News...!
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا

Pengertian Al-Mizan As-Sharfi (المِيْزَانُ الصَّرْفِي)

0
(0)

BismilahiRahmaniRahim.

Insya Allah kita akan membahas apa itu al-mizan as-sharfi dalam ilmu sharf.

Mafhum Al-Mizan As-Sharfi

Bagi kalian yang pernah belajar ilmu sharf pasti tidak asing dengan istilah ‘mizan sharfi‘. Ya, istilah ini dipergunakan dalam bahasa arab untuk menimbang suatu kata, baik berupa kata kerja ( fi’il) maupun kata benda (isim) agar bisa diketahui pokok dasarnya ketika terjadi penambahan, pembuangan, pertukaran huruf dan lainya.

Agar mudah dalam menentukan pokok suatu kata, Ulama Sharf memilih tiga huruf sebagai penimbang atau perumpamaan yaitu huruf fa, ‘ain dan lam (الفاء، العين واللام). Dengan demikian, huruf pertama suatu kata disebut dengan fa’ kalimat, huruf kedua ‘ain kalimat, dan huruf ketiga lam kalimat. Seperti:

ضَرَبَ -» فَعَلَ
ضَ | رَ | بَ
فَ | عَ | لَ

Kata ضَرَبَ diperumpamakan seperti فَعَلَ dimana (Dha = Fa’), (Ro = ‘Ain) dan (Ba = Lam). Yakni, kata ضَرَبَ disebut dengan istilah mauzun, dan kata فَعَلَ disebut dengan wazan.

Apakah wazan yang harus mengikuti mauzun atau sebaliknya? Mauzun sudah lahir sebelum wazan dibuat. Kata-kata (mufradat) bahasa arab sudah dipergunakan sejak dahulu, baik dalam ucapan maupun tulisan, lalu setelahnya baru lahir kaidah tata bahasa (nahwu & sharf). Dengan demikian, wazan harus mengikuti mauzun ? Ya, wazan (فَعَلَ) harus mengikuti mauzun (ضَرَبَ), begitu juga dengan kata-kata lainya.

Contoh kata dasar فهم (tanpa harakat). Apakah mungkin kita mengetahui harakatnya dengan benar? Pada awalnya tentu tidak. Mungkin kita akan berasumsi fahuma, fahama, fahima, fihuma, fihima dll. Namun bagi Orang Arab hal sederhana seperti ini tidak akan sulit, mereka sudah pasti mengharakatinya dengan فَهِمَ tidak dengan فَهُمَ. Ketika diharakati dengan فَهُمَ tentu aneh di mata dan telinga mereka. Bahkan mungkin mereka tidak faham sama sekali apalagi ketika diucapkan. Seperti kita mengucapkan kata ‘rumah’ menjadi ‘rimoh’. Tentu kita tidak akan memahaminya. Setelah diketahui bahwa harakat فهم yaitu فَهِمَ, selanjutnya Ulama Sharf menentukan wazan yang sesuai dengan harakatnya yaitu فَعِلَ. Artinya, setiap wazan mengikuti mauzunya, baik untuk kata-kata yang memiliki tiga huruf, empat huruf dan lima huruf.

Apa mungkin kita membuat wazan-wazan dengan mengikuti mauzun-mauzun yang sudah ada ? Ya mungkin dan disinilah ilmu sharf berperan. Bahkan kita bisa mengikuti kidah-kidah yang sudah dibuat oleh Ulama Sharf. Namun tidak dengan sebaliknya. Kita tidak mungkin membuat mauzun (suatu kata) yang belum jelas keabsahanya.

Apakah mauzun yang kita buat itu lumrah dan umum digunakan orang arab atau justru ketika kita masukan kedalam wazan tertentu malah tidak bisa difahami mereka. Misalkan, kita membuat kalimat dengan kata اِنْفَهَمَ dengan dalih terdapat wazan انفعل. Tentu hal ini perlu penelusuran lebih mendalam pada kamus-kamus arab. Apakah kata اِنْفَهَمَ digunakan dan bisa dipahami?

Untuk perubahan dari kata dasar فَهِمَ yang lumrah digunakan seperti menjadi استفهم / تفاهم / تفهّم / فَهَّم / أفهم Apabila kita merujuk kamus arab, saya sendiri belum pernah menemukan kata اِنْفَهَمَ ditulis dalam sebuah kalimat. Bahkan dalam percakapan sehari-hari belum pernah mendengar kata itu dari orang arab. Artinya, bisa dipastikan tidak semua kata dasar bisa dirubah mengikuti wazan-wazan yang telah ulama sharf tentukan, sebab justru wazan-wazan inilah dibuat untuk mengikuti mauzun yang sudah ada sejak bahasa arab lahir.

Alhasil, wazan-wazan yang ada adalah gambaran untuk kata-kata yang sudah jelas keberadaanya, baik dalam kalam Arab seperti Syair, Natsr atau Hadits dan Al-Qur’an.

Baca Juga: Al-Qalb Al-Makani (Transposisi) Dalam Ilmu Sharf

Alasan Huruf Fa, ‘Ain dan Lam sebagai Mizan Sharf

Kenapa Ulama Sharf memilih ketiga huruf fa, ‘ain dan lam (فَعَلَ) ? Mereka tidak memilih huruf lain, seperti min, kaf dan nun (مَكَنَ) ? Mereka memilih ketiga huruf ini (فعل) sebagai mizan sharfi dengan alasan sebagai berikut:

Pertama: Sebab lafadz فَعَلَ secara makna mengandung arti luas. Setiap pekerjaan atau peristiwa apapun bisa dikatakan sebuah pekerjaan. Seseorang makan, minum, mandi, shalat, zakat, puasa, semuanya disebut dengan فعل (perbuatan/perbuatan).

Kedua: Sebab ketiga huruf ini sudah mewakili semua huruf hijaiyyah ketika kita ucapkan dari makharajnya. Fa’ dipilih mewakili huruf yang keluar dari bibir, ‘Ain dipilih mewakili huruf yang keluar dari tenggorokan, dan lam mewakili huruf dari lidah.

Ketentuan Wazan dan Mauzun

a). Mizan sharfi hanyalah berlaku untuk kategori isim mutamakin dan fi’il mutasharif. Tidak berlaku untuk isim mabni (seperti isim dhamir, isim isyarah), fi’il jamid dan huruf.

b). Apabila kata (mauzun) terdiri dari tiga huruf asli, maka wazan dibuat sama persis sesuai dengan mauzunya dari segi harakat (dhammah, fathah, kasrah dan sukun). Seperti:

كَرُمَ -» فَعُلَ
فَتَحَ -» فَعَلَ
فَهِمَ -» فَعِلَ
بَيْتٌ -» فَعْلٌ
زَيْدٌ -» فَعْلٌ
قَلَمٌ -» فَعَلٌ

c). Apabila kata (mauzun) terdiri dari empat atau lima huruf asli, maka wazan dibuat dengan menambahkan satu lam atau dua lam kalimat. Seperti:

دَحْرَجَ -» فَعْلَلَ
جَعْفَرٌ -» فَعْلَلٌ
سَفَرْجَلٌ -» فَعْلَّلٌ
صُرْصُرٌ -» فُعْلُلٌ

d). Apabila kata (mauzun) memiliki pengulangan huruf, maka wazan juga dibuat sama dengan pengulangan huruf. Seperti:

قَدَّمَ -» فَعَّلَ
أَخَّرَ -» فَعَّلَ
كَرَّمَ -» فَعَّلَ

e). Apabila kata (mauzun) memiliki penambahan huruf, baik satu, dua atau lebih, maka mauzun dikembalikan terlebih dahulu ke bentuk asalnya yaitu 3 huruf sesuai fa’, ‘ain dan lam. Lalu setelahnya ditambahkan huruf zaidah (tambahan) pada wazan yang akan dibuat.

Seperti: mauzun أَكْرَمَ berwazan أَفْعَلَ yang memiliki penambahan satu huruf yaitu hamzah. Langkahnya dikembalikan terlebih dahulu kedalam bentuk asalnya yaitu كَرُمَ berwazan فَعُلَ, lalu setelahnya ditambahkan hamzah menjadi أَكْرَمَ berwazan أَفْعَلَ.

Atau seperti mauzun اِسْتَغْفَرَ berwazan اِسْتَفْعَلَ yang memiliki penambahan tiga huruf yaitu alif, sin dan ta. Langkahnya dikembalikan terlebih dahulu kedalam bentuk asalnya yaitu غَفَرَ berwazan فَعَلَ. Lalu setelahnya ditambahkan huruf alif, sin dan ta menjadi اِسْتَغْفَرَ berwazan اِسْتَفْعَلَ

f). Apabila pada kata (wazan) terdapat huruf yang dibuang, maka pada wazan juga harus dibuang. Seperti قِ bentuk fi’il ‘amr dari وَقَى berwazan فَعَلَ, maka قِ berwazan عِ sebab fa’ dan lam kalimah dibuang pada mauzunya. Atau seperti قُلْ fi’il ‘amr dari قَالَ berwazan فَعَلَ, maka قُلْ berwazan فُلْ sebab ‘ain kalimah dibuang pada mauzunya.

g). Apabila pada kata (mauzun) terdapat penambahan huruf, dimana huruf tersebut merupakan hasil pergantian dari huruf ta menjadi tho pada wazan اِفْتَعَلَ، maka wazan tetap mengikuti huruf asli. Seperti kata اِضْطَرَبَ asalnya اِضْتَرَبَ dimana ta diganti dengan tho, maka dia berwazan اِفْتَعَلَ bukan اِفْطَعَلَ

Catatan: Kenapa terjadi pembuangan, penggantian huruf? Jawabanya ada pada pembahasan ‘illal, hazf dan qalb.

h). Apabila pada kata (mauzun) terjadi pemindahan huruf (القلب المكاني), maka pada wazan juga mesti dibuat sama (pindah). Seperti kata جَبَذَ yang asalnya جَذَبَ berwazan فَعَلَ, maka جَبَذَ berwazan فَلَعَ

i). Apabila pada kata (mauzun) terjadi pertukaran huruf, maka wazan tetap pada keadaan aslinya. Seperti قَالَ yang asalnya قَوَلَ dengan pergantian waw menjadi alif, maka قَالَ tetap berwazan فَعَلَ bukan فَوَلَ

Referensi:

الصرف الكافى، أيمن أمين عبد الغني. ص


Wallahu’alam. Semoga bermanfaat

اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *