News...!
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا

Huruf Asli vs Tambahan: Apa bedanya? [Ilmu Sharaf]

0
(0)

Di dunia Linguistik Arab, lu harus paham konsep Morfologi (Sharf). Intinya, lu harus jago bedain mana Huruf Asli (Al-Huruf al-Asliyyah) dan mana Huruf Tambahan (Al-Huruf al-Za’idah). Kenapa? Karena ini skill paling dasar buat nemuin Akar Kata (Root) sebelum kata itu kena proses modifikasi atau derivasi.

Kenapa Kita Harus Identifikasi Akar Kata?

  • Navigasi Kamus: Kalau lu buka kamus legend kayak Lisan al-Arab atau yang populer kayak Al-Munawwir, lu nggak bisa asal cari. Lu harus tahu akar katanya dulu karena sistemnya disusun secara alfabetis berdasarkan huruf pokok.
  • Bedah Makna (Semantik): Biar lu tahu “nyawa” atau makna dasar dari kata itu. Jadi, lu paham pergeseran maknanya pas kata itu dapet tambahan pola (Wazan).

1. Huruf Asli (Al-Ashliyyah)

Studi Kasus: Kata “Istaghfara” (اِسْتَغْفَرَ)

Coba perhatikan kata اِسْتَغْفَرَ. Kalau kita bedah secara morfologis pakai pola Istaf’ala (اِسْتَفْعَلَ), hasilnya kayak gini:

  • Huruf Tambahan: Ada prefiks (awalan) Alif, Sin, dan Ta (اسـت). Di sini, fungsinya buat ngasih makna “Permohonan” atau “Upaya”.
  • Huruf Asli: Nah, “tulang punggung” katanya adalah غ – ف – ر (Gha-Fa-Ra), yang artinya aslinya “Mengampuni”.

Kesimpulannya: Kata Ghafara berubah jadi Istaghfara, secara semantik maknanya juga geser dari “Mengampuni” menjadi “Memohon Ampunan”.

Penerapan pada Kasus Lain: “Qatala” (قَتَلَ)

Huruf asli itu nggak bakal ilang mau di-tashrif kayak gimana pun, ia akan tetap muncul konsisten. Contohnya kata قَتَلَ (Qatala), akarnya Q-T-L. Coba cek perubahannya pada tashrif berikut ini:

a). Tashrif Istilahi (Perubahan Fungsional)

  • Fi’il Madhi (Lampau): قَتَلَ (Qatala) – Dia telah membunuh
  • Fi’il Mudhari‘ (Sekarang/Akan): يَقْتُلُ (Yaqtulu) – Dia sedang/akan membunun
  • Mashdar (Kata Benda): قَتْلاً (Qatlan) – Pembunuhan
  • Isim Fa’il (Pelaku): قَاتِلٌ (Qātilun) – Pembunun
  • Isim Maf’ul (Objek): مَقْتُوْلٌ (Maqtūlun) – Yang dibunuh
  • Fi’il Amr (Perintah): اُقْتُلْ (Uqtul) – Bunuhlah!
  • Fi’il Nahyi (Larangan): لاَ تَقْتُلْ (Lā Taqtul) – Jangan membunuh!
  • Isim Makan/Zaman (Keterangan): مَقْتَلٌ (Maqtalan) – Tempat/Waktu pembunuhan
  • Isim Alat (Alat): مِقْتَلٌ (Miqtalan) – Alat membunuh

b). Tashrif Lughawi Fi’il Madhi (Kata Kerja Lampau)

  • (هُوَ) قَتَلَ (Qatala) – Dia (L) telah membunuh
  • (هُمَا) قَتَلَا (Qatalā) – Mereka berdua (L) telah membunuh
  • (هُمْ) قَتَلُوا (Qatalū) – Mereka (L) telah membunuh
  • (هِيَ) قَتَلَتْ (Qatalat) – Dia (P) telah membunuh
  • (هُمَا) قَتَلَتَا (Qatalatā) – Mereka berdua (P) telah membunuh
  • (هُنَّ) قَتَلْنَ (Qatalna) – Mereka (P) telah membunuh
  • (أَنْتَ) قَتَلْتَ (Qatalta) – Kamu (L) telah membunuh
  • (أَنْتُمَا) قَتَلْتُمَا (Qataltumā) – Kamu berdua (L/P) telah membunuh
  • (أَنْتُمْ) قَتَلْتُمْ (Qataltum) – Kalian (L) telah membunuh
  • (أَنْتِ) قَتَلْتِ (Qatalti) – Kamu (P) telah membunuh
  • (أَنْتُنَّ) قَتَلْتُنَّ (Qataltunna) – Kalian (P) telah membunuh
  • (أَنَا) قَتَلْتُ (Qataltu) – Saya telah membunuh
  • (نَحْنُ) قَتَلْنَا (Qatalnā) – Kami/Kita telah membunuh

c). Tashrif Lughawi Fi’il Mudhari’ (Kata Kerja Sedang/Akan)

  • (هُوَ) يَقْتُلُ (Yaqtulu) – Dia (L) sedang/akan membunuh
  • (هُمَا) يَقْتُلاَنِ (Yaqtulāni) – Mereka berdua (L) sedang/akan membunuh
  • (هُمْ) يَقْتُلُوْنَ (Yaqtulūna) – Mereka (L) sedang/akan membunuh
  • (هِيَ) تَقْتُلُ (Taqtulu) – Dia (P) sedang/akan membunuh
  • (هُمَا) تَقْتُلاَنِ (Taqtulāni) – Mereka berdua (P) sedang/akan membunuh
  • (هُنَّ) يَقْتُلْنَ (Yaqtulna) – Mereka (P) sedang/akan membunuh
  • (أَنْتَ) تَقْتُلُ (Taqtulu) – Kamu (L) sedang/akan membunuh
  • (أَنْتُمَا) تَقْتُلاَنِ (Taqtulāni) – Kamu berdua (L/P) sedang/akan membunuh
  • (أَنْتُمْ) تَقْتُلُوْنَ (Taqtulūna) – Kalian (L) sedang/akan membunuh
  • (أَنْتِ) تَقْتُلِيْنَ (Taqtulīna) – Kamu (P) sedang/akan membunuh
  • (أَنْتُنَّ) تَقْتُلْنَ (Taqtulna) – Kalian (P) sedang/akan membunuh
  • (أَنَا) أَقْتُلُ (Aqtulu) – Saya sedang/akan membunuh
  • (نَحْنُ) نَقْتُلُ (Naqtulu) – Kami/Kita sedang/akan membunuh

d). Tashrif Lughawi Fi’il Amr (Kata Kerja Perintah)

  • (أَنْتَ) اُقْتُلْ (Uqtul) – Bunuhlah kamu (L)!
  • (أَنْتُمَا) اُقْتُلاَ (Uqtulā) – Bunuhlah kamu berdua (L/P)!
  • (أَنْتُمْ) اُقْتُلُوا (Uqtulū) – Bunuhlah kalian (L)!
  • (أَنْتِ) اُقْتُلِي (Uqtulī) – Bunuhlah kamu (P)!
  • (أَنْتُمَا) اُقْتُلاَ (Uqtulā) – Bunuhlah kamu berdua (L/P)!
  • (أَنْتُنَّ) اُقْتُلْنَ (Uqtulna) – Bunuhlah kalian (P)!

Data di atas menunjukkan bagaimana huruf asli Q-T-L tetap terlihat jelas di semua posisi.


Analisis Sharfy: Dinamika Huruf Asli pada Kata وَعَدَ (Wa’ada)

Meskipun huruf asli itu sifatnya permanen, ada kondisi tertentu di mana mereka harus “mengalah” demi kemudahan pengucapan (taysir al-nutq).

Dalam studi morfologi Arab, kita mengenal fenomena I’lal bil Hadzfi (pembuangan huruf). Pada kata وَعَدَ (akar kata و-ع-د), huruf Wawu asli dibuang pada beberapa bentuk karena alasan beban pengucapan (tsiqal).

Coba kita bedah kata وَعَدَ (Wa’ada – Berjanji). Di sini, huruf aslinya adalah Wawu (و), ‘Ain (ع), dan Dal (د). Tapi kok pas berubah bentuk, si Wawu tiba-tiba “hilang”? Begini analisisnya:

1). Fenomena pada Fi’il Mudhari’

Secara teoritis, kata وَعَدَ kalau dimasukin ke pola Yaf’ilu, seharusnya jadi يَوْعِدُ (Yaw’idu). Tapi, kenapa berubah jadi يَعِدُ (Ya’idu)?

Alasan Ilmiah: Dalam kaidah Sharf, huruf Wawu (و) yang sukun itu terjepit di antara dua huruf yang berharakat (dalam hal ini Ya’ yang fathah dan ‘Ain yang kasrah).

Efek dari pengucapan Yaw’idu yang dirasa berat oleh lidah orang Arab, maka si Wawu dibuang untuk menjaga efisiensi bunyi.

2). Fenomena pada Fi’il ‘Amr

Hal yang sama terjadi pada kata perintahnya. Dari yang aslinya اِيْعِدْ (I’id – hasil proses derivasi panjang), akhirnya disederhanakan total menjadi cuma dua huruf: عِدْ (Id – Berjanjilah!).

Meskipun huruf Wawu-nya hilang secara penulisan, secara makna (semantik) dia tetap dianggap ada sebagai akar kata.

Kesimpulan:
Jadi, kalau nanti lu nemu kata yang cuma dua huruf kayak عِدْ (Id) atau قِ (Qi), jangan bingung. Itu bukan berarti huruf aslinya cuma dua, tapi salah satu huruf aslinya sedang “disembunyikan” karena kaidah linguistik tertentu.
Ini alasan kenapa belajar Sharf itu penting banget; biar lu nggak terkecoh pas huruf aslinya lagi main petak umpet!

Cobe deh lihat pada tashrif berikut ini:

a). Tashrif Istilahi (Perubahan Fungsional)

  • Fi’il Madhi (Lampau): وَعَدَ (Wa’ada) – Dia telah berjanji
  • Fi’il Mudhari’ (Sekarang/Akan): يَعِدُ (Ya’idu) – Dia akan berjanji
  • Mashdar (Kata Benda): وَعْدًا (Wa’dan) – Perjanjian
  • Isim Fa’il (Pelaku): وَاعِدٌ (Wā’idun) – Orang yang berjanji
  • Isim Maf’ul (Objek): مَوْعُوْدٌ (Maw’ūdun) – Yang dijanjikan
  • Fi’il Amr (Perintah): عِدْ (Id) – Berjanjilah
  • Fi’il Nahyi (Larangan): لاَ تَعِدْ (Lā Ta’id) – Jangan berjanji!
  • Isim Makan/Zaman (Keterangan): مَوْعِدٌ (Maw’idun) – Tempat/Waktu janjian

b). Tashrif Lughawi Fi’il Madhi (Kata Kerja Lampau)

  • (هُوَ) وَعَدَ (Wa’ada) – Dia (L) telah berjanji
  • (هُمَا) وَعَدَا (Wa’adā) – Mereka berdua (L) telah berjanji
  • (هُمْ) وَعَدُوا (Wa’adū) – Mereka (L) telah berjanji
  • (هِيَ) وَعَدَتْ (Wa’adat) – Dia (P) telah berjanji
  • (هُمَا) وَعَدَتَا (Wa’adatā) – Mereka berdua (P) telah berjanji
  • (هُنَّ) وَعَدْنَ (Wa’adna) – Mereka (P) telah berjanji
  • (أَنْتَ) وَعَدْتَ (Wa’adta) – Kamu (L) telah berjanji
  • (أَنْتُمَا) وَعَدْتُمَا (Wa’adtumā) – Kamu berdua (L/P) telah berjanji
  • (أَنْتُمْ) وَعَدْتُمْ (Wa’adtum) – Kalian (L) telah berjanji
  • (أَنْتِ) وَعَدْتِ (Wa’adti) – Kamu (P) telah berjanji
  • (أَنْتُنَّ) وَعَدْتُنَّ (Wa’adtunna) – Kalian (P) telah berjanji
  • (أَنَا) وَعَدْتُ (Wa’adtu) – Saya telah berjanji
  • (نَحْنُ) وَعَدْنَا (Wa’adnā) – Kami/Kita telah berjanji

c). Tashrif Lughawi Fi’il Mudhari’ (Kata Kerja Sedang/Akan)

  • (هُوَ) يَعِدُ (Ya’idu) – Dia (L) sedang/akan berjanji
  • (هُمَا) يَعِدَانِ (Ya’idāni) – Mereka berdua (L) sedang/akan berjanji
  • (هُمْ) يَعِدُوْنَ (Ya’idūna) – Mereka (L) sedang/akan berjanji
  • (هِيَ) تَعِدُ (Ta’idu) – Dia (P) sedang/akan berjanji
  • (هُمَا) تَعِدَانِ (Ta’idāni) – Mereka berdua (P) sedang/akan berjanji
  • (هُنَّ) يَعِدْنَ (Ya’idna) – Mereka (P) sedang/akan berjanji
  • (أَنْتَ) تَعِدُ (Ta’idu) – Kamu (L) sedang/akan berjanji
  • (أَنْتُمَا) تَعِدَانِ (Ta’idāni) – Kamu berdua (L/P) sedang/akan berjanji
  • (أَنْتُمْ) تَعِدُوْنَ (Ta’idūna) – Kalian (L) sedang/akan berjanji
  • (أَنْتِ) تَعِدِيْنَ (Ta’idīna) – Kamu (P) sedang/akan berjanji
  • (أَنْتُنَّ) تَعِدْنَ (Ta’idna) – Kalian (P) sedang/akan berjanji
  • (أَنَا) أَعِدُ (A’idu) – Saya sedang/akan berjanji
  • (نَحْنُ) نَعِدُ (Na’idu) – Kami/Kita sedang/akan berjanji

d). Tashrif Lughawi Fi’il ‘Amr (Kata Kerja Perintah)

  • (أَنْتَ) عِدْ (Id) – Berjanjilah kamu (L)!
  • (أَنْتُمَا) عِدَا (Idā) – Berjanjilah kamu berdua (L/P)!
  • (أَنْتُمْ) عِدُوا (Idū) – Berjanjilah kalian (L)!
  • (أَنْتِ) عِدِي (Idī) – Berjanjilah kamu (P)!
  • (أَنْتُنَّ) عِدْنَ (Idna) – Berjanjilah kalian (P)!

______________

Kesimpulan Analisis Akademik
Dengan lengkapnya data di atas, kita bisa menarik kesimpulan morfologis:

  • Fi’il Madhi: Huruf asli (و) masih solid dan nampak di semua dhamir.
  • Fi’il Mudhari’ & Amr: Huruf asli (و) dieliminasi total karena alasan fonetis (‘Illat Sharfiyyah), yaitu beratnya pengucapan huruf Wawu di antara Ya’ fathah dan ‘Ain kasrah.

2. Huruf Tambahan (Al-Huruf al-Za’idah).

Kalau tadi kita bahas “tulang punggung” kata, sekarang kita bahas “aksesorinya” yang bisa mengubah fungsi dan makna kata secara drastis.

Huruf Tambahan (Al-Huruf al-Za’idah)
Dalam morfologi Arab, Huruf Tambahan adalah instrumen yang disisipkan ke dalam akar kata (Mujarrad) untuk menghasilkan derivasi makna baru (Majid). Berbeda dengan huruf asli yang “immortal”, huruf tambahan ini bersifat fleksibel dan bisa dibuang atau diganti sesuai dengan pola (Wazan) yang kita inginkan.

1). Transformasi Makna: Dari Intransitif ke Transitif

Perhatikan perubahan semantik pada contoh berikut:

  • Kata Dasar (Akar): كَرُمَ (Karuma) – Artinya: Mulia (Kata kerja yang menyangkut keadaan diri sendiri).
  • Setelah Penambahan Hamzah: أَكْرَمَ (Akrama) – Artinya: Memuliakan (Ada objek/orang lain yang dimuliakan).

Di sini, penambahan satu huruf Hamzah saja sudah mengubah fungsi kata tersebut secara total.

2). Inventarisasi Tambahan

Secara kolektif, hanya ada 10 huruf yang diizinkan menjadi tambahan dalam ilmu Sharf. Biar lu gampang ngafalnya, para ulama sudah merangkumnya dalam kalimat sakti:

سَأَلْتُمُوْنِيْهَا (Sa’altumunīhā)
(Sin, Hamzah, Lam, Ta, Mim, Wau, Nun, Ya, Ha, Alif)

Atau dalam versi lain: أمان وتسهيل (Amānun wa Tas-hīl). Lu cukup hafalin salah satu kalimat itu, dan lu bakal tahu semua “tersangka” huruf tambahan dalam bahasa Arab.

3). Mekanisme Penambahan (Sistem Mizan Sharfi)

Lu nggak bisa asal tempel huruf tambahan sesuka hati. Proses ini harus mengikuti protokol Mizan Sharfi (Timbangan Morfologi) yang sudah dirumuskan oleh para pakar linguistik Arab:

Memahami huruf tambahan ini adalah langkah tercepat buat lu buat menguasai ribuan kosa kata. Begitu lu paham polanya, lu bakal tahu kalau kata yang depannya ada “Mu-“, “Ma-“, atau “Ista-” itu asalnya dari mana dan arah maknanya mau ke mana.


Referensi:

 

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *