News...!
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا

Sang Legenda (Abu al-Aswad al-Du’ali) Dari Basra

4.9
(7)

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana orang Arab di zaman dulu menjaga keaslian bahasa mereka? Di balik indahnya tata bahasa Arab yang kita pelajari sekarang, ada satu sosok besar yang menjadi pionirnya. Beliau adalah Abu al-Aswad al-Du’ali, tokoh utama dari Generasi Pertama Ahli Nahwu Basra.

Mari kita bedah profil dan kisah inspiratif di balik lahirnya ilmu tata bahasa Arab!

Siapakah Sebenarnya Abu al-Aswad?

Nama lengkapnya cukup panjang dan gagah: Zhalim bin Amr bin Sufyan al-Du’ali. Beliau berasal dari kabilah Kinanah dan menetap di Basra. Selain dikenal sebagai sosok yang cerdas dan dihormati di kalangan penduduk Basra, beliau juga dikenal memiliki pemikiran yang sejalan dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib (Alawi).

Bapak Pendiri Ilmu Bahasa Arab

Abu al-Aswad adalah orang pertama yang meletakkan dasar-dasar bahasa Arab, merintis jalannya, dan menyusun kaidah pengukurannya (qiyas).

Mengapa beliau melakukannya? Saat itu, wilayah Islam semakin luas dan mulai terjadi pencampuran budaya. Akibatnya, banyak orang (bahkan tokoh-tokoh terpandang sekalipun) mulai melakukan kesalahan dalam berucap atau yang dikenal dengan istilah Lahn.

Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an dan lisan bangsa Arab, beliau menyusun bab-bab dasar seperti:

Bahkan, menurut catatan sejarah, beliau jugalah orang pertama yang memberikan tanda titik pada mushaf Al-Qur’an untuk memudahkan pembacaan.

Warisan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Menariknya, Abu al-Aswad tidak sendirian. Ketika ditanya siapa yang membimbingnya merumuskan kaidah-kaidah ini, beliau menjawab dengan rendah hati:

“Aku mempelajarinya dari Ali bin Abi Thalib.”

Dalam riwayat lain, beliau menyebutkan bahwa Sayyidina Ali memberinya prinsip-prinsip dasar bahasa yang kemudian beliau kembangkan secara sistematis.

Gara-Gara Salah Ucap: Kisah Menarik dengan Putrinya

Ada satu cerita unik yang konon menjadi alasan kuat mengapa Abu al-Aswad segera membukukan ilmu Nahwu.

Suatu hari di musim panas yang sangat terik, putrinya berkata: “Ma asyaddu al-harri!” (artinya: “Apa yang paling panas?”)

Abu al-Aswad menjawab: “Musim panas yang sedang kita alami sekarang, wahai putriku.”

Melihat jawaban ayahnya, sang putri bingung. Ternyata, ia bukan ingin bertanya, melainkan ingin menunjukkan rasa kagum/heran akan panasnya cuaca. Harusnya ia berkata: “Ma asyadda al-harra!” (artinya: “Betapa panasnya hari ini!”). Hanya beda harakat (baris), maknanya langsung berubah dari pertanyaan menjadi ungkapan kekaguman.

Dari kejadian itulah Abu al-Aswad sadar betapa krusialnya tata bahasa, sehingga beliau mulai menyusun Bab Ta’ajjub (ungkapan kekaguman) dan bab-bab tata bahasa lainnya.

Ketika Salah Tata Bahasa Mengubah Keputusan Gubernur

Selain kisah haru bersama putrinya, ada satu kejadian unik lainnya yang tercatat dalam sejarah. Ternyata, rencana Abu al-Aswad untuk menyusun kaidah bahasa Arab awalnya sempat ditolak!

Diriwayatkan dari Ashim bin Abi al-Najud, Abu al-Aswad al-Du’ali mendatangi Ziyad bin Abihi, Gubernur Basra saat itu. Beliau menyampaikan kegelisahannya:

إني أرى العرب قد خالطت هذه الأعاجم، وتغيرت ألسنتهم، أفتأذن لي أن أضع للعرب كلامًا يقيمون به كلامهم

“Aku melihat orang-orang Arab sudah mulai bercampur baur dengan bangsa non-Arab (Ajam), sehingga lisan mereka mulai berubah (rusak tata bahasanya). Apakah Anda mengizinkanku menyusun kaidah agar mereka bisa memperbaiki ucapan mereka?” Namun, saat itu Gubernur Ziyad menjawab: “Tidak perlu.”

Keadaan berubah total ketika suatu hari seorang pria datang menghadap Gubernur Ziyad untuk mengurus masalah warisan. Pria itu berkata:

توفي أبانا وترك بنون

“Tuwuffiya abana wa taraka banun.”

Secara kaidah Nahwu, kalimat itu berantakan. Pria tersebut salah menempatkan posisi subjek dan objek sehingga terdengar sangat janggal bagi orang Arab asli.

Mendengar itu, Gubernur Ziyad terperanjat dan mengulangi kesalahan tersebut dengan nada sindiran: “Telah wafat ayah kami dan meninggalkan anak-anak!!?” (Gubernur menyadari betapa parahnya kerusakan bahasa yang sedang terjadi).

Perintah Resmi: “Susunlah!”

Sadar bahwa masalah ini sudah mendesak, Gubernur Ziyad langsung memanggil kembali Abu al-Aswad al-Du’ali. Beliau berkata:

“Susunlah kaidah (Nahwu) itu untuk masyarakat, yang dulu sempat aku larang untuk kamu buat.”

Kisah ini mengajarkan kita bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari keresahan seorang pakar yang melihat tanda-tanda kerusakan. Jika bukan karena keteguhan Abu al-Aswad dan kesadaran sang Gubernur setelah mendengar kesalahan bicara yang fatal, mungkin struktur bahasa Arab tidak akan se-rapi yang kita pelajari di pesantren atau universitas saat ini.

Misi Mulia di Balik Ilmu Nahwu

Bagi Abu al-Aswad al-Du’ali, kesalahan dalam tata bahasa bukan hanya soal teknis, tapi soal rasa. Beliau pernah berkata:

“Aku merasakan ‘amis’ dari kesalahan bahasa (Lahn), seperti amisnya bau daging.”

Bayangkan betapa pekanya telinga beliau! Namun, motivasi beliau menyusun ilmu ini bukan karena sombong, melainkan karena rasa persaudaraan yang tinggi.

Kisah Sa’ad dan Kuda yang “Pincang”

Ada satu peristiwa menyentuh yang diceritakan oleh Ali bin Muhammad al-Hasyimi. Suatu hari, Abu al-Aswad bertemu dengan seorang pria asal Persia bernama Sa’ad. Sa’ad baru saja masuk Islam dan pindah ke Basra bersama keluarganya.

Saat itu, Sa’ad sedang menuntun kudanya. Abu al-Aswad bertanya, “Ada apa Sa’ad? Kenapa kamu tidak naik saja?”

Sa’ad menjawab: فرسي ضالع “Farasi dhalii’…” (Maksudnya ingin bilang kudanya pincang, tapi karena salah pengucapan/harakat, orang-orang di sekitarnya tertawa).

Melihat Sa’ad ditertawakan, Abu al-Aswad tidak ikut mengejek. Sebaliknya, beliau merasa iba dan berkata:

“Saudara-saudara baru kita (kaum Mawalii) ini telah mencintai Islam dan masuk ke dalamnya. Mereka sekarang adalah saudara kita. Alangkah baiknya jika kita mengajari mereka cara berbicara yang benar.”

Inilah alasan mulia Abu al-Aswad menyusun bab Fa’il (Subjek) dan Ma’ful (Objek). Beliau ingin merangkul orang-orang non-Arab agar bisa setara dalam memahami agama dan bahasa.

Estafet Ilmu: Dari Abu al-Aswad hingga Isa bin Umar

Ilmu Nahwu tidak berhenti di Abu al-Aswad saja. Ibarat membangun rumah, beliau adalah peletak batu pertamanya:

  1. Abu al-Aswad al-Du’ali: Menyusun fondasi awal (Fa’il dan Ma’ful).
  2. Pria dari Bani Laith: Menambahkan beberapa bab baru, namun ia berhenti karena merasa bahasa Arab sangat luas dan rumit.
  3. Isa bin Umar: Dialah sosok yang kemudian menyempurnakan ilmu ini. Ia mengambil kaidah yang paling umum digunakan mayoritas orang Arab (mainstream) dan menyebut sisanya sebagai lughat (dialek/variasi bahasa). Isa bin Umar dianggap sebagai orang pertama yang berhasil merampungkan kitab Nahwu hingga mencapai tujuannya yang lengkap.

Matahari dan Rembulan” Ilmu Nahwu: Mahakarya Isa bin Umar

Jika Abu al-Aswad al-Du’ali adalah sang perintis, maka Isa bin Umar adalah sang penyempurna. Beliau berhasil merangkum kerumitan tata bahasa Arab ke dalam karya tulis yang sangat sistematis.

Dua Kitab Fenomenal

Isa bin Umar menyusun dua kitab monumental yang menjadi rujukan utama pada masanya:

  1. Al-Jami’ (Yang Menghimpun)
  2. Al-Mukammil (Yang Melengkapi)

Kedua kitab ini dianggap sebagai standar emas tata bahasa Arab sebelum munculnya kitab-kitab Nahwu lain yang lebih kontemporer.

Pujian Sang Maestro: Al-Khalil bin Ahmad

Saking hebatnya karya Isa bin Umar, Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi—seorang jenius bahasa dan gurru dari Imam Sibawayh—sampai menggubah syair khusus untuk memujinya. Beliau berkata:

بطل النحو جميعا كلُّه … غيرَ ما أحدث عيسى بن عمرْ
ذاك «إكمال» وهذا «جامع» … فهما للناس شمس وقمرْ

Telah gugur semua teori Nahwu yang lama, Kecuali apa yang baru dicetuskan oleh Isa bin Umar…Yang satu berjudul “Al-Ikmal” dan yang satu “Al-Jami'”, Bagi manusia, keduanya bagaikan Matahari dan Rembulan.

Mengapa Disebut Matahari dan Rembulan?

Perumpamaan ini bukan sekadar hiasan kata. Al-Khalil ingin menegaskan bahwa kedua kitab tersebut adalah sumber cahaya (petunjuk) bagi siapa saja yang tersesat dalam memahami bahasa Arab. Tanpa kedua karya ini, dunia tata bahasa Arab mungkin akan tetap gelap dan penuh keraguan.

Sisi Lain Abu al-Aswad: Ilmuwan Jujur yang Berani Menegur Penguasa

Sahabat ilmualat, Abu al-Aswad al-Du’ali ternyata bukan hanya “penjaga gawang” tata bahasa Arab. Beliau adalah sosok yang memegang teguh integritas.

Sebuah riwayat mengungkap surat-menyurat rahasia antara beliau dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib, yang menunjukkan betapa beliau sangat peduli pada keadilan.

Suatu ketika, Abu al-Aswad melihat ada yang tidak beres dengan pengelolaan harta negara di wilayahnya. Beliau pun mengirim surat kepada Sayyidina Ali:

“Amma ba’du. Sesungguhnya Allah telah menjadikanmu orang yang terpercaya dan pemimpin yang bertanggung jawab. Aku telah mengenalmu sebagai orang yang sangat amanah dan tulus kepada rakyat; engkau menjaga harta mereka dan menjaga dirimu dari harta duniawi…”

Namun, setelah pujian itu, Abu al-Aswad menyampaikan laporan yang sangat berani:

“…Namun, sepupumu, Ibnu Abbas, telah mengambil harta di bawah kekuasaannya tanpa sepengetahuanmu. Aku tidak sanggup menyembunyikan hal ini darimu. Maka periksalah urusan itu, dan berikanlah instruksi kepadaku apa yang harus aku lakukan.”

Ini adalah tindakan yang sangat berisiko, mengingat kedudukan Ibnu Abbas saat itu. Namun bagi Abu al-Aswad, kejujuran adalah harga mati.

Balasan Bijak dari Khalifah Ali bin Abi Thalib

Mendapat laporan tersebut, Sayyidina Ali tidak marah atau mengabaikannya. Beliau membalas dengan surat yang penuh apresiasi terhadap sikap kritis Abu al-Aswad:

“Amma ba’du. Sesungguhnya engkau adalah pemberi nasihat yang tulus bagi imam (pemimpin) dan umat. Engkau termasuk golongan yang setia pada kebenaran dan berani melawan kebatilan serta kezaliman.”

Khalifah Ali kemudian memberitahu bahwa beliau telah menyurati pihak yang dilaporkan tanpa membocorkan bahwa laporan itu datang dari Abu al-Aswad. Beliau bahkan memberi “mandat” khusus kepada Abu al-Aswad:

“Jangan berhenti melaporkan kepadaku apa pun yang terjadi di sekitarmu yang berkaitan dengan kemaslahatan umat. Karena engkau sangat layak melakukan itu, dan itu adalah kewajibanmu, insya Allah.”

Adu Kosakata: Saat Sang Maestro Nahwu “Diskakmat” oleh Seorang Pemuda

Meskipun Abu al-Aswad al-Du’ali adalah pakar bahasa nomor satu, bukan berarti beliau tidak pernah bertemu lawan yang sepadan. Ada sebuah kisah lucu dan unik saat beliau berbincang dengan seorang pemuda yang sangat pandai bersilat lidah.

Suatu hari, seorang pemuda duduk di dekat Abu al-Aswad. Beliau pun bertanya, “Bagaimana kabar ayahmu?”
Si pemuda menjawab dengan bahasa yang sangat puitis dan penuh rima:

“Dia diserang demam hingga membuatnya hancur lebur (fadhakht-hu), memasaknya (tabakht-hu), melemahkannya (fanakht-hu), dan meninggalkannya dalam keadaan sangat lemah seperti anak burung (farkhan).”

Abu al-Aswad, yang tak mau kalah dalam urusan rima, bertanya lagi tentang istri ayahnya (ibu si pemuda) yang dikenal sering bertengkar:

“Lalu bagaimana dengan istrinya yang suka membantahnya (tusyarr-hu), mendebatnya (tujarr-hu), menghardiknya (tuharr-hu), menyusahkannya (tudlarr-hu), dan menjauhinya (tuzarr-hu)?”

Si pemuda menjawab dengan rima yang tak kalah keren:

“Ayahku menceraikannya, lalu dia menikah lagi dengan orang lain. Dia merasa puas (radhiyat), beruntung (hazhiyat), dan bazhiyat.”

Mendengar kata terakhir, Abu al-Aswad mengernyitkan dahi. Beliau bertanya, “Wahai anak muda, apa itu ‘bazhiyat’?”
Dengan santai dan sedikit percaya diri, si pemuda menjawab:

“Itu adalah salah satu kata dalam bahasa Arab yang belum sampai ke telingamu (belum kamu ketahui).”

Mendengar jawaban “telak” dari si pemuda tersebut, Abu al-Aswad memberikan nasihat yang sangat lucu sekaligus sarkas:

“Wahai keponakanku, apa pun yang belum sampai ke telinga pamanmu ini, maka sembunyikanlah (jangan ucapkan) sebagaimana seekor kucing menyembunyikan kotorannya!”

Kisah komedi ini memberikan kita gambaran tentang dua hal:

  • Kekayaan Bahasa: Bahasa Arab memiliki kosakata yang sangat luas, bahkan seorang ahli sekalipun bisa menemukan kata baru yang asing di telinganya.
  • Gaya Bahasa Klasik: Orang-orang zaman dahulu sangat menikmati keindahan rima dan diksi dalam percakapan sehari-hari, menjadikannya sebuah seni tersendiri.

Cerdas Bernegosiasi dan Tegas Memimpin

Selain dikenal karena selera humornya yang tinggi, Abu al-Aswad al-Du’ali juga merupakan sosok yang sangat logis dan praktis. Beliau tahu kapan harus berdiplomasi dan kapan harus bersikap tegas.

Pernah suatu ketika, Abu al-Aswad membawa seekor unta untuk dijual. Seorang calon pembeli datang dan berkata, “Ayo, kita buat kesepakatan yang saling mendekat (tawar-menawar).”

Abu al-Aswad menjawab dengan cerdik, “Jika kamu tidak mendekatiku (dengan harga yang pas), maka aku yang akan menjauhimu!”

Si pembeli kemudian berkata, “Tadi ada yang menawarku unta ini dengan harga sekian dan sekian, tapi aku tawarkan padamu sekarang dengan harga sekian.”

Mendengar si pembeli terus membahas harga tawaran orang lain yang sudah lewat, Abu al-Aswad menyentilnya dengan kalimat tajam:

“Kamu ini terus saja menceritakan tentang kebaikan (keberuntungan) yang sudah terlewat!”

Pesan beliau jelas: Fokuslah pada transaksi yang ada di depan mata, jangan sibuk membandingkan dengan kesempatan yang sudah hilang.

Tegas Menghadapi Peminta yang Memaksa

Abu al-Aswad juga memiliki prinsip yang kuat dalam urusan sosial. Beliau pernah berkata:

“Tidak ada yang lebih baik bagi peminta-minta yang memaksa (agresif) selain penolakan yang keras (dingin).”

Beliau menggunakan istilah “Al-Jamis” yang secara bahasa berarti beku atau padat (seperti air atau lemak yang membeku). Ini adalah kiasan bahwa terhadap orang yang meminta dengan cara tidak sopan, kita harus bersikap tegas dan tak tergoyahkan.

Kepercayaan Sang Sahabat: Menjadi Gubernur Basra

Kapasitas Abu al-Aswad bukan hanya diakui dalam bidang ilmu pengetahuan, tapi juga dalam pemerintahan. Sejarah mencatat sebuah fakta penting: Ibnu Abbas, sang ulama besar sekaligus gubernur, pernah menunjuk Abu al-Aswad untuk menjadi wakilnya (Plt. Gubernur) di Basra.

Hal ini disepakati oleh mayoritas ahli sejarah, ahli nasab, dan penulis biografi. Ini membuktikan bahwa Abu al-Aswad adalah sosok yang lengkap: Ilmuwan, Sastrawan, sekaligus Pejabat publik yang amanah.

Ketika Lidah Sang Maestro Lebih Tajam dari Pedang: Duel Kata dengan Si Orang Badui

Tahukah kamu? Abu al-Aswad al-Du’ali tidak hanya ahli dalam menyusun kaidah bahasa, tapi beliau juga dikenal memiliki selera humor yang sarkas dan kecerdasan spontan yang sering kali membuat lawan bicaranya “mati kutu”.

Salah satu kisah yang paling terkenal adalah saat beliau sedang pergi berburu bersama para sahabatnya.

Ketika mereka sedang asyik duduk untuk menikmati hidangan makanan, datanglah seorang Arab Badui (A’rabi) yang ingin ikut bergabung. Si Badui menyapa dengan sopan:

“Assalamu’alaikum!”
Abu al-Aswad menjawab dengan singkat dan datar: “Kalimatun maqulah!” (Artinya: “Ya, itu memang ucapan yang biasa dikatakan orang.”)—sebuah jawaban dingin yang menandakan beliau sedang tidak ingin diganggu.

Si Badui tidak menyerah dan bertanya, “Boleh aku masuk (ikut bergabung)?”
Abu al-Aswad menjawab dengan sarkas: “Di belakangmu itu tempatnya jauh lebih luas untukmu!” (Maksudnya: “Jangan ke sini, mending kamu di sana saja”).

Si Badui mencoba beralasan, “Tapi pasir yang panas ini sudah membakar kaki-kakiku.” Abu al-Aswad menimpali dengan santai, “Kencingi saja kedua kakimu itu (biar dingin).”

Si Badui yang mulai lapar pun langsung bertanya pada intinya, “Apakah kamu punya sesuatu untuk dimakan?”
Abu al-Aswad menjawab dengan sangat jujur tapi pedas:

“Kami makan dulu, lalu kami beri makan keluarga kami. Kalau nanti ada sisanya, kamu lebih berhak mendapatkannya… daripada seekor anjing!”

Merasa sangat dihina, si Badui itu berseru, “Aku belum pernah melihat orang yang lebih pelit dan rendah darimu!” Dengan tenang dan tanpa dosa, Abu al-Aswad menjawab:
“Oh, ada kok! Tapi sepertinya kamu saja yang lupa (pernah bertemu).”

Pesan di Balik Komedi: Kejujuran Tanpa Basa-Basi

Meskipun dialog ini terdengar sangat “pedas”, kisah-kisah seperti ini sering diceritakan untuk menunjukkan betapa orang Arab dahulu sangat menghargai ketangkasan dalam berbicara (balaghah).

Abu al-Aswad ingin menunjukkan bahwa dalam komunikasi, kejujuran yang lugas terkadang lebih efektif daripada basa-basi yang tidak tulus—walaupun cara menyampaikannya bisa bikin telinga merah!

Si Filosofis yang Unik: Kisah Keledai dan Jubah Tua Abu al-Aswad

Sebagai penutup rangkaian kisah sang Bapak Nahwu, ada dua fragmen cerita yang memperlihatkan betapa uniknya cara berpikir Abu al-Aswad al-Du’ali.

Beliau adalah sosok yang sangat menghargai waktu dan tahu cara berterima kasih dengan elegan.

Suatu malam, Abu al-Aswad terbangun dari tidurnya. Di tengah kesunyian, beliau mendengar suara hewan tunggangannya sedang asyik mengunyah gandum. Melihat hewan itu tetap “produktif” makan sementara dirinya hanya tertidur, beliau bergumam:

“Aku tidak rela melihatmu tetap terjaga (bekerja/makan) sementara aku hanya tertidur lelap!”

Aneh tapi nyata, keesokan harinya beliau langsung menjual hewan tersebut! Kisah unik ini sering dimaknai sebagai gambaran betapa beliau sangat menghargai waktu dan aktivitas, hingga merasa “tersindir” oleh hewan yang tetap beraktivitas di malam hari.

Suatu hari, Abu al-Aswad menghadap Al-Jarud (seorang pembesar) dengan mengenakan pakaian yang sudah sangat usang dan compang-camping. Melihat hal itu, Al-Jarud bertanya dengan heran, “Apa-apaan pakaianmu ini?”

Abu al-Aswad menjawab dengan kalimat filosofis:

“Semoga Allah memperbaiki urusanmu, wahai Emir! Terkadang ada sesuatu yang sudah membosankan (tua), tapi kita tidak sanggup berpisah darinya.”

Al-Jarud langsung paham bahwa Abu al-Aswad sedang berkekurangan namun terlalu menjaga kehormatan untuk meminta-minta secara langsung. Al-Jarud pun segera mengirimkan pakaian baru dan santunan uang. Sebagai bentuk syukur, Abu al-Aswad menggubah syair yang indah:

Dia memberimu pakaian padahal kita tidak memintanya, maka pujilah dia… Dialah saudaramu yang memberimu anugerah besar dan menjadi penolongmu. Sesungguhnya orang yang paling berhak mendapatkan pujianmu…
Adalah dia yang memberimu saat harga dirimu masih terjaga utuh.

Akhir Perjalanan Sang Penjaga Bahasa: Doa dan Wafatnya Abu al-Aswad

Sahabat ilmualat, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Setelah kita melihat betapa cerdas, tegas, dan humorisnya Abu al-Aswad al-Du’ali, mari kita lihat bagaimana beliau mengenang masa lalunya dan bagaimana beliau berpulang ke hadirat Yang Maha Kuasa.

Syair Kenangan untuk Dua Pemimpin

Di masa tuanya, Abu al-Aswad pernah menggubah sebuah syair yang mencerminkan kedewasaan berpikirnya. Beliau mengenang masa-masa keemasannya saat bekerja bersama tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Amir. Beliau bersyair:

“Aku teringat Ibnu Abbas di depan pintu kediaman Ibnu Amir…”
“Aku teringat masa lalu hidupku yang telah lewat, maupun yang tersisa…”
“Keduanya adalah pemimpinku dan keduanya sudah seperti saudaraku…”
“Maka semoga Allah membalas masing-masing dari mereka atas apa yang telah mereka perbuat.”
“Jika itu kebaikan, maka kebaikan pula balasannya…”
“Dan jika itu keburukan, maka biarlah ia dibalas sesuai amalannya.”

Syair ini menunjukkan sikap bijak dan tawakal. Beliau tidak menghakimi, melainkan menyerahkan segala urusan hamba kepada Allah, sambil tetap menghargai jasa orang-orang yang pernah dekat dengannya.

Wafatnya Sang Pionir

Dunia ilmu pengetahuan berduka ketika sang “Bapak Nahwu” ini akhirnya menghembuskan napas terakhir. Abu al-Aswad al-Du’ali wafat pada tahun 69 Hijriah.

Beliau wafat akibat wabah kolera besar yang dikenal sebagai Tha’un al-Jarif (Wabah yang Menghanyutkan) yang melanda wilayah tersebut. Beliau berpulang dalam usia yang cukup panjang dan penuh berkah, yaitu 85 tahun.

Warisan yang Tak Akan Pernah Padam

Meskipun Abu al-Aswad telah tiada lebih dari seribu tahun yang lalu, setiap kali kita membaca Al-Qur’an dengan harakat yang tepat, atau setiap kali seorang santri belajar tentang Fa’il dan Ma’ful, maka pahala jariyah terus mengalir untuknya.

Beliau bukan sekadar ahli bahasa; beliau adalah penjaga identitas umat dan pembuka pintu ilmu bagi generasi setelahnya.

Terima kasih telah mengikuti seri profil Abu al-Aswad al-Du’ali ini dari awal hingga akhir. Semoga kisah hidup beliau menginspirasi kita untuk terus menjaga bahasa dan integritas diri kita.

Jangan lupa bagikan artikel ini ke teman-temanmu agar mereka juga mengenal sosok hebat ini! Sampai jumpa di artikel sejarah berikutnya!


Zizo: 27-04-2026

انظر: طبقات النحويين واللغويين — الزبيدي، ص ٢١ وما بعدها

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.