BismilahiRahmaniRahim. In Syaa Allah akan dibahas mengenai fungsi hatta dalam ilmu nahwu.
Dalam linguistik bahasa Arab, kata Hatta (حَتَّى) memiliki kompleksitas makna dan fungsi gramatikal yang sangat luas. Saking kompleksnya, ulama nahwu terkemuka Abu Zakaria al-Farra pernah berujar:
قال الفَرَّاءُ: اَموتُ وفي نَفسي شيءٌ مِنْ حَتَّى
“Aku mati, namun di dalam hatiku masih ada sesuatu (ganjalan) mengenai hatta.”
1. Hatta Ibtida’iyah (حَتَّى الِابْتِدَائِيَّة)
حتى الابتدائية هو حرف يُبتدأ به الكلام، ويستأنف عما قبله؛ ولذلك كان ما يقع بعدها جملةً تامةً
Hatta Ibtida’iyah adalah huruf permulaan yang digunakan untuk menyambung kalimat sebelumnya dengan kalimat baru yang berdiri sendiri. Secara gramatikal (i’rab), huruf ini tidak memiliki fungsi amal (tidak mengubah harakat kata setelahnya) dan tidak memiliki kedudukan atau mahal ‘irab.
Karakteristik utama dari jenis ini adalah kalimat sebelum dan sesudahnya merupakan kalimat sempurna (kalam tamm), baik berupa jumlah ismiyyah (susunan subjek-predikat) maupun jumlah fi’liyyah (susunan kata kerja-pelaku).
Contoh Penggunaan:
-» Posisi hatta sebelum jumlah ismiyyah:
فَازَ الطُّلاَبُ حَتَّى خَالِدٌ ناجحٌ
حَتَّى : حرف ابتدائي مبني على السكون لا محل له من الإعراب
خَالِدٌ : مبتدأ مرفوع وعلامته الضمة الظاهرة
ناجحٌ : خبر مرفوع وعلامته الضمة الظاهرة
-» Posisi hatta sebelum jumlah fi’liyyah:
Contoh2: (Posisi hatta sebelum jumlah fi’liyyah):
ضَرَبَ خَالدٌ الكلبَ حَتَّى فَقَدَ وَعْيُهُ
Khalid telah memukul anjing sampai pingsan.
حَتَّى : حرف ابتدائي مبني على السكون لا محل له من الإعراب
فَقَدَ : فعل ماض مبني على الفتح وضمير مستتر تقديره هو
وعي : فاعل مرفوع وعلامته الضمة الظاهرة وهو مضاف. الهاء: ضمير مبني على الضم في محل جر مضاف إليه
Penggunaan Bersama Idza Syartiyyah (إِذَا الشَّرْطِيَّة):
Dalam struktur kalimat bahasa Arab, Hatta Ibtida’iyah terkadang diikuti oleh kata keterangan syarat yakni Idza Syartiyyah (uslub syarat). Penggunaan ini menjadi titik diskursus di kalangan pakar linguistik Arab mengenai fungsi gramatikalnya:
1. Pandangan Mayoritas (Jumhur): Menetapkan bahwa hatta dalam konteks ini tetap merupakan Hatta Ibtida’iyah (huruf permulaan) yang mengawali sebuah kalimat syarat.
2. Pandangan Alternatif: Sebagian ulama berpendapat bahwa hatta dalam posisi ini berfungsi sebagai Harf Jar (kata depan).
Studi Kasus: Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran Ayat 152. Salah satu rujukan utama penggunaan pola ini terdapat dalam Al-Qur’an:
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ ٱللَّهُ وَعْدَهُۥٓ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّىٰٓ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَٰزَعْتُمْ فِى ٱلْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّنۢ بَعْدِ مَآ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَ
“Dan sungguh, Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mengabaikan perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai.” (QS. Ali ‘Imran: 152)
Dalam ayat tersebut, frasa حَتَّىٰٓ إِذَا (hatta idza) menunjukkan transisi peristiwa (puncak kejadian) yang menjadi batas antara kemenangan awal kaum Muslimin menuju ujian perselisihan internal di Perang Uhud.
Dalam literatur Hadis, struktur Hatta Ibtida’iyah ditemukan dalam narasi yang menunjukkan akumulasi atau puncak dari suatu kondisi. Salah satu contoh masyhur terdapat dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim:
مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ، وَلَا حَزَنٍ، وَلَا أَذَى، وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكَهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, rasa sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan gundah gulana, hingga terkena duri sekali pun, melainkan itu semua menjadi penghapus dari dosa dan kesalahannya.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
Analisis Sintaksis (I’rab):
Para pakar ilmu Nahwu memberikan catatan khusus mengenai kedudukan kata asy-syaukatu (الشَّوْكَةُ) dalam hadis tersebut, yang mana dapat dianalisis ke dalam dua kondisi gramatikal:
1. Kondisi Marfu‘ (Harakat Dhammah): Jika Hatta dianggap sebagai Huruf Ibtida’, maka kata asy-syaukatu berkedudukan sebagai Mubtada (subjek) dari sebuah kalimat baru yang menyambung kalimat sebelumnya.
2. Kondisi Majrur (Harakat Kasrah): Jika Hatta dianggap sebagai Harf Jar, maka kata asy-syaukati berkedudukan sebagai Isim Majrur (objek preposisi).
2. Hatta Jaarah (حَتَّى الْجَارَّة)
Hatta Jaarah adalah jenis hatta yang berfungsi sebagai preposisi (kata depan). Secara gramatikal, ia memiliki fungsi amal yaitu men-jer-kan (majrur) kata benda (isim) yang terletak setelahnya. Hatta jenis ini memiliki tiga variasi makna dan implikasi i’rab yang berbeda:
a). Hatta Bermakna Ila (إِلَى)
Fungsi yang paling umum dari Hatta Jaarah adalah menggantikan makna kata depan Ila, yang menunjukkan batas akhir suatu tujuan atau waktu (Ghayah).
Ketentuan Penggunaan:
- Isim Zhahir: Kata benda yang terletak setelahnya harus berupa Isim Zhahir atau Sharih (kata benda eksplisit).
- Bukan Dhamir: Berbeda dengan kata Ila, Hatta dalam fungsi ini tidak diperbolehkan menjerkan kata ganti (Isim Dhamir), kecuali dalam kasus syadz (anomali) pada syair Arab kuno.
- Bukan Kalimat: Kata yang dijerkan tidak boleh berupa susunan kalimat (jumlah), melainkan kata benda tunggal.
Contoh Penggunaan dan ‘irab:
سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
(Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar). Kata mathla’i berharakat kasrah (majrur) karena keberadaan Hatta.
حتى: حرف جر بمعنى (إلى) مبني على السكون لا محل له من الإعراب
مَطْلَعِ : اسم مجرور ب (حتى) وعلامة جره الكسرة الظاهرة وهو مضاف
الْفَجْرِ : مضاف إليه مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة
أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسِهَا
Aku telah memakan ikan (sampai) kepalanya.
أَكَلْتُ السَّمَكَةَ : فعل + فاعل + مفعول به
حَتَّىٰ : حرف جر بمعنى (إلى) مبني على السكون لا محل له من الإعراب
رَأْسِهَا : رأس : اسم مجرور ب (حتى) وعلامة جره الكسرة الظاهرة وهو مضاف
والهاء : ضمير مبني على السكون في محل جر مضاف إليه
Dalam kitabnya Mughni al-Labib (Jilid 1, hlm. 149) Ibnu Hisyam al-Anshari menyatakan:
وقد يكون الموضع صالحًا لأقسام (حتى) الثلاثة؛ كقولك: أكلت السمكة حتى رأسها، فلك أن تخفض على معنى (إلى)، وأن تنصب على معنى (الواو)، وأن ترفع على الابتداء
“Terkadang sebuah posisi kalimat memungkinkan untuk ketiga jenis (Hatta); seperti ucapanmu: ‘Akaultu as-samakata hatta ra’saha’. Maka engkau boleh men-jer-kannya dengan makna ‘Ila’, men-nashab-kannya dengan makna ‘Wawu’ (athaf), dan merofa’-kannya sebagai ibtida’.”
Berikut adalah analisis detail i’rab (sintaksis) untuk kata ra’s (رأس) berdasarkan fungsi Hatta:
- Kondisi Marfu’ (رَأْسُهَا) — Sebagai Mubtada’.
Kondisi ini terjadi apabila Hatta dianggap sebagai Huruf Ibtida’. Kalimat tersebut diasumsikan memiliki struktur kalimat baru yang predikatnya (khabar) disembunyikan (mahdzuf).
أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسُهَا
Makna: “Aku memakan ikan itu, bahkan kepalanya (juga) dimakan.”
حَتَّى : حرف ابتدائي مبني على السكون لا محل له من الإعراب
رَأْسُهَا : رأس : مبتدأ مرفوع وعلامته الضمة الظاهرة وهو مضاف
والهاء : ضمير مبني على السكون في محل جر مضاف إليه. وخبر مبتدأ محذوف تقديره مأكولٌ
- Kondisi Majrur (رَأْسِهَا) — Sebagai Isim Majrur
Kondisi ini terjadi apabila Hatta berfungsi sebagai Huruf Jar yang bermakna Ila (sampai/hingga).
أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسِهَا
* Makna: “Aku memakan ikan itu sampai ke bagian kepalanya (namun kepala tidak ikut dimakan).”
حَتَّى : حرف جر مبني على السكون لا محل له من الإعراب
رَأْسِهَا : رأسِ : اسم مجرور وعلامة جره الكسرة الظاهرة وهو مضاف
والهاء : ضمير مبني على السكون في محل جر مضاف إليه
- Kondisi Manshub (رَأْسَهَا) — Sebagai Ma’thuf.
Kondisi ini terjadi apabila Hatta berfungsi sebagai Huruf ‘Athaf (kata sambung). Kata setelah Hatta mengikuti status kata sebelumnya (as-samakata).
أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسَهَا
* Makna: “Aku memakan ikan itu termasuk pula kepalanya.”
حَتَّى : حرف عطف مبني على السكون لا محل له من الإعراب
رَأْسَهَا : رأسَ : اسم معطوف على السمكة منصوب وعلامة نصبه الفتحة الظاهرة وهو مضاف
والهاء : ضمير مبني على السكون في محل جر مضاف إليه
b). Hatta huruf jar bermakna إلى أن
Fungsi ini memiliki faedah al-Ghayah (tujuan/sasaran) yang dalam bahasa Indonesia lazim diterjemahkan dengan kata “hingga”.
Berbeda dengan poin sebelumnya yang diikuti oleh isim zhahir, Hatta dalam konteks ini diikuti oleh kata kerja mudhari’ (fi’il mudhari‘) yang berstatus manshub (berharakat akhir fathah).
Terdapat perbedaan fundamental dalam analisis sintaksis (i’rab) antara dua mazhab besar linguistik Arab mengenai penyebab manshub-nya kata kerja tersebut:
* Mazhab Kuffah: Berpendapat bahwa Hatta tetap berstatus sebagai Huruf Jar. Adapun fi’il mudhari’ menjadi manshub karena adanya partikel penghubung yang disembunyikan, yaitu An Mashdariyyah (أَنْ الْمَصْدَرِيَّة).
Secara struktural, gabungan antara An yang tersembunyi dan fi’il tersebut membentuk Mashdar Mu’awwal yang menempati posisi majrur oleh Hatta.
* Mazhab Bashrah: Berpendapat bahwa Hatta dalam posisi ini bukanlah huruf jar, melainkan berfungsi langsung sebagai Huruf Nashab (Harfu Nashib). Menurut mereka, fi’il mudhari’ menjadi manshub secara langsung oleh Hatta itu sendiri tanpa perlu memperkirakan adanya An Mashdariyyah.
Contoh Penggunaan:
وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ. البقرة ١٩٧
“Dan Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar”.
Untuk cara mengi’rabnya akan mengikuti pendapat Ulama Kuffah.
حَتَّىٰ : حرف جر بمعنى (إلى أن) للغاية، مبني على السكون لا محل له من الإعراب
يَتَبَيَّنَ : فعل مضارع منصوب بأن المضمرة بعد حتى، وعلامة نصبه الفتحة
لكم : جر ومجرور
ٱلْخَيْطُ : فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة وهو منعوت
ٱلْأَبْيَضُ : نعت للخيط جملة (أن وفعل يَتَبَيَّنَ) في تأويل مصدر مؤول تقديره : (بيان ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ) في محل جر مجرور بحرف جر حتى
__________
أدْرُسُ حَتَّى أَنْجَحَ
Aku akan belajar hingga sukses
أدْرُسُ : فعل + فاعل
حَتَّى : حرف جر بمعنى (إلى أن) أو يفيد للغاية، مبني على السكون لا محل له من الإعراب
أَنْجَحَ : فعل مضارع منصوب بأن المضمرة بعد حتى، وعلامة نصبه الفتحة جملة (أن وفعل أَنْجَحَ) في تأويل مصدر مؤول تقديره : (نجاح) في محل جر مجرور بحرف جر حتى
c) Hatta Bermakna Ta’lil (حَتَّى التَّعْلِيْلِيَّة)
Hatta Ta’lil adalah jenis Hatta Jaarah yang berfungsi untuk menunjukkan alasan atau sebab (causality). Dalam konteks ini, kalimat yang terletak setelah Hatta merupakan alasan (ilat) bagi terjadinya peristiwa pada kalimat sebelumnya. Dalam bahasa Indonesia, fungsi ini sering diterjemahkan sebagai “agar” atau “supaya”.
Karakteristik dan Analisis Sintaksis:
Sama halnya dengan Hatta lil Ghayah, fi’il mudhari’ yang jatuh setelah Hatta Ta’lil berstatus manshub. Mazhab Kuffah: Menjelaskan bahwa manshub-nya kata kerja tersebut disebabkan oleh adanya An Mashdariyyah yang disembunyikan (idmar) di antara Hatta dan fi’il mudhari’.
Contoh Penggunaan:
-» Dalam Al-Qur’an (Surah Muhammad: 31):
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ
“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu…”
Analisis: Lafaz na’lama (نَعْلَمَ) merupakan alasan dari lafaz lanabluwannakum (وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ). Allah memberikan ujian dengan tujuan agar tampak perbedaan antara mereka yang berjihad secara sungguh-sungguh dengan orang-orang munafik.
-» Dalam Percakapan Sehari-hari:
شَرَبْتُ الدَّوَاءَ حَتَّى أَصِحَّ
” Aku minum obat agar aku sehat.”
Analisis: Kata ashihha (أَصِحَّ) adalah fi’il mudhari’ manshub yang menjelaskan alasan dari tindakan meminum obat.
شَرَبْتُ الدَّوَاءَ : فعل + فاعل + مفعول به
حَتَّى : حرف جر يفيد التعليل مبني على السكون لا محل له من الإعراب
أَصِحَّ : فعل مضارع منصوب بأن المضمرة بعد حتى، وعلامة نصبه الفتحة جملة (أن وفعل أَصِحَّ) في تأويل مصدر مؤول تقديره : (صحّة) في محل جر مجرور بحرف جر حتى
3. Hatta ‘Athaf (حَتَّى الْعَاطِفَة)
Hatta ‘Athaf berfungsi sebagai kata sambung (konjungsi) yang bermakna sama dengan huruf Wawu (و) atau “dan”.
Dalam struktur ini, kata yang terletak setelah Hatta (ma’tuf) mengikuti status hukum gramatikal kata sebelumnya (ma’tuf ‘alaih).
Contoh Penggunaan:
ذَهَبَ الطُّلاَّبُ حَتَّى أَخُوكَ إِلَى الْمَدْرَسَةِ
Para siswa dan saudaramu telah berangkat ke sekolah.
حتّى : حرف عطف مبني على السكون لا محل له من الإعراب
أَخُوكَ : معطوف على الطلاب مرفوع وعلامة رفعه الواو لأنه من الأسماء الخمسة وهو مضاف
والكاف : ضمير مبني على الفتح في محل جر مضاف إليه
* I’rab: Akhuka adalah ma’tuf kepada at-tullabu, sehingga berstatus marfu’ dengan tanda Wawu (karena termasuk Asmaul Khamsah/Isim Lima).
حَضَرَ الطُّلاَّبُ حَتَّى الْأَسَاتِيْذُ
Para siswa dan Para Ustadz telah hadir.
حتّى : حرف عطف مبني على السكون لا محل له من الإعراب
الأسَاتِيْذُ : معطوف على الطلاب مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة
* I’rab: Al-Asatidzu berstatus marfu’ mengikuti kata at-tullabu.
Perdebatan Ulama:
Eksistensi Hatta sebagai huruf ‘athaf menjadi subjek perbedaan pendapat di antara madrasah linguistik Arab:
* Mazhab Kuffah: Menyatakan bahwa tidak ada Hatta yang berfungsi sebagai huruf ‘athaf dalam kaidah bahasa Arab.
* Mazhab Bashrah: Mengakui adanya Hatta ‘Athaf, meskipun penggunaannya dianggap sangat jarang (nadir).
Syarat Ketentuan Hatta ‘Athaf:
Agar Hatta dapat dikategorikan sebagai huruf ‘athaf, para pakar linguistik menetapkan beberapa syarat berikut:
- Harus berupa Isim Zhahir: Kata setelah Hatta tidak boleh berupa kata ganti (dhamir).
* Contoh Benar: حَضَرَ الطُّلابُ حَتَّى خَالدٌ (✔)
* Contoh Salah: حَضَرَ الطُّلابُ حَتَّى أَنَا (✘)
- Harus berupa Isim (Bukan Fi’il): Jika setelah Hatta terdapat kata kerja (fi’il), maka ia diklasifikasikan sebagai Hatta Ibtida’iyah atau Jaarah.
- Bagian dari Kata Sebelumnya: Ma’tuf (kata setelahnya) harus merupakan bagian integral atau bagian dari jenis ma’tuf ‘alaih (kata sebelumnya).
* Khalid adalah bagian dari kelompok Siswa.
* Kepala ikan adalah bagian dari Ikan.
* Para Nabi adalah bagian dari umat Manusia (مَاتَ النَّاسُ حَتَّى الْأَنْبِيَاءُ).
Catatat untuk diingat:
1. Fleksibilitas I’rab: Satu kalimat yang sama (seperti kasus “makan ikan”) bisa dibaca dengan tiga harakat berbeda (ra’suhu, ra’sihi, ra’sahu) tergantung jenis hatta yang digunakan.
2. Khilafiyah Ulama: Terdapat perbedaan besar antara Mazhab Bashrah dan Kuffah, terutama pada fungsi hatta sebagai huruf nashab dan huruf ‘athaf.
3. Kedalaman Makna: Seperti kata Abu Zakaria al-Farra di awal artikel, hatta adalah salah satu kata paling kompleks dalam bahasa Arab karena satu kata bisa mengubah seluruh struktur dan logika kalimat.
Wallahu’alam. Semoga bermanfaat
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا
___________________
## Daftar Pustaka
* Al-Anshari, Ibnu Hisyam. (n.d.). Mughni al-Labib ‘an Kutub al-A’arib. Jilid 1. Beirut: Dar al-Fikr. (Hal. 149-155).
* Al-Ghalayini, Syekh Musthafa. (2005). Jami’ al-Durus al-‘Arabiyah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah. (Bagian Huruf & Tawabi’).
* Bin ‘Aqil, Bahauddin. (2004). Syarah Ibnu ‘Aqil ‘ala Alfiyah Ibnu Malik. Kairo: Dar al-Turats. (Jilid 2, Bab al-Jar & al-‘Athaf).
* Al-Farra, Abu Zakaria. (1980). Ma’ani al-Qur’an. Kairo: Dar al-Mishriyyah li al-Ta’lif wa al-Tarjamah.
* Al-Maliki, Ibnu Malik. (n.d.). Al-Alfiyah fi al-Nahwi wa al-Sharf. (Matan Alfiyah).
* Dzahir Syaukat Albayati. (2005). Adawatul’irab. Beirut. (Hal. 85)




