Ini adalah sosok penting berikutnya dalam sejarah tata bahasa Arab. Menariknya, jika Abu al-Aswad dominan di Basra, Abdurrahman bin Hormuz, membawa pengaruh besar ke Madinah.
Abdurrahman bin Hormuz, yang lebih dikenal dengan julukan Al-A’raj (si pincang), adalah seorang ulama dari generasi Tabiin. Beliau lahir dan besar di Madinah, sebuah kota yang pada masa itu menjadi pusat ilmu pengetahuan karena menjadi tempat tinggal para sahabat Nabi Muhammad ﷺ dan generasi pertama murid-murid mereka.
Lingkungan Madinah yang penuh berkah memungkinkan Al-A’raj untuk menimba ilmu langsung dari para sahabat Nabi ﷺ. Beliau meriwayatkan banyak hadis dari tokoh-tokoh besar seperti:
- Abu Hurairah
- Ibn Abbas
- Abu Sa’ad al-Khudri
- Abdullah bin Malik
- Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan banyak lainnya.
Selain ahli dalam bidang Hadis, Ibn Hormuz memiliki kepakaran khusus lainnya:
- Ilmu Al-Qur’an: Beliau adalah rujukan utama dalam bidang qira’at (cara bacaan) dan seni penulisan mushaf Al-Qur’an. Karena kredibilitasnya yang tinggi, para sejarawan menjulukinya sebagai “Sang Ahli Qira’at dan Perawi Hadis”.
- Ilmu Nasab: Beliau pakar dalam menelusuri silsilah keturunan tokoh-tokoh besar pada zamannya.
Kontribusi Dalam Ilmu Bahasa
Abdurrahman bin Hurmuz tercatat sebagai salah satu orang paling awal yang menyusun kaidah bahasa Arab. Jika di Basra ada Abu al-Aswad al-Du’ali, maka di Madinah, Bin Hurmuz-lah pendekarnya.
Beliau dikenal sebagai orang yang paling alim dalam urusan:
- Ilmu Nahwu: Menyusun struktur bahasa agar tetap terjaga.
- Silsilah (Anshab) Quraisy: Beliau adalah pakar sejarah keturunan kaum Quraisy yang sangat disegani.
Ada fakta yang sangat menarik dari hubungan antara Abdurrahman bin Hurmuz dengan pendiri Mazhab Maliki, yaitu Imam Malik bin Anas.
Diriwayatkan bahwa Imam Malik mendatangi dan belajar kepada Bin Hurmuz selama bertahun-tahun untuk mempelajari ilmu yang tidak disebarluaskan kepada orang awam. Para ulama berpendapat bahwa ilmu “rahasia” tersebut meliputi:
- Ushuluddin: Dasar-dasar akidah dan prinsip agama yang mendalam.
- Argumentasi (Manthiq): Cara menjawab dan membantah pemikiran kelompok-kelompok sesat atau menyimpang (Ahlul Zaygh wa al-Dhalalah).
Ini menunjukkan bahwa Bin Hurmuz adalah seorang intelektual yang memiliki benteng pemikiran yang sangat kokoh.
Meskipun catatan tentang karya tertulisnya tidak sebanyak tokoh-tokoh belakangan, pengaruh Abdurrahman bin Hurmuz sangat terasa melalui murid-muridnya. Beliau adalah jembatan ilmu antara generasi Sahabat dengan generasi pembangun Mazhab.
Kisah Abdurrahman bin Hurmuz mengajarkan kita bahwa seorang ahli bahasa yang hebat biasanya juga memiliki pemahaman akidah yang kuat. Bahasa digunakan bukan hanya untuk berbicara, tapi sebagai senjata untuk membela kebenaran agama dari pemikiran yang keliru.
Bayangkan, jika Imam Malik saja berguru padanya selama bertahun-tahun, sedalam apa ilmu yang dimiliki oleh Bin Hurmuz?
Lihat juga: Nasr bin ‘Asim al-Laythi: Sang Jenius Generasi Kedua Ahli Nahwu
Masa Akhir dan Wafat
Meskipun menghabiskan sebagian besar hidupnya di Madinah, beliau sempat melakukan perjalanan ke Syam sebelum akhirnya memutuskan untuk menetap di Aleksandria, Mesir. Beliau sangat mengagumi kota pesisir ini dan menyebutnya sebagai kota yang sangat berkomitmen dan serius. Beliau menghabiskan sisa usianya di sana untuk mengajar hingga wafat pada tahun 117 Hijriah.
انظر: طبقات النحويين واللغويين — الزبيدي، ص ٢٦ وما بعدها





Response (1)