Kalau sebelumnya kita sudah kenal dengan duo jenius Nasr bin ‘Asim dan Yahya bin Ya’mar, kali ini kita kenalan dengan tokoh lain yang nggak kalah nyentrik: Anbasah al-Fil.
Namanya mungkin terdengar asing, tapi di kalangan ahli bahasa (Nahwu), beliau punya posisi yang penting. Sosok ini punya cerita yang cukup unik, mulai dari asal-usul keluarganya sampai keahliannya yang bikin orang-orang rela antre buat belajar.
Berawal dari Negeri Meisan ke Basrah
Nama aslinya adalah Anbasah bin Ma’dan, putra dari Ma’dan, seorang pria asal Meisan (wilayah di Irak selatan). Nah, Ma’dan ini memutuskan untuk merantau dan menetap di kota Basrah. Seperti yang kita tahu, Basrah pada masa itu adalah “pusatnya” ilmu pengetahuan dan gudangnya para ulama besar.
Kisah Unik di Balik Julukan “Al-Fil” (Si Gajah)
Ada satu hal menarik soal nama keluarganya. Ayahnya, Ma’dan, punya julukan populer: Ma’dan al-Fil (Ma’dan si Gajah). Belum ada catatan pasti kenapa julukan itu melekat, tapi saking populernya, orang-orang lebih sering memanggilnya dengan julukan tersebut daripada nama aslinya.
Lucunya, julukan “Gajah” ini tidak berhenti di sang ayah saja, tapi akhirnya “diwariskan” juga kepada anaknya, sehingga ia dikenal sebagai Anbasah bin Ma’dan al-Fil.
Sang Maestro Bahasa Arab
Meski punya julukan yang unik, kemampuan Anbasah nggak main-main. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang paling mahir dalam bahasa Arab dan ilmu-ilmunya.
Kepakarannya diakui luas oleh masyarakat saat itu. Buktinya, rumahnya sering didatangi banyak orang dari berbagai kalangan. Mereka datang jauh-jauh ke Basrah hanya untuk menimba ilmu bahasa langsung dari Anbasah. Ia menjadi rujukan penting bagi siapa saja yang ingin mendalami tata bahasa atau sastra Arab pada masanya.
Anbasah bin Ma’dan adalah bukti bahwa nama besar (atau julukan unik) tidak menghalangi seseorang untuk menjadi intelektual hebat. Dari Meisan hingga menjadi rujukan di Basrah, kontribusinya dalam menjaga keaslian bahasa Arab tetap dikenang hingga kini.
Skandal “Gajah” dan Perseteruan dengan Penyair Legendaris
Ternyata, julukan Al-Fil (Si Gajah) yang melekat pada Anbasah bukan sekadar nama keren, tapi ada sejarah bisnis keluarga yang cukup unik di belakangnya. Begini ceritanya:
Dulu, penguasa Basrah yang bernama Ziyad bin Abihi punya koleksi gajah. Biaya perawatannya lumayan mahal, sekitar 10 dirham sehari.
Ayah Anbasah, Ma’dan, melihat ini sebagai peluang bisnis. Ia menawarkan diri: “Sini, kasih gajah-gajah itu ke saya. Saya tanggung semua biayanya, malah saya yang bakal setor 10 dirham tiap hari ke pemerintah!”
Singkat cerita, kesepakatan deal. Dari bisnis pengelolaan gajah inilah Ma’dan jadi kaya raya sampai bisa membangun istana. Karena itulah ia dijuluki Ma’dan Al-Fil (Ma’dan si Juragan Gajah).
“Disentil” Sang Maestro Puisi, Al-Farazdaq
Menjadi ahli bahasa atau kritikus sastra zaman dulu itu ada risikonya, apalagi kalau berurusan dengan penyair besar yang punya “lidah tajam” seperti Al-Farazdaq.
Anbasah tumbuh besar sebagai pemuda yang cerdas, fasih, dan hafal banyak puisi hebat. Masalahnya, Anbasah ini fans berat Jarir (saingan berat penyair legendaris Al-Farazdaq).
Anbasah sering memuji Jarir dan mengaku-ngaku sebagai keturunan suku Arab terpandang, Bani Abu Bakar bin Kilab.
Al-Farazdaq yang merasa tersinggung langsung menyelidiki: “Siapa ini orang Bani Kilab yang sok tahu?” Pas lihat rumahnya, Al-Farazdaq langsung tahu kalau Anbasah adalah anak si juragan gajah dari Meisan. Ia pun menyindir lewat sebait puisi pedas:
لقد كان في مَعْدَانَ والفيلِ شاغلٌ … لِعَنْبَسَةَ الرَّاوي عَلَيَّ القصائدا
“Sungguh, urusan Ma’dan (ayahnya) dan urusan Gajah (julukannya) seharusnya sudah cukup menyibukkan Anbasah, daripada dia sibuk meriwayatkan puisi-puisi tentangku!”
Intinya, Al-Farazdaq menyuruh Anbasah buat urus diri sendiri saja daripada sibuk menguliti karya orang lain. Drama antar tokoh intelektual zaman dulu ternyata seru juga ya!
Lebih Pilih Disebut “Hina” Daripada “Gajah”
Ada dialog yang cukup lucu sekaligus ngenes. Suatu hari, Abu Uyainah bertanya pada Anbasah soal sindiran Al-Farazdaq tadi. Anbasah yang malu mencoba mengubah liriknya:
“Maksud Al-Farazdaq itu bukan ‘Ma’dan dan Gajah’, tapi ‘Ma’dan dan Kehinaan’ (Al-Lu’m),” kilahnya.
Abu Uyainah pun tertawa dan berkata: “Demi ayahmu, kalau kamu lebih memilih disebut ‘hina’ demi menghindari julukan ‘gajah’, berarti julukan gajah itu memang berat banget buatmu!”
Jejak Akademis dan Akhir Hayat
Meskipun Anbasah al-Fil sering disindir oleh penyair, posisinya sebagai murid langsung dari tokoh besar Abu al-Aswad ad-Du’ali (Bapak Ilmu Nahwu), menunjukkan betapa pentingnya peran beliau dalam menyebarkan ilmu Nahwu.
Ia juga punya murid sekaligus rekan diskusi bernama Maimun al-Aqran. Ini membuktikan bahwa Anbasah bukan orang sembarangan. Beliau adalah salah satu “penjaga gawang” awal yang memastikan aturan bahasa Arab tetap rapi dan teratur.
Anbasah hidup sezaman dengan Al-Farazdaq yang wafat tahun 114 Hijriah. Para ahli sejarah memperkirakan Anbasah wafat di sekitar awal abad ke-2 Hijriah (sekitar tahun 100 H).
Menarik ya? Ternyata tokoh bahasa sekaliber Anbasah pun punya sisi manusiawi dan cerita “bully-an” antar penyair di zamannya.
Referensi:
انظر: كتاب نزهة الألباء في طبقات الأدباء
[أبو البركات الأنباري]، ص ٢٢
انظر: طبقات النحويين واللغويين — الزبيدي، ص ٣٠ وما بعدها





Responses (2)