News...!
اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا

3 Objek Pembahasan Ilmu Bayan (علم البيان)

5
(12)

Setelah sebelumnya kita memahami tiga pilar utama Ilmu Balaghah—yaitu Ilmu Ma’ani, Bayan, dan Badi’—kini saatnya kita mengupas lebih dalam tentang Ilmu Bayan. Sebelum masuk ke dalam tiga objek pembahasan utamanya, mari kita telaah kembali definisi, tokoh pelopor, serta manfaat mempelajari cabang keilmuan ini.

1. Definisi Ilmu Bayan

Bayan secara bahasa bayan artinya terbuka atau jelas. Jadi apabila ditilik secara bahasa, ilmu Bayan adalah “Ilmu yang berkaitan dengan cara menyampaikan suatu makna dengan jelas”.

Sedangkan menurut istilah Ulama Balaghah adalah:

علم يُعرف به إيراد المعني الوَاحِد بِطُرُقٍ يَختلِف بعضُها عن بعض في وُضوح الدلالة علي نفس ذالك المعني، و لا بد من اعتبار المطابقة لمقتضي الحال دائماً.

Dalam istilah eksakta Ilmu Balaghah, Ilmu Bayan adalah ilmu yang mempelajari tata cara menyampaikan suatu ide atau maksud dengan berbagai gaya pengungkapan yang berbeda tingkat kejelasan maknanya. Ilmu ini membantu pembicara agar dapat mengekspresikan satu makna tunggal melalui beragam redaksi kalimat, mulai dari yang lugas hingga yang penuh kiasan, tanpa mengesampingkan makna gagasan itu sendiri sesuai dengan muqtadla al-hal (situasi dan kondisi)”.

Pengertian di atas bukanlah satu satunya definisi yang dikemukakan oleh para pakar. Ada beberapa pakar lain yang mempunyai definisi tersendiri tentang ilmu ini. Di antaranya:

A. Imam Akhdhari

Menurut Imam Al-Akhdhari, Ilmu Bayan ialah ilmu yang mempelajari tata cara pengungkapan suatu makna dengan menggunakan susunan kalimat yang berbeda-beda penjelasannya (dari yang jelas, kurang jelas, dan lebih jelas). Melalui ilmu ini, seorang pembicara dapat mengekspresikan satu ide tunggal dengan berbagai tingkat kejelasan redaksi, mulai dari kalimat lugas hingga kiasan yang samar

B. H A. Wahab Muhsin

Menurut beliau ilmu bayan adalah ilmu untuk mengetahui cara menyusun satu pengertian dengan bermacam-macam redaksi.

C. Rukyatul Hilal dan Yayan Nurbayan

Menurut keduanya, ilmu bayan adalah suatu ilmu yang memuat konsep dan kaidah-kaidah untuk menyampaikan suatu ide dengan beberapa cara yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Dari seluruh pengertian di atas artinya Ilmu Bayan merupakan ilmu untuk mengetahui teknik-teknik mengekspresikan suatu ide fikiran atau perasaan dengan menggunakan ungkapan yang sesuai dengan konteksnya. Ungkapan tersebut bervariasi antara satu kondisi dengan kondisi lainnya.

Lihat juga: Perbedaan maksud kata Fashahah dan Balaghah

2. Tokoh Peletak Ilmu Bayan

Disiplin ilmu ini tidak lahir begitu saja. Tokoh utama yang diakui sebagai peletak dasar dan penyusun kaidah-kaidah Ilmu Bayan pertama kali dikembangkan oleh Abu Ubaidah Ibn al-Matsani (211 H). Sebagai dasar pengembangan ilmu ini beliau menulis sebuah kitab dengan judul Majaz Al-quran.

Dalam perkembangan berikutnya, muncul seorang tokoh terkemuka dalam ilmu ini yaitu Abd al-Qahir al-Jurzani (471 M). Melalui karya monumental beliau yang berjudul Asrar al-Balaghah (Rahasia-Rahasia Balaghah), dasar-dasar estetika sastra Arab dan pembagian gaya bahasa dalam Ilmu Bayan dirumuskan secara ilmiah.

Ilmu ini terus berkembang dan disempurnakan oleh para ulama berikutnya, seperti al- Jahizh ibn Mu’taz, Quddamah, dan Abû Hilal al- ‘Askari.

3. Manfaat Mempelajari Ilmu Bayan

Mempelajari Ilmu Bayan memberikan keuntungan besar bagi penikmat literatur Islam dan sastra Arab, di antaranya:

  • Memahami Mukjizat Al-Qur’an: Membuka rahasia keindahan sastra tinggai dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis.
  • Variasi Komunikasi: Melatih kemampuan mengekspresikan satu ide dengan berbagai gaya bahasa agar tidak monoton.
  • Kepekaan Sastra: Menajamkan rasa (dzauq) dalam menilai keindahan, kedalaman, dan ketepatan sebuah karya sastra.
  • Ketepatan Konteks: Membantu menyampaikan pesan secara samar (kiasan) atau terang-terangan sesuai dengan situasi pendengar.

4. Tiga Obyek Pembahasan Ilmu Bayan

Telah disinggung pada paragraf sebelumnya bahwa pembahasan utama dari ilmu ini ada tiga. Semuanya berkaitan dengan pola menyampaikan sebuah gagasan. Ketiga objek pembahasan tersebut adalah tasybih, majaz, dan kinayah.

A. Tasybih (Penyerupaan)

Secara Bahasa: Bermakna tamtsil yang artinya perumpamaan atau penyerupaan.

Secara Istilah (Ahli Ilmu Bayan): Suatu istilah yang di dalamnya terdapat pengertian penyerupaan atau keterikatan makna antara dua perkara, yaitu musyabbah (hal yang diserupakan) dan musyabbah bih (hal yang menjadi tujuan penyerupaan).

Karakteristik: Keterikatan makna tersebut terjadi pada suatu sifat atau makna tertentu (wajh al-syibh) dan disampaikan dengan menggunakan sebuah kata alat penyerupaan (adat tasybih).

B. Majaz (Metafora / Alegori)

Secara Bahasa: Bermakna melewati atau menyeberang.

Secara Istilah: Suatu perkataan atau lafaz yang dipakai bukan pada tempatnya (tidak pada makna aslinya).

Karakteristik: Pengalihan makna ini terjadi karena adanya hubungan (‘alaqah) antara makna asli dan makna baru, serta disertai adanya indikator (qarinah) yang melarang penggunaan makna asal tersebut.

C. Kinayah (Sindiran / Kiasan)

Secara Istilah: Lafaz yang disampaikan namun yang dimaksud adalah kelaziman maknanya (implikasinya), di samping boleh juga makna sebenarnya itu sendiri yang dimaksud.

Karakteristik: Dari pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa kinayah adalah suatu ungkapan yang biasa dipakai oleh suatu kaum (dalam hal ini orang Arab sebagai penutur asli). Yang dimaksud dari ungkapan tersebut bukanlah makna harfiahnya, meskipun secara logika kalimat tersebut tetap sah jika diartikan dengan makna yang sebenarnya.

In Syaa Allah ketiga istilah ini akan dibahas sesuai pasalnya masing2.


Wallahu’alam. Semoga bermanfaat

اللهم إني أسألك علما نافعا وعملا متقبلا ورزقا طيبا


Lihat referensi:

Jawahirul Balaghah, karya Syekh Sayyid Ahmad Al-Hasyimi, hal 47-50

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *