Tragedi Semalam Suntuk: Ketika “Modal Nekad” Menulis Bahasa Arab Berujung Ambyar
Halo Sahabat ilmualat! Masih ingat cerita saya sebelumnya tentang teknik belajar Bahasa Arab lewat membaca dan menulis? Kali ini, saya ingin berbagi kelanjutan kisahnya yang penuh drama, tawa, dan tentu saja… pelajaran berharga.
Beberapa bulan setelah pertemuan dengan Sang Motivator di Bandung, kemampuan Bahasa Arab saya mulai menunjukkan grafik peningkatan. Namun, jujur saja, saat itu saya masih menjadi “hamba hafalan”.
Saya hobi mengumpulkan ratusan mufrodat (kosa kata) dari kamus kontemporer, menuliskannya di lembaran kertas sampai kusam dan sobek.
Saku baju dan celana saya selalu penuh kertas, mirip orang yang bawa jimat, padahal itu adalah harta karun yang paling berharga bagi saya saat itu. Tapi masalahnya satu: Saya hanya hafal, tapi jarang berlatih menggunakannya.
Misi Nekad di Tengah Malam
Suatu hari, seorang adik kelas menghampiri saya. Ia minta bantuan dibuatkan esai Bahasa Arab untuk diskusi kelasnya. Entah dapat keberanian dari mana, dengan modal nekad dan percaya diri tingkat tinggi, saya langsung menyanggupi: “Siap, bisa!” padahal dalam hati juga ragu.
Malam itu, di rumahnya, dimulailah “operasi senyap”. Karena zaman itu belum ada laptop apalagi smartphone, semua dilakukan manual. Semua buku berbahasa Arab di lemari saya turunkan.
Tiga jam berlalu… dan hasilnya? Satu paragraf pun belum selesai. Saya merasa seperti tersesat di tengah hutan rimba. Menulis, coret, tulis, coret. Lembaran buku hampir habis, tapi tulisan saya jalan di tempat.
Di samping saya, kawan saya sudah tidur terlelap dengan dengkuran yang sangat kencang, seolah mengejek kebuntuan otak saya.
Keajaiban Setelah Doa
Hampir menyerah, saya memutuskan mengambil wudhu dan shalat. Saya berdoa, “Ya Allah, berikan hamba keajaiban malam ini agar bisa menyelesaikan tugas ini.”
Ajaibnya, setelah itu otak rasanya seperti di-install ulang. Lebih segar dan fokus! Singkat cerita, begitu azan Subuh berkumandang, sepuluh lembar tulisan tangan pun rampung.
“Gimana, beres?” tanya kawan saya saat bangun. “Tenang, beres res res…!” jawab saya bangga. Tapi, saya bilang tulisan itu mau saya bawa dulu untuk dikoreksi teman lain agar hasilnya “mantul” (mantap betul).
“Karya Masterpiece” atau Sampah Daur Ulang?
Keesokan harinya, saya tunjukkan tulisan itu kepada seorang kawan yang lebih ahli. Dia membacanya lembar demi lembar sambil tersenyum-senyum. Saya ikut tersenyum lebar, menyangka dia kagum.
“Kenapa senyum, Khi? Bagus ya?” tanya saya optimis. Dia tertawa, “Wah, ini mantul… mantap betul 99%!”
“99% kenapa?” tanya saya penasaran.
“99% ini adalah tulisan Bahasa Arab paling hancur yang pernah ane lihat! Ente memang manusia paling nekad!”
Jleb.
Rasanya seperti sudah susah payah keluar dari hutan, malah ketemu harimau ganas. Dia menjelaskan letak kehancurannya:
- Pemilihan Mufrodat: Banyak kata yang tidak pas penempatannya.
- Kaidah Nahwu & Shorof: Berantakan total.
- Kesalahan Huruf: Huruf Kha (خ) tertukar dengan Ha (ح), dan banyak lagi.
“Ini bukan bahan buat dikoreksi, tapi lebih cocok buat didaur ulang!” pungkasnya.
Pelajaran Berharga: Jangan Hanya Jadi Penyimak Pasif
Dari kejadian “berdarah-darah” itu, saya belajar satu hal penting: Mahir Bahasa Arab tidak bisa instan.
Kita tidak bisa membuang salah satu elemen bahasa. Membaca, mendengar, menulis, dan berbicara harus seimbang.
Menulis adalah tantangan yang paling bergengsi karena di sanalah ketepatan struktur dan pemilihan kata kita diuji secara nyata.
Banyak orang pandai bicara, tapi belum tentu lihai menulis. Menulis adalah momok bagi pemula, tapi itulah alat ukur terbaik untuk melihat perkembangan kita.
Pesan saya untuk teman-teman seperjuangan
Jangan jadi pecinta Bahasa Arab yang pasif. Mulailah menulis, meskipun salah. Jangan hanya modal nekad dengan kemampuan nol besar seperti saya dulu. Berlatihlah secara konsisten dan terarah.
Ingatlah sebuah pepatah:
نجاحك في حياتك من صنع يديك بمقدار ما بذلته من جهد
“Kesuksesanmu dalam hidup adalah buah dari hasil tanganmu sendiri, sesuai dengan kadar usaha yang kamu kerahkan.”
Tetap semangat dan istiqomah, ya!
Bagaimana menurutmu? Apakah kamu punya pengalaman serupa saat belajar menulis bahasa asing? Yuk, share di kolom komentar!




Response (1)