News...!
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا

Yahya bin Ya’mar: Ulama Multitalenta Penjaga Keaslian Bahasa

0
(0)

Setelah sebelumnya kita membahas Nasr bin ‘Asim, rasanya kurang lengkap kalau kita tidak mengenal “partner in crime”-nya dalam dunia tata bahasa, yaitu Yahya bin Ya’mar.

Kalau Nasr bin ‘Asim adalah ahli bahasa yang jenius, Yahya bin Ya’mar adalah sosok yang tidak kalah luar biasa. Beliau bukan cuma ahli bahasa, tapi juga seorang ahli hukum (faqih) yang sangat dipercaya. Yuk, kita intip profil singkatnya!

Asal-Usul dan Kedekatannya dengan Berbagai Suku

Yahya bin Ya’mar berasal dari keturunan Adwan dan memiliki hubungan erat dengan bani Layth. Menariknya, suku Hudzail juga kerap mengklaim bahwa Yahya adalah sekutu (halif) mereka. Hal ini menunjukkan betapa luas pergaulan dan besarnya pengaruh beliau di kalangan kabilah-kabilah Arab saat itu.

Sosok Alim yang Terpercaya

Di mata para ulama, Yahya bin Ya’mar dikenal sebagai sosok yang Ma’mun (sangat terpercaya) dan berilmu luas. Selain menguasai seluk-beluk bahasa Arab, beliau juga merupakan perawi hadis dan ahli fikih. Jadi, kredibilitas beliau dalam menjaga agama dan bahasa sudah tidak perlu diragukan lagi.

Berguru pada Para Sahabat Besar

Keilmuan Yahya tidak datang dari sembarang tempat. Beliau menimba ilmu langsung dari tokoh-tokoh besar di masa awal Islam, di antaranya:

  • Ibnu Umar (Abdullah bin Umar)
  • Ibnu Abbas (Abdullah bin Abbas)

Dua nama di atas adalah raksasa ilmu di kalangan sahabat Nabi. Maka tak heran jika Yahya bin Ya’mar tumbuh menjadi ulama yang sangat disegani.

Melahirkan Generasi Hebat

Ilmu yang beliau miliki tidak berhenti di dirinya saja. Yahya juga menurunkan ilmunya kepada ulama-ulama besar generasi berikutnya, seperti Qatadah dan Ishaq bin Suwaid al-Adawi. Melalui murid-murid inilah, estafet ilmu pengetahuan—termasuk penyempurnaan penulisan huruf Arab—terus terjaga hingga sampai ke tangan kita sekarang.

Murid Langsung Sang “Bapak Nahwu”

Selain cerdas secara alami, Yahya bin Ya’mar ternyata adalah murid dari Abu al-Aswad al-Du’ali. Bisa dibilang, beliau belajar langsung dari sumber pertama ilmu Nahwu. Jadi, jangan heran kalau telinganya sangat sensitif kalau mendengar ada orang yang salah tata bahasa (disebut Lahn).

Berani Mengoreksi Sang Gubernur Galak

Suatu hari, gubernur yang terkenal tegas dan keras, Al-Hajjaj bin Yusuf, bertanya kepada Yahya:

“Eh Yahya, kamu pernah nggak dengar saya salah ngomong (Lahn) saat berpidato di mimbar?” Yahya awalnya mencoba diplomatis: “Wah, gubernur mah orangnya fasih banget.” Tapi Al-Hajjaj terus mendesak. Akhirnya Yahya menjawab jujur: “Ada satu huruf, Tuan.”

Al-Hajjaj kaget dan bertanya di bagian mana. Yahya menjelaskan bahwa Al-Hajjaj salah membaca surat At-Taubah ayat 24.

Al-Hajjaj membacanya: “…ahabbu” dengan harakat dhommah. Padahal secara tata bahasa, seharusnya: “…ahabba” (dengan harakat fathah/nasab) karena posisinya sebagai khabar dari kata “Kaana”.

Bagi Al-Hajjaj, salah baca Al-Qur’an itu fatal, dia merasa malu karena ketahuan nggak sempurna. Al-Hajjaj kemudian berkata, “Oke, kalau begitu kamu nggak akan dengar saya salah lagi selamanya!”

Bukan Al-Hajjaj namanya kalau nggak punya cara “halus” untuk menjauhkan orang yang sudah bikin dia malu. Akhirnya, Yahya bin Ya’mar “ditugaskan” (alias dibuang secara terhormat) ke wilayah Khorasan (sekarang area Iran/Afghanistan) untuk membantu Yazid bin al-Muhallab.

Tetap Menjadi Ahli Bahasa di Garis Depan

Meski sedang bertugas di wilayah perang, Yahya tetaplah seorang ahli bahasa, meskipun jauh dari pusat kota, kualitas intelektualnya tetap terpancar lewat tulisan-tulisannya.

Suatu saat Yazid bin al-Muhallab (atasan dari Yahya bin Ya’mar) mengirim surat laporan kemenangan kepada Al-Hajjaj, bahasanya luar biasa indah:

إنَّا لقينا العدوَّ، فمنحَنا اللهُ أكتافهم، فأسرْنا طائفةً، وقتلْنا طائفةً، واضطررناهم إلى عُرْعُرة الجبل، ونحن بحَضِيضه وأثناء الأنهار

“Kami bertemu musuh, Allah membuat mereka kocar-kacir, kami tawan sebagian, kami bunuh sebagian, dan kami desak mereka ke puncak gunung (ur’urah), sementara kami berada di lembah bawahnya (hadhidh)…”

Begitu Al-Hajjaj membaca surat itu, dia langsung curiga. Bahasa yang digunakan terlalu indah, puitis, dan sangat berkelas. Al-Hajjaj bergumam:

 “Nggak mungkin Ibnu al-Muhallab bisa nulis sekeren ini!”

Ada rasa iri (hasad) dalam hati Al-Hajjaj karena keindahan gaya bahasa tersebut. Namun, begitu diberitahu bahwa di sana ada Yahya bin Ya’mar, Al-Hajjaj langsung maklum: “Oh, pantesan. Kalau dia yang nulis, saya nggak heran lagi.”

Gaya Bicara yang “Sangat Sastra”

Bukan cuma dalam tulisan resmi, bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun Yahya sering menggunakan kosakata yang tingkat tinggi (istilahnya Gharib atau kata-kata langka).

Pernah ada seorang pria yang bertengkar dengan istrinya soal nafkah/mahar. Yahya menegur pria itu dengan kalimat yang sangat puitis namun menohok:

“Apakah karena istrimu meminta haknya, lalu kamu mulai menunda-nunda dan memberinya sedikit demi sedikit dengan rasa enggan?”

Kalimat aslinya menggunakan rima dan kata-kata yang jarang didengar orang awam, menunjukkan betapa beliau sudah “mendarah daging” dengan kekayaan kosakata bahasa Arab.

Sosok Tabi’in yang Multitalenta

Menurut penuturan ulama seperti Abu Hatim, Yahya bin Ya’mar adalah seorang yang sangat fasih bicaranya, alim bil-gharib (pakar dalam kosakata Arab yang langka/sulit) dan ahli Qira’ah yang merupakan salah satu imam bacaan Al-Qur’an dari Basra.

Sisi Lain Yahya bin Ya’mar: Dari Humor “Gharib” Hingga Warisan Mushaf Ber-Titik

Kita sudah tahu kalau Yahya bin Ya’mar itu jenius bahasa. Tapi, tahu nggak sih kalau saking “pro”-nya dalam bahasa Arab, obrolan santai beliau pun penuh dengan kosakata langka yang bikin teman-temannya geleng-geleng kepala.

Istilah Unik Saat Beli Budak

Ada cerita lucu yang dicatat oleh Ibnu Duraid. Suatu ketika, Yahya membeli seorang pelayan perempuan (jaritah) asal Khorasan yang postur tubuhnya cukup besar/gemuk. Saat teman-temannya berkunjung dan bertanya soal pelayan baru itu, Yahya menjawab:
“Iya, dia adalah seorang Al-Mithakh-khah.”

Istilah ini sangat jarang terdengar (Gharib). Maksud beliau adalah pelayan yang kuat, besar, dan gesit. Teman-temannya mungkin harus buka kamus dulu nih buat paham maksud candaan beliau!

Sebagai seorang tokoh masyarakat, Yahya juga sering menghadapi orang yang komplain. Pernah ada seseorang yang mengadu soal budak yang sering kabur. Orang itu bilang budaknya itu seorang “Bayyaq”. Yahya langsung menyela, “Harusnya kamu bilang Abuq!”

Di sinilah ketelitian beliau muncul. Menurut pakar bahasa seperti Abu Hatim, kata yang benar untuk budak yang suka kabur adalah Abuq, Abbaq, atau Aabiq. Bahkan Yahya sampai mengoreksi cara pengucapan kata kerjanya (fi’il), karena banyak orang awam yang salah sebut.

Warisan Terbesar: Mushaf Ber-Titik

Mungkin ini adalah poin yang paling menyentuh. Khalid al-Haddza meriwayatkan bahwa ulama besar Ibnu Sirin ternyata memiliki sebuah Mushaf Al-Qur’an yang sudah diberi titik. Dan siapa yang memberi titik di Mushaf tersebut? Jawabannya adalah Yahya bin Ya’mar.

Ini membuktikan bahwa inovasi “titik” yang kita nikmati di Al-Qur’an sekarang bukan sekadar teori, tapi benar-benar dipraktikkan langsung oleh tangan beliau untuk membantu umat Islam membaca kitab sucinya dengan benar.

Akhir Hayat Sang Legenda

Setelah mengabdikan hidupnya untuk ilmu, hukum, dan Al-Qur’an, Yahya bin Ya’mar wafat pada tahun 129 Hijriah. Beliau meninggalkan warisan ilmu yang hingga detik ini kita gunakan setiap kali kita membuka Al-Qur’an.

Selesai sudah perjalanan kita mengenal Yahya bin Ya’mar. Dari kisah beliau, kita belajar kalau ilmu itu bukan cuma buat pamer, tapi buat memudahkan orang lain (lewat sistem titik) dan menjaga kebenaran (lewat ketelitian bahasa).


Referensi:

انظر: طبقات النحويين واللغويين — الزبيدي، ص ٢٧ وما بعدها

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *