim kedua. Artinya kalimat la illaha illalahu termasuk pola jumlah ismiyyah.
Isim pertama yang dinashabkan oleh la nafyi liljinsi yaitu lafadz إِلَهَ dan isim kedua yang seharusnya berada diposisi rafa’ sebagai khabar la telah dibuang dengan memperkirakan lafadz حقٌّ atau كائن atau لنا
Kenapa dibuang ? Ibnu Malik menjawabnya dalam kitab syarh tashil berkata:
قال ابن مالك في “شرح التسهيل: ” أكثر ما يحذف الحجازيون خبر “لا” مع “إلا” مثل لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
Lafadz yang palng banyak dibuang oleh Orang Arab Hijaz adalah khabar la, ketika bersamaan dengan illa (إلا), seperti:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ/ لا فتى إلا خالد / لا بأس / لا حول ولا قوة
Setelah diketahui unsur-unsur penting pada kalimat tersebut, selanjutnya menentukan ‘irab lafadz الله, apakah mesti rafa’ atau nashab?
1). Merafakan Lafadz Allah ( لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ), dengan dua alasan sebagai berikut:
- Pada kalimat tersebut terdapat khabar la (لا) yang dibuang dengan memperkirakan lafadz حَقٌّ atau كائن, lalu lafadz اللَّهُ sebagai badal dari lafadz إله yang sebelum dimasuki la (لا) ber’irab rafa’ (إِلَهُ), apabila ditampilkan berbunyi:
إِلَهُ + حقٌ + اللهُ -» لاَ إِلَهَ حَقٌّ إِلاَّ اللهُ
Contoh cara meng’irabnya:
لا: لا النافية للجنس
إِلَهَ: إسم (لا) منصوب على الفتح في محل نصب، و خبرها مخدوف بمعنى “كائن/حق ” مرفوع بالضمة
إلا: أداة الحصر
اللهُ : لفظ الجلالة بدل من اسم “لا” قبل دخولها مرفوع بالضمة
- Pada kalimat tersebut terdapat khabar la (لا) yang dibuang dengen memperkirakan lafadz حَقٌّ atau كائن, lalu lafadz kalimat إِلاَّ اللَّهُ dianggap rangkap yang kedudukan ‘irabnya sebagai na’at bermakna غير dari lafadz إله yang sebelum dimasuki la (لا) ber’irab rafa’ (إِلَهُ), apabila ditampilkan berbunyi:
إِلَهُ + حقٌ + إلا اللهُ -» لاَ إِلَهَ حَقٌّ إِلاَّ اللهُ
Contoh cara meng‘irabnya:
لا: لا النافية للجنس
إِلَهَ: إسم (لا) منصوب على الفتح في محل نصب، و خبرها مخدوف بمعنى “كائن/حق ” مرفوع بالضمة
إلا اللهُ : نعت نعت بمعنى “غير “من إله قبل دخول لا نافية للجنس
Lihat dalam ‘irab Al-Quran untuk kedua Ayat berikut ketika غير dan إلا menjadi na’at.
مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ. سورة هود ٨٤
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا. سورة الأنبياء ٢٢
1). Menashabkan Lafadz Allah ( لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ), dengan alasan sebagai berikut:
- Pada kalimat tersebut terdapat khabar la (لا) yang dibuang dengan memperkirakan lafadz في الوجود, dan lafadz الله sebagai mustastna manshub. (Kalimat Tam Manfi), apabila ditampilkan berbunyi:
إِلَهُ + في الوجود + اللهُ -» لاَ إِلَهَ فِي الوُجُوْدِ إِلاَّ اللَّهَ
Contoh cara meng’irabnya:
لا: لا النافية للجنس
إِلَهَ: إسم (لا) منصوب على الفتح في محل نصب، و خبرها مقدر بمعنى “فِي الوُجُوْد
إلا: أداة الاستثناء
اللهُ : لفظ الجلالة مستثنى منصوب
- Pada kalimat tersebut terdapat khabar la (لا) yang dibuang dengan memperkirakan lafadz حَقٌّ atau كائن, lalu kalimat إِلاَّ اللَّهَ dianggap rangkap sebagai na’at dari lafadz إله setelah dimasuki la (لا), apabila ditampilkan berbunyi:
إلهَ + حقٌ + إلا اللهُ -» لاَ إِلَهَ حَقٌّ إِلاَّ اللهَ
Contoh cara meng’irabnya:
لا: لا النافية للجنس
إِلَهَ: إسم (لا) منصوب على الفتح في محل نصب، و خبرها مخدوف بمعنى “كائن/حق ” مرفوع بالضمة
إِلاَّ اللَّهُ: نعت بمعنى “غير” بعد دخول لا نافية للجنس
Pendapat pertama yanga menjadikan lafadz الله rafa‘ sebagai badal dianggap rajih, hal ini sesuai dengan fakta pada kebanyakan kalam arab termasuk Al-Quran dan Hadist yang selalu merafa’kan lafadz الله sebagai badal
Banyak contoh serupa seperti pada hadist berikut:
لا حمي إلا الله ولرسوله – المسند ج٤,ص٢٨ – والبخاري، جهاد ١٤٦
لا حليمَ إلا ذو عَشرة ولا حكم إلا ذو تجربة – المسند ج٣,ص٨ – الترمذي ،بر ٨٦
لا صلاة إلا بفاتحة الكتاب – الترمذي، مواقيت ٦٩
لا صلاة لجار المسجد إلا في المسجد – الترمذي، مواقيت ٦٩
لا نكاح إلا بوليّ – المسند، ج٢, ص ٢٥٠
اللهم لا خير إلا خيرك ولا إله غيرك، الموطأ، صفة النبي، ٢٤
Lihat referensi:
السيوطي, عقود الزبرجد في إعراب الحديث النبوي، ص ٢٤٣
Bagaimana dengan ‘irab (لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ)…?
‘Irabnya lafadz ghair sama seperti lafadz الله pada لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ, boleh sebagai badal atau na’at dari lafadz إله, dan ghair juga sebagai mudhaf untuk mudhaf ilah dhamir.
لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ
لا: لا النافية للجنس
إِلَهَ: إسم (لا) منصوب على الفتح في محل نصب، و خبرها مخدوف بمعنى “كائن/حق ” مرفوع بالضمة
غير: بدل/نعت إما بعد دخول لا نافية للجنس أو قبلها وهو مضاف
الهاء : مضاف إليه
Kesimpulan:
Kaidah uslub Ististna cukup kompleks, sebab melibatkan banyak perbedaan pendapat Para Ulama. Apabila hendak memperluasnya silahkan merujuk sumber kitabnya.
Perangkat ististna yang paling populer digunakan terutama dalam Al-Quran dan Hadist adalah illa (إلا), sebab ia induk dari semua perangkat ististna. Didalam Al-Quran sendiri illa (إلا) disebutkan 175x dan ghair 25X.
Wallahu’alam. Semoga bermanfaat
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا
Referensi
الأنبارى، الانصاف في مسائل الخلاف بين النحويين والكوفيين، ٢٧٨-٢٨٠
عباس حسن، النحو الوافي، ج٢, ص ٣١٨ وما بعده «-
المبرد، المقتضب، ص٤٤٨
السيوطي, عقود الزبرجد في إعراب الحديث النبوي، ص ٢٤٣
سيبويه، الكتاب، ج٢, ص٣٤٣
النحو العربي، ج٢, ص ٥ وما بعده




